Sebuah kecelakaan tragis telah merenggut nyawa adiknya. Zion pria yang tengah bertekad membalaskan dendam atas kematian adiknya. Butuh bertahun tahun lama baginya hingga akhirnya ia menemukan orang itu.
Rasa benci yang amat membara di hatinya menjadikan adik dari sang musuh menjadi korban atas kekejaman nya. Aluna, gadis yang tidak tahu apapun itu selalu tersiksa dengan semua perlakuan kejam Zion. Terlebih, ia harus ikut terikat dalam sebuah pernikahan yang membuatnya semakin tersiksa.
"Ini saja belum cukup untuk membalas perbuatan kakakmu itu!." Tekan pria itu dengan mata dingin serta senyum devil nya.
Seiring berjalannya waktu, apakah Aluna sanggup untuk bertahan dengan sikap kasar pria kejam itu?
Simple Story...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramelyouuu3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34
"Masuklah............."
ucap Luna lembut,
Aycel tampak melangkahkan kakinya memasuki mansion, ia terlihat membulatkan mata saat menatap seluruh isi mansion yang sangat mewah dan besar itu yang menurut nya mansion ini lebih besar dari pada rumah nya sendiri.. ia menatap ke setiap penjuru mansion, menelisik satu persatu benda yang sangat tersusun rapi disana.
Tak ada debu yang menempel satu pun, semua nya terlihat bersih dan rapi.. barang-barang antik juga terpajang dengan rapi di lemari kaca yang besar semakin menambah ke kaguman Aycel.
ya, Luna memang sengaja membawa Aycel pulang ke rumah nya. Ia merasa iba dengan gadis itu, mau bagaimanapun dia harus melindungi gadis yang belum ia kenal tersebut..
"Hei.. kenapa kau diam saja disitu? aku akan mengantarkan mu ke kamarmu untuk beristirahat.." ucap Luna..
"Mungkin dia merasa kagum melihat mansion ini, bukan begitu gadis cantik?" tanya mama Miranda membuat Luna terkekeh,
Aycel menyengir, manggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu.. "Rumah ini sangat besar sekali, barang-barang yang ada disini pasti sangat mewah dan harganya sangat mahal.. berbeda dengan rumahku." jawab Aycel sambil membayangkan rumah lama nya dulu..
Baginya meskipun rumah lamanya tidak besar seperti yang saat ini Aycel berada tapi rumah lamanya tersebut tersimpan banyak kenangan indah, memori yang tidak akan pernah Aycel lupakan seumur hidupnya.. susah senang atau bahagia dan tidaknya keluarganya dulu hanya rumah tersebut yang mengetahui nya.
Rumah yang di beli dari hasil kerja keras dan keringat ayahnya dulu, jika membayangkan pengorbanan ayahnya dulu ingin saja Aycel menangis.. namun ia tahu terkadang menangis bukanlah solusi untuk setiap masalah yang ia hadapi saat sedang membutuhkan ayahnya. Aycel harus menjadi gadis kuat dan pemberani, tidak pernah berurusan dengan orang-orang kaya yang kejam adalah nasehat ayahnya..
"Semuanya akan terasa sangat berbeda ketika kau berada di tempat yang baru," Kata Luna dengan senyum mengembang di wajahnya menatap keluguan Aycel yang beda tipis darinya saat datang ke rumah ini sebagai tawanan Zion dahulu...
"Kakak benar.. tapi aku berharap bisa kembali ke rumah lamaku tanpa melihat wajah wanita licik itu.."
kesal Aycel,
"Memangnya kau tinggal bersama siapa? kenapa kau terlihat sangat membencinya?" Tanya Luna penasaran,
"Kakak tahu waktu di rumahku ada ular derik yang sangat licik, berbisa dan berbahaya. Dia juga yang membuatku seperti ini.. huh...!" Gerutu Aycel..
"Sebaiknya, kalian berbicara di kamar saja.. Luna, bawa dia ke kamarnya agar istirahat. Sepertinya dia tidak bisa berhenti bicara jika sudah mengobrol, mama juga ingin beristirahat di kamar." Ucap Miranda beralih dari hadapan dua gadis tersebut, saat Luna sudah menanggapinya..
"Sebaiknya, kita bicara di kamar saja.. aku ingin kau menceritakan semua yang terjadi padamu. Aku rasa saat ini kau sedang dalam masalah, mungkin aku bisa sedikit membantumu." Ucap Luna mendapat agukan dari Aycel..
***
"Jadi, kau mencurigai kalau ibumu yang telah membuatmu menjadi seperti ini?" Tanya Luna saat Aycel sudah menceritakan segalanya padanya,
Awalnya memang Aycel ragu untuk menceritakan perihal keluarganya kepada orang lain terlebih kepada orang yang baru ia kenal, tetapi setelah melihat kebaikan di dalam diri seorang Luna membuatnya merasa percaya.. ia juga semakin bertambah lega saat sudah menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain sehingga tidak ada lagi yang mengganjal di pikiran nya..
"Aku memang tidak begitu yakin kak, tapi aku rasa begitu. Dia tidak pernah menyukai ku dan begitupun sebaliknya, dia itu hanya pura-pura baik saat papa masih hidup. tapi setelah papa tiada, dia mengambil semua harta papa.." ucap Aycel seraya meneguk segelas air di tangannya,
"Tidak mungkin ada seorang ibu yang tega melakukan hal tersebut kepada anak nya,"
ungkap Luna tidak percaya,
"Aku sudah menduga kalau kakak tidak akan percaya kepadaku, tapi ini memang lah kenyataan kak.. buktinya saat aku sudah menghilang satu hari saja dia tidak mencariku."
ucap Aycel masih saja menjelekkan nama ibu tirinya tersebut,
"Mungkin saat ini dia tengah mencarimu, bagaimana kau bisa tau dia mencarimu atau tidak sedangkan kau telah berada di kota lain?"
Aycel menggeleng pelan,
"Mungkin dia mencariku karena aku telah berhasil kabur dari tempat kelap-kelip itu,"
ucap Aycel,
"Apa kau ingin buah?"
Aycel mengangguk, lalu Luna dengan sigap langsung mengupas buah apel untuknya,
Entah mengapa Luna merasa senang melihat Aycel untuk pertama kalinya, ia seperti merasa tengah mendengar curhatan adiknya lebih sekilas Aycel lebih seperti adiknya.. karena sifat Aycel yang terbilang lugu masih sama seperti dirinya dulu, namun Luna yakin saat gadis yang tengah berada di hadapan nya itu akan dewasa saat sudah terluka seperti dirinya dahulu.
Mungkin saat ini Luna sudah menganggap Aycel sebagai adiknya,
"Em...... Aycel, tadi kau mengatakan ada seorang pria yang membantumu keluar dari tempat tersebut. Apa kau tahu siapa pria itu?" Tanya Luna sambil masih mengupas buah untuk Aycel,
Aycel menaikkan bahunya pertanda bahwa dia tidak tahu, "Aku tidak tau kak, aku tidak mengenal nya sama sekali.. tapi yang aku ingat, wajahnya sangat tampan cuman sedikit menyeramkan saja." jawab Aycel dengan mulut yang mengunyah buah dari Luna..
"Siapapun orang itu, aku berharap bisa bertemu dengan nya kembali untuk mengucapkan terima kasih karena dia telah membantuku terbebas dari pria-pria tua hidung belang yang lain.." ucap Aycel lagi, dan Luna hanya bisa tersenyum..
"Kak Luna... apa suamimu itu tidak marah jika aku tinggal disini? Sepertinya dia pria yang sangat menakutkan," tanya Aycel gugup,
Luna menatap dua bola mata Aycel, lalu seketika tersenyum "Tidak apa.. aku akan berbicara dengannya nanti, agar mengijinkan mu tinggal di mansion ini." jawab Luna..
"Terima kasih kak, kau sangat baik sekali.. aku beruntung bertemu dengan orang sepertimu," ucap Aycel..
"Aycel, tadi kau mengatakan kalau di rumah mu ada ular kan? Di mansion ini juga ada ular besar, dia berbisa, menakutkan dan sangat berbahaya.. jika kau berurusan dengannya maka akan di pastikan hidupmu itu berakhir.." ucap Luna serius..
"Siapa ular itu kak?"
tanya Aycel penasaran, sambil mendekatkan wajah nya..
Luna menoleh kesana kemari, sayup-sayup ia mendengar suara sepatu yang sudah tidak asing lagi di telinga nya.. dapat di pastikan kalau pria kembali ke rumah setelah meeting pagi yang begitu berat..
"Ituuuuuuu........"
tunjuk Luna menggunakan bibirnya saat tak sengaja suaminya tersebut lewat di depan kamar Aycel yang sengaja pintunya memang tidak di tutup..
Zion yang merasa sedang di bicarakan dan perhatikan oleh istrinya serta gadis asing itu lantas segera menoleh menampilkan raut dingin di wajahnya,
"Apa dia ularnya kak? Hiiiii... memang sangat menakutkan.." bisik Aycel membuat Luna terkekeh..
"Apa kau sedang membicarakan ku gadis bodoh?" tanya Zion dengan suara beratnya..
"tidak," jawab Luna singkat,
"Siapa dia? Kenapa kau membawa gadis asing ke mansion ini? kau tidak memberitahuku terlebih dahulu dari mana kau mendapat gadis ini.. apa kau memungutnya di jalanan?" tanya Zion malas,
"huh.. dasar tidak sopan!"
batin Aycel,
"Ceritanya panjang, nanti akan ku ceritakan padamu.. sudah jangan menguping pembicaraan kami, kamar ini area privasi wanita jadi tidak boleh ada yang menguping."
ucap Luna yang kemudian menutup pintu yang tepat berada di hadapan Zion,
"Beraninya dia!! Lihat saja, aku akan memberinya hukuman karena sudah bersikap tidak sopan padaku.." Gerutu Zion di balik pintu lalu beralih,
Kembali ke Luna,
"Lupakan saja ucapannya yang tadi, tidak usah di ambil hati.." kata Luna..
Aycel memanyunkan bibirnya,
"Dia sangat kasar, apa dia itu suamimu kak?" tanya Aycel dan mendapat agukan dari Luna..
"Astaga..... apa kau tahan tinggal bersamanya? Sikapnya sangat kasar dan dingin, sangat menyeramkan.. bagaimana kau bisa tinggal bersama dengan pria seperti itu? meskipun dia sangat tampan.."
Luna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Aycel, "Andai kau tahu perasaan ku yang sebenarnya Aycel........" batin Luna menangis..
"Sekarang sebaiknya kau habiskan buah mu lalu beristirahat lah, nanti aku akan meminta bi Ana untuk membawakan makanan untukmu." ucap Luna mendapat agukan dari Aycel lalu meninggalkan kamar Aycel..
Di balik pintu, Luna tampak menghelas nafasnya.. ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Aycel dan hanya mampu tersenyum saat mendengarnya. Luna masih ingin memendam kepedihan nya itu sendiri, tak ingin menceritakan nya kepada orang lain..
Luna memejamkan matanya sejenak, berusaha merilekskan pikiran nya supaya kembali tenang sebelum akhirnya menemui Zion..
.
.
Bersambung...