Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU YANG MAU
"Kenapa? Kenapa kalian seolah mendukung pernikahan mereka ini? Gak ada gunanya juga, mereka belum siap menikah. Kala harusnya kuliah saja tanpa memikirkan kelakuan istrinya," ujar Nenek yang masih belum paham dengan situasi sebenarnya.
"Bu, Pevita gak melakukan apa-apa, tapi ada laki-laki yang mau mendekati Pevita," Tante Lily berusaha menjelaskan, tapi respon sang ibu malah menjadi-jadi.
"Ya berarti salah si perempuan, gak mungkin ada lelaki yang mau mendekati perempuan kalau si perempuan gak ganjen," nenek masih saja berkata kasar merujuk pada Pevita. Dengan badan yang masih ngilu, Kala berusaha menggenggam tangan sang istri yang tiba-tiba ingin melepasnya. Yakin sekali Pevita ingin keluar dari ruangan ini. Dia tak berani mendongakkan kepala, wajahnya memerah menahan tangis.
"Nek, nenek kok bilang gitu sama Pevita. Wajar kalau cewek cantik banyak yang suka, Nek!" Kala membela sang istri dibalut dengan memujinya pula. Tapi nenek tetaplah nenek yang akan berpegang teguh pada kesan pertama. Kalau di awal pertemuan sudah mendapat coretan merah di mata nenek, maka akan selamanya coretan merah itu menempel pada pribadi orang itu, dan sekarang Pevita mengalaminya.
Kedua orang tua Kala, Tante Lily, dan Kala yang terus membela Pevita tetap saja tak bisa meruntuhkan kebencian nenek pada Pevita. "Halah sok cantik iya," ucap nenek masih jutek.
"Sudah, Bu. Kita ke sini buat sambang Kala, bukan memojokkan Pevita begini," papa Kala ikut meredam emosi sang ibu.
"Kamu juga kenapa dulu menyetujui Kala menikah. Anak usia 18 tahun diizinkan menikah itu gimana. Dapat istri juga manja, gak becus jadi istri lagi," Pevita mengeratkan kepalan tangan, semakin ke sini kok harga dirinya semakin direndahkan.
"Kamu tahu menantumu itu gak bisa apa-apa, serba nyuruh pembantu, Kala saja gak dilayani dengan baik sampai terjadi hal mengerikan seperti ini. Selama dia tinggal bersama kalian, apa pernah dia mengalami pengeroyokan begini, enggak kan. Ya karena sok sok an melindungi istrinya itu jadi dikeroyok. Sudahlah, memang lebih baik kalian bercerai saja. Pasti hidup Kala nanti lebih baik," beliau terus menatap tajam Pevita, seolah bisa mengintimidasi Pevita.
"Sayang!" tegur Kala, genggaman tangan Pevita terlepas begitu saja dari rengkuhan Kala. Sang suami menebak, pasti Pevita ingin membalas segala ucapan nenek.
"Kamu kalau janda tetap ada yang mau, karena kamu kaya, uang mu bisa membeli lelaki mana pun kecuali cucu saya!" makin menyakitkan.
"Bu, cukup, Bu. Ibu gak perlu mengatai Pevita seperti itu," pembelaan kembali memihak pada Pevita dari ibu tiri dan ibu mertuanya. Namun ruang inap itu makin riuh dengan perdebatan.
"Sudah, sudah! Nenek mau aku bercerai dari Kala kan. Oke, aku akan kabulkan. Kalau papa datang, akan diurus sekalian. Tapi satu yang pasti, aku gak pernah direndahkan sebegininya oleh sesama perempuan, dan sialnya perempuan itu tidak pernah merawatku, mendidikku, bahkan menjamin kehidupanku. Mulutnya terlalu kasar sebagai orang tua, saya setuju untuk cerai. Karena sejak awal, saya pun menolak Kala!" tangan Kala yang menggenggam Pevita dilepas dengan kasar, tanpa pamit Pevita langsung keluar kamar inap sang suami. Tante Lily dan mama Kala segera menyusul Pevita. Drama kejar-kejaran terjadi di koridor rumah sakit. Langkah Pevita begitu cepat. Maklum dorongan sakit hati lebih kuat dan secepatnya menghindar memang lebih baik.
Pevita tak peduli dipanggil mama mertua atau ibu tirinya. Ia ingin segera pulang dan menelepon sang papa. "Pevita, Nak!" teriak mama Kala, tapi tak digubris Pevita.
Di kamar inap Kala masih terjadi perdebatan, kali ini Kala versus dengan sang nenek. "PUAS! NENEK PUAS MEMAKI ISTRIKU. NENEK GAK BERHAK BERKATA KASAR. SEJAK TADI AKU MENGHORMATI NENEK, MAKANYA AKU DIAM SAJA. TAPI KALAU BEGINI, AKU MENYESAL JADI CUCU YANG MENGHORMATI NENEK!" Kala langsung melepas infus, dan berlari keluar tanpa pakai sandal mencari Pevita. Sang papa juga tak mengejar, sangat paham watak sang putra.
"Gak sepatutnya nenek bilang begitu pada Pevita. Mereka sudah menikah, Nek. Kala yang cinta pada Pevita. Kalau kayak gini hubungan keluarga kita dengan papa Pevita bisa runyam.
"Biarin," ucap beliau dengan bibir bergerak ketus. Papa Kala menggelengkan kepala dan segera mengejar sang putra, takut sempoyongan dan pingsan. Sedangkan Nenek hanya mengedikkan bahu, tak ada simpati sama sekali pada situasi kali ini. Beliau tetap duduk manis menunggu pelaku drama kejar-kejaran.
Pevita dipeluk oleh bunda, dan mama mertuanya juga berdiri di sampingnya. Istri Kala menangis sesenggukan. Tante Lily hanya diam, membiarkan anak tirinya itu menangis. Mama Kala hanya bisa menghela nafas berat, berkali-kali.
Ketiganya duduk di kursi tunggu di lorong rumah sakit, Kala dan papa kembali ke kamar, karena sang pasien meringis kesakitan. "Sejak awal aku juga gak mau menikah dengan Kala, Bund. Tapi gak mungkin juga pernikahan ini diakhiri begitu saja. Aku dan Kala sudah sepakat buat saling menjaga pernikahan ini, dan saling kerja sama membangun rumah tangga. Kami juga sudah punya komitmen, kenapa sih nenek sejahat itu sama aku? Padahal aku gak minta nikah sama Kala, kenapa beliau sejutek itu?" tanya Pevita masih dengan mode tangis.
"Gimana, Dek?" tanya Tante Lily pada mama Kala. Ditanya begitu mama Kala juga gugup mau jawab.
"Ma. Mama tahu sesuatu kah, kenapa nenek bisa senyelekit itu omongannya ke aku? Tolong, Ma. Jawab aku. Aku gak bisa disuruh sabar dengan ucapan tajam beliau, Ma!" keluh Pevita dengan air mata bercucuran. Mama Kala membenarkan rambut Pevita yang menempel di pipi.
"Nenek terlalu menyanyangi Kala, Mbak. Sejak kecil, Kala sudah digadang-gadang oleh nenek akan disekolahkan dokter oleh beliau. Tapi nyatanya berkali-kali tes juga gagal masuk kedokteran. Ketika Kala diterima di jurusan Teknik Informatika, Kala membujuk beliau bahwa jurusan ini sangat berguna di masa depan. Kala janji akan menciptakan suatu sistem komputerisasi yang bisa dimanfaatkan di bidang kedokteran. Sukses gak harus jadi dokter. Nenek pun luluh. Setelah terpaksa menerima jurusan Kala, beliau kembali kecewa karena Kala memilih menikahi kamu. Beliau merasa kecewa dua kali pada Kala, dan saat kalian menikah, nenek kan gak ikut. Restu beliau merasa dilangkahi, begitu lah alasan beliau gak suka pada pernikahan Kala ini, maaf Mbak!" jelas mama mertua tak enak hati, sembari mengelus lengan sang menantu.
"Lalu aku harus bagaimana, Ma. Apa harus bercerai? Sedangkan aku sudah tidak gadis lagi," Pevita makin menangis, memikirkan nasibnya kalau Kala sampai menuruti keinginan sang nenek.
Mama Kala menggeleng, "Meski Kala cucu kesayangan beliau, tapi mama yakin anak mama tidak semudah itu melepas tanggung jawab sebagai suami. Bahkan menurut mama, Kala akan berontak pada nenek demi mempertahankan rumah tangga kalian, percaya sama mama!" Pevita makin mewek, dia sudah tak punya keberanian bertemu dengan wanita tua itu.
yuk bisa yuk kita lakban bntar aja
besok jadwal latihan Zumba lo