Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Mimpi
Malam akhirnya merayap turun menyelimuti pegunungan.
Langit hitam di atas pemukiman Suku Serigala dihiasi oleh hamparan bintang yang berkilau tajam seperti perak.
Suasana desa perlahan-lahan menjadi hening; hanya tersisa deburan angin malam yang dingin dan suara jangkrik hutan yang saling bersahutan dari kejauhan.
Di dalam gua tempat tinggalnya, Yana berbaring di atas pembaringan berbulu tebal.
Telapak tangannya yang terluka sudah dibersihkan dan dibalut ulang dengan racikan daun obat yang menyejukkan.
Meskipun tubuh remajanya sangat lelah setelah menyelinap ke Hutan Hitam seharian, matanya sulit terpejam.
Benaknya terus terbayang-bayang oleh ucapan Tetua Gordon sore tadi.
'Kadang firasat bukanlah sekadar kebetulan... melainkan sebuah petunjuk dari sang Pencipta bagi mereka yang terpilih.'
Yana menghembuskan napas panjang, menatap kegelapan langit-langit gua.
"Terpilih..." bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Di kehidupannya yang lalu, kekuatan itu datang terlambat—terlalu lambat hingga tak ada satu pun nyawa yang berhasil ia selamatkan.
Apakah keputusannya menyayat tangan dan membelokkan rute berburu ayahnya hari ini telah memicu reaksi dari kekuatan sucinya lebih awal?
Entah sejak kapan, Tapi perlahan-lahan, kelopak mata Yana terasa berat. Rasa kantuk yang sangat pekat menerjangnya tanpa peringatan, menarik kesadarannya jatuh ke dalam kegelapan yang mendalam.
Saat Yana membuka matanya kembali, ia tidak lagi berada di dalam gua batu tempat tinggalnya.
Ia berdiri di sebuah padang rumput tak bertepi yang diselimuti oleh kabut putih tebal. Langit di atasnya tidak memiliki matahari maupun bulan, melainkan memancarkan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Udara di tempat itu terasa sangat murni, begitu bersih hingga setiap helai napas yang ditariknya menyegarkan jiwa Yana sampai ke dasar.
Yana tersentak. Ia mengamati sekelilingnya dengan kewaspadaan tinggi.
"Di mana aku...?" gumamnya.
Tiba-tiba, kabut putih di depannya tersibak.
Dari dalam pusaran cahaya keemasan, melangkah keluar sebuah wujud yang begitu megah dan anggun. Wujud itu menyerupai seekor serigala raksasa setinggi pohon cemara, dengan bulu seputih salju yang berkilauan bagaikan perak murni. Mata serigala raksasa itu berwarna emas terang, memancarkan kearifan, kekuatan, dan keberadaan magis yang menekan seluruh jiwa Yana untuk tunduk.
Tekanan aura yang dahsyat itu membuat lutut Yana bergetar hingga ia berlutut di atas rumput secara spontan.
Jantungnya berdegup kencang.
Aura ini ... tak diragukan lagi!
Dewa Binatang! Sang Pelindung dan Pencipta seluruh suku manusia binatang di dunia ini!
Yana menundukkan kepalanya dalam-dalam, dadanya bergemuruh hebat.
Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah berhadapan langsung dengan entitas suci ini.
Ia hanya mendengar legenda dan doa-doa yang dipanjatkan oleh para tetua suku.
"Yana..."
Sebuah suara berdengung keras namun menenangkan bergema di dalam kepala Yana, bukan melalui telinganya, melainkan langsung menyentuh jiwanya.
"Anakku yang telah menembus batas waktu..."
Yana mengepalkan tangannya di atas rumput. "Dewa Binatang... apakah Engkau yang mengembalikanku ke masa lalu?" tanya Yana dengan suara gemetar namun tertahan. "Apakah Engkau yang memberiku kesempatan untuk menyelamatkan suku dan ayahku?"
Serigala raksasa berkulit perak itu melangkah perlahan mendekati Yana.
Setiap pijakan kakinya di atas rumput menerbitkan bunga-bunga cahaya yang mekar indah.
"Dunia ini sedang berjalan menuju kehancuran karena tatanannya terganggu," jawab suara Dewa Binatang itu tenang. "Jiwamu yang dipenuhi kesedihan dan keputusasaan di masa depan telah memanggil kehendak-Ku. Aku mengembalikan jiwamu ke wadah masa lalumu untuk mengembalikan takdir yang melenceng."
Air mata Yana menetes membasahi rumput di bawahnya.
Rasa syukur yang tak terhingga membuncah di dadanya.
"Maka... aku akan melakukan apa saja! Aku akan membunuh ancaman itu sebelum ia merusak dunia ini! Aku tidak akan membiarkan gadis asing itu menghancurkan suku dan ayahku lagi!" kata Yana.
Namun, serigala raksasa itu menggelengkan kepalanya yang megah secara perlahan.
Mata emasnya menatap Yana dengan kelembutan yang menyembunyikan peringatan tajam.
"Benang takdir bukanlah tali kain yang bisa kau potong dan sambung sesukamu tanpa merusak benang lainnya, Yana," ucap Dewa Binatang dengan nada penuh penekanan.
Yana mendongak, menatap mata emas sang Dewa dengan kebingungan. "Apa maksud Engkau, Dewa Binatang Agung?"
"Tindakanmu hari ini telah menyelamatkan rombongan berburu ayahmu dari kematian di Hutan Hitam. Namun, setiap perubahan kecil yang kau lakukan pada aliran sungai masa depan... akan menciptakan gelombang besar yang tak terduga di tempat lain."
Dewa Binatang mengambil selangkah mendekat, hingga bayangan tubuh raksasanya menutupi Yana sepenuhnya.
"Kemajuan dan perubahan tidak bisa dihentikan sepenuhnya, karena dunia memang harus bergerak. Yang membawa bencana bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan keserakahan dan ketidakseimbangan yang mengikutinya," gema suara itu kian memberat.
"Ingatlah satu hal ini, Anakku..."
Dewa Binatang mendongakkan kepalanya, dan cahaya keemasan meluap dahsyat dari tubuhnya, membutakan pandangan Yana.
"Jangan mengubah terlalu banyak."
"Jika kau memaksa mengubah alur takdir secara drastis sebelum waktunya tiba... bencana yang lebih mengerikan daripada kehidupan pertamamu akan menelan seluruh dunia ini!"
"Tunggu! Dewa Binatang Agung! Jelaskan padaku! Apa yang harus kuhindari?!" jerit Yana panik.
Namun, tubuh serigala raksasa itu perlahan memudar menjadi serpihan cahaya keemasan yang berhamburan.
Suara bisikannya yang terakhir bergema redup di dalam benak Yana sebelum segalanya tenggelam kembali ke dalam kegelapan.
"Kekuatan sucinya akan bangkit saat hatimu memahami apa arti persatuan yang sejati... Berhati-hatilah pada setiap langkahmu..."
"Hah!" Yana tersentak bangun dari tempat tidurnya dengan napas yang memburu berat. Peluh dingin membasahi dahi dan lehernya.
Ia terduduk kaku di atas alas tidur bulu, mendapati dirinya kembali ke dalam gua batu yang redup. Cahaya bulan perak menerobos masuk dari celah pintu gua, menandakan hari masih tengah malam.
Dada Yana naik turun seiring dengan helaan napasnya yang tidak teratur. Sensasi keberadaan Dewa Binatang yang menekan itu terasa sangat nyata, bukan sekadar bunga tidur biasa.
Yana memandangi telapak tangannya yang terbalut kain obat.
'Jangan mengubah terlalu banyak...'
Pesan itu terus berulang-ulang berputar di dalam kepalanya, memberikan rasa gelisah dan kecemasan yang mencekam.
Jika ia tidak boleh mengubah terlalu banyak hal... bagaimana bisa ia menyelamatkan sukunya? Apakah membiarkan beberapa kejadian buruk tetap terjadi adalah harga yang harus dibayar demi mencegah bencana yang lebih besar?
Tetapi jika ia berdiam diri, bukankah masa depan yang kelam itu akan terulang kembali?
"Bagaimana mungkin aku bisa berdiam diri saat mengetahui bahaya mengintai mereka...?" bisik Yana dengan suara gemetar.
Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat, memeluk lututnya di dalam kegelapan gua malam itu.
Bimbingan dari Dewa Binatang tidak memberinya jawaban yang mudah, melainkan menambah beban berat di pundaknya.
Yana sadar, permainan takdir yang ia hadapi kali ini jauh lebih rumit dan berbahaya daripada yang ia bayangkan.
***
Bersambung ....