NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terimakasih

Bellatrix tidak bermimpi tentang tempat asing, tidak pula tentang bayangan orang lain. Ia hanya merasa dirinya sedang melayang di atas permukaan danau yang tenang. Airnya terasa hangat, langitnya berwarna jingga keemasan seperti saat matahari baru terbenam, dan angin berhembus lembut membelai wajahnya.

Di dalam mimpinya itu, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa ragu, tidak ada suara berisik yang menyuruhnya menjadi kuat atau menjadi sempurna.

Ia seolah mendengar suara lembut di dalam hatinya sendiri. Suara itu berkata: Kau sudah berusaha sekuat tenaga. Sekarang biarkan dia yang menjagamu. Taruh saja seluruh perasaanmu padanya. Rasa sayangmu, rasa takutmu, rasa tidak amannya. Dia tidak akan membiarkanmu jatuh. Dia adalah tempatmu pulang.

Perasaan itu begitu nyata, begitu menenangkan, hingga air mata bahagia menetes pelan di sudut matanya yang tertutup. Ia membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya dalam kedamaian itu, membiarkan setiap sudut hatinya terbuka lebar, membiarkan dirinya percaya sepenuhnya pada orang yang sedang menjaganya di dunia nyata.

 

Bellatrix terbangun bukan karena terkejut, melainkan karena merasakan kehangatan yang terlalu nyaman untuk diabaikan. Ia membuka matanya perlahan, cahaya lembut dari perapian menyambut pandangannya. Langit-langit kamar ini belum pernah ia lihat sebelumnya, namun rasanya tidak asing rasanya seperti rumah.

Ia memiringkan kepalanya pelan, dan melihat Thiago sedang tertidur duduk di samping tempat tidur. Kepalanya terkulai ke samping, napasnya teratur, namun tangannya masih menggenggam erat tangan Bellatrix sepanjang waktu, seolah ia takut jika melepaskannya, gadis itu akan lenyap. Wajahnya yang biasanya tegas dan dingin kini terlihat begitu damai, begitu manusiawi.

Gerakan kecil Bellatrix membuat Thiago tersentak terbangun seketika. Matanya langsung melebar, mencari wajah gadis itu dengan cemas sebelum akhirnya menyadari bahwa Bellatrix sudah menatapnya dengan senyum lembut.

"Alexa..." suaranya serak dan berat, namun matanya langsung berbinar begitu terang.

"Kamu sudah bangun. Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu butuh minum? Atau ada yang sakit?"

Bellatrix menggeleng pelan, lalu menarik tangannya perlahan dari genggaman lelaki itu hanya untuk segera memegang tangan Thiago dengan kedua tangannya sendiri.

"Aku baik-baik saja," bisiknya pelan, suaranya masih terdengar lemah namun jelas. "Cuma... tenggorokanku agak kering."

Thiago langsung mengangguk singkat. Tanpa bertanya lagi atau berpanjang lebar, ia perlahan melepaskan genggamannya, berdiri dan menuangkan air dari kendi di meja samping tempat tidur ke dalam gelas pualam. Ia menambahkan sedikit kehangatan dari apinya agar airnya tidak dingin menusuk tenggorokan, lalu kembali duduk di tepi kasur.

Dengan hati-hati ia menyelipkan satu lengan ke belakang pundak Bellatrix, membantunya duduk perlahan agar tidak pusing tiba-tiba, lalu menyodorkan gelas itu ke bibir gadis itu.

"Minum pelan-pelan," ucapnya singkat dan tenang, matanya mengawasi setiap gerak-geriknya dengan teliti seolah takut ada yang salah.

Bellatrix meminumnya sedikit demi sedikit, merasakan kesegaran yang langsung menjalar dari kerongkongan ke seluruh tubuhnya, mengusir rasa kering dan lelah yang menyelimutinya. Setelah selesai, Thiago meletakkan gelas kembali ke meja dengan lembut, lalu kembali menyangga pundak gadis itu agar ia bisa berbaring kembali dengan nyaman. Ia menarik selimut, menyelimutinya hingga rapi lagi sebatas bahu.

"Lain kali kalau butuh apa pun, langsung bilang saja," katanya datar, tangannya kembali mencari dan menggenggam tangan Bellatrix erat. "Aku di sini. Tidak akan ke mana-mana."

Bellatrix tersenyum tipis, meremas jari-jari lelaki itu pelan sebagai jawaban. "Terima kasih, Yang Mulia."

Thiago hanya mengangguk pelan, lalu kembali duduk tenang di tempatnya, matanya tak lepas dari wajah gadis itu. Cukup sudah ia bicara banyak tadi.

Belum lama keheningan hangat menyelimuti ruangan itu, terdengar ketukan pelan namun berwibawa di permukaan pintu kayu besar berukiran naga api itu. Thiago menoleh sejenak, lalu mengangguk memberi izin.

Pintu terbuka perlahan, dan tampak Kaisar Alaric serta Permaisuri Seraphina melangkah masuk. Wajah mereka yang sempat tegang dan pucat karena khawatir semalam kini terlihat jauh lebih lega, meski masih tersisa sorot perhatian yang mendalam. Thiago segera bangkit berdiri perlahan, menundukkan kepalanya memberi hormat, sementara Bellatrix berusaha sedikit menyesuaikan posisinya agar terlihat sopan.

Permaisuri Seraphina segera berjalan mendekat ke tepi tempat tidur, senyum hangat mengembang di wajahnya saat melihat Bellatrix sudah terjaga.

"Syukurlah kau sudah bangun, Nak," ucap Permaisuri lembut, suaranya menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya. "Kami datang ke sini terutama untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu. Semalam kau telah melakukan hal yang mustahil bagi siapa pun lain. Kamu telah menyelamatkan nyawa putra kami, Thiago. Tanpa keberanian dan pengorbananmu, kami tak tahu harus berbuat apa."

Bellatrix tersenyum tipis, menundukkan wajahnya segan. "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Itu sudah kewajiban saya... dan keinginan hati saya sendiri. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan."

Permaisuri Seraphina menggeleng pelan, lalu mengusap punggung tangan Bellatrix dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Jangan begitu, Nak. Mulai sekarang, jangan panggil kami dengan sebutan Yang Mulia lagi. Panggillah Ibunda dan Ayahanda, seperti yang sudah kau ucapkan dengan tulus kemarin malam saat kau berdiri di hadapan kami."

Bellatrix tertegun sejenak, matanya sedikit membelalak menatap wajah Permaisuri yang begitu tulus. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Kaisar Alaric melangkah maju berdiri di samping istrinya, menatap Thiago sekilas lalu menatap mereka berdua dengan senyum tipis.

"Kau tahu sendiri, Thiago," ucap Kaisar Alaric pelan namun jelas, "saat kau terkapar tak berdaya semalam, saat urat hitam sihir gelap itu menyebar cepat di tubuhmu... Bellatrix langsung datang ke hadapan kami, dia mengatakan kepada kami tentang kondisimu. Padahal semua tau kalau keadaan kalian sudah baik-baik saja.bahkan di ruang sidang yang penuh pejabat tinggi, dan ia berlutut. Berlutut di lantai marmer yang dingin, memohon dengan sungguh-sungguh agar diizinkan menyusulmu ke tempat yang berbahaya itu. Ia rela mempertaruhkan segalanya"

Seketika itu juga wajah Bellatrix berubah merah padam, merona sampai ke telinga dan lehernya. Ia segera menunduk dalam, menarik selimut sedikit menutupi separuh wajahnya karena terlalu malu rahasia itu terungkap begitu saja di depan Thiago.

Untunglah tepat saat itu, pintu kembali terbuka perlahan. Duke Leonidas, Duchess Elara, dan Alexander masuk ke dalam kamar setelah mendapat izin dari pengawal di luar. Melihat suasana yang sedikit canggung itu, Duchess Elara segera berjalan mendekat, duduk di tepi kasur dan memeluk bahu putrinya yang tampak ingin bersembunyi.

"Sudah, jangan malu seperti itu, sayang," ucap Permaisuri Seraphina lembut sambil mengelus punggung Bellatrix pelan. "Itu bukan hal yang memalukan."

Duke Leonidas dan Alexander ikut tersenyum melihat ke arah mereka berdua, sementara Thiago hanya diam menatap wajah Bellatrix dengan tatapan yang semakin lembut.

 

 

Suasana hangat masih menyelimuti ruangan itu sejenak, sebelum akhirnya Permaisuri Seraphina tersenyum lembut dan berdiri perlahan. Ia menatap Kaisar Alaric, lalu menoleh ke arah Duke Leonidas dan Duchess Elara dengan pandangan yang penuh pengertian.

"Baiklah, sepertinya kalian berdua butuh waktu untuk beristirahat dan makan dengan tenang," ucap Permaisuri lembut, suaranya begitu menenangkan. "Kami akan keluar sebentar. Nanti kami perintahkan pelayan untuk membawakan makanan ke sini, agar kalian tidak perlu bergerak jauh. Istirahatlah yang cukup."

Kaisar Alaric mengangguk setuju, lalu menatap Thiago dengan senyum tipis namun penuh makna. "Jaga dia dengan baik, Nak. Dan jaga dirimu juga. Kami tahu kamu sangat kuat, tapi jangan paksakan diri."

Satu per satu mereka melangkah keluar dari kamar, menutup pintu kayu besar itu perlahan hingga akhirnya terdengar bunyi klik pelan yang menandakan ruangan itu kini sepenuhnya milik mereka berdua.

Keheningan yang damai kembali menyelimuti mereka, namun kali ini tidak terasa kosong atau berat.

Thiago berdiri diam sejenak di dekat pintu, memastikan tidak ada lagi yang masuk, lalu ia berbalik menatap Bellatrix yang masih berbaring di atas kasur. Matanya menatap gadis itu lekat-lekat, seolah sedang menikmati momen di mana hanya ada mereka berdua di dunia ini. Ia tahu betul sebenarnya ia bisa merasakan sendiri bahwa kekuatan Bellatrix sudah pulih jauh lebih cepat dan lebih kuat dari yang dibayangkan siapa pun. Energi di dalam tubuh gadis itu kini berputar dengan deras dan stabil, seolah badai yang dulu tak terkendali kini telah menemukan jalannya sendiri.

"Tunggu sebentar," ucap Thiago singkat, lalu ia berjalan perlahan menuju meja rias di sudut kamar. Ia mengambil pita kain berwarna putih bersulam benang perak yang tergeletak di sana, lalu kembali berjalan mendekati tempat tidur.

"Rambutmu terlalu panjang dan lebat, nanti mengganggu saat makan," katanya pelan, seolah menjelaskan alasan yang sebenarnya sederhana, namun matanya menyimpan keinginan lain yang tak terucapkan.

Bellatrix hanya mengangguk pelan, lalu duduk tegak di tepi kasur dengan bantuan tangan Thiago yang menopang pundaknya perlahan. Gadis itu membiarkan rambut panjangnya yang berwarna biru cerah berkilau, seolah menampung cahaya langit di siang hari terurai jatuh menutupi punggungnya. Thiago berdiri tepat di belakangnya, posisinya begitu dekat hingga Bellatrix bisa merasakan panas tubuh lelaki itu menyelimutinya lembut, bisa merasakan napasnya yang teratur menyentuh ubun-ubunnya.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan perlahan, Thiago mulai menyisir rambut Bellatrix menggunakan jari-jarinya yang besar namun hangat. Ia memisahkan helaian demi helaian rambut biru berkilau itu dengan sabar, seolah sedang menangani cahaya yang nyata. Tidak ada gerakan kasar dan terburu-buru. Ia mengumpulkan semua rambut itu perlahan ke belakang tengkuk Bellatrix, menyisakan beberapa helai tipis yang menjuntai di sisi wajahnya untuk membingkai wajah cantik itu.

Saat ia menarik rambut biru cerah itu ke atas, perlahan namun pasti menampakkan seluruh bentuk leher Bellatrix yang jenjang, putih, dan mulus seputih pualam, napas Thiago tertahan sejenak. Ia berhenti bergerak di tempat, tangannya masih menahan rambut gadis itu di atas kepala.

Matanya menatap leher itu melihat bagaimana kulitnya terlihat begitu lembut, bagaimana garis bahunya melengkung dengan begitu indah, bagaimana ada nadi kecil yang berdetak lembut di sana, menandakan kehidupan yang nyata dan hangat. Pantulan cahaya biru dari sisa rambut yang belum terikat jatuh di atas bahu gadis itu, membuat pemandangan itu terlihat semakin memukau.

Jantung Thiago berdegup lebih kencang tanpa sadar. Ia tahu seharusnya dia hanya mengikat rambut, tapi pemandangan di hadapannya membuat pikirannya sempat kosong sejenak. Ia terpaku, terpana melihat betapa sempurnanya sosok di hadapannya, betapa beruntungnya dia bisa berdiri di sini, menyentuhnya, melihatnya begitu dekat seperti ini.

Bellatrix menyadari keheningan itu. Ia merasakan jari Thiago berhenti bergerak, merasakan tatapan lelaki itu yang begitu intens di bagian lehernya.

"Ini putra mahkota sengklek ngapain diem" pikir Bellatrix saat menyadari Thiago berhenti.

"Yang Mulia" panggil Bellatrix pelan memecah keheningan.

Thiago tersentak sadar seketika. Ia segera menggeleng pelan seolah menghapus lamunannya, lalu dengan cepat namun tetap hati-hati mengikat rambut biru cerah Bellatrix menggunakan pita perak itu, membentuk ikatan sederhana namun rapi di atas kepalanya. Setelah selesai, ia segera menjauh.

"Terima kasih," Ucap Bellatrix.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu. Thiago berjalan membukanya, menerima nampan besar berisi makanan yang disiapkan khusus untuk mereka berdua. Aroma masakan yang lezat dan hangat langsung memenuhi ruangan begitu nampan itu diletakkan di atas meja kecil yang ditarik mendekat ke tempat tidur. Ada sup hangat, roti lembut, buah-buahan segar, dan minuman yang kaya akan energi.

Thiago tidak membiarkan Bellatrix bergerak banyak. Ia menuangkan sup ke mangkuk, meniupnya pelan agar tidak terlalu panas, lalu menyodorkan sendoknya ke arah gadis itu.

"Makanlah pelan-pelan," perintahnya singkat namun penuh perhatian.

Bellatrix awalnya menolak dengan menatap kearah lain, tapi Thiago tetap menjadi menyodorkan sendok itu, akhirnya Bellatrix membuka mulutnya.

Kadang ia menyuapi Thiago balik karena tidak enak melihat sang Putra Mahkota tidak makan karena menyuapi nya. Lelaki itu menerimanya tanpa menolak, matanya tak pernah lelah menatap wajah gadis itu.

Setelah perut mereka terisi cukup, Thiago meletakkan mangkuk kosong ke samping. Ia duduk kembali di tepi tempat tidur, mengambil tangan Bellatrix yang tergeletak di atas selimut, lalu menggenggamnya erat. Perlahan, ia mengangkat tangan itu ke arah wajahnya, dan menempelkan bibirnya lembut di punggung tangan Bellatrix, lalu di pergelangan tangannya, di jari-jarinya satu per satu.

"Terima kasih, Bella," ucapnya pelan saat ia menempelkan bibirnya sekali lagi di telapak tangan gadis itu. "Terima kasih sudah menyelamatkanku. Terima kasih sudah tidak menyerah padaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang”

Sentuhan bibir hangat pria itu ditangannya membuat jantung Bellatrix berdegup kencang. Ia tidak pernah berada di posisi ini sebelumnya saat di dunia modern.

1
Osie
waaahhh bakal dibakar abiz nih ma sihir api bella
Osie
laaahh udah buta msh aja ngebacot nih kaisar Utara
Osie
huuufttt habislah sdh kaelen cs ditangan bella
Ayu Padi
kereeen
Ayu Padi
seru sekali...lanjut Thor...ayo ramaikan baca dan koment ny .
Osie
BOOOM jleb baru suara bella yg keluar blm lagi pasukan elemen n para sahabat kontraknya
aku
astaga 🤣🤣🤣🤣 ngakak bgt
aku
4 tor 🤔 bukan 3. 😭
lagian mereka kyk gk ad kerjaan ngintipin 🤣🤣🤣🤣
aku
wkwkwkwk gagal lagi 🤣
aku
kok NAK tor? bukannya DEK..?? 🤔😁😁
Osie
waduh LDR an deh bella ma thiago
Osie
hrsnya utk kuda kuda bella udah jago donk nya..secara kan jiwa ms depan sosok hebat lagi yg jago main senjata..gak mungkinlah ya gak bisa
Osie
eleanor ente salah cari lawan🤣🤣🤣jiwa ms depan dilawan ya kalah licik lah ente
Osie
interupsi interupsiii thoorr.nale dibab ini rambut putra mahkota jd warna hitam logam.. apa dicat tuh rambut
Jennifer: ok deh, krna kamu aku double up lagi kali yaaa, hehe makasihhhh🫶
total 3 replies
Osie
jiwa bella kan jiwa masa depan apalagi ahli perang..pastinya bisa donk bela diri masa depan jadi kenapa tdk itu aja di kuatkan dgn dipadukan bela diri kuno
Osie
yaaaaa demi bisa kuat bella masukan jebakan batman🤣🤣🤣ish ish ish padahal aku dah berharap bella minggat dr hdp si putra mahkota..dahlaaahh/Frown/
Osie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣ku suka gaya bella..kereeeennn😍😍😍😍
Osie
aku hadir nih..suka cerita transmigrasi dgn tokohnya sosok wanita tangguh n smart ..dan yg pastinya gak muluk muluk permintaanku.. moga ceritanya ini sp end💪🙏
Dewiendahsetiowati
hadir thor
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!