Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT CEMBURU
"Yakin nih, Yang. Aku gak ditemani makan?" tanya Kala yang tak kunjung keluar kamar, menunggu Pevita yang masih anteng depan laptop, padahal Kala sudah dua kali meminta ditemani makan pesmol. Nyatanya sang istri jawab enggak. Curiga kalau istrinya ngambek, tapi ngambek kenapa? Perasaan Kala tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan menurutnya, Kala sudah sangat perhatian pada sang istri, setiap aktivitasnya pasti laporan, bahkan di tengah-tengah sibuk garap proyek, masih menyempatkan chat, belum lagi pulang pun masih bawa buah tangan kesukaan istri. Tak lupa, ia menjadi tester pertama masakan Pevita. Kurang apa coba?
"Yang, aku capek pulang kerja mau kamu manjain loh!" Kala masih merengek agar Pevita ikut turun, menemani makan.
"Capek kerja juga karena kemauan kamu sendiri, bukan aku yang nyuruh. Lagian, kenapa kamu mengeluh saat di rumah, oh pasti di luar karena lebih bebas sih, mau berduaan dengan cewek atau cuci mata di cafe!" Kala mengerutkan dahi, kok responnya gini? mana minuman dan makanan yang dibelikan Kala dibiarkan saja di meja, tak kunjung disentuh untuk menemani tuan putri menatap laptop.
"Kok kamu gitu?" balas Kala heran.
"Ya benar kan? Akuin aja."
"Bentar deh, Yang. Aku kerja kan belajar tanggung jawab ke kamu, terus cewek? Mbak Nafisah yang kamu maksud? Kan aku pure kerja, gak ada tuh aku berinteraksi dengan Mbak Nafisah atau cewek lain selain kuliah dan proyek. Di cafe pun aku fokus ke laptop, gak ada acara cuci mata seperti yang kamu maksud."
"Maling mana ada yang mau ngaku," gumam Pevita yang masih bisa didengar Kala. Badan dan otak sudah sangat lelah, ditambah mood swing sang istri, memancing jiwa ngomel Kala juga.
"Kamu ini sebenarnya kenapa sih? kalau aku ada salah bilang, gak tiap kali ada masalah ngambek terus. Aku cowok, gak peka soal beginian, harus bisa menebak mood kamu anjlok kenapa. Udah lah, aku juga lapar. Kalau gak mau nemenin aku bisa makan sendiri," ujar Kala mengalah, daripada terus berdebat lebih baik makan sendiri saja, sembari introspeksi kenapa Pevita bisa menuduhnya berinteraksi berlebih dengan perempuan lain.
Sepeninggal Kala, Pevita segera beranjak mengambil ponsel sang suami, biasanya kalau dia kerja proyek akan memotret segala aktivitas sebagai bukti dokumentasi. Pevita gengsi kalau langsung meminta ponsel sang suami, inilah kesempatan yang harus ia manfaatkan.
Membuka grup proyek, Pevita segera scroll kegiatan hari ini. Hatinya deg-deg an, takut kalau foto yang diambil Refan sama persis dengan dokumentasi Kala. Bahkan, Pevita meneguk ludahnya kasar, sekilas membaca chat Nafisah iya aku otw. Nanti aku pesan makanan sendiri saja, Kal. Aku berangkat bareng Kamal.
Nafasnya berhembus lega saat foto-foto dokumentasi kegiatan, semuanya bertiga, Kamal selalu berada di tengah antara Nafisah dan Kala. Kemudian ia mencocokkan posisi foto kiriman Refan, ah dia baru sadar kalau kemungkinan ada bagian yang dicrop Refan.
"Emang sengaja tuh kampret bikin ovt sama suami, awas saja!" gumam Pevita kesal. Ia langsung membalas pesan Refan dengan ucapan menohok.
Sibuk amat lo sampai kawal suami gue. Dia bukan lo yang gampang mengumbar cinta sama perempuan lain. Gak usah mancing perkara. Kelihatan banget kalau lo nyesel melepas gue.
Pevita kemudian membaca chat di grup itu, dan seperti biasa tak ada yang perlu dicurigai, murni suaminya mengerjakan proyek. Jadi merasa bersalah, okelah nanti Pevita akan meminta maaf. Tapi untuk turun menemani Kala, ih gak mau. Gengsi lah, apalagi minta maaf di area umum, khawatir papa pulang, untung saja Bunda dan Dio tidak di rumah, sedang keluar kota mengikuti lomba robotik, jadi tidak ada orang yang mencurigai Pevita ngambek.
Pevita pun menunggu sang suami masuk kamar, tapi sudah sejam setelah keluar kamar tadi tak kunjung kembali. Gak mungkin kan makan selama itu. "Apa dia menelan tulang ikannya? Duh, ke mana sih dia itu. Mau minta maaf bisa sebal kalau dia gak segera balik ke kamar," masih saja Pevita uring-uringan.
Karena tak sabar, Pevita pun keluar kamar. Ingin tahu kenapa sang suami tak segera masuk kamar. "Ck," Pevita berdecak sebal karena melihat punggung sang papa sedang ngobrol dengan Kala. "Papa males ah, ngapain ngobrol juga sih!" terpaksa Pevita masuk kembali ke kamar dengan perasaan jengkel.
Ia mencoba tidur tapi gak bisa terpejam, tidak ada pelukan dari sang suami. Okelah, menonton drama saja. Meski begitu mata Pevita beberapa kali menatap pintu kamar terbuka, tapi sayang Kala tak kunjung datang.
Kala sendiri sedang mengobrol dengan papa mertua perihal ia bekerja. Papa mertuanya diberitahu oleh Bunda, yang dikabari oleh mama Kala. "Capek?" tanya papa pada Kala, dan lelaki muda itu hanya mengangguk sembari cengengesan. "Sanggup?"
"Sejauh ini masih sanggup, Pa. Meski harus merelakan jam tidur ataupun weekend," jujur Kala. Papa mengangguk, karena memang resiko bekerja seperti itu. Apalagi masih merintis, papa saja yang sudah sekolah tahunan, bekerja di rumah sakit masih merelakan jam tidur dan jam kumpul keluarga.
"Pevita gak ngambek, kamu tinggal sendiri begitu?" tanya papa karena sangat paham tabiat sang putri yang haus perhatian. Setiap orang yang ia sayang, harus meluangkan waktu lebih banyak dengannya.
Kala tak berani jujur, hanya menggaruk tengkuk dan nyengir, jelas papa paham. "Nanti papa bantu beri pengertian, anak itu sejak umur 10 tahun haus perhatian, Kala. Jadi gak bakal kompromi kalau dia diduakan."
"Iya, Pa. Kala sendiri juga berusaha sesibuk apapun di kuliah dan garap proyek, tetap chat istri!" papa tersenyum, geli juga mendengar anak bau kencur begitu sudah memanggil istri.
"Selain itu minum STMJ, biar badanmu gak drop."
Kala mengiyakan saja, semoga papa gak memberi nasehat untuk menjaga stamina agar kuat di ranjang juga, sumpah malu kalau sampai disinggung. "Lagian kalau capek kerja, terus langsung tidur, gak main sama istri kasihan juga anak papa!"
Mati sudahlah, wajah Kala mendadak panas, papa mertuanya ternyata menyinggung ke arah situ. "Jaga kesehatan ya, meski papa gak minta cucu dulu!" ucap beliau sembari menepuk pundak sang menantu, sungguh wajah Kala minta dikarungi sajalah, ternyata orang tua menyinggung begituan pada anak, bikin tersipu malu juga.
Hampir jam 11 malam, barulah Kala masuk ke kamar. Setelah mengobrol dengan papa mertua, dia sempat melihat voli, eh ketiduran di sofa. Merasa kedinginan, makanya terbangun dan langsung menuju kamar.
Pikir Kala, sang istri sudah tidur, dan ternyata dugaannya salah. Begitu pintu terbuka, Kala melihat sang istri bersedekap dengan menatap tajam Kala. Waduh.
"Pause dulu ngambeknya dong, aku mengantuk sumpah!" ujar Kala sebelum masuk ke dalam selimut dengan wajah lelah dan jari suer.
Pevita tak menjawab, membiarkan Kala tidur berselimut, setelah melihat posisi Kala yang pas, barulah Pevita memeluk pinggang sang istri.
"Kenapa Sayang? Mau begituan?" tanya Kala langsung menghadap sang istri, ia sengaja menggoda karena kalau masih ngambek Kala bakal ditabok, gak minta maaf malah bahas begituan.
Mata Kala langsung membelalak saat Pevita mengangguk, sebuah keajaiban. "Iya aku mau itu, buat permintaan maaf aku karena sudah cemburu!" ucapnya menurunkan ego.
"Gas Sayang, I love you!" ucap Kala bersemangat.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh