NovelToon NovelToon
ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Chicklit
Popularitas:154.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: d'Gayatri

Pradjna, wanita karier berusia 30 tahun yang sukses dengan bisnis EO nya. Di usia yang sudah matang itu dia belum pernah terlihat mempunyai hubungan yang serius dengan seorang pria. Semua pria yang terlihat di dekatnya hanyalah rekanan bisnis saja.

Haris Rahardjo, pria dewasa dan mapan yang menjadi incaran para wanita, terkenal sangat angkuh dan introvert untuk kehidupan pribadinya.

Hingga suatu ketika ketika mereka berdua bertemu, dunia yang sudah mereka bangun luluh lantak seketika

Inilah Elegi Dua Hati...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon d'Gayatri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

CHAPTER 35

Pradjna terbangun dengan kepala

sedikit berat, ia melihat ke samping ranjangnya, Arya masih terlihat pulas.

Yah, tentu saja, efek obat penenang yang disuntikkan lewat jarum infusnya

membuat anak itu tertidur. Semenjak peristiwa kemarin itu, bocah itu selalu

ketakutan bila mendengar suara yang keras juga bila bertemu dengan orang yang

beum pernah ia temui sebelumnya. Traumanya sangat mendalam, padahal sebelumnya

Arya adalah balita yang ramah dan gampang bergaul dengan orang baru. Pradjna

mengehla nafasnya perlahan, “Maafkan

Mama, sayang. Kamu ikut terkena imbas hubungan ini” batin Pradjna penuh

penyesalan. Ia benar-benar merasa bersalah pada putranya itu.

Ponselnya bergetar saat

Pradjna akan kembali memejamkan matanya. Ia melihat nama Aris yang terpampang

di layar ponselnya. Pradjna berdiri melangkah ke dekat jendela agar suaranya

tidak mengganggu Arya.

“Ya hallo,Kak” sapanya saat ia menggeser tombol hijau berlambang

gagang telepon itu ke atas.

“Bagaimana kondisimu dan Arya?” tanya Aris langsung.

“Aku baik, hanya sedikit lelah dan memar dibeberapa tempat” jawab

Pradjna.

“Hanya Arya yang aku cemaskan, ia trauma” lanjut Pradjna.

“Aku sudah membuat janji untuk konsul dengan psikolog anak, nanti

sore kita akan bertemu dengannya” kata Aris.

“Baiklah, lalu bagaimana dengan kondisimu sendiri juga Mama, Kak?”

Pradjna ganti bertanya.

“Aku tidak perlu kau cemaskan, Mama – ia sudah melewati masa

kritisnya. Hanya tinggal menunggunya sadar dari biusnya lalu menyembuhkan

lukanya” jelas Aris.

“Istirahatlah kembali, nanti aku ke situ, jaga dirimu ya” kata Aris

lalu memutus sambungan telepon setelah saling berpamitan.

Pradjna meletakkan ponselnya

lalu kembali ke ranjangnya. Ia baru akan memejamkan matanya saat Arya

memanggilnya, Pradjna urung tidur, ia berpindah ke ranjang Arya, lalu mengusap

punggung bocah itu dengan lembut. Pradjna memutuskan tidur di ranjang Arya, ia

menempatkan dirinya disisi ranjang yang tidak menghalangi selang infus yang

tertancap di tangan kiri anaknya itu.

Yah, mereka memang memutuskan

tidak ke rumah sakit, tetapi mengalihkan perawatan ke rumah pribadi mereka

dengan ditangani dokter keluarga dari pihak Aris. Pradjna yang mengusulkan hal

itu, mengingat nama juga reputasi kedua belah pihak. Mereka pasti akan menjadi

bahan berita yang tak akan ada habisnya. Terlebih lagi ini adalah aib yang

sangat besar dan sangat memalukan.

Inilah hidup, tidak pernah ada

yang tahu akan seperti apa alur juga akhirnya. Seperti kebanyakan orang Pradjna

juga berharap semua berjalan di jalurnya tetapi kenyataannya ia malah

menghadapi tragedi seperti ini. Ia menghembuskan nafasnya lalu mulai memejamkan

matanya kembali, tidak peduli dengan jam dindingnya yang sudah menunjukkan

pukul 7.00 pagi, ia masih merasakan lelah yang teramat sangat.

“Mama, wake up!” suara Arya

membangunkan Pradjna, ia menguap lalu melihat Arya sudah bangun dan duduk

menghadapnya.

“Arya sudah bangun, Sayang.

Mau susu? Mama buatin dulu ya” kata Pradjna sambil mencium kening Arya.

“No, Mama. Don’t leave me

alone, please. I’m so scared” pinta Arya.

“Okay, biar Mama minta tolong

Bi May buatin susu Arya, ya” ucap Pradjna lantas menekan tombol merah kecil di

bawah nakas di samping ranjang Arya. Bocah cilik mengangguk patuh. Tak berapa

lama pintu kamar itu diketuk, Bi May muncul dari baliknya.

“Ada apa mba Pra?” tanya

wanita berumur sekitar 40 tahunan itu.

“Tolong buatkan susu untuk

Arya juga coklat panas ya, Bi!” pinta Pradjna. Wanita itu mengangguk mengerti

lalu beranjak kembali ke dapur setelah menutup kembali pintu kamar Pradjna.

Hana membuka pintu kamar

Pradjna sambil membawa nampan berisi 2 buah gelas, susu Arya juga coklat panas

Pradjna, piring berisi sandwich juga apel yang sudah dikupas.

“Morning, jagoannya Aunty,

feel better,ha...?” sapa Hana riang pada Arya. Anak itu hanya diam menatap

Hana.

“Aunty bawain susu Arya nih,

diminum ya, Sayang!” Hana masih berusaha untuk memancing Arya, anak itu

bereaksi, mengangguk pelan lalu menyentuh lengan Pradjna - menunjuk cangkir

susunya. Pradjna menerima cangkir susu Arya dari tangan Hana, lalu menyerahkannya

pada Arya. Bocah itu mulai menelan susunya, seteguk demi seteguk hingga hanya

tersisa sedikit lalu menyerahkan cangkirnya kembali pada Pradjna.

“Enak, Sayang?” tanya Hana.

“Arya mau apel atau sandwich?

Ini aunty yang buat, which one you wanna eat?” tanya Hana lagi, tangannya

mengulurkan dua piring berukuran sedang itu kepada Arya. Anak itu memandang

piring itu lalu menggeleng.

“Kok ga’ mau sih, Sayang” ucap

Hana kecewa sambil bibirnya mencebik pura-pura cemberut, ekor matanya melirik

Arya yang terlihat tidak enak hati. Tak berapa lama jari kecil itu menunjuk ke

arah piring yang berisi sandwich, Hana tersenyum senang menyerahkan piring itu.

“Habiskan ya, Sayang! Biar

Arya cepat tumbuh besar” ucap Hana riang. Mendadak Arya berhenti mengunyah

sandwich-nya, memandang Hana lekat.

“Hey, something wrong with

you, Boy – ga’ enak sandwichnya?” tanya Hana.

“Arya ga’ mau besal, Nty Nana.

Orang besal jahatin Alya” jawab anak itu polos, air mata terlihat menggenang di

pelupuknya. Pradjna memandang Hana sedikit frustasi. Hana mendekat ke Arya,

duduk di samping kiri bocah itu, merangkul pundak kecil itu.

“Look at me, Baby. Aunty Nana

juga uda besar dan Aunty ga’ jahatin Arya, Aunty sayang banget sama Arya juga

Mama Pradjna. We’ll get through this together, don’t be afraid!” kata Hana

dengan penuh semangat.

“Nah...karena Arya sudah

sarapan, sebentar lagi Dr. Amel mau check kondisi Arya ya. Ga’ perlu takut ada

Mama juga aunty Nana di sini nemenin Arya. Kalau Arya uda baikan nanti jarum

sama selang ini bisa dilepas, Arya bebas main lagi, okay. Promise me, Arya ga’

akan berontak seperti tadi malam ya!” lanjut Hana sambil mengaitkan jari

kelingkingnya ke kelingking Arya yang mungil itu.

Arya mengalihkan pandangannya,

ia menatap Pradjna juga Hana bergantian lalu mengiyakan dengan menggangguk

pelan.

“Good boy!” kata Hana sambil

mencium kening Arya lalu mengacak rambut bocah itu pelan.

Tak berapa lama pintu di ketuk

lalu Dr. Amel muncul dari balik pintu itu sambil tersenyum, wajahnya lembut

dengan hijab warna pastel membuatnya makin terlihat ramah. Ia melambai pada

Arya mengucap hallo. Arya langsung menempel pada Hana yang duduk tepat di

sampingya sementara tangan kanannya menggapai meraih lengan Pradjna. Hana

mengusap punggung Arya, menenangkan anak itu, Pradjna merangkul anaknya itu,

meyakinkan bahwa mereka aman dan akan baik-baik saja.

Setelah meminta izin dan

membuka obrolan dengan Arya yang lebih banyak didominasi jawaban dari Hana

ataupun Pradjna, Dr. Amel memulai pemeriksaannya, ia dibantu seorang suster

memeriksa suhu tubuh anak itu juga luka ringan dibeberapa bagian tubuh Arya.

Setelah selesai dengan Arya ia beralih memeriksa Pradjna lalu meminta suster

itu untuk melepas jarum infus yang menempel di tangan Arya.

“Pastikan kalian cukup

beristirahat juga makan makanan sehat ya, terutama kamu Arya” kata Dr. Amel

ramah, lalu berpamitan setelah suster yang bersamanya selesai dengan infus

Arya.

“See...,tidak semua orang

dewasa jahat, Sayang” ucap Hana sambil mengecup kening Arya, anak itu tidak

menanggapi, ia hanya diam.

1
Teeh Tie
bagus ceritanya, sukaaaa...
Dede Maryanah
lanjut seru banget
Purbo Ariyanto
lanjut dong
Dede Maryanah
seru banget
Suryani Harun
lanjut
Meiske Djauhari
lanjut ceritanya bagus dan lagi bikin penasaran
Wiwik Lestari
lanjut thor...lama bgt
Siti Khamidah
suka ceritanya, tapi namanya susah jadi ribet deh bacanya, Mita aja kan gampang bacanya
Lusye Wolley
lanjut
Isky Setiawan
ceritanya bagus beda dari yg lain.
aq naik lgi untuk like stiap chapternya, dan aq vote ya thor...

semangaaat...aq tunggu kelanjutanya thor.
Kartini Kartin
bahasa inggrisnya tak ngerti thor
Mami Qute
ah ganting lgi
Mami Qute
kaya lagy
Mami Qute
sabar dan semngat pra
Sali Bah
lanjut...
Mami Qute
perjuangkan cintamu ris
Mami Qute
harus kuat
Mami Qute
kenapa ga dipanggil mita aja si
Mami Qute
menyedihkan yg tabah ya pra
Mami Qute
jangan gantung cerita ya thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!