Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi dan Lagi
"Kenapa dia benar-benar terlihat jadi percaya diri sekali?" batinku melirik Gio.
Tak berapa lama, melihat ada yang aneh di kepala Gio, aku langsung menyentuhnya,"Wah bener ada benjolan. Ayo, sepertinya aku juga harus bertanggung jawab," jelasku bangkit berdiri.
"Hah? Sudahlah, gak perlu."
"Benarkah? Yasudah."
"Kenapa aku jadi deg-deg an?" pikir Gio.
"Yanh jelas, kamu harus menjauhi Zain dan juga aku."
"Kenapa aku harus menjauhinya? Gara-gara dia cemburu? Cih! Jadi kau mulai menyombongkannya?" pekik Gio berpaling wajah.
"Sombong? Aku gak berniat begitu, itu artinya kamu memang punya daya tarik."
Kelas berakhir, tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Aku berpisah dengan Gio di pintu utama kelas.
Disisi lain Gio yang sedang berjalan sendiri menikmati angin malam.
"Apa aku semenarik itu ya? Sip!" batin Gio terus tersenyum.
Setibanya di penyebrang jalan, Gio melihat Zain duduk di tepi merenung sendiri dan Zain menyadari Gio yang berjalan mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kelas tambahanmu telah selesai? Apa kau tersesat lagi?" pekik Zain.
"Bukan urusanmu! Kau sendiri kenapa masih disini? Dasar penguntit."
"Gak juga. Aku cuma melamun, tahu-tahu sudah malam."
"Yakinkah begitu?"
Zain bangkit berdiri, "Ayo, sampai bus halte depan kan? Atau kau takut denganku?"
"Cih, jangan menghinaku."
Gio mulai berjalan kembali mengikuti arahan Zain yang mengajaknya jalan bersama. Sebenarnya Gio terus teringat akan hal yang terjadi kala di balkon toko game Rio, pikiran negatifnya tentang Zain muncul dan sedikit membuatnya takut jika Zain melakukan hal nekad padanya.
Meski begitu, karena harga dirinya terlalu tinggi, ia terus mencoba bersikap tenang layaknya seorang pria sejati. Sesekali Gio teringat akan kenangan masa kecilnya dengan Zain kala duduk di bangku SD.
Flasback On.
"Berhentilah mengikutiku! Mungkin kau merasa istimewa karena mendapat nilai lebih tinggi dariku. Karena itulah kau selalu di ganggu dan akulah yang menggangumu. Mengertikan? Jadi mulai sekarang berhati-hatilah, bocah," umpat Gio kecil meninggalkan Zain.
"Aku mengerti, Gio. Jadi tunjukkanlah rasa hormatmu, gimbal!"
"Hah? Gimbal?"
"Dan jangan pernah jalan di depanku!"
Flasback off.
"Hei!" ujar Gio berhenti.
Zain berbalik arah, "Ha?"
"Kau sudah berubah."
"Aku berubah? Benarkah? Enggak ada yang berubah. Anitalah yang telah berubah, aku cuma busa bertanya-tanya, kalau dia akhirnya pergi meninggalkanku, aku jadi ingin mematahkan tangan dan kakinya," balas Zain datar.
"Imajinasimu itu menyeramkan dan konyol sekali."
"Yah walau gak bakal kulakukan sih."
"Yaiyalah!"
Zain menghela nafas, berbalik membelakangi Gio,
"Kadang aku merasa, aku hanya bisa terus melihatnya dari bawah."
Zain kemudian berjalan kembali, begitupun dengan Gio hingga akhirnya mereka berdua sampai di halte bis.
"Dah," ucap Zain.
"Ya," balas Gio melambai.
Ketika Gio berada di dalam taksi, Zain kembali menghampiri, "Oh iya satu lagi, aku gak mungkin bisa lakuin hal tadi ke Anita, tapi selain Anita, aku bisa kok."
BRUGGGG!!!! (Gio menendang kaki Zain).
"Ancaman yang bodoh!" pekik Gio.
Kemudian taksi itu melaju meninggalkan Zain yang tersandar duduk di halte sendiri sembari mendongakkan pandangan ke bulan malam.
Sesekali Zain kembali teringat dengan masalalu kelamnya. Bayangan kelam itu terus menghantui pikirannya. Bukan tanpa alasan sikap Zain di masa lalunya yang sangat brutal. Ia hanya berusaha menjadi diri sendiri dan tak ingin mengalami kembali rasanya tersakiti.
Mulai dari berkelahi, kabur dari rumah, atau mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang terdekatnya sendiri, seperti kehadirannya yang tak di inginkan.
Zain menutup mata, menghela nafas cukup panjang diiringi suara tetesan air perlahan jatuh dari langit secara beriringin. Hujan malam itupun kini telah melengkapi ingatan Zain.
Aku yang baru kembali setelah membeli sebuah buku di toko, melihat Zain terduduk memejamkan mata, segera menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini, Zain? Apa kau sedang menungguku?" ujarku mendekatkan payung berdiri di belakangnya.
Zain membuka matanya, mendongakkan kepala menatapku, kemudian hanya tersenyum memejamkan matanya kembali.
"Aku harus bagaimana menanggapinya? Apa aku harus senang?" ujarku kembali.
"Sudah kuduga, kau adalah pahlawanku, Anita. Kau selalu ada ketika aku ingin melihatmu."
Zain langsung menarikku, memaksa malam itu dengan bercumbu. Sekitar 3 menit, Zain melepaskan ciumannya, kemudian berdiri dan memelukku erat, "Aku menyukaimu, sangat menyukaimu, Anita."
Payung dalam genggamanku terlepas jatuh, aku bingung harus bersikap apa. Perlahan, kedua tanganku juga memeluk tubuh Zain.
Aku selalu yakin, jika perasaanku aku tujukan padanya dengan tulus, semuanya akan selalu berjalan dengan baik.
"Tapi, kenapa cuma aku yang harus menahan diri?" ucap Zain melepaskan pelukan.
"Kamu menahan diri? Kapan dan dimana?"
"Aku menahan diriku sekuat mungkin, aku sangat ingin masuk ke kelasmu dan mengacaukan semuanya."
"Kalau kamu sampai nekad, kita bubar!"
"Tuh kan? Kenapa hanya aku yang selalu menderita!" pekik Zain berpaling wajah.
"Zain...."
"Aku menyukaimu Anita, aku gak ingin kau membenciku dan juga meninggalkanku. Apa kamu tau itu?"
"Terus aku harus apa? Apa aku harus menjadi orang lain? Memaksakan diri yang aku gak suka?"
"Aku ingin menenangkan pikiranku, aku ingin bukti, aku ingin kau seutuhnya!"
"Itu gak mungkin, Zain!"
"Kenapa? Apa ada ketidakcocokan diantara kita?"
"Pokoknya itu gak mungkin! Dunia kita ada dengan masing-masing kesibukannya. Kenapa harus memaksakan sesuatu yang gak harusnya di paksakan?"
"Terus apa kamu ingin aku menderita seperti ini dalam waktu yang cukup lama?"
"Jangan bilang ini semua karena kamu cemburu dengan Gio?"
"Ya! Aku cemburu jika waktuku denganmu lebih sedikit di banding kamu bersamanya!"
"Harus berapa kali aku katakan Zain! Aku gak ada hubungan apapun dengannya! Aku hanya fokus belajar! Kenapa sih kita takdir kita terus bertengkar, bertengkar lagi dan itu berulang kali terjadi untuk hal yang sama? Apa kamu gak capek Zain?"
Disisi lain, Alea yang baru tiba di toko Game Rio.
"Yo, selamat malam, selamat datang kembali," sapa Rio.
"Malam."
"Lama gak bertemu, ada perlu apa kemari?"
"Aku, aku sedang mencari Azi," balas Alea gugup.
"Hai Alea, maaf membuatmu repot malam-malam kesini," sapa Azi menghampiri meninggalkan kumpulannya dengan anak bisbol.
"Gak kok, gak apa-apa, seharusnya sudah dari lama aku harus pulangin ini," jawab Alea mengeluarkan sesuatu dalam tas memberikan bingkisan pada Azi.
Seorang rekan Azi yang terlihat culun datang perlahan menghampiri," Maaf, boleh aku mengenalmu? Aku di paksa mereka."
Alea terdiam sejenak.
Kemudian rekan-rekan Azi menertawakannya.
"Ahahahah..."
"Ahaahhaha..."
"Ada perlu apa?" balas Alea datar.
"Kalau gadak perlu, aku pergi," lanjut Alea meninggalkan Azi yang terdiam.
Setelah sampai di pintu keluar, "Alea, maaf karena teman-temanku. Mereka mengakui salah dan sudah minta maaf. Bisakah kau maafkan mereka?"
Alea terhenti, " Aku gak suka momen itu, Aku benci hal itu makanya aku gak suka cowok. Mereka hanya peduli dengan kesenangannya sendiri dan mereka gak peduli aku di jauhi sama cewek cewek lain."
"Bukankah itu kesalahanmu sendiri karena membiarkan semuanya terjadi?"
"Tuh kan? Kau sama saja seperti mereka!" ketus Alea.
****
Sampai disini dulu yak gais, ntar di lanjut pas udah kelar sarapan...
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa