NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034

"Saya sudah sampai."

Suara itu masih menempel di telinga Kiana ketika dari bawah gedung terdengar pintu mobil damkar dibanting terbuka satu per satu.

Di luar jendela, lampu merah berputar di antara asap. Dari lantai tujuh, semuanya tampak jauh dan patah-patah, seperti dunia dilihat dari balik kaca basah. Sirene sudah berhenti, tetapi teriakan orang, derap sepatu bot, dan suara komando memenuhi malam.

Kiana berbaring rendah di lantai, sebelah pipinya menempel pada keramik yang mulai hangat. Blazer kuning masih tergantung di jendela. Ujung kainnya berkibar pelan, lalu hilang dalam asap yang makin tebal.

"Kia, jawab saya."

Ponsel itu masih ada di dekat telinganya. Ia ingin menjawab, tetapi tenggorokannya seperti dililit kain panas.

"Saya..." Napasnya terputus. "Di sini."

"Jangan tutup mata."

Kalimat itu pendek. Bukan permintaan. Perintah.

Di bawah gedung, Hans menurunkan ponsel dari telinganya tanpa memutus sambungan. Seragam damkar sudah melekat di tubuhnya, helm ditarik rendah, sarung tangan belum sepenuhnya terkunci saat ia melangkah ke arah komandan regu.

"Lantai tujuh. Unit Navara Tech. Korban satu, perempuan, sadar menurun. Tangga darurat dikunci dari luar. Api kemungkinan dari koridor sisi timur."

Komandan regu menatapnya tajam. "Kamu yakin dikunci dari luar?"

"Korban lihat rantai di luar pintu."

Wajah beberapa petugas berubah. Itu bukan lagi kebakaran biasa.

Rio Santoso tiba di belakang Hans dengan selang cadangan. Pak Wardi masih di sisi mobil, membuka peralatan tambahan dengan tangan cepat.

"Bos," panggil Rio pelan, "akses lift mati. Tangga utama penuh asap. Tim satu masuk dari lobby, tapi jalurnya sempit."

Hans mengangkat kepala. Dari bawah, ia melihat sesuatu yang berkibar di lantai tujuh. Kuning. Titik kecil di tengah kepulan abu-abu.

Blazer Kiana.

"Ada tangga luar di sisi servis," kata Hans.

Komandan regu langsung menoleh ke denah darurat yang dibawa satpam gedung. "Tangga itu cuma sampai lantai lima. Di atasnya ada balkon servis sempit. Bukan jalur evakuasi."

"Cukup."

"Hans."

Nada komandan regu menahan, tetapi Hans sudah memasang tabung alat bantu napas. Gerakannya terlalu cepat, terlalu rapi, seolah tubuhnya pernah mengulang prosedur yang lebih berat daripada ini ratusan kali.

Rio maju setengah langkah. "Saya ikut."

"Ikut dari bawah sampai lantai lima. Setelah itu tunggu instruksi."

"Bos, jangan sendirian."

Hans menatapnya sekilas. Dalam sorot matanya tidak ada nekat kosong. Yang ada hanya perhitungan dingin, tajam, dan selesai.

"Dia istri saya."

Rio terdiam.

Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup membuat udara di sekitar mereka berubah. Komandan regu mengertakkan rahang, lalu memberi isyarat pada tim.

"Tim dua, lindungi jalur sisi servis. Tim medis siap di bawah. Hans, kamu punya tiga menit sebelum panas naik dari koridor."

"Dua menit cukup."

Ia berlari.

Kiana mendengar suara benturan logam dari luar, lalu getaran samar di dinding. Matanya setengah terbuka. Asap membuat lampu ruangan pecah menjadi lingkaran kusam. Ia mencoba menggerakkan jari, memastikan ponsel masih menyala.

"Hans..."

"Saya naik."

Di antara batuknya, Kiana seperti mendengar napasnya di seberang. Bukan napas panik. Napas yang dihitung.

Satu.

Dua.

Tiga.

Jauh di luar jendela, bayangan hitam bergerak di antara tangga besi dan balkon servis. Ia tidak berjalan. Ia memanjat.

Kiana mengira pandangannya salah.

Namun bayangan itu makin dekat. Dari lantai lima ke rangka besi luar, satu tangan, satu pijakan, tubuhnya naik melewati tepi dinding dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Api di koridor memantulkan cahaya oranye ke helmnya. Asap menampar tubuhnya, tetapi ia tidak berhenti.

Ada suara petugas berteriak dari bawah, tertahan jarak dan angin malam.

"Bos, kanan!"

Hans bergeser bahkan sebelum teriakan itu selesai. Sebuah pecahan kaca jatuh dari atas, berkilat sebentar sebelum menghantam beton di bawah.

Kiana ingin memanggilnya agar jangan naik lagi.

Jangan.

Jangan masuk.

Tetapi mulutnya hanya mengeluarkan batuk kering. Air matanya keluar bukan karena menangis, melainkan karena asap. Rasanya seluruh dada dipenuhi pasir panas.

Sesuatu menghantam bingkai jendela dari luar.

Sekali.

Dua kali.

Kaca retak.

"Kiana, menjauh dari jendela kalau bisa."

Ia mencoba menyeret tubuhnya beberapa senti. Tangannya gemetar di lantai. Lututnya terasa asing.

Benturan ketiga membuat kaca pecah ke dalam. Udara malam masuk bersama asap yang berputar kacau. Dari celah itu, Hans muncul seperti potongan bayangan dari api.

Ia tidak langsung bicara.

Pertama, ia melihat lantai. Melihat posisi Kiana. Melihat pintu kantor yang menghitam di bagian bawah. Lalu ia masuk dengan tubuh merunduk, menutup sebagian celah jendela dengan jaket tahan api agar aliran asap tidak makin liar.

"Kia."

Kiana mendengar suaranya sangat dekat.

Tangan bersarung menyentuh bahunya. Bukan mengguncang, hanya memastikan ia masih merespons.

"Lihat saya."

Kiana membuka mata sedikit. Di balik masker dan visor, ia melihat mata Hans. Gelap, tajam, tetapi ada sesuatu yang pecah di sana saat ia melihat bekas tamparan di pipinya.

Hanya sedetik.

Setelah itu, ia kembali menjadi orang yang tahu apa yang harus dilakukan.

"Saturasi turun. Kamu terlalu banyak hirup asap."

Ia membuka kantong di sisi perlengkapannya, mengeluarkan tudung penyelamat berfilter dan masker cadangan untuk korban. Tangannya cepat, tetapi saat menyentuh wajah Kiana, gerakannya mendadak pelan.

"Napas pelan. Lewat sini."

Masker itu menutup hidung dan mulut Kiana. Udara yang masuk tidak sepenuhnya bersih, tetapi cukup membuat kepalanya tidak langsung jatuh ke gelap.

"Sakit?" tanyanya.

Kiana menggeleng lemah.

Itu bohong. Tenggorokannya sakit, matanya perih, pipinya masih berdenyut akibat tamparan siang tadi. Tetapi yang paling sakit justru melihat Hans berada di sini, di tengah api, untuknya.

Hans mengangkat tubuhnya tanpa menunggu jawaban lain. Satu tangannya menyangga punggung Kiana, tangan lain menjaga masker di wajahnya. Saat tubuh Kiana terangkat, kepalanya jatuh ke bahu Hans.

Bau asap bercampur dengan bau kain tahan api dan sedikit aroma mint yang samar dari tubuhnya.

"Pegang leher saya kalau masih bisa."

Jari Kiana bergerak lemah di kerah seragamnya.

"Bagus. Jangan tidur."

"Hans..." Suaranya tertahan masker. "Jangan..."

"Nanti marahi saya. Sekarang hidup dulu."

Kalimat itu membuat matanya panas.

Hans membawa Kiana ke arah jendela, tetapi dari luar terdengar teriakan Rio lewat radio.

"Jalur luar kena panas dari lantai enam! Api naik dari bawah balkon!"

Hans berhenti setengah detik. Di sisi kiri, pintu kantor mendadak berderit. Panas dari koridor mendorong masuk, membuat lapisan asap bergerak rendah seperti gelombang hitam.

Pilihan yang tersisa menyempit.

Ia menekan tombol radio di bahunya. "Saya keluar lewat koridor barat. Siapkan semprotan dari bawah tangga utama. Pecah panas di simpang."

"Koridor barat belum bersih!"

"Beri saya dua puluh detik."

"Bos!"

Hans sudah bergerak.

Ia tidak menggendong Kiana seperti orang panik membawa korban. Tubuhnya rapat, pusat berat rendah, setiap langkah mencari titik lantai yang masih kuat. Ia menggunakan bahu dan punggungnya untuk menahan panas dari arah pintu, sementara wajah Kiana tetap menghadap ke sisi yang lebih bersih.

Kiana setengah sadar. Ia melihat lampu darurat di koridor berkedip merah. Melihat kabel menggantung dari plafon. Melihat dinding yang tadi pagi hanya dinding kantor biasa, kini berubah menjadi lorong yang bisa menelan orang hidup-hidup.

Air dari selang tim bawah mulai menghantam sisi jauh koridor. Suaranya seperti hujan keras di atas seng. Uap panas meledak, membuat pandangan makin putih.

Hans tidak berhenti.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu langit-langit di atas mereka mengerang.

Kiana mendengar suara retakan panjang, seperti tulang patah.

Hans mendongak.

Saat itu juga, sepotong balok plafon yang terbakar jatuh miring dari atas. Waktunya terlalu sempit untuk mundur. Terlalu sempit untuk menghindar sambil membawa Kiana.

Ia hanya melakukan satu hal.

Memutar tubuh.

Kiana merasa dirinya didorong ke dada Hans, wajahnya terlindung di balik bahu dan lengan. Dunia berubah menjadi gelap, lalu terang, lalu panas yang menggigit.

Ada bunyi benda berat menghantam punggung.

Tubuh Hans tersentak.

Napasnya pecah, pendek dan kasar, tepat di telinga Kiana.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal pria itu, Kiana mendengar suara sakit yang tidak sempat disembunyikan.

"Hans!"

Ia ingin meronta, tetapi Hans justru mengunci tubuhnya lebih rapat.

"Diam."

Suaranya serak.

"Masker. Jangan lepas."

Bau baru menusuk hidung Kiana. Bukan hanya asap kayu atau kabel. Ada panas tajam dari kain yang terbakar, sesuatu yang mengerikan dan dekat.

Kiana menggerakkan mata, mencoba melihat ke belakangnya.

Punggung Hans.

Bagian belakang seragamnya menghitam, mengeluarkan asap tipis.

Jantung Kiana seperti berhenti.

"Punggungmu..." Bibirnya gemetar di balik masker. "Hans, punggungmu..."

"Tidak apa-apa."

Itu kebohongan paling buruk yang pernah ia dengar.

Hans menggertakkan gigi, menyingkirkan sisa balok yang masih menekan punggungnya dengan satu gerakan keras. Kiana merasakan seluruh tubuhnya bergetar menahan sakit. Namun ia tidak menjatuhkan Kiana. Tidak sekali pun.

Dari ujung koridor, Rio muncul di balik uap, diikuti satu petugas lain.

"Bos! Berhenti, punggungmu kena!"

"Buka jalur."

"Bos, saya ambil korban."

"Tidak."

Jawaban Hans keluar terlalu cepat. Terlalu keras.

Rio membeku sesaat, lalu mengerti. Ia tidak merebut Kiana. Ia berbalik, menyemprot area depan, memaksa api mundur beberapa langkah.

"Jalur kiri! Cepat!"

Hans melangkah lagi.

Kiana tidak tahu berapa lama perjalanan itu. Mungkin hanya satu menit. Mungkin seumur hidup. Yang ia tahu, setiap kali Hans bergerak, ia mendengar napas yang makin berat. Setiap kali panas menyentuh mereka, tubuh Hans selalu lebih dulu menghadang.

Ia ingin mengatakan berhenti.

Ia ingin mengatakan jangan lindungi aku lagi.

Tetapi Hans seperti tidak mendengar dunia selain arah keluar.

Saat mereka mencapai tangga utama yang sudah disemprot, beberapa tangan membantu dari bawah. Rio memegang siku Hans. Petugas lain menopang tabungnya. Dari jauh, suara komandan regu memerintahkan ambulans maju.

Udara malam akhirnya menghantam wajah Kiana.

Dingin.

Kotor.

Penuh suara orang.

Tetapi itu udara.

Masker di wajahnya dibuka oleh petugas medis. Kiana batuk keras sampai seluruh dadanya sakit. Seseorang memasang selang oksigen. Seseorang lain memeriksa denyut nadinya.

"Korban perempuan sadar, paparan asap sedang. Bawa ke ambulans."

Kiana meraih udara kosong. "Hans..."

Tidak ada jawaban.

Ia memaksa kepala menoleh.

Hans masih berdiri beberapa langkah darinya. Hanya berdiri. Helmnya miring, satu tangan menekan sisi tubuh, punggungnya menghadap lampu mobil damkar.

Kiana melihat asap tipis masih keluar dari belakang seragamnya.

Lalu lutut Hans menekuk.

"Bos!"

Rio menerjang lebih cepat daripada petugas lain. Pak Wardi berteriak dari sisi mobil. Beberapa orang berlari, suara mereka bertumpuk menjadi kekacauan.

Hans jatuh ke satu lutut, lalu hampir ambruk sepenuhnya. Rio menahan bahunya, tetapi Hans tetap mencari ke arah Kiana.

Matanya terbuka setengah.

"Kia..." Bibirnya bergerak tanpa suara jelas.

Kiana mencoba bangun dari tandu. Perawat menahannya.

"Ibu, jangan bergerak. Anda baru keluar dari asap."

"Dia..." Kiana meraih tangan Hans ketika tandu mereka didekatkan. "Dia yang harus kalian lihat."

Hans menggenggam jarinya lebih dulu.

Genggaman itu lemah.

Terlalu lemah untuk Hans.

"Dia aman?" tanyanya.

Tidak ada satu pun orang di sekitar mereka yang langsung menjawab. Bahkan Rio menunduk, rahangnya mengeras.

Kiana menekan tangan Hans dengan kedua tangannya. "Aku aman. Aku di sini. Kamu dengar? Aku aman."

Baru setelah itu kelopak mata Hans turun.

Di dalam ambulans, dunia menjadi putih, sempit, dan penuh bunyi alat. Kiana duduk di sisi tandu Hans dengan oksigen masih terpasang di hidungnya. Perawat beberapa kali memintanya berbaring, tetapi ia hanya menggeleng.

Tangannya tidak pernah lepas dari tangan Hans.

Setiap kali ambulans melewati lubang jalan, wajah Hans mengeras. Ia tidak mengerang, tetapi urat di lehernya menegang. Perawat memotong bagian belakang seragam yang rusak dengan hati-hati. Kiana tidak melihat langsung. Ia takut kalau melihat, ia akan benar-benar hancur.

Namun dari bau obat pendingin dan cara perawat saling bertukar pandang, ia tahu luka itu buruk.

Sangat buruk.

"Ibu, Anda juga harus diperiksa," kata perawat.

"Nanti."

"Anda menghirup asap."

"Saya masih bisa bernapas."

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Datar, rapuh, tetapi tidak mau patah.

Ia menunduk ke arah Hans.

"Hans, bangun. Jangan tidur terlalu lama."

Bulu mata Hans bergerak sedikit.

"Kia..."

"Aku di sini."

"Jangan..." Napasnya berat. "Jangan lihat."

Tenggorokan Kiana tercekat.

Bahkan di ambang pingsan, ia masih memikirkan apakah Kiana akan takut melihat lukanya.

"Aku tidak takut," bisiknya. "Aku cuma marah."

Hans seperti ingin tersenyum, tetapi gagal.

"Bagus."

Setelah itu, ia tidak bicara lagi.

Di IGD rumah sakit terdekat, pintu ambulans terbuka dan bau antiseptik langsung menyergap. Hans dibawa masuk lebih dulu. Kiana turun dengan bantuan perawat, langkahnya goyah, kepala masih berdenyut.

Rio tiba beberapa menit kemudian, seragamnya basah, wajahnya hitam oleh jelaga. Ia berhenti di depan Kiana.

"Kiana..."

Ia memanggil nama Kiana tanpa nada bercanda yang biasa muncul di lingkaran Hans. Malam ini, suara Rio habis.

"Api sudah dikendalikan. Polisi akan dipanggil karena pintu tangga dikunci dari luar."

Kiana mengangguk pelan. Kata polisi, rantai, pintu, semua terdengar jauh.

"Dia bagaimana?" tanyanya.

Rio menelan ludah. "Dokter sedang periksa."

Tidak lama kemudian, dokter IGD keluar dari ruang tindakan. Maskernya diturunkan sedikit, matanya serius tetapi terkendali.

"Keluarga pasien Hans Kei?"

Kiana langsung berdiri. "Saya istrinya."

Kata itu keluar tanpa ragu.

Dokter menatapnya sekilas, lalu mengangguk. "Pasien mengalami luka bakar derajat dua di punggung, area cukup luas. Ada paparan panas di beberapa bagian bahu dan punggung atas. Kami sudah membersihkan luka awal, memberi analgesik, dan akan lanjutkan perawatan luka secara berkala."

Kiana mencengkeram ujung kursi.

"Dia akan baik-baik saja?"

"Kondisinya stabil, tetapi perlu rawat inap. Minimal dua minggu, bisa lebih tergantung respons jaringan dan risiko infeksi. Untuk sementara, pasien tidak boleh banyak bergerak. Kami juga perlu memantau nyeri dan fungsi pernapasannya karena dia masuk dari area asap."

Dua minggu.

Kiana mengulang angka itu dalam kepala, tetapi yang muncul justru gambar punggung Hans yang mengeluarkan asap.

"Boleh saya lihat dia?"

"Sebentar. Tapi Anda sendiri harus diperiksa dulu. Anda juga korban kebakaran."

Kiana ingin menolak, namun dari balik pintu ruang tindakan terdengar suara lemah.

"Kia..."

Hanya satu suku kata.

Semua pertahanannya runtuh.

Dokter memberi isyarat singkat. Kiana masuk dengan langkah pelan. Hans berbaring miring, bagian punggungnya tertutup perban tebal. Wajahnya pucat karena obat dan sakit, tetapi ketika melihat Kiana, matanya tetap mencari satu hal yang sama.

Apakah ia aman.

Kiana duduk di samping ranjang, menggenggam tangannya lagi.

"Aku aman," katanya sebelum ia bertanya. "Kamu yang tidak aman."

Hans menatapnya lama. Sudut bibirnya bergerak tipis.

"Berarti... tugas saya selesai."

Mata Kiana langsung panas.

Ia menunduk, menempelkan dahi pada punggung tangan Hans. Di kulitnya masih ada bau asap, antiseptik, dan panas yang belum benar-benar pergi.

Seorang suami kontrak tidak akan memanjat gedung yang terbakar untuknya.

Seorang suami kontrak tidak akan menjadikan punggungnya sendiri sebagai dinding antara tubuhnya dan api.

Dan Kiana, yang pernah mati sendirian dalam api kehidupan sebelumnya, akhirnya mengerti sesuatu di tengah ruang IGD yang terlalu terang.

Kali ini, ada seseorang yang datang.

Benar-benar datang.

Di luar ruangan, Rio berbicara pelan dengan komandan regu tentang rantai di pintu darurat dan rekaman CCTV gedung. Di dalam, Kiana hanya menatap perban putih yang menutupi punggung Hans.

Di bawah perban itu, ada luka baru.

Tetapi entah kenapa, rasa takut yang lebih dingin merayap di dada Kiana.

Saat perawat tadi memotong seragam Hans, ia sempat melihat garis lain di dekat bahu. Bukan bentuk luka bakar. Terlalu tua, terlalu rapi, seperti bekas sesuatu yang pernah menembus kulit lama sebelum malam ini.

Kiana menggenggam tangan Hans lebih erat.

Api malam ini mungkin baru padam.

Tetapi rahasia di punggung Hans baru saja mulai terbuka.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!