Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
Nadila tiba kembali di butik nya, dia tidak sengaja belum makan siang sebelum bicara langsung dengan Irfan. Nadila langsung menghubungi sang suami.
"Hallo mas!" Sapa Nadila melalui sambungan telepon.
"Hallo sayang, ada apa sayang?" Tanya Irfan dari seberang sana.
"Kamu udah makan siang, Mas?" Tanya Nadila
"Udah sayang, barusan aja aku makam siang di kantin!" Jawab Irfan dari seberang sana.
"Oh gitu ya mas, rencana nya aku mau ngajak mas makan siang bareng. Udah lama kita tidak makan siang bareng!" Nadila berkata pada Irfan.
"Maaf ya sayang aku udah makan kok, jadi gak bisa makan bareng!" Jawab Irfan lagi.
Tiba - tiba saja telinga Nadila menangkap suara perempuan di seberang sana, suara itu seperti suara nya Rani.
"Mas, kok di sana ada suara perempuan?" Tanya Nadila heran.
"Oh, itu suara rekan kerja aku. Ya udah deh sayang, mas lagi sibuk banget ni!" Ujar Irfan dari seberang sana.
"Mas,,,!" Belum sempat Nadila menyelesaikan ucapan nya, Irfan sudah memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Klik.
"Aneh banget Mas Irfan, padahal ini kan masih jam istirahat nya. Kok dia bilang sibuk ya?" Nadila merasa heran dengan sikap suami nya.
Nadila kembali teringat dengan pemandangan yang tadi dia lihat di jalan, saat Rani bersandar begitu mesra di bahu suami nya.
"Apa aku salah lihat ya? Mas Irfan bilang dia ada di kantor saat ini. Tapi aku tidak salah mobil, aku mengenali mobil ku sendiri!" Nadila mengernyitkan kening nya.
"Ah udah lah, aku makan siang dulu. Nanti semua kebenaran nya akan terungkap jika mas Irfan beneran bohong!" Ujar Nadila.
Nadila segera turun ke ke bawah, dia memastikan bahwa semua karyawan nya sudah makan atau belum. Dia tidak mau makan sendiri, dia juga memesan untuk makan siang karyawan nya.
*****
Hari ini Nadila sengaja pulang lebih cepat, dia merasa tidak baik meninggal kan tamu nya sendirian di rumah. Biar bagai mana pun, Rani adalah tamu yang wajib dia hormati.
Tapi Nadila ada hal yang membuat Nadila kaget, dia melihat mobil nya sudah terparkir di halaman rumah. Tidak biasa nya Irfan pulang kerja jam segini, Nadila merasa ada yang aneh dengan suami nya.
"Loh, kok mas Irfan sudah pulang? Tidak biasa nya mas Irfan pulang lebih cepat!" Nadila bertanya pada diri nya sendiri.
Biasanya Erlan akan pulang menjelang waktu magrib, bahkan tidak jarang Irfan pulang larut malam. Nadila mendorong pintu, dan pintu untuk langsung terbuka karena tidak di kunci.
Di ruang tamu, Nadila tidak menemukan siapa- siapa di sana. Rumah dalam keadaan sepi, Nadila langsung melangkah kan kaki nya masuk ke ruang keluarga. Di sana pun dia tidak menemukan siapa - siapa, tapi Nadila mendengar suara orang bicara di dapur.
"Apa mas Irfan ada di dapur ya?" Guman Nadila heran.
Nadila langsung menuju ke dapur, dan dari pintu penghubung dapur dan ruang keluarga, Nadila melihat Erlan yang sedang memasak sesuatu di depan kompor.
"Tumben mas Irfan masak? Biasanya gak pernah tuh masak!" Guman Nadila lagi.
Rania sedang menunggu di meja makan, lalu Irfan datang membawa piring berisi masakan nya ke maja makan.
"Sayang, makanan nya sudah siap!" Ujar Irfan sambil meletakkan piring berisi makanan tersebut di hadapan Rani.
Baik Irfan maupun Rani, belum ada yang menyadari kehadiran Nadila. Karena saat ini Nadila masih berada di ruang keluarga, dan Nadila langsung menghentikan langkah kaki nya saat dia mendengar kata - kata yang keluar dari mulut suami nya barusan.
Dari balik kaca pembatas yang menjadi pemisah dapur dan ruang keluarga, Nadila melihat Irfan menyuapi Rani dengan mesra nya. Bahkan tangan Irfan mengelus perut buncit Rani.
"Makan yang banyak sayang agar anak kita sehat!" Irfan berkata sambil menyuapi Rania makan.
Setelah itu Irfan beralih ke bawah, dia berjongkok di depan Rani dan mulai mencium perut buncit Rani.
"Sayang jangan nakal di dalam sana, jangan menyusahkan Mama. Papa dan Mama menunggu nu di sini!" Ucap Irfan.
Berkali - kali Irfan mencium perut buncit Rani, dan Nadila yang melihat nya dari balik kaca langsung menutup mulut nya rapat- rapat.
'Ternyata Rani bukan lah sepupu nya mas Irfan, dia adalah selingkuhan nya mas Irfan. Tega sekali mas Mas Irfan pada ku!' Nadila menangis tanpa suara.
Nadila lalu terduduk di sofa, hati nya begitu hancur melihat kenyataan di depan mata nya. Nadila lalu menghapus air mata nya, dia tidak mau menerima semua ini begitu saja.
Nadila langsung melangkah kan kaki nya ke dapur, dan dia berdiri di antar pintu pembatas dapur dan ruang keluarga.
"Ternyata kau berbohong mas, dia bukan sepupu mu!" Ujar Nadila dengan suara lantang.
Irfan dan Rani terkejut melihat kedatangan Rani, wajah kedua nya langsung pucat seketika.
"Sayang, kapan kau pulang?" Tanya Irfan gugup.
Irfan lalu mendekati Nadila, dia meraih tangan Nadila. Tapi Nadila dengan cepat menepis nya, dia jijik dengan suami nya.
"Sejak tadi mas, aku melihat semua apa yang kalian lakukan!" Ujar Nadila.
"Nadila maaf kan mas, sayang. Mas ingin membicarakan ini dengan mu, tapi mas menunggu waktu yang tepat. Mas berencana mengadopsi anak nya Rani untuk menjadi anak kita berdua nanti nya, jadi untuk menciptakan hubungan yang erat antara orang tua dan anak, mas sengaja mengajak nya berkomunikasi dengan nya sejak masih dalam kandungan!" Irfan menjelaskan semua nya pada Nadila.
"Iya mbak, benar apa yang di katakan oleh mas Irfan. Awal nya aku berencana untuk menitipkan bayi ini di panti asuhan, karena aku sadar aku tidak akan mampu merawat nya sendirian. Tapi Mas Irfan mencegah nya, dia ingin mengadopsi bayi ini sebagai anak nya dan mbak Nadila!" Rani ikut bicara.
Nadila terdiam mendengar kata - kata yang keluar dari mulut nya Irfan dan Rani, entah kenapa hati nya mengatakan bahwa mereka sedang berbohong pada nya saat ini.
"Apakah kalian sedang tidak membohongi aku?" Tanya Nadila dengan sorot mata tajam.
"Tidak sayang, kami tidak pernah membohongi mu. Aku melakukan semua ini demi kamu sayang, aku tidak mau kau terus di remehkan oleh orang lain hanya karena kita belum punya keturunan!" Jawab Irfan sambil membawa Nadila untuk duduk di kursi meja makan.
"Mbak, jika memang mbak tidak percaya tidak papa. Setelah bayi ini lahir, aku akan meletakkan bayi ini di panti asuhan saja!" Rani berkata dengan nada sedih.
Nadila terdiam, entah kenapa hati kecil nya mengatakan bahwa saat ini kedua nya sedang berbohong.
'Baik lah mas, untuk sementara ini aku akan diam dan percaya pada kalian. Tapi jangan senang dulu, aku akan mencari tahu semua kebenaran nya!' Batin Nadila di dalam hati.