NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

Begitu menginjakkan kaki di halaman rumah, Vito melepaskan tali pengikat gerobak dagingnya dengan sekali hentakan.

"Yisla, masuklah. Mandi duluan pakai air hangat," perintah Vito.

Yisla mengangguk cepat, gadis itu sempat mencuri pandang sekilas ke arah Julian yang masih berdiri kaku.

"Baik, Kak. Aku masuk dulu."

Setelah pintu depan tertutup rapat, atmosfer di halaman kembali drop ke titik beku. Menyadari posisinya kini sedang di ujung tanduk—Astra tahu dia harus cari muka.

Dengan gerakan secepat kilat, Astra langsung mengintil tepat di belakang punggung Vito yang berjalan menuju gudang belakang.

"Mau apa lagi kau?" tanya Vito tanpa menoleh, menyeret beberapa bongkah daging rusa yang tidak laku terjual.

"Mau bantu, Kak! Biar aku yang angkat sisa dagingnya ke dalam!" seru Astra penuh dedikasi, langsung menyambar seonggok daging rusa beku yang lumayan besar.

Vito melirik Astra dari sudut mata, sembari menaikkan sebelah alisnya. Alih-alih mengusirnya, pria itu hanya mendengus pendek.

"Jangan dilempar. Tata yang rapi di atas jerami."

"Siap, Kak!" sahut Astra semangat.

Astra dengan susah payah menuruni tangga kayu sempit menuju ruang bawah tanah tempat penyimpanan es. Sambil menata potongan daging di kegelapan gudang, Astra mengernyitkan dahi, menatap sekeliling dengan heran.

Tunggu... stok daging di gudang ini tipis banget. Cuma sisa rusa kurus sama beberapa kelinci aja? batin Astra heran.

"Stok kita sudah mau habis," ucap Vito tiba-tiba dari atas tangga, seolah bisa membaca pikiran Julian. Pria itu menatap Julian datar dengan lengan bersendekap.

"Kau, ikut aku berburu nanti malam."

Hah?! Berburu?!

Jantung Astra rasanya seperti mau copot. Berburu di tengah hutan salju malam-malam? Yang benar saja! Di dunia nyata, megang ketapel aja dia tidak pernah lurus, apalagi disuruh memburu binatang liar beneran!

Tapi demi menjaga harga diri Julian dan kedoknya di depan Vito, Astra buru-buru mengubah ekspresi syoknya. Ia menegakkan punggung, menepuk dadanya sendiri, lalu meringis sok jantan.

"Oh, berburu? Kecil itu, Kak! Kebetulan saya ini... emang punya insting predator yang kuat kalau di hutan," bual Astra dengan senyum percaya diri yang sangat dipaksakan.

"Mau buru beruang besar sekalian juga saya jabanin, Kak!"

Vito menatap Astra lekat-lekat, lalu mendengus sinis seolah tahu kalau pemuda di depannya ini cuma modal omong kosong.

"Jangan banyak membual. Siapkan mentalmu, hutan malam tidak seramah bualanmu itu," ketus Vito beralih pergi.

Begitu punggung Vito menghilang, lutut Astra langsung lemas seketika. Ia merosot duduk di atas jerami dengan wajah horor.

Mampus! Sok jantan banget sih mulutku ini! Kalau nanti malam aku benar-benar ketemu serigala, tamat sudah bab sembilan cerita ini! batinnya menangis meratapi nasib.

Wush. Suhu gudang bawah tanah mendadak drop lagi ke titik minus.

Animus muncul bersedekap dada sambil menggelengkan kepalanya dengan kecewa.

"Insting predator? Beruang besar?" cibirnya sinis. "Bualanmu barusan benar-benar tidak rasional, Bodoh."

"Ih, tapi kan kelihatan jantan, Animus!" sahut Anima, berjalan mendekat lalu mengelus pundak Julian.

"Tapi, Sayangku... hutan malam di bab awal genre fantasi-survival begini biasanya jadi tempat munculnya monster atau siluman, lho. Kamu beneran siap?"

"Gak siap! Gak siap sama sekali!" bisik Astra histeris, menjambak rambutnya frustrasi.

"Aku tadi cuma refleks cari muka biar nggak didepak! Julian ini kerempeng, mana bisa tarung lawan beruang atau monster jadi-jadian!"

Animus melangkah maju, menatap Astra dengan pandangan menusuk.

"Pena takdir sudah mencatat ucapanmu. Narasi berburu nanti malam sudah terkunci. Kalau kau tidak ingin mati konyol dicabik-cabik serigala, mending sekarang mulai pikir bagaimana caranya membuat omong kosongmu itu menjadi kenyataan."

"Semangat ya, Sayangku~" dukung Anima, sebelum akhirnya kedua sosok itu memudar.

Astra mengembuskan napas dengan pasrah. Oke, tenang. Pokoknya nanti malam aku harus nempel terus di belakang punggung segede gaban milik Vito. Dia perisai hidupku pokoknya!

Astra buru-buru menaiki tangga kayu untuk kembali ke rumah. Begitu melangkah masuk ke dapur yang hangat, aroma harum masakan langsung menyambutnya.

Yisla yang sudah selesai mandi tampak sedang mengaduk kuali di depan tungku. Mendengar suara langkah kaki, gadis itu menoleh dan tersenyum manis.

"Eh, Julian? Sudah selesai bantu Kak Vito-nya?"

Astra memaksakan senyum manisnya, sembari berjalan mendekati tungku demi mencari kehangatan. "U-udah, Yisla. Dagingnya udah rapi semua di bawah."

Yisla mengangguk, lalu menatap Julian dengan binar mata penuh kekaguman.

"Tadi Kak Vito bilang padaku kalau nanti malam kamu mau ikut dia berburu ke hutan."

Gadis itu tiba-tiba menggenggam kedua tangan Julian, menatapnya dengan tulus.

"Kamu hebat banget, Julian! Padahal fisikmu belum sepenuhnya fit, tapi kamu udah berani ikut Kakak ke hutan yang berbahaya. Terima kasih ya, sudah mau membantu keluarga kami."

Deg.

Melihat wajah polos Yisla yang begitu tersentuh, rasa bersalah dan kepanikan Astra langsung bercampur aduk di tenggorokan.

Aduh, mampus... batin Astra menangis, sementara bibirnya hanya bisa meringis kaku menerima pujian yang rasanya seperti vonis mati itu.

"A-ah... iya, Yisla. Sama-sama. Demi keluarga kita, apa sih yang enggak..."

...***...

Tak terasa malam yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba begitu cepat, membawa kegelapan malam dan angin yang jauh lebih menusuk kulit.

Di ruang tengah, Astra sudah membungkus dirinya dengan mantel wol rapat-rapat. Di depannya, Vito sedang memeriksa tali busur panahnya dengan ekspresi serius. Astra cuma bisa menelan ludah, mengintil pasrah di belakang punggung pria itu.

Tepat saat mereka hendak melangkah ke arah pintu, Yisla tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan jubah dan dia membawa obor.

"Kak, aku ikut!" seru Yisla tegas.

Vito langsung berbalik dengan tatapan tidak setuju. "Tidak boleh. Hutan malam ini terlalu berbahaya. Tetap di rumah."

"Tapi stok daging kita benar-benar menipis, Kak! Kalau aku ikut, aku bisa bantu bawa hasil buruan kecil," Yisla bersikeras, melangkah maju tanpa mau kalah.

"Lagipula sekarang ada Julian juga, kan? Kalian berdua bisa jagain aku!"

Vito akhirnya hanya bisa menghela napas panjang, ia melirik Julian yang cuma bisa mengerjap polos. Pertahanannya seketika runtuh.

"Satu syarat. Jangan jauh-jauh dari jangkauan busurku."

"Siap, Kakak!" Yisla tersenyum riang.

Mereka bertiga memulai perjalanan menembus hutan salju yang gelap gulita. Di bawah temaram cahaya obor, Yisla perlahan berjalan memepet di samping Julian.

"Julian," bisik Yisla sangat lirih ke telinga Julian. "Kamu beneran nggak apa-apa? Tanganmu kelihatan gemetaran dari tadi."

Astra tersentak, buru-buru menyembunyikan tangannya ke dalam saku mantelnya.

"E-eh? Enggak kok. Ini cuma... pemanasan insting predator sejati. Biar ototnya nggak kaku aja."

Yisla spontan menahan tawanya, ia menyenggol siku Julian pelan.

"Hush! Malah bercanda. Pokoknya nanti kalau ada apa-apa, kamu langsung sembunyi di belakangku aja, ya?"

Astra melongo. Gila, yang bener aja! Malah aku mau dilindungi sama female leadnya?! Harga diri authorku mau ditaruh di mana?! batinnya menjerit.

Demi mengalihkan rasa takutnya dari kegelapan hutan sekaligus membalas gengsinya, Astra mencoba membuka topik lain.

"Eh, Yisla... omong-omong soal pasar tadi, ibu-ibu bermulut sombong yang ngasih 'uang sumbangan' itu siapa sih sebenarnya? Pengen aku garuk rasanya mulutnya."

Yisla langsung mendengus geli, memelankan suaranya lagi. "Oh, itu Bibi Petrisa. Dia emang terkenal paling cerewet dan bermulut tajam se-desa ini, Julian. Gak ada yang tahan sama dia."

"Pantasan saja," sahut Astra mencibir. "Vito tadi sampai mau tebas dia kayaknya."

Yisla terkekeh pelan di balik syalnya. "Bahkan ada rumor lho di desa... katanya suaminya meninggal tahun lalu itu bukan karena sakit, tapi karena nggak kuat kalau tiap hari diomelin sama Bibi Petrisa. Kupingnya menderita kayaknya."

Astra langsung menutup mulutnya, menahan tawa membayangkan plot dadakan tersebut.

"Wah, parah. Kematian tragis akibat polusi suara, hihihi."

"Kalian berdua di belakang sedang merencanakan apa, hah?!"

Suara berat Vito tiba-tiba menggelegar dari depan, membuat Julian dan Yisla spontan menegakkan punggung karena terkejut. Vito menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh setengahnya, lalu menatap tajam ke arah dua orang yang sedari tadi asyik berbisik-bisik.

"Ditanya malah pada diam," cibir Vito menyipitkan mata curiga.

Alih-alih menjawab kemarahan Vito, Julian dan Yisla justru saling melirik dari sudut mata mereka masing-masing. Di bawah temaram cahaya obor, keduanya saling melempar tatapan penuh kode rahasia, lalu buru-buru memalingkan wajah sambil menahan senyum geli masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!