Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Kesaksian Tiara
Perdamaian pun terjadilah, Arif dan Udin dengan berat meminta maaf kepada Harjo, demikian pula yang terjadi terhadap Slamet yang selalu menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah, sehingga perdamaian sedikit berkelok-kelok seperti aliran air sungai dari hulu ke hilir yang berakhir di lautan, menempuh perjalan jauh dan melelahkan.
Sebagaimana kata pepatah sebaik-baiknya menyembunyikan bangkai, aromanya pasti akan tercium juga. Demikianlah kejadian yang menimpa Slamet yang berusaha mengambil keuntungan dari perasaaan hati seorang bahkan banyak gadis, mengakibatkan dirinya tidak mendapatkan simpati bahkan pasangan yang diimpikannya.
Warga pun mulai berpulangan sebab waktu sudah terasa mulai sore dan juga permasalahan sudah diselesaikan. Slamet dengan cepat pergi pulang, begitu juga dengan Arif dan Udin. Mereka sudah sangat berharap segera tiba dirumahnya sebab semalaman mereka belum kembali kerumah.
Di Balai Kampung hanya tersisa, Harjo, Jhon, Sari, Tiara bersama Kepala Kampung dan Junaedi sang linmas penjaga keamanan Kampung.
Di antara mereka terdapat wajah yang terlihat berseri-seri menatap seseorang yang juga berada di ruangan itu.
"Baiklah Jo, Saya berharap kamu lebih hati-hati lagi, sebab Slamet sepertinya masih menyimpan dendam dan amarah kepadamu. Walaupun dia adalah sahabatmu dan Jhon, namun lebih baik berhati-hati. Kita tidak dapat menjamin kalau peringatan hari ini akan diindahkan oleh Slamet atau tidak. Saya hanya ingin mengingatkan kamu saja." Kepala Kampung yang walaupun hanya sebagai pengganti Ayah dari Jhon dan Sari ternyata juga melihat segala sesuatunya dengan jeli.
"Baik Pak! Saya akan berhati-hati. Terima kasih atas perhatiannya." Ungkap Harjo.
"Tenang Pak. Saya juga akan menjaga Harjo dan Slamet agar tidak bertengkar atau bertarung lagi." Jhon memberikan jaminan kepada Harjo dan kepala Kampung. Sebab dirinya memiliki sedikit ketertarikan terhadap seseorang di ruangan itu. Sehingga ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa melindungi seseorang dalam hal ini Harjo.
"Kakak, jangan merasa hebat begitu. Buktinya perkelahian kemarin Kakak tidak berada bersama mereka dan pengeroyokan itu terjadi, kakak tidak mampu melerainya. Jangan berlebihan begitu." Sari mengungkapkan pendapatnya, sedikit membuat Jhon, malu.
"Sudah jangan begitu dong, kemarin kan, Kakak mengejar Kamu dan Bu Wati. Mana sempat, memperhatikan Slamet dan Harjo." Jhon mencoba membela diri dihadapan beberapa orang yang masih berada di Balai Kampung.
Tiara yang mendengar pembicaraan Sari dan Jhon pun mengeluarkan pendapatnya.
"Benar memang Tuan mengejar Nona Sari dan Wati, tetapi waktu itu Slamet masih berada di rumah makan Kami, dan sekitar sejaman kemudian Dia pergi dari rumah makan dan kejadian perkara penyerangan ini terjadinya sudah agak gelap, berarti seharusnya Tuan dapat mencegahnya kalau saja Tuan dapat berada di tempat yang sama dengan kejadian tersebut." Tutur Tiara.
Jhon awalnya mengira Tiara membela dirinya, namun menjadi terdesak dengan ucapan Tiara. Namun Jhon merasa kagum karena penilaian dan ucapan Tiara tepat sekali. Sebab saat itu dirinya berada di rumahnya, merenungi kejadian sore itu. Dirinya teringat seorang gadis manis yang berdiri di meja kasir yang seakan-akan mencuri pandang terhadap meja mereka dan dirinya khususnya, namun karena ditempat itu, dirinya sudah berjanji akan bertemu dengan Wati dan Slamet, tentu saja semua perasaan tertarik itu di tahannya di dalam hati. Jhon hanya menganggukkan kepalanya, menyatakan setuju.
"Iya benar sekali Nona Tiara! Saya memang tidak mungkin mampu setiap saat berada di sisi Harjo maupun Slamet. Tetapi saya akan selalu berupaya menjaga agar pertikaian seperti ini tidak terulang kembali. Terima kasih atas pendapat dan nasihatnya." Jawab Jhon, yang terasa sedikit aneh untuk Sari yang mengetahui watak Jhon yang keras.
"Aneh sekali, kakakku Jhon kenapa dapat menyetujui pendapat Tiara yang telah memojokkannya, padahal biasanya untuk hal seperti ini Dia akan sedikit membela pendapatnya. Apakah ada sesuatu yang telah terjadi? Entahlah, lain kali Aku akan menanyakannya." Gumam Sari di dalam hatinya.
"Baiklah, walaupun begitu, Kita semua wajib mencegah terjadinya keributan di dalam Kampung Kita ini. Kita harus selalu bahu-membahu menjaga kedamaian dan ketertiban yang mulai terbentuk di Kampung Kita ini. Baru saja, suasana mereda setelah kejadian penolakan penyuluh pertanian dari Kota, sudah ada masalah ini. Semoga masalah ini hanya terjadi sekali ini saja. Kedepan Kita dapat lebih baik lagi." Tutur Kepala Kampung.
Beberapa saat yang lalu, banyak warga Kampung yang selalu berupaya menolak perkembangan di bidang pertanian, yang mengakibatkan terjadinya suasana yang menghangat di Kampung Surya Kencana akibat kedatangan Petugas penyuluh pertanian. Saat ini permasalahan itu sudah mulai mereda, karena andil dari Harjo juga yang telah menunjukkan kesuksesannya mengelola pertanian, sehingga warga mulai tertarik dengan kegiatan penyuluhan pertanian.
Harjo sudah seperti seorang pionir buat perkembangan pertanian di Kampung ini, banyak warga yang tertarik dan merubah main setnya karena Harjo, baik langsung maupun tidak langsung.
"Oh iya, karena hari sudah cukup sore, Saya pergi dahulu. Sebab sudah seharian ini saya belum pulang kerumah. Kalian kalau mau melanjutkan pembicaraannya, silakan saja. Nanti Junaedi yang akan menutup ruangan Balai Kampung Kita ini." Kepala Kampung permisi pulang kerumahnya setelah disalami.
"Baik Pak." Jawab mereka serempak.
"Oh ya karena hari sudah sore, saya permisi juga. Sebab tadinya Saya hanya izin sebentar saja." Tiara pun ingin segera pulang kembali ke tempatnya bekerja.
"Sebentar, Nona Tiara. Sebaiknya kita semua kesana juga. Sambil makan Siang yang kesorean. Saya juga mulai lapar, sebab Nona katakan rumah makan itu masih buka. Nanti saya yang akan terakhir Kita semua." Jawab Jhon sebelum Tiara menyalami mereka.
Junaedi sedikit tersenyum, Widuri kelihatan bingung sedangkan Sari merasa setuju walaupun agak merasa ada kelainan di diri Jhon saat ini. Sedangkan Harjo,
"Kalian saja, Saya tidak ikut, sebab tadi pagi sudah membuat masakan." Jawab Harjo menolak halus ajakan Jhon.
"Kamu ikut dong Jo. Inikan buat Kamu juga, sahabat baik Aku. Sudah lama Kita tidak makan bersama. Sambil merayakan karena Kamu telah berhasil selamat dari peristiwa penyerangan itu. Oke!" Jhon sedikit memaksa Harjo, karena begitulah tabiatnya. Sedikit suka memaksa apa yang hendak dilakukannya, Wataknya ini sama persisi dengan watak Ayahnya mantan Kepala Kampung yang mempunyai pendirian keras dan terkadang suka dipaksakan.
"Em.. " Harjo belum menyampaikan pendapatnya, Widuri segera berkata.
"Jangan bohong Kamu Harjo, memang Kamu tadi pagi akan memasak sarapan, namun tidak jadi, karena Aku telah membawakanmu sarapan. Sudah kita ikut saja. Aku juga belum pernah makan di sana. Sekalian Aku ingin tahu keadaan di tempat itu." Ungkap Widuri yang membuka rahasia Harjo.
Harjo pun tidak dapat menolak lagi. Sehingga mengiyakan ajakan Jhon.
"Saya bagaimana, ikut juga kan?" Tanya Junaedi dengan wajah tersenyum penuh harapan.
"Tidak, Kamu saja yang tidak boleh ikut." Jawab Jhon singkat.
"Semua orang terdiam penuh keheranan, demikian juga dengan Junaedi yang merasa kecewa.
"Kamu hanya boleh ikut jika Balai Kampung sudah tertutup dengan baik. Kalau tidak Kamu tidak boleh ikut. Aku takut nanti dipersalahkan oleh Kepala Kampung karena sudah mengajak Kamu." jawab Jhon dengan wajah awalnya serius menjadi tersenyum lebar, karena Dirinya sudah sedikit bercanda kepada Junaedi, Linmas yang sudah sering bekerja sama dengannya.
Junaedi tersenyum lepas dan segera mengunci semua pintu dan jendela, sedangkan Jhon dan kawan-kawan bergerak menuju pintu keluar Balai Kampung.
Setelah Junaedi selesai menutup pintu, mereka semua bergegas pergi bersama-sama bersama Tiara menuju Rumah makan tepi sungai tempatnya bekerja.
Tiara tersenyum bahagia, senyumnya terlihat sedikit berbeda. Pipinya merona, menunjukkan dirinya sedang bahagia. Tetapi bahagia karena apa?
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru