Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
"Adik-adik kamu itu udah pada dapat jatah masing-masing, nggak banyak sih emang tapi lumayan untuk kamu buka usaha atau lunasi rumah kamu itu biar nggak cicilan. Tapi kayaknya mendingan jangan lunasi rumah itu deh, kalau kamu mau mendingan kamu beli rumah sendiri aja lepas dari Gani!" kata Mama membuatku bingung.
"Maksud Mama apa sih, aku kok ngelag dan nggak paham gini ya?" kataku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Begini loh Nis, kamu tau kan kalau bapak masih ada sawah yang nggak begitu luas di kampung kita?" tanya bapak yang langsung aku angguki.
"Iya aku tau, emang ada apa sama sawah itu?" tanyaku bingung.
"sawah itu terjual karna ada pembuatan proyek dari perusahaan besar dari kota ini"kata Mama membuatku membelalakan mata.
"Loh.. Kalau begitu bapak udah nggak punya sawah dong, terus pemasukan Mama sama bapak dari mana lagi selain dari sana?" tanyaku.
"Iyaa Mama sama Bapak emang udah nggak punya sawah lagi untuk pemasukan kita, tapi sebagai gantinya Mama sama bapak bikin kontrakan beberapa pintu di kampung sebelah" kata Bapak.
"di kampung sebelah? Maksudnya di sini, di kampung sebelah dari kampung ini?" tanyaku yang di angguki oleh keduanya.
"Uangnya dari mana Ma, Pak. Bikin kontrakan di kota ini itu pasti mahal banget, belum lagi beli tanah dan bangun kontrakannya" kataku dengan nada pelan.
"Kalau itu kamu nggak usah khawatir Nis, Bapak sama Mama ada kok uangnya. Tadi kan bapak bilang kalau sawah di kampung itu terjual dan harganya sangat sangat mahal" kata bapak.
"Iya bener, makanya hasil penjualan sawah itu kami bagi sekarang supaya nggak ada keributan nantinya. Lagi pula, Mama yakin kamu pasti butuh uang ini untuk kehidupan kamu kedepannya. Tapi kalau bisa, jangan sampai mertua dan suami kamu tau deh Nis" kata Mama membuat bapak nenyeritkan kening.
"Loh memangnya kenapa? Mama, nggak baik loh ngajarin anaknya kayak gitu, Nisya itu sudah berumah tangga kita nggak boleh ikut campur rumah tangga mereka!" kata bapak membuat Mama menghela nafas.
"Iya iya pak, Mama minta maaf. Tapi apa yang Mama omongin ini serius loh, jangan sampai mertua sama suami kamu tau kalau kamu dapat uang pembagian hasil jual sawah itu kalau kamu mau hidup kamu tenang dari rong-rongan mereka" kata Mama.
Aku mengerti, sangat mengerti apa yang Mama katakan. Tapi aku juga bingung mau menerima atau tidak pemberian Mama sama bapak kali ini.
"Mama, ambilkan tabungan yang untuk Nisya di kamar. Nggak apa-apa kalau emang Nisya belum butuh sekarang, yang Nisya sudah tau kalau dia ada bagian dari bapaknya ini" kata bapak yang langsung di angguki oleh Mama.
Mama pun berlalu menuju kamarnya, tak sampai sepuluh menit Mama kembali dengan membawa buku tabungan baru.
"Ini... Kamu lihatlah, di dalam sana ada bagian milik kamu dan juga pembagian hasil sawah yang selama ini bapak simpan untuk kalian. Punya kamu mungkin sudah terpotong untuk acara pernikahan kamu waktu itu." kata bapak memberikan buku tabungan itu padaku. Aku gemetar ketika menerima buku tabungan itu. Aku membukanya, seketika mataku membelalak. Bahkan aku sampai mengucek kedua mataku untuk memastikan tulisan yang tertera disana.
"Satu Miliyar Delapan Ratus Juta? Pak ini nggak salah kah?" tanyaku dengan gemetar.
"Nggak, itu memang bagian kamu. Adik-adik kamu pun dapat segitu, bahkan adik laki-laki kamu mendapatkan lebih banyak sedikit dari itu" kata bapak membuat mataku kembali membelalak kaget.
Jujur, aku tidak menyangka jika orangtuaku mempunyai uang sebanyak ini untuk kami. Bahkan masing-masing mendapatkan hampir dua miliyar, ini adalah angka yang sangat besar untuk kami.
"Nisya... Nisya takut Pak, Ma. Nisya nggak tau harus berbuat apa sama uang ini, terlebih Nisya juga nggak mungkin bawa ini kerumah Nisya" kataku dengan lirih.
"Nggak apa-apa, Mama ngerti. Biar tabungan ini Mama simpan, kalau nanti kamu butuh kamu cukup bilang sama Mama" kata Mama. Aku menyerahkan kembali buku tabungan itu pada Mama dengan tergesa, aku takut hilaf dengan uang sebanyak itu.
"Mama tidurin Hawa dulu ya, dia udah pules kayaknya. Tadi mau Mama taruh di kamar tapi belum pules jadi takut nangis" kata Mama yang langsung aku angguki.
"Mbak... Bentar lagi aku masuk SMA nih, menurut Mbak bagus masuk SMA mana ya?" tanya Lia yang sudah kembali duduk bersebelahan dengan bapak.
"Udah bapak bilang, belajar yang bener biar masuk di SMA Negeri di sebrang jalan itu" kata bapak.
"Yee bapak, nilai Lia bagus tau Pak. Tapi persaingan masuk SMA Negeri juga ketat pak, makanya Lia butuh masukan sekolah yang bagus dimana" kata Lia.
"Sekolah itu semuanya bagus Lia, tergantung bagaimana diri kamu nya aja. Sekolah bagus kalau kamu nya otak pas-pasan ya nggak keliatan bagusnya" jawabku sambil menahan senyum.
"Astagfirullah Mbak... Gitu amat ngomongnya, aku juga nggak bodoh-bodoh banget kali Mbak. Lia kan cuma bikin planing B kalau ngga masuk di SMA Negeri" kata Lia mengerucutkan bibir.
"Iya iya Mbak percaya kok, tapi kalau nanya sekolah yang bagus menurut Mbak ya kalau swasta itu SMA AlAzhar sih" kataku.
"Yaahh Mbak, jangan yang berbasis Islam kali. Sekolah umum aja gitu loh Mbak" kata Lia membuatku berpikir.
"Umum ya... Emm... SMK Pusaka kali ya bagus, Mbak nggak begitu tau kalau SMA swasta yang bagus itu Lia. Kamu kan tau Mbak lulusan SMK" jawabku.
"kali aja Mbak punya rekomendasi sekolah yang bagus" kata Lia.
"Kalau bisa sih mendingan kamu coba masuk ke Negeri dulu deh Li, sebentar lagi pendaftarannya di buka loh" kataku.
"Iya... Besok udah mulai buka pendaftaran negeri, iya deh besok aku coba negeri dulu. Semoga aja masuk" kata Lia yang langsung di angguki yang lainnya.
"Yaudah Ah, Mbak istirahat dulu. Adila kemana? Tadi kan Mbak suruh cuci muka sama kamu?" tanyaku pada Lia.
"Ada di kamar Om-Om nya itu, tadi liat Om nya main game sambil makan jajan dia malah berhenti disana. paling lagi ngerusuh kayak biasanya" kata Lia. Aku menggelengkan kepala.
"Nanti kalau nyariin Mbak, Mbak di kamar ya" kataku yang merasa mata sudah sangat berat. Mumpung Hawa juga tidur di kamar Mama.
Begini memang nikmatnya pulang kerumah orangtua, kembali menjadi anak dan istirahat menjadi orangtua. (beruntunglah kalian yang orangtuanya masih lengkap sampai kalian mempunyai anak).
****
POV OUTHOR
Sementara itu dirumah Nisya, Ibu Gani terus menggerutu karna tidak ada cemilan apapun yang bisa ia nikmati seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan piring-piring bekas makan mereka pun di biarkan menumpuk sedari pagi, Gani yang sudah pusing dengan ocehan ibunya pun memilih menghubungin Nisya. Hingga tiga kali menelpon, Nisya tak kunjung mengangkat panggilan dari Gani. Lelaki itu tak putus asa, sampai akhirnya panggilan kelima Nisya mengangkat panggilan teleponnya.
"Akhirnya kamu angkat juga telpon aku, Nisya tolong kirimkan uang belanja ya.. Dirumah nggak ada apa-apa, untuk makan juga sudah nggak ada apapun" kata Gani.
(Loh nggak bisa gitu Mas, uang belanja itu sudah berkurang banyak untuk belanja kemarin. Kamu tau kan kita kemarin belanja untuk satu minggu seperti biasanya, tapi karna adanya keluarga kamu yang makannya nggak kira-kira itu semua stok bahan makanan kita habis. Terus sekarang kamu minta uang untuk masak makanan untuk mereka? Nanti kalau aku mau belanja lagi gimana, kalau uangnya nggak cukup sampai waktunya kamu gajian lagi gimana?) kata Nisya membuat Gani semakin pusing.
"Nis... Itu bisa kita bicarakan lagi nanti, yang penting sekarang aku bisa belikan makanan dulu untuk mereka Nis. Ayolah Nis, tolong aku jangan buat buat aku malu. Tadi pagi aja kak Lika yang beli sarapan loh Nis, Masa sekarang haris minta kak Lika lagi untuk belanja masak" kata Gani.
(Loh itu resiko kamu Mas, aku nggak mau ya nanti aku sendiri yang susah cuma demi nyelamatin perut keluarga kamu. Kalau emang kamu ngga punya uang untuk kasih mereka makan ya suruh aja mereka belanja sendiri atau suruh mereka pulang. Gitu aja kok repot!) Kata Nisya.
"Tapi Nis... Halo... Nis...Nisyaa... Aaahhkkk" Teriak Gani karna telpon di tutup secara sepihak oleh Nisya.
*****
Hehehe Ramaikan ya ramaikan... Yuk banti vote ya... Terimakasih buat kalian yang sudah like walaupun novel ini masih sedikit episode, terus dukung dan memenin aku dan novel ini berkembang ya guys😊😇🥰