>>>Bijak dalam memilih bacaan.
Novel ini mungkin sedikit di luar nalar pembacanya 🙏
Dan di anggap terlalu 'Extrem'!<<<
*
*
Apa jadinya, jika seorang Zico Alviano Nugraha. Yang seakan tidak bisa hidup jika tidak dikelilingi wanita dan dunia malam. Akhirnya jatuh cinta pada Azalea Az-Zahra. Gadis yang menjual rahimnya untuk sepupu Zico, Biandra Aksa Nugraha. Karena, istri Biandra didiagnosa mandul.
*
Diluar dugaan, ketika Azalea yang sedang hamil tanpa sepengetahuan keluarga besar Nugraha, justru di jodohkan dengan Zico oleh Kakek Nugraha. Tentu, kesempatan itu tidak akan disia-siakan oleh Zico. Dia tidak perduli walaupun wanita itu sedang mengandung anak orang lain.
*
Keadaan semakin rumit ketika hati mereka saling tersakiti karena perasaan masing-masing.
*
Akankah mereka tetap bertahan, diatas kebohongan demi kebohongan yang harus mereka lakoni. Atau justru menyerah?
***
Kisah lengkapnya hanya ada di "My Little Wife - Ayu_Lestary"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 35 >>> TERLUKA PART II
Biandra mengernyitkan alisnya 'Buat ulah apa lagi anak itu.' Biandra menggepal geram tangannya. Lalu melangkah menuju kotak p3k berada. "Ini!" Sambil menyodorkan kotak p3k pada Azalea.
"Makasih Mas." Azalea langsung bergegas menuju ke kamarnya dan meninggalkan Biandra masih dengan rasa penasarannya.
***
Azalea berjalan dan duduk di hadapan Zico yang masih dengan setia menunggunya dikamar.
Zico terus menatap wajah Azalea yang sedang serius mengobati luka di tangannya. "Maaf.." Untuk kesekian kalinya, Zico mengucap kata itu. "Au!" Pekik Zico kesakitan ketika Azalea menekan lukanya saat sedang membalutnya dengan perban.
"Awas aja kalau sampe gak nurut lagi. Kalau aku bilang gak mau berati gak mau! Gak pakek bantahan bantahan segala." Azalea memperingati dengan repetan bak mak mak yang sedang memarahi anaknya. Kini Zico kembali bisa tersenyum. Dia lega Azalea kembali merepet seperti sebelumnya. Zico sangat takut dengan 'Kediaman' Azalea. Dia benar-benar takut kalau Azalea benar-benar marah dan tidak akan memperdulikannya lagi.
"Hehe..." Zico terkekeh.
Sedangkan Azalea hanya memanyunkan bibirnya dan dengan telaten membalut luka Zico dengan perban.
"Selesai." Imbuh Azalea dan kembali menutup kotak p3k tersebut.
"Mau kemana lagi!" Tanya Zico ketika melihat Azalea beranjak dari duduknya.
"Simpan kotak p3k ini."
"Ikuttt .." Dengan manjanya, bak anak kecil. Terkadang disaat bersama Azalea, Zico seakan bukan dirinya sendiri. Dia seakan menjadi sosok lain dan bertingkah bertolak belakang dengan dirinya yang angkuh, cuek dan terkesan sombong.
Zico berjalan sambil mengandeng tangan Azalea. "Apaan sih. Gandengan segala? Emang mau nyebrang?" Canda Azalea sambil terkekeh melihat tingkah Zico bak ingin selalu menempel dengan Azalea.
"Suka suka aku lah." Tangan tangan aku juga.
"Idih..."
"Ehemmm.." Suara deheman itu menghentikan langkah keduanya. "Bisa bicara sebentar." Ucap Biandra pada Zico.
Dengan cepat Azalea menarik tangannya dari genggaman Zico, seakan takut pada Biandra.
"Aku duluan." Azalea mempercepat langkahnya. Meletakkan kotak p3k pada tempatnya semula, lalu mengambil langkah seribu kembali kekamarnya.
Azalea menghela nafas dalam sesaat setelah masuk dan menutup pintu kamar. Bak seakan kepergok sedang selingkuh. Lalu, dia terkekeh seorang diri. Memikirkan hal konyol yang dia lakukan. 'Untuk apa aku ketakutan, memangnya apa yang sudah aku lakukan.' Azalea melangkah menuju tempat tidur. Lalu terlelap disana.
***
"Ada apa?" Tanya Zico tanpa ingin membuang waktu lebih lama.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan libatkan Azalea dalam permainanmu."
"Permainan apa memangnya?" Zico terkekeh sinis.
"Aku tahu kamu bukan orang yang tulus dalam hubungan. Entah sudah berapa wanita yang sudah kamu sakiti."
"Kamu takut Azalea jatuh cinta padaku ?"
"Takut ? Untuk apa ? Jelas aku sudah mendapatkan hatinya!"
"Sungguh?" Dengan nada mengejeknya. "Walaupun begitu tidak ada yang bisa kamu lakukan. Kamu tidak akan pernah bisa memilikinya."
"Bisa atau tidak itu urusanku." Jawab Biandra dengan nada kesal dan mulai emosi. "Aku harap, memar seperti di wajah Azalea saat ini tidak terulang lagi. Jangan libatkan dia dalam setiap aktivitasmu yang berbahaya itu. Dan satu lagi, Azalea saat ini dalam keadaan harus banyak istirahat. Mungkin kamu tidak perduli dan tidak mau tahu, tapi Azalea sudah menanda tangani kontrak dan aku sudah membayar mahal untuk anak yang berada di dalam kandungannya saat ini. Bukan kamu, tapi Azalea yang akan menerima konsekuensinya jika terjadi sesuatu pada Anakku!" Biandra memperingati.
Zico kehabisan kata-kata, tak ada bantahan untuk itu.
Biandra berlalu pergi setelah selesai memperingati Zico tentang hal itu.
Tidak, Biandra masih belum tenang walaupun sudah memperingati Zico, dia masih merasa Azalea tidak aman jika bersama Zico. Perasaan Biandra masih tak karuan, memar merah itu sungguh mengganggunya. Rasanya ingin menjumpai Azalea, mengelus pipinya, mengobatinya sampai sembuh. Namun Biandra tak berdaya, dia hanya bisa menyimpan rasa yang justru menyakitkan setiap kali berjumpa dengan Azalea karna tak dapat berbuat apa-apa.
***
Zico masuk kedalam kamar, dan ternyata Azalea sudah tertidur. Dipandanginya wajah Azalea yang sedang terlelap. 'Aku akan membahagiakanmu. Akan aku buktikan, keberadaanmu di sampingku tidak akan sia-sia.'
Zico meraih selimut, menyelimutin tubuh Azalea yang ditekuk karena kedinginan.
Zico sedang sangat menahan dirinya, sebagai laki-laki normal. Berada di dalam kamar hanya berdua dengan satu-satunya wanita yang dapat dengan cepat meluluhkan hatinya membuat kejantanannya terganggu.
Berulang kali diliriknya tubuh wanita yang sedang terbaring di sampingnya itu. Bibir yang lembut, dan dada yang menggoda membuat Zico berulang kali menelan saliva nya
'Tidak tidak! Tahan Zico, sampai dia benar-benar menjadi milikmu.' Zico mencoba menetralkan gairah yang semakin bergemuruh di benaknya.
Sebejat apapun Zico, dia tidak akan melakukannya sebelum Azalea benar-benar siap dan mengakuinya sebagai suami.
2 bulan menjadi sepasang suami istri, itu hanya sebatas status. Dan Azalea sama sekali tidak menganggap Zico sebagai suaminya.
Satu kata yang selalu di ingat oleh Zico. Kata yang di ucapkan oleh Azalea dimalam pertama pernikahan mereka. 'Kamu memang suamiku, tapi itu hanya didalam buku Nikah. Aku hanya menganggapmu Teman, tidak lebih dari itu!'
Walaupun Zico selalu bersikap layaknya seorang suami yang seakan tak ingin berpisah dari istrinya, itu hanya dijadikan sebagai bahan candaan di antara keduanya. Yah, begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Azalea. Jelas, itu bertolak belakang dengan apa yang ada dalam pikiran Zico.
Zico berbalik membelakangi Azalea, jika dia menunda untuk mengalihkan pandangannya. Mungkin hal yang tidak di inginkan pasti akan terjadi.
***
Pagi mulai menyapa, udara sejuk kian terasa karena hujan mulai membasahi bumi. Suara hujan membuat Azalea seakan enggan untuk beranjak dari tidurnya. Semakin di dekapnya erat guling yang ada dalam pelukannya.
"Lea bangun." Sambil menggoyangkan pelan bahu Azalea.
"Aaa bentar lagi. Aku masih ngantuk." Rengek Azalea.
"Oke baiklah, 5 menit terlambat akan dipotong gaji!" Mendengar kalimat itu, Azalea terlonjak dari tidurnya. dengan cepat dia bergegas untuk kekamar mandi.
"Pelan-pelan nanti terpeleset." Zico mengingatkan sambil terkekeh melihat kegigihan Azalea untuk mengumpulkan cuan.
Setelah selesai, keduanya keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
Mereka sedikit terlambat, karena semuanya sudah mulai sarapan.
Zico membantu menarik kursi Azalea dan mempersilahkan Azalea untuk duduk. Dan Zico juga menyajikan makanan untuk Azalea. Seakan itu sudah menjadi kebiasaannya, selalu melayani Azalea dalam setiap hal.
Pemandangan itu mendapatkan cibiran dari Mona.
"Enak ya, jadi Tuan Putri. Sampe dilayani segala. Gak ada tangan? gak bisa ambil sendiri?" Dengan nada lembut, tapi menyakitkan.
"Ada kok, tapi suami ku hanya lebih perhatian dari pada suami suami yang lain." Jawab Azalea lembut tapi menohok.
Tidak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Tapi kalimat itu terlanjur menyinggung Biandra yang seketika memanas mendengar kalimat yang keluar dari mulut Azalea itu. Entah karena makna dari kalimat itu, atau karna orang yang mengucapkannya.
"Apa suami kamu sesempurna itu?" Kini Biandra tak lagi hanya diam seperti biasa.
.
.
.
.
NEXT>>>