Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Akhirnya Datang dan Meminang
Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango serta Reno Bulan sudah kembali ke Batu Taba. Tentu saja Nguyen Lan, Ngo Chian dan Pendekar Bayangan serta Pendekar Tombak Maut ikut serta.
Hari itu adalah tiga hari sebelum Yuvaraja Mauli Balanaga datang bersama rombongan. Tentu saja kedatangan rombongan putera mahkota kerajaan besar Bhūmī Malayu Dharmasraya untuk meminang putri bungsu Pendekar Budiman, Reno Bulan alias Dewi Bulan.
Kesibukan bukan hanya terjadi di kediaman keluarga Pendekar Budiman. Tapi seluruh warga desa Batu Taba sangat sibuk. Selain menghias dan menata kediaman Pendekar Budiman. Warga desa juga sibuk menghiasi desa mereka.
Berita kunjungan Yuvaraja Mauli Balanaga beserta Mapati Giring Amarta dan rombongan kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya membuat hati semua warga desa Batu Taba penuh semangat. Mereka semua ingin rombongan Yuvaraja menemukan desa mereka bersih, resik dan asri.
Mereka, semua warga desa Batu Taba sangat bangga. Karena Reno Bulan, warga asli desa Batu Taba akan pinang oleh putra mahkota. Tidak ada yang mengira, salah seorang dari warga mereka akan menjadi ratu kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya yang besar dan kuat.
Belasan warga sibuk dibagian dapur. Mereka menyiapkan masakan untuk hari yang ditunggu. Duaekor kerbau besar telah dipotong juga tiga ekor sapi serta lima belas ekor kambing. Tentu puluhan ekor ayam serta aneka ikan juga disiapkan. Piring piring besar dari perak telah dikeluarkan dan di cuci bersih. Tentu saja itu akan digunakan untuk makan bajamba.
Nguyen Lan dan Ngo Chian ikut sibuk membatu bersama gadis gadis Batu Taba membuat berbagai kerajinan untuk hiasan.
"Lan lan, Chian chian.... Sini, ayo kesini." Dewi Rimau Kumango memanggil dua gadis cantik itu.
"Ya Unni.." Nguyen Lan dan Ngo Chian menjawab bersamaan. Keduanya mendatangi Dewi Rimau Kumango.
"Dua hari lagi. Rombongan Yuvaraja sudah akan tiba. Aku mau mengajak kalian berdua untuk melihat semua persiapan."
"Ng... Maksudnya gimana Unni ?"
"Ayo ikut aku. Kita akan keliling untuk melihat pekerjaan yang dilakukan oleh semua orang."
Senyum cerah langsung mengembang di bibir Nguyen Lan dan Ngo Chian.
"Ayo Unni. Apakah termasuk semua persiapan mulai dari pintu desa Batu Taba ini ?"
"Yaa, tentu saja." Ucap Dewi Rimau Kumango sambil melangkah. Nguyen Lan dan Ngo Chian segera menyusul dengan penuh semangat.
Tiga gadis cantik itu berjalan bersama menuju gerbang utama desa Batu Taba. Masih dua hari lagi rombongan Yuvaraja Mauli Balanaga datang. Dewi Rimau Kumango ingin memastikan semua telah tertata rapi, resik dan indah.
"Unni, kita mulai dari mana ?"
"Dari gerbang desa Lan lan."
"Kenapa tidak dari depan rumah saja Unni ?"
"Biar nanti paling akhir kita bisa mengamati lebih teliti semua yang di rumah. Bukankah begitu lebih baik Chian chian ?"
Tidak lama kemudian, tiga gadis cantik itu sampai di gerbang utama desa. Ada beberapa orang pemuda sedang menghias gerbang. Mereka langsung berhenti dan menyapa Dewi Rimau Kumango dengan ramah.
"Salam hormat kami untuk mu nona Dewi Rimau Kumango yang perkasa. Adakah yang bisa kami lakukan untuk Nona dan dua nona yang lain ?"
Dewi Rimau Kumango tersenyum ramah. Mendengar sapaan dengan tutur kata yang halus. "Tidak, tidak ada. Kami bertiga hanya datang untuk melihat lihat sanak semua bekerja bersama."
Nguyen Lan dan Ngo Chian melihat janur ganda yang terpasang di masing masing tiang gerbang. Beberapa tombak didepan janur itu ada terpasang marawa yang besar dengan umbai di ujungnya dan terlihat megah.
Dibalik gerbang juga dipasang marawa dikiri kanan jalan dengan ukuran lebih kecil. Marawa kecil berwarna tunggal disusun selang seling dengan jarak dua puluh tombak.
Nguyen Lan dan Ngo Chian melihat janur yang berayun-ayun oleh hembusan angin. Lembar marawa juga bergetar meliuk seperti ada ular kecil berkejaran menjalar.
"Kalau begitu silahkan dilanjut nona Dewi dan nona nona. Kami akan lanjut bekerja." Pemuda itu mengangguk dan melanjutkan pekerjaan bersama rekan rekannya.
Tiba-tiba Dewi Rimau Kumango melihat jauh keluar gerbang. Senyuman indah terukir lebar di wajah cantiknya. Sesaat kemudian satu bayangan muncul dan bergerak sangat cepat.
Dewi Rimau Kumango menjura dan berucap.
"Selamat datang tetua Dewi Rembulan Emas. Senang sekali bisa bertemu dengan Anda." Begitu ucapan Dewi Rimau Kumango, sosok wanita yang sangat cantik muncul.
"Heee.... Nirmala, lama tidak bertemu. Engkau semakin cantik jelita.
Kapan engkau kembali ke Dharmasraya ? Bagaimana khabar Bagaga ??"
Dewi Rembulan Emas langsung memberondong Dewi Rimau Kumango dengan banyak pertanyaan.
"Wah wah tetua Dewi Rembulan Emas, bagaimana cara aku untuk menjawab pertanyaan tetua yang begitu banyak...?"
Dewi Rembulan Emas tertawa gembira dan merasa lucu sendiri. Dewi Rimau Kumango juga tertawa gembira.
"Oh iya, tetua Dewi Rembulan Emas, izinkan aku mengenalkan dua sahabat yang ikut dari negeri Champa.
Nona cantik berpakaian sutra hijau pupus ini, adalah Nguyen Lan. Putri dari seorang pangeran dari negeri Champa.
Nona cantik satunya adalah Ngo Chian. Pendekar wanita yang sakti, putri dari Patriak sekte Lembah Api yang perkasa."
Dewi Rembulan Emas menatap Nguyen Lan dan Ngo Chian sejenak. Guru dari Dewi Bulan itu terkagum-kagum dalam hati saat merasakan tingkat kependekaran kedua gadis cantik dari negeri Champa itu.
"Nona Nguyen Lan dan nona Ngo Chian. Selamat datang di negeri kami."
"Tetua Dewi Rembulan Emas, tetua terlalu sungkan. Panggil aku Lan lan..."
"...dan aku Chian chian "
"Tanpa embel-embel nona."
Nguyen Lan dan Ngo Chian berkata bersama sambil menjura dalam.
Melihat sikap kedua gadis itu. Rasa kagum muncul dalam hati Dewi Rembulan Emas.
"Ayo kita menemui Reno Bulan."
"Baik tetua." Dewi Rimau Kumango bersama Nguyen Lan dan Ngo Chian tidak meneruskan rencana mereka. Tiga gadis cantik itu berjalan bersama Dewi Rembulan Emas kembali ke rumah.
Dua hari berlalu dengan cepat. Matahari belum naik terlalu tinggi ketika rombongan Yuvaraja Mauli Balanaga bersama Mapati Giring Amarta sampai di rumah pendekar Budiman.
Iring iringan yang sangat megah memasuki gerbang nagari Batu Taba. Ratusan warga desa nagari Batu Taba berbaris sepanjang jalan desa. Paling depan, menunggang kuda hitam besar adalah Senopati muda Hanusa dengan pakaian resmi yang lengkap. Semua orang menatap Senopati muda yang gagah itu dengan kagum.
Tiba-tiba tirai jendela kereta utama tersingkap. Wajah tampan Yuvaraja (putra mahkota) Mauli Balanaga terlihat. Dia mengangkat satu tangannya dan berdadah kepada semua warga yang berdiri di sepanjang jalan.
Warga kemudian juga bergerak mengikuti iring iringan kereta kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu dari belakang. Mereka terus mengikuti sampai di depan rumah pendekar Budiman.
Pandeka Pedang Suling Kumala bersama Dewi Rimau Kumango, Dewi Rembulan Emas beserta Pendekar Golok Ganda Talaud bersama Walet Pasisia menyambut kedatangan rombongan Yuvaraja Mauli Balanaga dan Mapati Giring Amarta. Nguyen Lan dan Ngo Chian, serta Tombak Maut dan Pendekar Bayangan ikut berbaris di belakang Pandeka Pedang Suling Kumala.
Diiringi dengan suara saluang dan talempong, rombongan Yuvaraja Mauli Balanaga dan Mapati Giring Amarta menaiki pendapa. Mereka terus dibawa ke langkan untuk yang luas.
Pandeka Pedang Suling Kumala selaku tuan rumah menerima rombongan kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya. Setelah memberi sambutan dan kata pepatah jo petitih. Mapati Giring Amarta juga menjawab kata. Mewakili Dapunta Hyang, Mapati Giring Amarta menyampaikan niat dan tujuan kunjungan mereka.
Acara menyampaikan pinangan berjalan lancar dan penuh hikmat. Dewi buk dan diapit oleh Dewi Rembulan Emas dan Dewi Rimau Kumango. Disamping dua pendamping itu duduk basimpuah Nguyen Lan dan Ngo Chian.
Yuvaraja Mauli Balanaga menyerahkan tanda dan seserahan. Setelah itu mereka menetapkan waktu pernikahan. Yang pasti pesta pernikahan akan dilaksanakan di kota raja Dharmasraya.
Seluruh warga desa Batu Taba bergembira ria. Mereka merasa bangga, karena gadis yang berasal dari desa mereka akan menjadi ratu di kerajaan besar Bhūmī Malayu Dharmasraya nantinya.
Dua hari kemudian Dewi Bulan langsung diboyong ke kota raja dan menempati istana sendiri. Adik dari Bidadari Merah itu ditemani oleh Nguyen Lan dan Ngo Chian. Sampai hari pernikahan.
Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango lalu menuju nagari Tangah Sawah di Luhak nan Tangah untuk bertemu Tuangku Labai Barewah alias Harimau Kumango ayahanda Dewi Rimau Kumango.
\=\=\=\=\=***\=©
# marawa \= bendera panjang yang terdiri dari tiga warna, kuning, merah dan hitam.
# makan bajamba \= makan bersama dalam satu piring besar.