Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: SEKELOMPOK DENGAN PAK ALDEN
Papan pengumuman digital berkedip menampilkan jadwal terbaru, dan Kirana yang sedang berjalan menuju ruang diskusi bersama Nadia langsung berhenti begitu membaca detail yang tertera di sana.
"Nad, coba liat ini deh," Kirana menunjuk layar, alisnya mengernyit. "Katanya mulai minggu ini, Pak Alden bakal ikut duduk langsung di setiap sesi diskusi kelompok kita, bukan cuma dateng sesekali kayak biasanya."
"Hah? Serius?" Nadia mendekat, membaca sendiri pengumuman itu. "Kenapa tiba tiba jadi seketat itu?"
"Nggak tau, mungkin karena ini proyek gabungan, jadi dia mau lebih ngawasin," jawab Kirana, meski dalam hati dia merasakan campuran antara senang dan cemas.
Mereka melanjutkan langkah menuju ruang diskusi lantai tiga, mendapati anggota kelompok lain sudah berkumpul lebih dulu. Bagas, Ferra, Yusuf dari kelompok lama, serta Dinda, Aji, Ratna, dan Fikri dari kelompok paralel, semua sudah duduk mengelilingi meja besar dengan laptop masing masing terbuka.
"Kir, katanya Pak Alden bakal sering ikut kumpul kita ya?" tanya Dinda begitu Kirana duduk di kursinya.
"Iya, aku juga baru tau dari pengumuman tadi," jawab Kirana, membuka laptopnya sendiri.
"Wah, berarti kita harus lebih rajin nih, nggak bisa santai santai kayak biasa," celetuk Fikri, sedikit khawatir.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka, dan Alden masuk membawa map serta laptopnya sendiri, jauh lebih siap dari biasanya untuk sesi diskusi yang lebih panjang.
"Selamat sore," sapanya, duduk di kursi yang sudah disediakan di ujung meja, tepat berseberangan dengan posisi Kirana. "Mulai hari ini, saya akan lebih sering hadir di sesi diskusi kalian, untuk memastikan progress kelompok gabungan ini berjalan sesuai target."
"Pak, apa ini juga berlaku buat kelompok lain, atau cuma kelompok kita?" tanya Aji, penasaran.
"Berlaku untuk semua kelompok gabungan, bukan cuma kelompok kalian," jawab Alden tegas, meski matanya sekilas melirik ke arah Kirana sebelum kembali fokus ke seluruh anggota.
Kirana merasa sedikit lega mendengar penjelasan itu, setidaknya kehadiran Alden yang lebih sering bukan sesuatu yang khusus ditujukan untuk kelompoknya saja, melainkan kebijakan umum yang berlaku merata.
"Oke, kita mulai dari update progress masing masing bagian," kata Alden, membuka laptopnya. "Kirana, sebagai koordinator, silakan mulai laporannya."
Kirana mengangguk, membuka file presentasi yang sudah dia siapkan. "Jadi, Pak, sejauh ini kami udah bagi tugas jadi empat bagian besar. Analisis pasar dikerjain Nadia sama Ratna, analisis finansial saya sama Aji, strategi implementasi Bagas sama Dinda, dan penyusunan slide sama Ferra, Yusuf, Fikri."
"Progress masing masing bagian gimana?" tanya Alden, mencatat sesuatu di kertasnya sendiri.
"Analisis pasar udah hampir selesai, tinggal finalisasi data," jawab Nadia, menunjukkan slide yang sudah dia buat.
"Analisis finansial masih proses, kami lagi coba samain metode perhitungan biar konsisten," tambah Kirana, melirik ke arah Aji yang mengangguk setuju.
Alden mendengarkan setiap laporan dengan seksama, sesekali mengajukan pertanyaan tajam yang membuat beberapa anggota kelompok harus berpikir lebih keras untuk menjawabnya. Kirana memperhatikan caranya memimpin diskusi, tetap profesional dan objektif, tidak ada perbedaan perlakuan yang mencolok antara dirinya dengan anggota lain.
"Kirana, bagian analisis finansial kamu sama Aji," kata Alden setelah semua laporan selesai, "coba tunjukkan progress detailnya."
Kirana membuka file Excel yang berisi perhitungan mereka, memutar layar laptopnya agar Alden bisa melihat lebih jelas.
"Ini, Pak, kami udah hitung proyeksi arus kas untuk tiga skenario, optimis, moderat, dan pesimis."
Alden mencondongkan badan, memperhatikan angka angka yang tertera. "Asumsi discount rate kalian pake berapa?"
"Dua belas persen, Pak, berdasarkan rata rata industri sejenis," jawab Aji, ikut menjelaskan bagian yang dia kerjakan.
"Coba jelasin kenapa pilih angka itu, bukan yang lain," Alden bertanya lagi, nadanya tetap objektif seperti biasa dia bertanya ke mahasiswa lain.
Kirana dan Aji bergantian menjelaskan alasan di balik asumsi mereka, dan Alden mendengarkan dengan seksama sebelum akhirnya mengangguk. "Cukup masuk akal. Tapi coba tambahin sensitivity analysis, biar keliatan seberapa besar pengaruh perubahan asumsi ke hasil akhir."
"Siap, Pak, nanti kami tambahin," jawab Kirana, mencatat masukan itu.
Diskusi berlanjut sampai hampir satu setengah jam, membahas setiap bagian dengan detail. Kirana mendapati dirinya lebih nyaman dari yang dia kira, berada dalam suasana profesional bersama Alden di tengah tengah kelompok besar terasa berbeda dari pertemuan pertemuan pribadi mereka sebelumnya, lebih aman, lebih terkendali.
"Oke, saya rasa progress kalian cukup bagus untuk minggu ini," kata Alden akhirnya, menutup laptopnya. "Lanjutkan sesuai timeline, saya akan hadir lagi di sesi berikutnya minggu depan."
Setelah Alden keluar ruangan, suasana kembali santai, anggota kelompok mulai bercanda dan mengobrol ringan sambil merapikan barang bawaan masing masing.
"Kir, tadi Pak Alden lumayan detail ya nanyain bagian kamu sama Aji," komentar Dinda, sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas.
"Iya, tapi itu emang bagus sih, jadi kita bisa perbaiki sebelum terlambat," jawab Kirana, mencoba terdengar netral meski dalam hati dia sendiri merasakan sedikit ketegangan yang berbeda setiap kali harus berinteraksi dengan Alden di depan orang banyak.
"Eh, Kir," Aji tiba tiba bertanya, "kayaknya Pak Alden lebih sering nanya ke kamu dibanding yang lain deh. Kalian emang udah kenal lama ya?"
Pertanyaan itu membuat Kirana sedikit gugup, meski dia berusaha menjawab dengan tenang. "Nggak juga sih, mungkin karena aku koordinator, jadi lebih sering jadi sasaran pertanyaan."
"Oh iya juga sih, masuk akal," Aji mengangguk, tidak terlalu mempermasalahkan lebih jauh.
Bagas yang mendengar percakapan itu dari kejauhan hanya tersenyum kecil, tidak berkomentar apa apa, meski Kirana bisa menangkap tatapan penuh arti yang dilemparkan sahabatnya itu.
Sepulang dari ruang diskusi, Kirana berjalan bersama Nadia menuju gerbang kampus, keduanya membicarakan progress kelompok yang harus segera diselesaikan sebelum sesi berikutnya minggu depan.
"Kir, jujur deh," Nadia tiba tiba bertanya, nadanya lebih pelan dan personal, "kamu sama Pak Alden tuh beneran cuma hubungan dosen mahasiswa biasa kan?"
Pertanyaan langsung itu membuat langkah Kirana sedikit terhenti. "Kenapa nanya gitu, Nad?"
"Soalnya dari cara dia natap kamu tadi, sama cara kamu jawab pertanyaan dia, itu kerasa beda aja, Kir. Kayak ada chemistry yang nggak biasa," jelas Nadia, tidak bermaksud menuduh, hanya penasaran.
Kirana terdiam sejenak, mempertimbangkan seberapa jujur dia harus menjawab. "Nad, jujur aja, ini situasi yang rumit banget. Aku sendiri juga masih bingung harus gimana."
"Jadi emang beneran ada sesuatu?" Nadia bertanya lagi, matanya membelalak, meski suaranya tetap pelan agar tidak terdengar orang lain.
"Aku nggak tau harus bilang apa," Kirana menghela napas panjang, "yang jelas, situasi ini bikin aku harus ekstra hati hati, apalagi sekarang jadi koordinator kelompok yang sering ketemu dia."
Nadia menatap sahabatnya dengan raut yang penuh pengertian, tidak mendesak lebih jauh. "Aku nggak akan cerita ke siapa siapa kok, Kir. Tapi kamu harus jaga diri baik baik, situasi kayak gini bisa bahaya kalau sampe kebongkar sama orang yang salah."
"Makasih, Nad," Kirana tersenyum kecil, merasa sedikit lega ada orang lain selain Tesa yang bisa dia percaya untuk berbagi kekhawatiran ini. "Aku juga udah sadar risikonya, makanya aku coba jaga jarak profesional pas ada di depan kelompok."
Mereka melanjutkan perjalanan pulang dalam diam sejenak, masing masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Kirana memikirkan bagaimana posisinya sebagai koordinator akan terus mempertemukannya dengan Alden secara rutin, sebuah situasi yang di satu sisi dia nantikan, tapi di sisi lain juga membuatnya semakin waspada terhadap setiap gerak gerik dan reaksi yang mungkin bisa menimbulkan kecurigaan orang lain.
Sesampainya di gerbang kampus, mereka berpisah arah, dan Kirana melanjutkan jalan pulang sendirian, pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang bagaimana dia harus menjalani minggu minggu ke depan, di mana proyek kelompok besar ini akan terus mempertemukannya dengan Alden dalam konteks yang formal namun penuh dengan ketegangan tersembunyi yang hanya mereka berdua yang benar benar memahami kedalamannya.