Di dunia ini, tidak semua orang bekerja demi mengejar mimpi. Sebagian hanya berusaha bertahan hidup.
Ling Qi adalah salah satunya.
Sebagai penambang biasa di China, hidupnya dipenuhi debu tambang, utang yang terus menumpuk, dan hari esok yang tidak pernah menjanjikan harapan. Ketika sebuah kejadian menghancurkan sisa keberuntungannya, ia mengira hidupnya telah mencapai titik terendah.
Namun, jauh di bawah tanah, sebuah portal misterius membuka jalan menuju dunia yang belum pernah dijamah manusia.
Di balik kegelapan gua-gua kuno, tersembunyi mineral berharga, reruntuhan yang menyimpan rahasia, serta monster yang menjaga harta mereka dengan nyawa.
Di sana, Ling Qi memperoleh 《World Mining System》, sebuah sistem yang mengubah setiap ayunan pickaxe menjadi kesempatan untuk mengubah takdir.
Tetapi semakin dalam ia menambang, semakin ia menyadari bahwa dunia itu bukan sekadar tambang.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di balik setiap portal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Beberapa hari kemudian, dengan bantuan Shi Yao yang berhasil menemukan sebuah apartemen sederhana untuk tempat persembunyian sementara, Ling Qi mulai mencoba menjalani kehidupan yang lebih tenang, meski wajahnya masih tersembunyi di balik masker hitam, topi rajut yang menutupi rambut putihnya, dan kacamata hitam besar yang menutupi mata merahnya yang kini mengkristal.
Dengan seluruh wajahnya tertutup rapat, dia berjalan santai menyusuri lorong mall—mall yang berbeda dari tempat kejadian retakan sebelumnya, jauh dari area yang mungkin masih diawasi ketat.
'Setidaknya begini, orang-orang tidak akan langsung berteriak monster begitu melihatku.' Dia berjalan tanpa tujuan pasti, sekadar menikmati suasana yang normal, jauh dari pertarungan dan kekacauan yang selama beberapa hari terakhir memenuhi hidupnya.
Di depan sebuah toko aksesoris, dia berhenti sejenak memperhatikan etalase, ketika seseorang tanpa sengaja menabrak bahunya dari samping.
"Aduh, maaf!" seorang gadis muda, mungkin seusia dengannya, buru-buru membungkuk minta maaf, tangannya masih memegangi ponsel yang tadi membuatnya tidak melihat jalan.
Ling Qi menggeleng pelan, meski gerakan itu tidak terlalu terlihat karena topi dan maskernya yang tebal. "Tidak apa-apa."
Gadis itu mendongak, rambut oranyenya dikuncir kembar dengan gaya yang terlihat familiar, matanya besar dan berbinar penasaran menatap sosok serba tertutup di depannya.
'Rambut itu...' Ling Qi menatap kuncir kembar itu sekilas, ada sesuatu yang mengganjal di ingatannya, tetapi dia tidak bisa menempatkannya dengan pasti. 'Ah, sudahlah. Mungkin cuma perasaanku saja.'
Mata gadis itu bertemu dengan sosok Ling Qi, gerakannya membeku sejenak. 'Aura apa ini...'
Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan menjalar di dadanya—rasa hangat sekaligus mendebarkan, seolah berdiri di depan sesuatu yang jauh lebih besar dan kuat dari yang bisa dia bayangkan, meski sosok di depannya hanya berdiri diam dengan tangan di saku.
"Kau... seorang Hunter?" tanyanya, suaranya sedikit gugup, jauh berbeda dari nada ceria yang tadi dia gunakan untuk meminta maaf.
Ling Qi, yang tidak tahu apa-apa tentang istilah itu, hanya mengangkat bahu. "Bukan."
"Oh." Gadis itu terdiam sesaat, kecewa yang tidak dia sembunyikan sepenuhnya terlihat di wajahnya, sebelum kembali tersenyum lebar. "Aku Xiao Nuan. Kau sering ke mall ini?"
"Baru pertama kali," jawab Ling Qi jujur, matanya kembali menoleh ke etalase toko di depannya, tidak menyadari bahwa Xiao Nuan masih berdiri di sana, memperhatikannya dengan seksama.
'Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan kekuatannya, tapi juga tidak sombong. Aneh sekali.' Xiao Nuan menggigit bibir bawahnya, ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri. "Kalau begitu, mau aku temani jalan-jalan? Aku hafal semua toko bagus di sini."
Ling Qi menoleh, menimbang tawaran itu sejenak. Berjalan sendirian memang mulai terasa membosankan, dan dia belum sepenuhnya hafal seluk-beluk mall yang baru.
"Boleh," jawabnya singkat.
Wajah Xiao Nuan langsung berseri-seri, meski dia buru-buru menahan senyum lebar itu agar tidak terlihat terlalu antusias. "Ayo! Ada toko roti yang enak sekali di lantai dua!"
Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong mall, Xiao Nuan bercerita banyak hal—toko favoritnya, kafe dengan kue terenak, bahkan gosip ringan tentang penjaga toko yang menurutnya lucu. Ling Qi hanya mendengarkan, sesekali mengangguk atau memberikan jawaban singkat, matanya lebih sering tertuju pada barang-barang di etalase dibandingkan pada gadis di sampingnya.
Di toko roti, Xiao Nuan membelikan dua potong roti krim tanpa diminta, menyodorkan salah satunya kepada Ling Qi dengan wajah sedikit memerah.
"Ini, coba. Enak, lho." Ling Qi menerimanya, mengangkat maskernya sedikit untuk menggigit roti itu dengan hati-hati, memastikan wajahnya tidak terlihat sama sekali. "Terima kasih."
"Sama-sama!" Xiao Nuan tersenyum lebar, jantungnya berdebar kencang melihat cara Ling Qi begitu berhati-hati menjaga jarak, mengira itu sebagai bentuk kesopanan yang langka. 'Dia bahkan menjaga sopan santun seperti ini. Beda sekali dengan Hunter lain yang sering kutemui.'
Mereka melanjutkan berjalan, berhenti di toko buku, toko sepatu, hingga sebuah wahana permainan kecil di sudut mall. Xiao Nuan sesekali sengaja memperlambat langkahnya agar bahu mereka bersentuhan, atau melirik ke arah Ling Qi dengan harapan dia akan menyadari sesuatu.
Namun Ling Qi tetap berjalan santai, matanya lebih fokus mengamati barang-barang baru yang belum pernah dia lihat, sama sekali tidak menyadari usaha kecil yang terus dilakukan gadis di sampingnya.
"Ling Qi," panggil Xiao Nuan pelan, saat mereka berhenti di dekat air mancur kecil di tengah mall, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. "Kalau kau senggang lagi... boleh aku menghubungimu?"
Ling Qi menoleh, sedikit bingung dengan pertanyaan itu. "Aku tidak punya nomor tetap. Tapi kalau kita bertemu lagi di sini, tidak masalah."
Xiao Nuan tertawa kecil, meski di dalam hatinya rasa kecewa itu tidak sepenuhnya hilang. 'Dia benar-benar tidak peka, ya... tapi entah kenapa, itu justru membuatku semakin penasaran.'
"Baiklah," ucapnya, tersenyum lebih tulus kali ini. "Kalau begitu, aku akan sering ke sini. Siapa tahu kita bertemu lagi."
Ling Qi mengangguk sopan, tidak menangkap makna tersembunyi di balik kalimat itu, lalu melirik jam dinding besar di dekat air mancur. "Aku harus pergi. Terima kasih untuk hari ini."
"Sama-sama," jawab Xiao Nuan, melambaikan tangan hingga sosok Ling Qi menghilang di antara kerumunan pengunjung mall.
Dia berdiri sendirian di dekat air mancur itu, tangannya masih terangkat setengah melambai, senyum kecil masih terpasang di wajahnya. 'Aura itu... aku harus bertemu dengannya lagi.'