Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Siapa dia?
Isabel tidak dapat menahan tawanya. "Saya sudah bilang, kata itu akan sering keluar."
Aurora mengembuskan napas panjang sambil tersenyum pasrah. "Aku mulai curiga keluarga Moretti sengaja membuat semua orang terus berkata 'astaga'."
"Kau baru melihat sebagian kecil saja."
"Maksud Kak Isabel... masih ada lagi?"
Isabel hanya tersenyum misterius. "Lihat saja nanti."
Beberapa menit kemudian...
Mereka meninggalkan klinik dan berjalan menyusuri koridor batu yang menghubungkan bangunan utama dengan sayap barat mansion.
Di sepanjang jalan, Aurora melihat beberapa penjaga berpakaian hitam sedang berpatroli. Masing-masing mengenakan alat komunikasi di telinga dan bergerak dengan disiplin.
Aurora memperhatikan mereka diam-diam. "Pengamanannya ketat sekali."
"Memang harus begitu," jawab Isabel tenang. "Mansion ini bukan hanya tempat tinggal keluarga Moretti, tetapi juga pusat berbagai urusan penting."
Aurora mengangguk pelan, kini ia mulai mengerti mengapa gerbang dijaga begitu banyak orang dan mengapa Adrian selalu mengetahui hampir semua yang terjadi.
Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu raksasa setinggi hampir empat meter. Di tengah pintu terukir lambang keluarga Moretti yang berlapis emas.
Aurora mendongak perlahan. "Ini perpustakaannya..."
Isabel mengangguk. "Silahkan masuk."
Aurora mendorong pintu itu perlahan.
Creeek...
Begitu pintu terbuka, matanya langsung membelalak.
"Ya Tuhan..."
Ruangan itu begitu luas hingga menyerupai perpustakaan sebuah universitas tua. Rak-rak buku menjulang hampir menyentuh langit-langit. Tangga kayu yang dapat digeser berdiri di setiap sisi rak.
Di lantai dua terdapat balkon melingkar yang dipenuhi deretan buku lainnya. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, membuat ruangan itu terasa hangat sekaligus megah.
Di bagian tengah berdiri beberapa meja baca besar lengkap dengan lampu antik berwarna emas. Aurora berputar perlahan sambil menatap ke segala arah.
"Ini... benar-benar perpustakaan?"
Isabel tersenyum. "Ya."
"Aku merasa sedang masuk ke dalam film."
Isabel tertawa kecil. "Semua koleksi di sini dikumpulkan oleh keluarga Moretti selama puluhan tahun."
Aurora berjalan mendekati salah satu rak. Ia membaca judul-judul buku di sana. Ekonomi, hukum internasional, kedokteran, sejarah, filsafat, teknologi. Bahkan terdapat berbagai buku berbahasa Italia, Inggris, Jerman, Prancis, hingga Jepang.
Aurora menarik napas kagum. "Semuanya asli?"
"Tentu."
Aurora mengusap pelan sampul sebuah buku tua yang tampak sangat terawat. "Kalau dijual..."
Isabel langsung tersenyum geli. "Kenapa?"
"Harga satu rak ini mungkin bisa membeli beberapa rumah." Aurora langsung menarik tangannya. "Aku jadi takut menyentuhnya."
"Tenang saja, semua buku di sini memang untuk dibaca."
Aurora tersenyum malu.
Di sudut ruangan, seorang pria tua berkacamata sedang merapikan beberapa buku. Melihat Isabel datang, ia segera membungkukkan badan.
"Selamat siang, Nona Isabel."
"Selamat siang, Tuan Emilio."
Aurora ikut membungkukkan kepala sopan.
Isabel memperkenalkan mereka. "Aurora, ini Tuan Emilio. Beliau penjaga perpustakaan keluarga Moretti."
Pak Emilio tersenyum ramah. "Senang bertemu dengan Anda, Nona Aurora."
Aurora membalas senyum itu. "Senang bertemu juga."
Pak Emilio memperhatikan Aurora beberapa saat sebelum tersenyum hangat. "Sudah lama sekali saya tidak melihat Don Besar membawa orang baru ke perpustakaan."
Aurora menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Ya."
"Biasanya hanya Don Besar, Don Adrian, atau para anggota keluarga yang datang ke sini."
Aurora kembali dibuat heran. "Berarti aku orang luar pertama?"
Pak Emilio mengangguk. "Bisa dibilang begitu."
Aurora menoleh kepada Isabel. "Kak..."
"Hm?"
"Aku mulai merasa kalau kehadiranku di mansion ini benar-benar tidak biasa."
Isabel menatap Aurora sambil tersenyum tipis. "Sejak awal memang tidak pernah biasa."
Aurora terdiam, entah mengapa... ucapan sederhana itu kembali mengingatkannya pada perkataan Leonardo dan Adrian. Semakin lama berada di mansion Moretti, semakin banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Aurora terdiam cukup lama. Tatapannya kembali menyapu seluruh isi perpustakaan yang megah itu. Namun kali ini, pikirannya tidak lagi tertuju pada buku-buku mahal atau rak-rak raksasa yang menjulang tinggi. Melainkan pada dirinya sendiri, atau lebih tepatnya... masa lalunya.
"Aurora?" Suara Isabel membuatnya tersadar.
Aurora berkedip pelan. "Eh? Ya?"
"Kau terlihat melamun."
Aurora tersenyum kecil. "Sedikit."
Isabel memperhatikan wajahnya beberapa detik sebelum berkata lembut, "Jangan terlalu memikirkan semuanya sendirian."
Aurora menunduk. "Aku hanya merasa aneh."
"Aneh bagaimana?"
Aurora mengembuskan napas perlahan. "Seumur hidupku, aku selalu berpikir kalau aku hanyalah gadis biasa."
Isabel tidak menyela.
"Tapi sejak bertemu keluarga Moretti..." Aurora mengangkat pandangan. "Semua orang seperti mengetahui sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu."
Pak Emilio yang sejak tadi mendengarkan hanya tersenyum tipis. "Ada kalanya jawaban datang pada waktunya sendiri, Nona."
Aurora menoleh kepadanya. "Maksud Anda?"
Pria tua itu menata satu buku ke rak sebelum menjawab. "Kadang-kadang, semakin keras seseorang mencari jawaban, semakin jauh jawaban itu bersembunyi."
Aurora mengernyit. "Lalu apa yang harus dilakukan?"
"Tetaplah berjalan."
Aurora terdiam.
Pak Emilio tersenyum hangat. "Jika memang ada rahasia yang ditakdirkan untuk Anda ketahui, cepat atau lambat rahasia itu akan menemukan jalannya sendiri."
Entah mengapa, kata-kata itu membuat hati Aurora sedikit lebih tenang. "Terima kasih."
Pak Emilio membungkukkan kepala kecil. "Sama-sama."
Di saat yang sama, jauh dari mansion Moretti. Sebuah gudang tua berdiri di kawasan industri pinggiran Zurich. Suasana di dalamnya sunyi, hanya terdengar suara tetesan air dari pipa yang bocor.
Beberapa pria berpakaian hitam berjaga di berbagai sudut ruangan. Di tengah gudang, Adrian berdiri dengan tenang. Wajahnya tetap datar seperti biasa.
Sementara Johan berdiri di sampingnya sambil memegang sebuah map hitam. Di depan mereka, seorang pria bertubuh besar tampak berlutut dengan wajah penuh luka.
Tangannya terikat di belakang. "Katakan sekali lagi." Suara Adrian terdengar dingin.
Pria itu menelan ludah. "A-aku sudah mengatakan semuanya."
"Belum."
Adrian melangkah maju, ratapan matanya begitu tajam hingga membuat pria itu gemetar. "Siapa yang memberimu perintah untuk mengawasi Aurora Bellini?"
Mendengar nama itu, Johan langsung mengangkat pandangan. Pria yang berlutut tampak semakin pucat.
"A-aku tidak tahu nama aslinya..."
Brak!
Salah satu penjaga menendang kursi di sampingnya hingga terbalik. Pria itu langsung tersentak ketakutan.
Adrian tetap tenang, justru ketenangan itulah yang paling menakutkan. "Aku tidak suka mengulang pertanyaan."
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis pria tersebut. "Aku... aku hanya menerima perintah dari seseorang!"
"Siapa?"
Pria itu ragu beberapa detik, kemudian akhirnya berteriak. "Seorang wanita!"
Johan langsung mengernyit. "Wanita?"
Pria itu mengangguk cepat. "Dia yang menyuruh kami mencari informasi tentang gadis bernama Aurora Bellini!"
Ekspresi Adrian tidak berubah, namun sorot matanya menjadi jauh lebih dingin.
"Siapa namanya!"
"Aku tidak tahu!"
Brak!
Kali ini meja kayu di samping Adrian dihantam salah satu anak buahnya hingga pecah.
Pria itu hampir menangis. "S-sumpah! Aku benar-benar tidak tahu!"
Gudang kembali hening, berapa detik berlalu. Lalu Adrian mengulurkan tangan. Johan segera menyerahkan sebuah foto.
Adrian meletakkan foto itu di depan pria yang berlutut. "Kalau begitu lihat ini."
Pria itu menatap foto tersebut. Mata pria itu langsung membelalak. "Itu dia!"
Johan dan Adrian saling berpandangan. "Yakin?"
"Sangat yakin!"
Johan perlahan menegang. Karena wanita yang ada di dalam foto itu bukan orang sembarangan. Dia adalah seseorang yang sudah lama tidak mereka dengar kabarnya. Seseorang yang seharusnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Aurora.
Adrian mengambil kembali foto tersebut. Tatapannya jatuh pada wajah wanita di foto itu. Kali ini rahangnya mengeras.
"Jadi benar..."
Johan menelan ludah. "Don..."
Adrian menutup map di tangannya. "Perintahkan semua orang."
"Ya, Don."
"Cari tahu keberadaan wanita itu."
Tatapan Adrian berubah sangat dingin. "Dan jangan biarkan siapa pun mendekati Aurora."
Johan mengangguk tegas. "Baik, Don."
Tanpa mereka sadari, rahasia besar yang selama bertahun-tahun tersembunyi mulai bergerak ke permukaan. Dan pusat dari semua rahasia itu adalah Aurora Bellini.