Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 34 Tunangan
Karena hari ini Arifah pulang lebih cepat dari biasanya, akhirnya ia memutuskan pulang bersama Tama.
"Mampir dulu!" Ucap Arifah.
"Lain kali aja. Aku harus ketempat kerja sekarang."
"Oh ya udah. Makasih ya!"
Arifah berlari kecil memasuki rumah. Ruang pertama yang di tuju adalah kamar Aska.
"Mas!"
Aska hanya melirik kemunculan Arifah dikamarnya. Ia sedang sibuk dengan seseorang diseberang sana. Padahal Arifah mau pamer piala keberhasilannya hari ini bersama teman-temannya.
"Aku kesana sekarang!" Ucapnya pada seseorang diseberang.
"Mas udah belikan kamu baju. Kamu siap-siap sekarang, kita ketempat Mbak Viona!" Ucap Aska sembari memberikan baju untuk Arifah yang baru saja ia beli.
Arifah menepuk jidatnya.
"Aku hampir lupa Mas. Oke aku siap-siap sekarang!" Ucap Arifah langsung bergegas kekamar membersihkan dirinya dan kemudian mengenakan gaun cantik pemberian Aska.
"Ayo Mas!" Ucap Arifah bersemangat. Karena hari ini adalah hari bahagia yang ditunggu-tunggu Aska, ia harus selalu tersenyum manis didepan Aska. Walau pun sebenarnya ia belum rela.
Aska yang sedari tadi menunggu Arifah diruang tamu segera menuntun Arifah keluar menuju mobil. Pak Damang dan Bu Aminah juga ikut serta. Meskipun mereka hanyalah pekerja dirumahnya, namun Aska menganggap mereka sudah seperti keluarga sendiri.
Sesampainya dikediaman Viona.
Suasana disana sudah sangat ramai. Arifah, Pak Damang dan Bu Aminah membawa beberapa hantaran untuk Viona.
"Assalamu'alaikum." Ucap Aska.
"Wa'alaikum salam." Ucap keluarga Viona bersamaan. Mereka semua disambut hangat dan penuh suka cita.
Acara lamaran berjalan lancar. Aska senang Viona menerima lamarannya. Dan mereka sepakat acara pernikahan akan dilaksanakan bulan depan.
Lagi-lagi Arifah harus mempersiapkan diri lebih dan lebih lagi. Bersiap melepaskan Aska yang sebentar lagi akan segera berumah tangga. Ia tidak boleh memasang wajah sedih atau pun murung. Bagaimana pun Aska berhak mendapatkan kebahagiaan bersama seseorang yang dicintainya. Arifah mengambil nafas perlahan dan membuangnya pelan, ia berusaha membuat hatinya tenang. Dan terus berusaha tersenyum walaupun hatinya enggan.
"Mas senang sekali hari ini." Ucap Arifah ditengah perjalanan pulang sembari menatap Aska yang sedari tadi menggoyang-goyangkan kaki dan kepala serta bibir yang ikut bernyanyi mengikuti irama musik yang diputar Pak Damang.
"Tentu saja! Lamaran Mas diterima!" Ucap Aska sumringah sembari melanjutkan nyanyian yang sempat jedah beberapa detik karena pertanyaan Arifah.
Arifah tersenyum getir. Bagaimana nasib ku nanti! Apakah aku bisa tanpa Mas Aska?
"Berhenti!" Ucap Aska tiba-tiba mengagetkan Pak Damang yang sedang menyetir.
Pak Damang pun perlahan memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
"Mas mau ngapain? Ko berhenti disini?" Ucap Arifah yang juga tak kalah kaget.
"Mas mau ke toko bunga sebentar." Jawab Aska sembari turun dari mobil menuju toko bunga. Disana terdapat bunga-bunga segar yang baru saja dipetik. Dan entah kenapa hari ini ia ingin sekali membeli bunga. Bunga yang ia beli nantinya akan ditaruh didalam kamarnya.
Aska mulai melihat-lihat bunga yang ada disana.
"Cari bunga apa Pak?" Tanya seorang anak kecil kalau diperkirakan usianya sama dengan Arifah. Ia menganga tak percaya karena yang ada dihadapannya sekarang adalah Aska, saudara kandung Arifah. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Mampus aku!
"Lama sekali Mas Aska." Gerutu Arifah. Ia pun turun menyebrang jalan menuju toko bunga yang dituju Aska. Karena Arifah tidak dapat menyebrang, ia pun meminta bantuan Pak Damang. Sesampainya di toko bunga tersebut. Vika!
"Ngapain kamu disini?" Tanya Arifah.
"A-aku jualan bunga." Jawab Vika terbata.
"Hah? Kamu jualan bunga?"
Maya mengangguk.
Tapi kenapa?
Ayah Vika seorang jendral TNI yang memiliki banyak kasus terutama kasus korupsi. Selama ini Ayahnya berhasil menutup-nutupi kasusnya dengan menutup mulut anggota polisi yang hendak menggeledahnya. Namun kepala polisi saat itu telah berganti dan susah sekali disuap sebanyak apapun uang yang diberikan Ayah Vika selalu ditolaknya. Sampai akhirnya Ayahnya dipenjara seumur hidup.
Tidak ada lagi biaya hidup untuk Vika dan keluarganya. Belum lagi toko pakaian yang dikelola Ibunda Vika juga hangus terbakar tak tersisa disebabkan konsleting listrik.
Keuangan keluarganya hancur dalam satu malam termasuk rumah yang mereka tinggali ikut ditarik pihak bank karena hutang yang menumpuk dan tak kunjung dibayar. Semenjak Ayahnya masuk dalam jeruji besi, Vika dan Ibundanya tinggal dirumah sepupunya yang sederhana dan kecil, Febri. Menurut Vika dan Ibundanya, Febri harus membayar budi baik mereka selama ini.
Ibunda Vika trauma dengan kejadian yang menimpa keluarganya. Ia tidak bisa jatuh miskin. Hingga menyuruh Febri dan Vika untuk mencari duit buat makan dan kebutuhan lainnya.
Febri dan Vika memutar otak, bagaimana caranya supaya mereka bisa bertahan hidup dan tetap sekolah. Febri mempunyai ide cemerlang. Kebun bunga peninggalan Ibunya selama ini dirawat dengan baik oleh Febri. Mereka pun mulai berjualan aneka bunga tersebut sepulang sekolah.
Mereka menyewa sebuah ruko kecil dengan biaya murah. Setiap hari sepulang sekolah Febri dan Vika menyorong gerobak berisi bunga segar yang baru saja dipetik dikebunnya menuju ruko tersebut yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Febri. Malu? Ya mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain.
"Jadi begitu ceritanya." Ucap Vika setelah menjelaskan problematika hidupnya.
"Oh, kamu yang tabah ya." Ucap Arifah yang tidak tega dengan musibah yang menimpa Vika. Meskipun Vika sudah tega berbuat jahat padanya, namun ia tidak bisa jika melihat Vika dirundung duka.
Aska memilih banyak sekali bunga-bunga. Maklum saja, hatinya sedang berbunga-bunga disebabkan oleh Viona, tunangannya.
"Berapa semua ini?" Ucap Aska mengagetkan Arifah dan Vika yang sedang bercakap-cakap.
"Semuanya lima juta." Ucap Vika setelah menghitung harga masing-masing bunga pilihan Aska.
Beruntung hari ini Aska menyediakan uang cash didalam tasnya.
"Ini." Ucap Aska sembari membayar bunga-bunga yang ia beli. "Dan ini tip buat kamu yang masih kecil tapi sudah pandai cari duit." Lanjut Aska sembari membelai pucuk rambut Vika bangga.
"Tapi ini banyak sekali Kak." Ucap Vika.
"Tidak apa, kamu kan teman Arifah jadi jangan sungkan. Semoga uang ini berguna untuk kamu dan keluarga." Ucap Aska berlalu dari toko bunga itu.
"Aku pulang dulu ya. Lain kali kalau ada waktu aku pasti mampir kesini." Ucap Arifah pamit pulang.
Vika mengangguk sembari mengantar Arifah dan Aska kedepan.
Aska sangat mengagumi bunga-bunga itu, berkali-kali pula ia mencium bunga yang baru saja ia beli. Entah apa yang ada dipikiran Aska, ia menyeberang tanpa melihat kiri kanan. Tiba-tiba sebuah truk melaju sangat kencang.
"Mas Aska! AWAS!" Ucap Arifah panik, Aska tidak mendengar suara Arifah dikejauhan. Arifah pun memilih berlari hendak menarik tangan Aska. Namun karena jaraknya dengan Aska terpaut jauh, dan.
BRAAKK!!
Tubuh Aska terseret truk sampai beberapa meter. Tubuhnya hancur berantakan. Bunga yang ia pegang berhamburan disepanjang jalan.
"MAS ASKA!!" Arifah mengejar truk yang membawa tubuh Aska. Namun ia menghentikan kakinya ketika melihat tubuh Aska tak lagi utuh. Arifah tidak sanggup melihat keadaan Aska, darah dimana-mana, bagian tubuh yang berhamburan diaspal. Ia benar-benar tidak sanggup. Kakinya lemas, kepalanya pusing dan berkunang-kunang, pandangannya jadi gelap. Kakinya tidak mampu lagi menahan tubuhnya.
Brukk..
Arifah pingsan.
.
.
.
TBC...
Jangan lupa like dan vote ya 😊
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️