Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.
Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31. Tamat
Malam itu suara gaduh di kamar tak mampu membuat Gia mengalah. Ia tidak menghiraukan keluhan Bram yang tidak bisa tidur tanpa mendapatkan perlakuan seperti bayi. Gia memilih membelakangi sang suami karena rasa sakit yang benar-benar ia rasakan di bagian dadanya.
"Gia, ayolah. Bukan aku yang menggigitnya. Aku tidak bisa tidur kalau begini. Besok aku harus kembali bekerja. Apa kau tidak kasihan denganku?" bujuk Bram dengan menarik pelan tubuh Gia agar mau berbalik ke arahnya lagi.
"Huby, ini bukan masalah siapa yang menggigit. Tapi ini masalah sakit. Aku tidak sanggup jika harus memberikan mu lagi. Dan besok aku harus memberikan asi juga pada Raina." terang Gia tanpa mau menatap wajah sang suami lagi.
"Oke baiklah, tapi ayo tidur menghadap ku lagi. Aku tidak bisa tidur jika kau membelakangi ku seperti ini." ucap Bram dengan suara memelasnya.
Perlahan Gia pun menggerakkan tubuhnya, ia menghadap pada Bram. Dan terlihat wajah tersenyum bahagia di wajah pria tampan itu.
"Ayo tidur." ajak Gia merasa ngantuk.
Mata Gia seketika melotot melihat Bram mendekati wajahnya. "Ada apa?" tanya Gia bingung.
"Ini sebagai gantinya." Mendapatkan serangan kuat dari sang suami, Gia tidak bisa melawan lagi. Bram mendekapnya begitu kuat.
Akhirnya malam itu Gia pasrah terlelap dengan bibir yang menjadi ganti untuk empeng suaminya.
Sungguh membawa keberuntungan bagi Bram tentunya.
Berbeda halnya dengan ruangan di rumah sakit. Pak Mail tampak gugup saat berduaan di ruangan itu dengan Bi Qila. Ia berusaha mencairkan suasana, namun bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Mengapa kau em... tidak memberikan ku kabar?"
Mulut Pak Mail yang bersuara tiba-tiba bungkam. Ia keceplosan sekaligus salah bicara.
"Maksudku, mengapa kau tidak pernah terlihat lagi di story?" ucapnya lagi dengan wajah tegang dan salah tingkah terlebih lagi di tatap seksama dengan Bi Qila.
"Kau mengkhawatirkan ku?"
"Ti-tidak, hanya saja biasanya kan kau selalu update. Apa kau sakit parah?"
Terdengar helaan nafas dari Bi Qila. Pria di depannya ini sepertinya tidak ingin menunjukkan jika dirinya memiliki kekhawatiran padanya.
Bi Qila hanya bisa tersenyum membungkam mulutnya. Ia ingin tahu sampai sejauh mana pria itu mampu menutupi perasaannya.
"Apa kau masih mau terus berdiri di situ? istirahatlah di sana. Lagi pula aku tidak perlu di jaga. Tidak akan ada yang mau mencelakai wanita tua tidak berguna seperti ini." ucap Bi Qila.
Langkah Pak Mail seketika semakin mendekatinya. Entah setan apa yang membawa keberanian tiba-tiba pada lelaki itu setelah mendengar perkataan Bi Qila.
Mata keduanya saling berpagutan dalam langkah hening itu.
Kening Bi Qila berkerut dalam melihat aksi Pak Mail.
"Aku...aku mengkhawatirkan mu. Aku tidak ingin ada hal buruk lagi menimpa mu." tutur Pak Mail penuh penekanan.
Suara tawa seketika memenuhi ruangan itu. Bi Qila tertawa hingga air matanya menetes di ujung mata karena lucu melihat Pak Mail berbicara serius padanya.
"Aduh... sejak kapan kau jadi raja dramatis seperti itu. Hahaha." lanjut lagi sembari melayangkan tangannya seakan menyadarkan Pak Mail dari halunya.
"Hey, apa aku terlihat bercanda? aku serius. Aku serius khawatir denganmu."
Bi Qila terdiam. Ia bisa merasakan ketulusan pria di hadapannya. Namun di umur mereka yang sudah bau tanah ini rasanya tidak mungkin untuk memiliki hubungan.
"Haduh...apa kau tahu ucapan dan wajahmu itu membuat ku ingin mual. Kau ini tidak sadar umur kita sudah berapa? jangan berlagak seperti abg dong."
Tangan yang terlihat tidak begitu kencang lagi segera meraih tangan Bi Qila yang berada di atas perutnya.
"Mau kah kau menua bersama ku?" Tatapan Pak Mail tetap serius tanpa goyah sedikit pun karena tawa Bi Qila.
"Umur sama sekali tidak masalah. Mungkin Tuhan mentakdirkan kita untuk bisa hidup bersama dan bahagia di umur yang saat ini."
"Tapi umurku bahkan lebih tua dari mu, Pak Mail." bantah Bi Qila.
"Aku sudah katakan umur tidak mempengaruhi keseriusan ku, Qila. Aku tahu umurmu. Kau berusia dua tahun lebih tua dariku. Apa yang menjadi hambatannya? aku ingin kita menikah, bukan melewati seleksi pegawai, kan?"
Bi Qila terdiam seakan ia kesulitan meneguk salivahnya karena terlalu tegang. "Maukah kau menerima ku? aku akan segera mengurus pernikahan kita."
"Hei, aku belum menjawab. Mengapa kau sudah mau mengurusnya?" tanya Bi Qila gelagapan.
"Aku tidak mau tahu, kau harus menerima lamaranku. Karena jika kau menolak wajahku tidak tahu lagi harus aku taruh di mana. Cukup sudah beberapa hari ini kau membuat ku khawatir. Oke? baiklah kau tidak perlu menjawab apa pun. Sekarang tidurlah." pintah Pak Mail membantu Bi Qila memakai selimut.
Sedangkan Bi Qila yang terdiam dengan keputusan pria itu sungguh tak habis pikir. Matanya ia pejamkan meski pikirannya masih berkelana kesana kemari.
"Apa ada yah orang melamar seperti itu? aku baru tahu. Laki-laki aneh." gumam Bi Qila yang menutup matanya dengan bibir yang tanpa sadar sudah tertarik melengkung menahan senyum bahagia itu.
"Apa kau senang itu aku paksa? hem?" Suara Pak Mail kembali terdengar hingga wajah Bi Qila mendadak menjadi datar. Ia berpura-pura tetap tidur.
Jika ia bangun tentu rasanya akan jauh sangat memalukan.
***
Setelah perputaran waktu yang begitu cepat, kini keadaan keluarga Malik sudah membaik. Bi Qila, Rabian, dan juga Indira sudah kembali ke rumah mereka. Meski keadaan Indira sebenarnya belum terlalu pulih saat dua hari yang lalu kembali dari rumah sakit.
Namun karena peringatan Dokter untuk segera waspada mengingat virus di kota itu mulai menyebar. Abian tentu tidak ingin mengambil resiko lebih besar lagi. Ia membawa seluruh keluarga untuk kembali ke rumah.
Di ruang tamu kini terlihat ramai keluarga Maureen dan keluarga besar Abian Malik. Mereka tengah membahas tentang rencana pernikahan Gibran dan juga Maureen.
"Bagaimana Maureen, apa kau memiliki permintaan lain? melangsungkan pernikahan sederhana atau menundanya?" tanya Tuan Fadil.
"Em... Maureen pilih yang sederhana aja, Ayah. Lagi pula niat baik tidak boleh di tunda. Kalau memang ingin acara nanti kan bisa menyusul setelah virus ini hilang. Bagaimana Gibran?" tanya Mauren pada calon suaminya.
"Kalau keputusan calon istri ku begitu. Aku bisa apa? lebih cepat lebih bagus." balasnya.
Semua keluarga begitu terlihat senang. "Kalau begitu besok saja pernikahannya. Bagaimana Tuan Fadil?" Abian bersuara tiba-tiba tanpa bertanya pada sang istri.
"Abi, mengapa mendadak sekali?" tanya Indira terkejut.
"Sebelum virusnya semakin parah, sayang. Kasihan calon pengantin pasti jamuran nanti."
Semua terkekeh melihat Abian meledek adik iparnya itu. Gibran hanya menghela nafas pelan saja tanpa mau melawan. Yang jelas semua sudah di atur oleh Abian.
"Kalau begitu saya juga boleh Tuan ikut menikah?" tanya Pak Mail yang menunduk sopan meminta persetujuan.
"Tidak, Maureen kan cuman mau sama Gibran aja." gadis itu tampak kebingungan dan panik mendengar Pak Mail.
"Hey, apa-apaan Pak Mail ini?" Gibran mendadak emosi karena mendengar perkataan yang mengarah ke Maureen.
"Maaf Tuan, maksud saya, saya juga mau menikah dengan Qila."
Semua tercengang kaget mendengar perkataan Pak Mail. Sungguh tidak ada yang menyangka dengan hubungan terselubung mereka berdua.
Akhirnya mereka ikut membahas acara untuk besok. Bi Qila sejak tadi senyum malu-malu melihat calon suaminya itu.
Jika di ruangan itu mereka tengah menyusun kehidupan yang berbahagia. Kini berbeda halnya dengan suasana di persidangan.
Dita menangis setelah memberikan kesaksian di pengadilan atas kejahatan Pak Ari dan beberapa wanita lainnya yang pernah mendapat perlakuan sama dengan Dita.
Fani hanya bisa meneteskan air mata pasrah jika suaminya akan di hukum seumur hidup pun. Tak ada lagi keinginan dirinya untuk kembali menyatukan rumah tangga yang sudah hancur berkeping-keping itu.
Setelah beberapa jam lamanya kini persidangan pun selesai dan berganti pada sidang berikutnya yang berbeda pelaku. Dita yang di temani oleh Luky kini melangkah masuk ke dalam mobil.
Lagi dan lagi Luky memeluk tubuh Dita di dalam mobil memberikan ketenangan untuknya.
"Bagaimana kau siap?" tanya Luky.
Dita tersenyum mengangguk. Keduanya memutuskan untuk segera menuju ke tempat pernikahan yang telah mereka siapkan. Acara yang hanya di lakukan dengan akad saja tanpa acara. Semua seperti yang Dita inginkan, ia tidak ingin menikah mengeluarkan banyak biaya. Karena baginya, Luky yang bisa menerima kekurangannya sudah jauh lebih dari cukup.
Hari ini Dita dan Luky resmi melepaskan status lajang mereka dan berjanji untuk menjalani hidup dengan suka mau pun duka selalu bersama.
Keduanya memiliki kekurangan yang berbeda, namun setelah banyaknya pelajaran hidup keduanya mereka bisa saling menerima kekurangan pasangan.
Menerima kehidupan yang ada di masa depan dan tidak perlu menoleh ke belakang untuk menghakimi semua perbuatan satu sama lain.
Terkadang Tuhan memberi masalah yang berbeda pada setiap makhluk agar mereka bisa saling menghargai artinya perjalanan mereka masing-masing tanpa menyudutkan siapa pun dan bisa jauh lebih menghargai apa yang masih mereka miliki. Bukan terpuruk dengan apa yang hilang dari mereka.
***
Di hari berikutnya setelah pernikahan Luky dan Dita. Kini di kediaman Malik sudah tampak ramai para keluarga besar Abian Malik dan juga keluarga Maureen.
Tak lupa Tuan Aditya dan anak-anak ikut hadir menyaksikan hari kebahagiaan Gibran saat ini.
Pernikahan yang berjalan dengan baik kini telah memberikan kebahagiaan tersendiri tanpa adanya acara megah itu. Para keluarga yang hadir pun lengkap dengan masker untuk menghindari penularan virus itu.
Semua wajah terlihat sangat bahagia. Indira yang selalu menempel dengan sang suami begitu terlihat bahagia dan merasa terharu.
"Terimakasih, Abiku. Kau telah membawaku dalam kebahagiaan yang tiada tara. Aku mencintaimu suami malaikat ku."
"Aku juga mencintaimu, malaikat tak bersayap ku. Terimakasih juga telah memberikanku kasih sayang dan keluarga yang lengkap."
Keduanya saling berciuman di depan keramaian hingga mereka tersadar saat tepukan tangan meriah terdengar serentak dan suara tawa bahagia di ruangan luas dan megah itu.
ika widya
semoga lbh seru y....😘