Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Tamu dari Gunung Berbunga
Tiga hari telah berlalu sejak pertemuan dengan para utusan. Bobon menghabiskan waktunya di istana dengan berlatih bersama Pangeran Bima dan belajar tentang dunia persilatan dari para tetua yang berkunjung. Dia masih kesulitan mengingat banyak hal, tapi tubuhnya mulai merespons dengan lebih baik.
Setiap kali dia memegang pedang, tangannya bergerak dengan sempurna. Setiap kali dia berlari, kakinya membawanya lebih cepat dari sebelumnya. Setiap kali dia berlatih, kekuatannya terasa semakin besar.
Pagi ini, Bobon bangun dengan perasaan gelisah. Ada sesuatu di udara yang terasa berbeda. Dia tidak bisa menjelaskannya, tapi instingnya mengatakan ada yang akan terjadi.
"Bobon, kau sudah bangun?" suara Putri Laras dari luar kamar.
"Sudah, Putri."
"Ada tamu untukmu. Dari Gunung Berbunga."
Bobon segera bersiap dan keluar kamar. Putri Laras tersenyum melihatnya. "Kau terlihat segar hari ini."
"Aku tidur nyenyak, Putri. Tapi ada sesuatu yang aneh."
"Aneh apa?"
"Aku tidak tahu. Perasaanku saja."
Putri Laras mengerutkan kening. "Mungkin kau hanya lapar. Ayo, sarapan dulu."
Mereka berjalan menuju ruang makan. Di sana, dua orang tamu sudah menunggu. Seorang pria muda dengan pakaian putih bergambar bunga dan seorang wanita tua dengan rambut putih yang dikepang rapi.
Bobon mengenali mereka. Itu adalah murid dan tetua dari Sekte Gunung Berbunga. Rara ada di antara mereka, tersenyum padanya.
"Bobon!" sapa Rara. "Apa kabar?"
"Kak Rara! Aku baik. Bagaimana kabar sekte?"
"Baik. Kami datang untuk memberikan kabar penting."
Mereka duduk dan sarapan bersama. Bobon makan dengan lahap seperti biasa, tapi matanya terus memperhatikan tetua wanita itu. Ada sesuatu di tatapan wanita itu yang membuatnya penasaran.
"Namaku Nyi Roro," kata wanita itu. "Aku tetua utama Sekte Gunung Berbunga."
"Maafkan aku tidak mengenalmu, Nyi. Ingatanku masih kabur."
Nyi Roro tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku tahu keadaannya. Aku datang untuk memberitahumu sesuatu yang penting."
"Apa itu?"
"Kami menemukan jejak Nenek Mira."
Bobon tersentak. Sendoknya jatuh ke meja. "Nenek Mira? Tapi dia... dia sudah..."
"Dia belum mati, Bobon."
Bobon terdiam. Matanya melebar. Dadanya berdebar kencang. "Tidak mungkin. Aku melihatnya... dia melawan mereka. Dia..."
"Dia terluka parah, tapi selamat. Kami menemukannya di hutan dekat Gunung Berbunga. Dia tidak sadarkan diri selama tiga hari. Tapi sekarang dia mulai pulih."
Air mata mengalir di pipi Bobon. Dia tidak bisa berkata-kata. Semua perasaan yang tertahan selama ini meledak sekaligus.
"Di mana dia? Aku harus melihatnya!"
"Tenang, Bobon. Dia masih lemah. Tapi dia memintaku menyampaikan pesan."
"Pesan apa?"
Nyi Roro menatap Bobon dengan mata serius. "Dia berkata, 'Jangan khawatir tentangku. Lanjutkan perjalananmu. Buka segelmu. Selamatkan dunia.'"
Bobon menangis tersedu-sedu. Pangeran Bima menepuk pundaknya dengan lembut. Putri Laras memegang tangannya.
"Dia baik-baik saja," kata Nyi Roro. "Dia kuat. Dia akan pulih. Tapi dia ingin kau fokus pada misimu."
"Aku tidak bisa... aku harus melihatnya..."
"Kau akan melihatnya. Tapi setelah kau cukup kuat. Nenek Mira tidak ingin kau terhambat oleh kekhawatiran. Dia ingin kau menjadi Pendekar Dewata sejati."
Bobon mengusap air matanya. Dia menarik napas dalam-dalam. "Baiklah. Aku akan melanjutkan perjalananku. Tapi tolong jaga Nenek Mira."
"Kami akan menjaganya. Itu janjiku."
Bobon mengangguk. Ada kelegaan di hatinya, tapi juga beban baru. Nenek Mira selamat, tapi dia masih dalam bahaya. Satu-satunya cara untuk melindunginya adalah dengan menjadi kuat.
Setelah sarapan, Nyi Roro mengajak Bobon berjalan-jalan di taman. Mereka duduk di bangku dekat kolam ikan.
"Bobon, ada hal lain yang harus kau ketahui," kata Nyi Roro. "Kami mendengar kabar bahwa Jenderal-Jenderal Iblis mulai berkumpul. Mereka merencanakan invasi besar-besaran."
"Kapan?"
"Kami tidak tahu pasti. Tapi sepertinya dalam beberapa bulan ke depan. Kita harus bersiap."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Buka segelmu. Semakin cepat segelmu terbuka, semakin cepat kau mendapatkan kekuatan penuh. Tapi ingat, setiap segel membawa kenangan yang menyakitkan. Kau harus siap."
Bobon memegang dadanya. Segel keempat masih terasa hangat di sana. "Aku siap. Aku tidak takut."
"Kau memang pemberani, Bobon. Tapi keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah melakukan apa yang benar meskipun kau takut."
Bobon merenungkan kata-kata itu. Dia ingat bagaimana dia merasa takut saat desanya terbakar. Tapi dia tetap berlari ke rumah Tono. Dia tetap menolong orang-orang.
"Aku mengerti," kata Bobon. "Aku akan berani."
Nyi Roro tersenyum. "Kau benar-benar Pendekar Dewata. Aku tidak ragu lagi."
Malam harinya, Bobon duduk sendirian di kamarnya. Dia memegang kain biru di tangannya dan memikirkan semua yang terjadi. Nenek Mira selamat. Itu adalah kabar terbaik yang pernah dia dengar.
Tapi dia juga tahu bahwa perjalanannya masih panjang. Masih ada enam segel yang harus dibuka. Masih ada enam kenangan menyakitkan yang harus dihadapi.
Dia memejamkan mata dan berusaha mengingat. Kali ini, dia mencoba fokus pada segel di dadanya. Segel keempat. Segel yang berhubungan dengan cinta.
Perlahan, kilasan demi kilasan muncul.
Dia melihat seorang wanita dengan selendang biru. Wanita itu tersenyum dan memanggilnya. "Bobon, kemarilah."
Dia melihat dirinya sendiri berlari ke arah wanita itu. Tangannya meraih tangan wanita itu.
"Aku mencintaimu," kata Bobon dalam kilasan itu. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Kau harus," jawab wanita itu. "Kau harus menyelamatkan mereka. Aku akan menunggumu."
Bobon membuka matanya dengan napas terengah-engah. Air mata mengalir di pipinya. Dia merasakan cinta yang begitu besar dalam kenangan itu. Cinta yang begitu dalam dan tulus.
"Siapa kau?" bisik Bobon. "Siapa namamu?"
Tapi tidak ada jawaban. Kenangan itu terlalu samar. Terlalu jauh.
Bobon berbaring di tempat tidurnya dan menatap langit-langit. Dia merasakan campuran emosi yang rumit. Bahagia karena Nenek Mira selamat. Sedih karena kehilangan cintanya. Dan tekad untuk menemukan semua jawaban.
"Besok," bisiknya. "Besok aku akan mulai mencari jawaban."
Dia memejamkan mata dan mencoba tidur. Tapi sebelum dia tertidur, dia mendengar suara seruling dari kejauhan. Seruling itu memainkan melodi yang indah tapi sendu.
Bobon mengerutkan kening. "Seruling? Di tengah malam?"
Dia bangkit dan berjalan ke balkon. Di bawah, di taman istana, dia melihat sesosok bayangan. Bayangan itu memegang seruling dan memainkan melodi yang sama.
Bobon ingin turun, tapi tiba-tiba bayangan itu menghilang. Hanya meninggalkan sehelai kain hitam di tanah.
Kain hitam. Lambang Sekte Iblis.
Bobon menggenggam erat pagar balkon. Matanya menyipit. "Mereka sudah dekat. Mereka sudah ada di sini."
Di dalam hatinya, ada rasa waspada yang baru. Sekte Iblis tidak akan menunggu. Mereka akan menyerang kapan saja.
Dan Bobon harus siap.