Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Arka berjalan mengitari keempat robot tersebut, menepuk-nepuk pundak sintetis mereka yang terasa kokoh namun dilapisi bahan mirip kulit manusia.
"Baiklah, karena kalian berempat akan sering berinteraksi dengan manusia dan pasien di luar sana, rasanya aneh kalau aku memanggil kalian dengan nomor seri," ujar Arka sembari berpikir sejenak.
Ia menunjuk robot pertama yang berada di paling kiri, yang memiliki raut wajah paling hangat dan tenang.
"Kamu, namamu Alpha. Tugas utamamu adalah memegang bagian administrasi, pendaftaran, dan penerimaan pasien di lantai dasar. Ramah-ramah ya ke warga sekitar."
[Diterima, Tuan Arka. Identitas 'Alpha' telah dikonfigurasi sebagai Unit Administrasi Utama] jawab Alpha dengan senyum simetris yang natural.
Arka lalu beralih ke robot kedua yang tubuhnya tampak paling tegap dan jemarinya terlihat sangat fleksibel.
"Kamu Beta. Kamu akan bertugas sebagai asisten tindakan mediskku. Kalau ada kasus pembedahan minor, penanganan luka, atau kondisi darurat seperti kasus anak tersedak tadi, kamu yang berdiri di sampingku."
[Siap, Tuan! Protokol Asisten Bedah dan Keperawatan Aktif] sahut Beta tegas, memberi gerakan jabat tangan yang mantap.
Selanjutnya, Arka menunjuk robot ketiga yang memiliki pemindai optik sedikit lebih lebar di area matanya.
"Kamu Gamma. Tugasmu adalah mengelola Apotek Otomatis, meracik obat sesuai resepku, dan mengontrol stok obat-obatan di laboratorium."
[Tugas dimengerti, Tuan. penakaran obat dijamin seratus persen tepat] jamin Gamma dengan anggukan halus.
Terakhir, Arka menatap robot keempat yang memiliki gerakan paling sigap dan cekatan.
"Dan kamu Delta. Kamu bertanggung jawab atas kebersihan seluruh fasilitas klinik, sterilisasi alat-alat medis setelah digunakan, serta keamanan area klinik selama dua puluh empat jam."
[Laporan diterima, Tuan Arka. Lingkungan higienis tingkat rumah sakit privat akan selalu terjaga] respon Delta mantap.
Arka tersenyum puas. Penataan tim kecilnya terasa begitu sempurna.
Dengan adanya Alpha, Beta, Gamma, dan Delta, ia tidak perlu lagi pusing memikirkan manajemen operasional klinik yang rumit.
"Sekarang, Alpha dan Delta, kalian turun ke lantai dasar. Tolong rapikan area penerimaan dan pastikan pintu masuk terkunci rapat untuk malam ini. Gamma, cek ketersediaan obat di apotek. Beta, tetap di sini atau bantu aku menyiapkan berkas medis," perintah Arka.
[Baik, Tuan Arka!] jawab mereka serempak sebelum Alpha, Gamma, dan Delta berbalik secara teratur dan melangkah keluar kamar.
Kini tinggal Beta yang berdiri di samping meja kerja Arka.
[Tuan, apakah Anda ingin saya menyiapkan laporan rekam medis Bimo secara digital?] tanya Beta menawarkan bantuan.
"Boleh, Beta. Masukkan data Bimo sebagai Pasien Pertama Klinik," kata Arka sembari meregangkan tangannya ke atas.
Arka kemudian melangkah ke arah jendela besar kamar pribadinya. Dari lantai dua, ia bisa melihat pemandangan gang pemukiman warga yang kini diterangi lampu-lampu jalanan.
Beberapa warga masih terlihat mengobrol di pos ronda, dan Arka samar-samar mendengar mereka masih membicarakan tentang penyelematan Bimo tadi siang.
Denting khas dari dalam kepalanya kembali berbunyi.
Ting!
[Pemberitahuan Sistem] Empat Unit Robot Asisten berhasil diaktifkan dan diberi tugas. Tingkat Efisiensi Operasional Klinik meningkat menjadi 100%]
"Baguslah... Semua persiapan awal sudah selesai," gumam Arka pelan. "Besok akan jadi hari yang sangat sibuk."
****
Tak terasa malam hari, perut Arka juga sudah lapar.
"Hm... aku mau pergi ke restoran untuk makan nih," kata Arka.