NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

"Ini bukan hubungan paman-keponakan," gumam Jason.

Kalimat itu terbukti terlalu cepat.

Sore harinya, Kevin datang ke Villa Awan.

Ia datang bukan dengan amarah di telepon, melainkan setelan rapi, wajah lelah, dan buket bunga putih yang jelas dibeli terburu-buru. Security menahannya di gerbang sampai Richard memberi izin lewat Jason. Keira melihat dari jendela lantai dua ketika mobil Kevin berhenti di depan rumah.

"Dia benar-benar nekat," kata Keira.

Richard berdiri di belakangnya. "Aku bisa menyuruhnya pulang."

"Jangan."

"Kamu ingin menemuinya."

"Saya ingin mendengar dia menawarkan apa."

Richard tidak menyukai jawaban itu. Keira bisa merasakan ketidaksukaannya bahkan tanpa menoleh.

Di ruang tamu, Kevin tampak kecil. Villa Awan bukan rumah keluarga Tan yang masih punya sejarah pertunangan. Ini wilayah Richard. Setiap sudutnya membuat Kevin sadar bahwa ia datang ke tempat pria yang bisa menghancurkan keluarganya dengan satu email.

Namun keserakahan lebih kuat daripada rasa malu.

"Keira," katanya begitu Keira turun.

Ia hampir memanggil dengan nada lembut. Hampir.

Richard duduk di sofa tunggal, satu kaki menyilang, manset jade di pergelangan tangan terlihat jelas. Kevin langsung menelan sisa nada manisnya.

"Om Lim."

Richard tidak menjawab.

Keira duduk di sofa panjang, menjaga jarak cukup sopan dari Kevin. "Ada apa?"

Kevin meletakkan buket di meja. "Saya datang untuk memperbaiki keadaan."

"Keadaan apa?"

"Pertunangan kita."

Keira menunduk, menyembunyikan kilatan dingin di matanya.

Kevin melanjutkan cepat, "Selama ini memang banyak salah paham. Saya emosi di wisuda, kamu juga... ya, kamu tahu. Tapi keluarga kita sudah lama punya hubungan. Papa saya dan Engkong dulu membicarakan pertunangan ini bukan main-main. Kalau kita adakan acara formal, semua rumor akan berhenti."

Richard tertawa pendek.

Tidak ada humor di dalamnya.

Kevin langsung kaku.

Keira memegang cangkir teh. "Acara formal?"

"Pertunangan resmi. Undangan keluarga besar Tan dan Ong. Media bisnis kecil saja, tidak perlu terlalu besar. Setelah itu, Ong Corporation bisa menunjukkan stabilitas hubungan dengan keluarga Tan. Lim Group juga mungkin..." Ia melirik Richard, lalu cepat kembali ke Keira. "Maksud saya, semua pihak akan tenang."

Jadi begitu.

Kevin tidak datang meminta maaf.

Ia datang membawa proposal penyelamatan perusahaan dengan Keira sebagai jaminan.

Di tengah penjelasan itu, ponsel Kevin beberapa kali menyala. Nama Vanya muncul di layar sekali, lalu hilang ketika Kevin membalik ponselnya. Keira melihatnya. Richard juga pasti melihat. Kevin masih membawa Vanya di sakunya, sementara mulutnya bicara soal memperbaiki pertunangan.

Keira ingin tertawa sampai dadanya sakit.

"Vanya tahu kamu ke sini?" tanyanya.

Kevin tersentak. "Ini tidak ada hubungannya dengan Vanya."

"Dulu di wisuda kamu bilang aku mengganggu hubungan kalian."

"Saya emosi."

"Sekarang kamu tidak emosi?"

"Sekarang saya realistis."

Keira meletakkan cangkir. "Realistis artinya kamu tetap memilih dia, tapi memakai aku untuk menyelamatkan perusahaan?"

Wajah Kevin memerah. "Kamu jangan memutarbalikkan."

Richard bersandar ke sofa. Tatapannya pada Kevin seperti pisau yang belum dikeluarkan dari sarung.

Keira ingin menamparnya. Keira juga ingin bertepuk tangan. Semakin hina Kevin, semakin mudah nanti ia menjatuhkannya di depan semua orang.

"Kalau aku setuju," kata Keira pelan, "apa yang kamu tawarkan?"

Kevin tampak lega karena mengira pintu terbuka. "Saya akan pastikan posisi kamu dihormati. Vanya tidak akan muncul di acara. Saya juga bisa mengembalikan sebagian hak suara saham kamu yang tertahan di struktur Ong."

Richard meletakkan cangkir.

Suara porselen menyentuh meja terdengar sangat jelas.

"Sebagian?" tanyanya.

Kevin pucat. "Itu... teknis perusahaan."

"Kamu datang meminta Keira menjadi penyelamat Ong, tapi masih menawar haknya?"

"Om Lim, ini urusan saya dan Keira."

Richard menatapnya.

Kevin langsung menunduk. "Maaf."

Keira menahan senyum. "Aku perlu waktu."

"Keira, waktunya tidak banyak. Bank menekan. Vendor mulai panik."

"Itu masalahmu, bukan masalahku."

Wajah Kevin berubah, tetapi ia cepat menahannya. "Kamu dulu tidak seperti ini."

"Dulu aku juga percaya kamu."

Kalimat itu membuat Kevin diam.

Beberapa detik kemudian, ia berdiri. "Saya tunggu jawabanmu besok. Tolong pikirkan baik-baik. Ini bukan hanya soal saya. Ini soal hubungan dua keluarga."

"Aku akan pikirkan."

Kevin meninggalkan Villa Awan dengan buket bunga tetap di meja, tidak disentuh.

Begitu pintu tertutup, Richard berdiri.

"Tidak."

Keira mengangkat wajah. "Om bahkan belum mendengar rencana saya."

"Aku tidak mengizinkanmu menikah dengannya."

"Ini bukan pernikahan, Om. Ini bisnis."

"Pertunangan formal di depan keluarga dan media bukan permainan."

"Justru karena formal, dia tidak bisa lari."

Richard berjalan mendekat. "Kamu ingin mengikat dirimu pada pria yang merendahkanmu demi membuatnya jatuh?"

"Saya ingin mengambil kembali apa yang dia tahan. Saham, reputasi, panggung keluarga. Setelah itu, saya buang dia."

"Kamu bicara mudah."

"Karena saya sudah memikirkannya lama."

"Tanpa bicara padaku."

Keira terdiam.

Itu tuduhan yang benar.

Richard berhenti di depannya. "Kamu meminta aku menunda menghancurkan Ong. Aku menunda. Sekarang kamu meminta aku melihatmu berdiri di samping Kevin dan tersenyum?"

"Senyum palsu."

"Dia tetap akan berdiri di sampingmu."

"Tidak lama."

"Dia akan menyentuh tanganmu di depan orang."

Keira tidak menjawab cepat. Ia baru sadar masalah Richard bukan hanya risiko bisnis. Bukan hanya reputasi. Di kepalanya, bayangan Kevin menyentuh tangan Keira sudah cukup untuk membuat rahangnya mengeras.

"Om cemburu?"

Pertanyaan itu keluar terlalu pelan, tetapi udara menangkapnya.

Richard menatapnya lama.

"Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu."

"Kalau itu bagian dari sandiwara?"

"Cari sandiwara lain."

"Om."

"Tidak."

Keira berdiri. Jarak mereka terlalu dekat. "Saya butuh acara itu."

"Dan aku butuh kamu tidak berada di tangan pria seperti dia."

Keduanya diam.

Di luar, hujan mulai turun lagi, lebih tipis dari malam sebelumnya. Villa Awan terasa seperti kotak kaca yang menyimpan sesuatu yang belum berani diberi nama.

"Saya tidak berada di tangan Kevin," kata Keira.

"Kalau acara itu terjadi, orang akan melihatmu berdiri di sisinya."

"Biar mereka lihat. Setelah itu mereka juga akan melihat saya pergi."

"Kamu yakin bisa pergi kapan saja?"

Keira menatap Richard. "Kalau Om di sana, saya bisa."

Richard terdiam.

Kalimat itu adalah tali. Keira melemparnya dengan sengaja, tetapi saat Richard menatapnya seperti ingin menggenggam tali itu sampai putus, Keira sadar ia sendiri ikut tertarik.

Terlalu dalam, terlalu cepat, terlalu berbahaya untuk diabaikan.

Keira menurunkan suara. "Saya tidak akan punya suami lain, Om."

Mata Richard berubah.

Kalimat itu seharusnya taktik. Seharusnya hanya gula yang diletakkan di tepi jurang. Tetapi setelah mengucapkannya, Keira menyadari lidahnya tidak terasa sepenuhnya berbohong.

Richard diam lama.

Lalu ia berkata, "Lakukanlah. Tapi ingat, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu."

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!