Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Bagas begitu santai melahap sarapannya.
Pria itu cukup memakan dua potong Roti. Dua butir telur dan satu gelas susu kambing.
Raut wajah Hartati tampak penasaran dengan cerita malam pertama Bagas dan Mila. Tetapi sosok ibu itu lebih memilih diam tidak berani bertanya untuk urusan intim anak lelakinya.
"Kamu tidak ambil cuti?" tanya Hartati.
"Tidak bisa Bu! Dari kemarin sudah banyak pekerjaan yang terbengkalai."
Tatapan Hartati dipenuhi rasa khawatir dengan kondisi anaknya.
"Ibu jangan khawatir, Bagas cukup sehat bahkan sangat fit!"
Hartati kembali tersenyum dengan pernyataan putranya yang mampu menghilangkan rasa khawatir itu.
"Bagas pergi dulu yah Bu," Bagas menyentuh lembut bahu ibunya.
"Terima kasih atas segalanya. Maafkan Bagas jika ada salah sama ibu!" ucap pria itu mencium kepala ibunya dengan penuh kasih sayang.
Bagas sangat menyayangi ibunya karena sejak kematian sang Ayah. Hartati berjuang sendiri untuk anak-anaknya.
"Iyah sayang!" jawab bahagia Hartati memandangi langkah Bagas dari belakang. Ia begitu haru dan bahagia melihat sang anak kembali sehat dan sudah bisa bekerja.
Langkah Bagas tidak menuju pintu keluar rumah. Ia berlari kecil memasuki kamar Emma.
Terlihat Emma baru saja terbangun dan langsung minta bermain kecil bersama Mila si ibu pengasuhnya.
"Emmaaa!" Panggilan lembut Bagas dengan penampilannya yang tampan, rapi dan harum. Siap berangkat ke kantor.
Menyadari kehadiran Bagas membuat jantung Mila bergetar kecil dipenuhi rasa malu, tidak percaya diri dan sedikit salah tingkah.
Mila bangkit menuju lemari pakaian Emma mempersiapkan pakaian ganti bayi itu kemudian lanjut menuju kamar mandi mempersiapkan ember mandian Emma, walaupun bayi kecil itu belum jadwalnya untuk mandi.
Melihat kehadiran sang Ayah. Emma merangkak cepat meraih Bagas.
"Sayang!" Senyum bahagia Bagas langsung mengangkat dan menggendong putri kecilnya. Sebelum berangkat ke kantor, Bagas suka menggendong Emma terlebih dahulu.
"Papa kerja dulu yah sayang, kamu jangan nakal!" Bagas mengecup lembut kening Emma lalu menyerahkannya kembali kepada Mila.
Bagas dan Mila masih terlihat jaim dan sangat kaku. Hubungan mereka kembali seperti semula antara Bos dan staf.
"Kamu sarapan dulu!" Pesan Bagas mulai ada perhatian walaupun dengan gaya dingin dan cueknya terhadap Mila.
"Iyah!" Angguk cepat Mila yang hanya menunduk wajahnya, tidak berani menatap Bagas.
Bagas lantas pergi meninggalkan kamar Emma masih dalam suasana jantung bergetar kecil.
Sesampai di lobi rumah.
"Mari Pak!" Sambut cepat sang supir membukakan pintu mobil untuk Bagas.
Sepanjang perjalanan menatap ke arah jendela. Bagas masih memikirkan detail tentang kejadian malam pertamanya yang begitu nikmat bersama Mila.
Wajah lelaki itu tampil cerah dan sumringah.
"Kenapa aku lebih menikmati dan sangat bergairah kepada Mila daripada Tyas. Rasanya berbeda sampai aku terasa candu? Apakah aku masih memiliki perasaan cinta kepada Mila atau memang tubuhnya sangat indah untuk dinikmati?" Pertanyaan-pertanyaan konyol dan jujur Bagas dari hatinya.
Setelah mendapatkan sentuhan jatah ranjang dari Mila. Emosi kebencian Bagas terhadap Mila perlahan turun.
"Neng Mila!" sapa senyum Sari memasuk kamar Emma.
"Bibik!" Sapa balik lembut Mila yang masih membiarkan Emma bermain.
"Di tunggu Ibu di meja makan. Sarapan dulu," ucap sang pelayan merasa sungkan dengan Mila setelah wanita cantik itu dinikahi oleh majikannya.
"Iyah Bik."
"Emma biar Bibik jemur sebentar!"
"Baiklah, ini susu Emma?" Mila meyerahkan kepada Sari.
"Oh Iyah Neng, apakah Bibik harus panggil Nona atau nyonya seperti almarhum Nyonya Tyas dahulu?" tanya Sari malu-malu kepada Mila. Sebab ketika Mila pertama bekerja Sari sempat begitu jutek dan bawel serta memandang sebelah sosok Mila. Namun siapa sangka kini wanita itu naik derajat menjadi istri majikannya.
"Panggil Mila saja Bik!" Senyum manis Mila.
"Tapi kan kalau Tuan marah bagaimana?"
"Mila justru merasa aneh jika dipanggil Nona dan Nyonya, Tuan tidak akan marah!"
"Bibik minta maaf jika selama ini sering bawel kepada Mila!" Sari mulai merasa takut Mila sakit hati dan berniat akan mengganti dirinya dengan pelayan baru.
"Tidak apa-apa Bik. Mila justru senang, karena Bibik itu begitu perhatian dan mau mengajari Mila banyak hal!" Jawab lembut Mila selalu tersenyum ramah.
"Mila sarapan dulu!"
"Baik neng!" Angguk cepat Sari.
Sari memandangi kepergian Mila dan berkata dalam hatinya;
"Mila tenyata wanita yang lembut dan sabar. Tidak mudah sakit hati. Sedikitpun Mila tidak pernah membalas omelanku. Pantaslah Emma takluk kepadanya!"
*
"Dreeet" ponsel Hartati bergetar hebat di atas meja makan.
"Halo dokter Adam, selamat pagi," sapa manis Hartati.
"Pagi juga Ibu!" Sapa balik Adam dengan ramah.
"Tampaknya, Nyonya Hartati cukup bahagia Hari ini!"
"Iyah begitulah Dok, karena Bagas sudah terlihat sehat dan langsung bisa bekerja!"
"Sore ini Adam akan kembali periksa kesehatan Mas Bagas dan kalau boleh titip pesan kepada ibu. Em, Mas Bagas harus lebih fokus kepada kesehatannya dan tetap rutin melakukan hubungan suami istri minimal untuk satu Minggu ini saja. Jika saya perhatikan. Mas Bagas sangat sibuk dengan pekerjaannya sampai lalai dengan kebutuhan biologisnya."
"Hahaha, dokter tenang saja, saya akan tetap memperhatikan hal itu selama satu minggu ini!"
"Terima kasih Ibu!"
"Apakah Bagas perlu melakukan terapi-terapi khusus?" tanya Hartati.
"Tidak perlu Bu. Mas Bagas kondisi fisiknya bagus tidak lumpuh!"
"Baiklah kalau begitu!"
*
Dalam perasaan senang Hartati menutup telponnya.
"Pokoknya selama satu minggu ke depan, aku harus berpatroli dan benar-benar siaga untuk hubungan ranjang Bagas dan Mila," gumam Hartati sudah mengatur rencana.
Melihat Mila sudah duduk di meja makan dan mulai mengambil sepotong roti. Hartati bergegas menghampiri menantu rahasianya itu.
Wanita berusia 56 tahun itu duduk dihadapan Mila.
"Mila, satu Minggu ke depan kamu harus fokus untuk Bagas!" Hartati kembali mengingatkan.
"Iyah!" Jawab singkat Mila tanpa senyuman fokus kepada roti.
"Ibu sudah kirimkan bingkisan sembako dan semua keperluan keluarga kamu di desa. Soal uang dan yang lainnya nanti Bagas sendiri yang transfer!" akal bulus Hartati menaikkan semangat Mila.
"Terima kasih Bu!" Angguk Mila begitu kalem.
"Tadi malam, Bagas tidak rewel kan?"
"Tidak Bu," angguk Mila.
"Hubungan ranjang kalian bagus kan?"
"Iyah bagus!" Jawab kaku Mila mendapatkan interogasi kepo dari ibu mertuanya.
"Benar kata dokter Adam. Bagas memang cuek dengan urusan ranjang karena terlalu fokus bekerja. Ini juga pernah dikeluhkan oleh Tyas. Artinya aku harus menjadikan Mila menjadi ani-ani malam yang sangat menggairahkan untuk Bagas sehingga mampu mengalihkan pekerjaannya!"
"Habis sarapan kamu segera mandi, lalu kita pergi ke klinik kecantikan dan perawatan kewanitaan!"
"Untuk apa Bu?" tanya polos Mila.
"Nanti kamu juga akan tau!" ucap acuh Hartati pergi meninggalkan Mila.
"Mau apa lagi si monster Biawak?" ucap kesal Mila dengan wajah cemberutnya.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂