🔥✨ Update Minggu, Rabu, dan Jumat✨🔥
Seorang gadis hypertymesia yang dapat mengingat apapun yang dilihatnya hanya ingin hidup biasa saja, namun setelah kematian mendadaknya ia reinkarnasi ke tubuh budak yang tiba-tiba diangkat selir oleh seorang pangeran. Tubuh yang ditinggalinya ternyata bukanlah budak biasa, ia sangat cantik dan seksi karena milik assassin yang sedang menyamar!
Raymond adalah pangeran licik yang memanfaatkan kemampuan hyperthymesia Alice untuk membangun kerajaan melawan kekaisaran Procyon yang selalu menyerang kerajaannya. namun setelah menjadi raja ia terpikat oleh Alice dan ingin mengangkatnya menjadi ratu!
Apakah seorang selir rendahan dapat menjadi ratu?
mau kenalan atau ngewibu bareng author?
follow ✨anichan21✨ aja di Instagram ฅ^•ﻌ•^ฅ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anichan21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Trap
Genangan merah darah terus mengalir. Alice melepaskan genggaman tangan yang semakin tak ada tenaganya. Kaki Alice gemetar, ia mundur beberapa langkah ke belakangang hingga jatuh terduduk. Matanya melihat pedang pendek penuh darah yang masih di pegang Ottar. Bibir merahnya ikut bergetar saat mencoba berbicara.
“Kau… kau… kau membunuhnya?” Suara Alice bergetar.
“Kau bilang dia mengenali wajah kita, sangat berbahaya kalau dibiarkan hidup.” Jawab Ottar yang mencoba mendekati Alice.
“Kau benar…” Alice menghembuskan nafasnya dan menundukkan pandangannya.
“Hey… jangan bilang ini pertama kalinya kau melihat orang terbunuh…” Ottar kembali mencoba mendekati Alice yang semakin menjauh darinya.
“Umm….” Alice mengaguk lemas.
Di dalam hati kecil Alice, ia sedang berteriak histeris, ketakutan di saat yang sama, dan mencoba mengenyampingkan perasaannya untuk berpikir logis. Ia terus menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.
‘Ini perang, pasti akan banyak yang mati. Mereka musuh yang mencoba menyerang kerajaan Raymond, kenapa aku iba dengannya? Kenapa Ottar dapat membunuh manusia semudah itu?’
Pikiran Alice bergejolak. Suara Jam saku Ottar yang sebenarnya tidak kencang mulai berdetak di kepala Alice. Memutar mundur kejadian yang baru ia alami, suara teriakan prajurit itu saat ditebas, darah yang mengalir tepat dihadapannya, tubuh yang melemas di genggamannya, pedang Ottar yang berlumur darah.
Detak jarum jam terus terdengar, kini di hadapan Alice terbayang gambaran hutan dan lima orang yang akan menyergap mereka. Ingatan tersebut bagai terzoom, fokus kepada Ottar yang sebenarnya berjarak cukup jauh darinya. Fokus kepada Ottar yang membunuh prajurit di hadapannya. Ini bukan pertama kali ia melihat orang terbunuh di dunia barunya. Namun ini pertama kalinya secara dekat.
“Alice…” Ottar memegang bahu Alice dan memanggilnya lembut.
“…”
“Sudah waktunya kita pergi.” Lanjut Ottar melihat Alice yang terdiam.
Suara ledakan terdengar kembali, kebakaran dari tenda persediaan makanan menghebohkan camp yang sudah sangat sepi itu. Matahari sudah terbenam, memperlihatkan kontras warna yang cukup besar antara api dan langit hutan yang gelap. Ottar yang khawatir dengan wajah Alice yang masih pucat tidak memacu kudanya dengan cepat. Setelah menghabiskan bubuk mesiu dari dua camp mereka beralih ke camp berikutnya.
“Alice… kalau kau tak sanggup aku dapat melakukannya seorang diri.” Ottar mengelus pipi Alice.
“Tidak, aku sanggup, aku akan melakukan yang terbaik untuk Raymond.” Alice tersenyum dengan wajah pucatnya itu.
Melodi merdu dari lonceng-lonceng kecil yang digoyangkan kembali menarik perhatian prajurit yang berjaga. Suara Ottar yang indah disambut tepuk tangan para prajurit di camp yang sepi. Tarian Alice, walau dilakukan setengah hati disambut siulan menggoda para prajurit. Diam saja Alice sudah terlihat seksi, bagaimana saat menari!
“Terimakasih… terimakasih…” Alice dan Ottar tersenyum.
Kantung uang dikeluarkan oleh Ottar, ia berkeliling, dan digoda oleh pria-pria itu. Seorang prajurit berbadan gagah dan tampak lebih tampan dibanding prajurit lainnya mendekatiku. Tubuhnya wangi, tidak seperti prajurit lainnya. Pakaiannya juga lebih rapih, zirah yang dikenakan terlihat berkualitas tinggi.
“Hai cantik…” Sapanya.
“Ya tuan…” Alice tersenyum.
“Arghh... tuan bisa saja nih langsung ambil yang paling bohay.” Protes prajurit di dekatnya.
“Ayo pergi… disini kita banyak yang menggoda.” Pria tersebut mengedipkan matanya, Alice pun tersenyum.
Alice dan pria itu pergi ke arah tenda dengan banyak tumpukan jerami di dalamnya. Alice tidak ingin menoleh kebelakang, tidak ingin mengingat wajah-wajah prajurit tadi dengan detail. Ia percaya Ottar akan menebas mereka semua. Pria kekar itu menutup pintu tenda. Tenda gelap yang membuat Alice kesulitan melihat.
“Sekarang waktunya kita bersenang-senang sa- ”
DAKK…
Pria berwajah tampan itu tersungkur diantara tumpukan jerami setelah Alice memukul tengkuknya. Tangan Alice kini menggerayangi tubuh pria itu, membuka kancing pakaiannya, mengeluarkan isi kantung prajurit tersebut. Alice tak bisa melakukanna dengan cepat karena tangannya berdenyut.
“Arrhh… kenapa badan orang ini keras sekali…” Protes Alice.
Tangan Alice terhenti setelah ia membuka lapisan terakhir pria tersebut. Bukan karena terkejut dengan bentuk tubuh pria tersebut yang indah, namun karena pria itu menggunakan zirah rantai tambahan di dalam pakaiannya. Hal yang aneh dilakukan untuk menggunakan zirah lapis dengan cara seperti itu.
“Ahh… pantas tanganku sakit.” Ucap Alice mengelus pergelangan tangannya.
Lapisan terakhir pakaian prajurit itu berhasil disingkirkan oleh Alice. Ia memeriksa surat yang ada di kantungnya dan berhasil menemukan sebuah surat berlambang Arcux. Mata Alice kecewa saat yang dibacanya hanyalah pesan para pengintai. Alice berteori pria ini adalah satu dalang informasi yang diterima Raymond kacau.
“Cih… Cuma segini.” Gerutu Alice.
“Dasar pencuri kecil.” Suara bernada berat mengagetkan Alice.
Senyum lebar pria yang tadi dijatuhkan Alice, membuat Alice semakin panik. Tangan pria itu menggenggam kedua pergelangan Alice dan mendorongnya jatuh ketumpukan jerami. Alice mencoba melepaskan diri dari genggaman kuat prajurit kekar itu. Nasihat Arlo terbesit dipikiran Alice, tubuh Alice lemah terhadap adu kekuatan, kelebihan tubuh Alice adalah reflek dan kelenturan luar biasa.
“Tak kusangka ada wanita yang berhasil menjatuhkanku, itu membuatku semakin tertantang untuk menaklukanmu.” Tangan prajurit itu meraba wajah Alice.
“Kyaaa~” Alice mencoba berteriak.
“Hahaha… Berani juga gadis kecil sepertimu merampok prajurit. Walau aku mabuk, aku ini masih yang terkuat, kau tahu?” Prajurit itu menjambak rambut Alice.
Alice berusaha berpikir agar dapat menjatuhkan pria itu lagi. Teriakannya ternyata tak bisa mengulur waktu lebih lama. Wig palsu yang dikenakan Alice ditariknya. Rambut keemasannya terjuntai indah. Pria kekar itu melotot, terkejut melihat kecantikan Alice.
BUKK…
Alice menendang pria itu hingga terjatuh. Namun reflek pria itu juga sangat baik. Bagi Alice yang sering berlatih tanding dengan Arlo dan Raymond, ia percaya pria ini berbahaya. Ia memiliki kemampuan tempur tinggi. Alice mencoba mengambil pisau yang tersembunyi di lengannya. Namun pisau lain sudah mendarat di leher Alice.
“Pencuri kecil… kau tangguh juga…” Pria itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Tercium bau alkohol kuat dari mulutnya.
“Kyaaa~” Teriakan lain terdengar dari pintu masuk.
“Hehehe… temanmu sepertinya ingin ikut bersenang-senang dengan kita.” Pria kekar itu mendekap Alice saat melihat Ottar memasuki tenda.
Ottar melotot melihat kondisi Alice yang terpojok. Ia yang sudah menebar bubuk mesiu dari camp ini, mereka harus segera melarikan diri sebelum kebakaran terjadi. Instingnya pun bergerak cepat, mengambil tindakan yang sebenarnya tidak ingin dilakukannya.
“Ma… maafkan kami tuan… A… aku… aku akan melakukan apapun tapi tolong ampuni kami…” Ottar menundukkan badannya dan bersuara layaknya wanita ketakutan.
“Hahaha… bagus, bagus, kemari, ayo kita bertiga bersenang-senang bersama.” Pria kekar itu tertawa terbahak.
Ottar berjalan perlahan dengan tubuh gemetar. Matanya berkaca-kaca menatap pria yang masih tertawa keras itu. Tangan kecilnya yang sama sekali tidak maskulin meraba bahu sang prajurit. Alice terlepas dari genggaman prajurit itu, ia mundur selangkah kebelakang karena geli dengan apa yang dilihatnya. Lengan kekar sang prajurit dilingkarkan di pinggang Ottar, ia mulai meraba-
“KAU PRIA!” Teriak prajurit itu.
siapakah Alice sesungguhx thorr
tetap semangat yach
jangan lupa mampir,
makasih
menenangkan orang yg panik itu ternyata lebih susah yaa (´°̥̥̥̥̥̥̥̥ω°̥̥̥̥̥̥̥̥`) tetap patuhi 3M yaw ( ´◡‿ゝ◡`)
selamat menikmati crazy upnyaa ฅ^•ﻌ•^ฅ
salam hangat dari ADA APA DENGAN JODOHKU ❤️❤️. dan Janda Muda ..
Ku tunggu Feedback mu..