Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Itu suara orang yang sudah tahu sesuatu.
Kiana tidak langsung bertanya. Di ujung telepon, Vani juga tidak langsung menjelaskan. Beberapa detik hanya ada bunyi napas dan suara lift apartemen yang turun jauh di belakang.
"Vani," panggil Kiana pelan, "kamu tahu siapa Pak Linson?"
"Gue tahu nama itu," jawab Vani akhirnya. "Tapi ini bukan obrolan lewat telepon. Dan Kia, untuk sekarang, jangan terlalu dekat dengan dia."
"Dengan Linson atau dengan Hans?"
Vani diam.
Jawaban paling buruk kadang justru tidak berbentuk kata.
"Aku masih punya sidang tesis," kata Kiana setelah menahan napas. "Kita bicara setelah aku pulang."
"Kia..."
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Tapi kalau kamu menyembunyikannya untuk melindungiku, pastikan suatu hari nanti alasannya cukup baik."
Ia menutup telepon sebelum Vani sempat meminta maaf.
Dua hari berikutnya, Kiana memaksa dirinya masuk ke mode kerja. Demo awal Vista Home sudah dikirim ke kontak yang diberikan Fang. Navara Tech mulai bergerak lagi, pelan tetapi nyata. Namun di tengah semua itu, ada satu kewajiban lama yang belum selesai: sidang tesis di universitas swasta tempat ia dulu kuliah.
Pagi keberangkatan, Hans datang ke apartemennya tanpa bel. Ia membawa kunci Bentley yang dulu ia biarkan di meja.
"Pakai mobil ini," katanya.
Kiana yang sedang menyusun berkas sidang di meja makan menoleh. "Kupikir kamu tidak janji pakai."
"Hari ini kamu perlu."
Matanya jatuh ke map tebal di tangan Kiana. Ia mengambil halaman pertama sebelum Kiana sempat melarang.
Judul tesis itu tercetak rapi:
Kerangka Keamanan Model AI Terdesentralisasi Berbasis Federated Learning dan Differential Privacy.
Hans membaca abstrak selama kurang dari satu menit. Alisnya bergerak sedikit.
"Universitasmu tidak pantas untuk tesis ini."
Kiana terdiam.
Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian kosong. Ia seperti seseorang yang baru saja membandingkan standar akademik, struktur riset, dan kedalaman teknis dalam satu tarikan napas.
"Kamu bahkan bisa menilai tesis?"
"Aku bisa membaca."
"Itu bukan jawaban."
"Naik. Aku antar ke bandara."
Ia selalu begitu. Begitu pertanyaan menyentuh bagian yang ia sembunyikan, ia mengangkat barang, membuka pintu, atau menyuruhnya makan.
Di Bandara Soekarno-Hatta, hujan tipis membuat aspal parkiran mengilap. Hans turun lebih dulu, lalu mengambil koper kecil dan map tesis Kiana dari bagasi. Ia bergerak terlalu alami, seperti mengantar orang bukan hal asing baginya.
Kiana baru hendak mengambil map ketika melihat mobil hitam berhenti beberapa baris dari mereka.
Nomor plat itu ia kenal.
Mobil Jovian.
Jovian turun dari sisi pengemudi. Entah mengantar siapa, atau memang sengaja muncul di sana, matanya langsung menemukan Kiana.
Tubuh Kiana bergerak sebelum pikirannya selesai.
Ia maju satu langkah dan memeluk Hans.
Hans membeku hanya sepersekian detik. Lalu lengannya melingkar di pinggang Kiana, mantap, tidak berlebihan, cukup untuk terlihat seperti keintiman yang wajar.
Dada Kiana menempel pada kausnya. Aroma sabun dan hujan tipis masuk ke hidungnya. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk sebuah sandiwara.
"Jovian," bisiknya.
"Aku tahu."
Suara Hans rendah di atas kepalanya. Telapak tangannya tidak meremas, hanya menjaga. Justru karena itu, Kiana makin sadar pada jarak yang hampir tidak ada di antara mereka.
Jovian berhenti beberapa meter dari sana.
Kiana tidak menoleh. Ia hanya berdiri dalam pelukan Hans sampai suara langkah Jovian menjauh dengan kasar.
Ketika akhirnya ia mundur, ujung telinganya panas.
"Maaf," ucapnya.
"Tidak perlu."
"Aku memakai kamu."
"Aku tahu."
Jawaban itu terlalu tenang. Kiana menatapnya, mencari tanda tersinggung, tetapi Hans hanya menyerahkan map tesis.
"Sidang dengan baik."
"Kalau dosenku menyebalkan?"
"Buat mereka diam."
Kiana tertawa kecil. Ketegangan di dadanya pecah sedikit.
Beberapa jam kemudian, ia duduk di ruang sidang universitasnya. Ruangan itu tidak besar, AC-nya terlalu dingin, dan deretan kursi belakang dipenuhi teman seangkatan yang berbisik-bisik. Kiana bisa merasakan beberapa tatapan: kasihan karena pernikahannya batal, penasaran karena namanya masih Lim, sinis karena ia jarang muncul di kampus selama beberapa bulan terakhir.
Di meja penguji, tiga dosen sudah duduk.
Kursi keempat terisi oleh seseorang yang membuat suara ruangan turun.
Vanya Pai.
Blazer putih, senyum halus, rambut disisir sempurna. Di papan nama kecil tertulis: Reviewer Tamu, lulusan MIT.
Kiana hampir tertawa.
Perempuan yang tidak bisa membuka key enkripsi Cakrawala AI sekarang duduk sebagai penguji tesisnya.
"Kiana," sapa Vanya manis. "Semoga kamu siap. Sidang akademik berbeda dengan ruang rapat keluarga."
Kiana duduk tegak. "Justru karena ini akademik, saya lega. Data tidak bisa menangis pura-pura."
Salah satu dosen batuk pelan menahan senyum.
Presentasi dimulai.
Kiana menjelaskan tesisnya tanpa membaca. Ia memaparkan bagaimana model AI terdesentralisasi bisa dilatih tanpa memindahkan data mentah, bagaimana differential privacy menjaga pola sensitif tetap tertutup, dan bagaimana sistem honeytrap bisa mendeteksi penyusupan yang mencoba meniru trafik legal.
Awalnya para dosen hanya mencatat.
Lima menit kemudian, kepala mereka mulai terangkat.
Sepuluh menit kemudian, salah satu profesor bertanya, "Ini Anda implementasikan sendiri?"
"Ya, Pak. Prototype-nya berjalan di empat node simulasi dan satu node fisik."
"Untuk level S1, ini terlalu matang."
"Saya mengerjakannya lebih lama daripada yang terlihat di kalender akademik."
Vanya mengangkat pena.
"Saya punya pertanyaan." Senyumnya tetap lembut. "Pada grafik validasi halaman empat puluh dua, ada puncak noise aneh. Dalam paper internasional, pola seperti itu sering disebut ghost noise. Bisa juga muncul kalau data uji disisipkan belakangan. Apakah Anda ingin menjelaskan?"
Ruangan langsung hening.
Kalimat itu terdengar teknis, tetapi niatnya jelas: data palsu.
Kiana menatap grafik di layar. Ia sudah menunggu pertanyaan itu sejak semalam.
"Itu bukan kesalahan," jawabnya. "Saya menanam puncak itu sebagai reverse honeypot."
Dosen pembimbingnya mencondongkan badan. "Maksud Anda?"
"Jika ada penyerang mencoba merekonstruksi data privat dari noise yang saya suntikkan, mereka akan tertarik pada puncak itu. Sistem kemudian menandai akses tersebut sebagai anomali agresif. Dengan kata lain, puncak itu bukan data yang disembunyikan. Itu umpan untuk menangkap pencuri."
Salah satu dosen penguji meletakkan penanya.
"Menarik."
Vanya masih tersenyum, tetapi ujung bibirnya kaku. "Tapi pendekatan seperti itu berisiko membuat model tidak stabil."
"Karena itu saya membatasi puncaknya di node non-produktif dan tidak memasukkannya ke parameter utama. Kalau Bu Vanya melihat halaman empat puluh tiga, saya sudah sertakan matriks stabilitasnya."
Kiana menekan tombol.
Halaman empat puluh tiga muncul.
Angka-angka itu bersih.
Profesor paling senior memandang layar lama sekali, lalu berkata kepada dosen lain, "Ini harus dikirim ke Prof. Yansen. Beliau sedang mencari pendekatan keamanan untuk model terdistribusi."
Jantung Kiana berhenti satu detik.
Prof. Yansen.
Nama itu seperti pintu tua yang dulu pernah ia tutup sendiri. Dalam kehidupan sebelumnya, ia dua kali menolak kesempatan menjadi murid pria itu demi tetap berada di sisi Jovian. Ia mengira cinta lebih penting daripada masa depan.
Ternyata yang ia sebut cinta hanyalah cara lain untuk mengecilkan diri.
"Saya akan rekomendasikan," kata profesor itu. "Kalau Prof. Yansen bersedia membaca, ini bisa menjadi awal yang bagus."
"Terima kasih, Prof."
Sidang seharusnya selesai di sana.
Namun Vanya meletakkan penanya dan bertanya dengan suara lembut yang sengaja dibuat bisa didengar semua orang.
"Kiana, dengan kemampuan seperti ini, saya agak penasaran. Kenapa dulu kamu memilih universitas swasta biasa? Bukankah keluarga Lim punya sumber daya untuk mengirim kamu ke kampus yang lebih baik?"
Beberapa teman seangkatan langsung saling melirik.
Pertanyaan itu bukan akademik. Itu pisau kecil.
Karena jawabannya adalah Jovian.
Dulu Kiana memilih kampus ini karena dekat dengan rencana hidup Jovian, dekat dengan lingkarannya, dekat dengan semua hal yang membuatnya merasa dibutuhkan. Ia menukar kesempatan yang lebih luas dengan harapan menjadi perempuan yang mudah ditemani.
Jari Kiana dingin di atas meja.
Namun ia tidak menunduk.
"Karena dulu saya membuat keputusan yang tidak cerdas," katanya. "Untungnya, tesis ini membuktikan satu hal. Tempat yang biasa tidak selalu bisa mengurung pikiran yang tidak biasa."
Kali ini, profesor senior benar-benar tersenyum.
Vanya tidak punya pertanyaan lagi.
Sore itu, setelah Kiana keluar dari ruang sidang, koridor universitas terasa lebih terang. Beberapa teman mendekat memberi selamat. Ada yang sungkan, ada yang tulus. Kiana menerima semuanya seperlunya.
Di ujung koridor, Vanya berdiri dekat jendela sambil menelepon.
Suaranya rendah, tetapi cukup terdengar saat Kiana lewat.
"Jovian, profesor itu mau mengirim tesis Kiana ke Prof. Yansen."
Kiana berhenti di balik belokan.
Suara Jovian terdengar dari speaker kecil, tertahan tapi jelas.
"Aku urus. Tesis itu tidak akan sampai ke meja Prof. Yansen."
Vanya menghela napas lega. "Terima kasih, Kak."
Kiana memandang map tesis di tangannya.
Baru saja ia membuka satu pintu.
Mereka sudah mencoba menguncinya dari luar.