Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
"Kalau dia mengamuk ... saya akan melindungimu, Cika. Tenang saja."
Ucapan itu membuat jantung Cika berdebar tak karuan. Gadis itu memilin jemarinya. "T-Terima kasih, Mas."
"Kamu tidak usah berterima kasih, Cika. Kan itu sudah jadi tugas saya sebagai seorang suami."
Cika mengangguk kaku.
"Oh ya, Cika." Robinson berucap lagi.
"Iya, Mas?"
"Habis dari sini, kamu mau pergi ke mana? Mau langsung pulang, atau ke rumah sakit?"
"Ke rumah sakit, Mas. Hari ini Sinta kemo lagi. Saya ingin menemaninya."
"Hm, begitu ya?" Robinson mengangguk-anggukan kepalanya. "Cika, saya ingin kamu tinggal di sini saja untuk dua hari ke depan. Kamu jangan pulang ke rumah lamamu, ya?"
"Kenapa harus tinggal di sini, Mas?" Cika mengangkat wajah.
"Supaya kalau ada hal penting... saya gampang menemui kamu. Kalau di rumah lamamu, saya susah parkir mobil."
"B-Baiklah, Mas."
"Ya sudah, kalau begitu ... ayo saya antar kamu ke rumah sakit. Sekalian saya juga ingin melihat Sinta."
"Iya, Mas."
"Oh ya, satu hal lagi, Cika."
"Apa itu, Mas?"
"Kamu nggak usah bawa baju ganti, karena di kamar utama rumah ini... lemarinya sudah saya isi dengan baju-baju untukmu. Kamu tinggal memakainya."
Cika membelalak. "Ya Allah, Mas... kenapa harus repot melakukan semua itu?"
"Saya tidak repot, Cika. Ini hal yang wajar. Karena sebentar lagi, kamu akan menjadi istri saya."
Cika terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat. Wajahnya memerah. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa haru yang mulai memenuhi dadanya. "Terima kasih, Mas."
Robinson kemudian berdiri dan mengambil kunci mobil di atas meja. "Ayo, kita berangkat. Jangan sampai Sinta menunggu terlalu lama."
Cika segera mengangguk. "Baik, Mas."
Keduanya berjalan berdampingan menuju garasi. Robinson membuka pintu depan untuk Cika. "Silakan."
"Terima kasih, Mas."
Setelah Cika duduk dan mengenakan sabuk pengaman, Robinson menutup pintunya dengan hati-hati. Ia lalu masuk ke kursi pengemudi.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah menuju rumah sakit.
***
"Lee... stop! Ak-aku... capek," lirih Giselle sembari menahan dada polos Lee yang ada di atas tubuhnya.
"Bentar lagi, Sayang. Kita baru dua ronde," balas Lee tak menghiraukan permintaan Giselle. "Satu ronde lagi ya? Dulu kita kan selalu main sampai tiga ronde," lanjutnya seraya mempercepat gerakan.
"Ahhh... t-tapi... aku sudah terlalu lama pergi. Aku... takut Beca curiga."
"Tidak akan, Sayang. Beca bukan anak kecil. Dia sudah dewasa. Tenanglah. Nikmati semuanya."
Giselle hanya mampu pasrah, tanpa protes lagi. Ia memejamkan mata, bukan karena menikmati entakan Lee, melainkan karena jijik.
"Balik badan, Sayang," bisik Lee. "Aku ingin mengerjaimu dari belakang. Aku rindu posisi seperti doggy."
Mau tidak mau, Giselle menuruti perintah Lee. Dan tanpa aba-aba, Lee langsung melesakkan kembali miliknya ke pintu surgawi Giselle.
"Ahhh... Lee."
"Bagus, Sayang. Keluarkan desahanmu. Aku sangat merindukannya." Lee menyeringai lebar, melirik kacamata hitam miliknya yang ia taruh di atas nakas. "Video terbaru kita kembali kuabadikan, Sayang. Jadi... aku semakin punya banyak bukti yang akan membuatmu tak bisa lepas dariku. Hahaha!" batin Lee penuh kemenangan. Tubuhnya dengan cepat mengentak-entak tubuh ramping Giselle .
Di pusat perbelanjaan yang ramai, Rebeca berjalan seorang diri menyusuri lorong-lorong butik. Sesekali ia berhenti untuk melihat etalase, lalu mengangkat ponselnya dan mengambil beberapa foto.
Namun, senyumnya tampak dipaksakan. Ia menatap hasil fotonya sejenak, lalu menghela napas panjang. "Mama sebenarnya pergi ke mana sih?" gumamnya pelan. "Padahal ini hari Minggu, tapi kok masih saja kerja? Apa bedanya Mama sama Papa? Mereka sama-sama sibuk kerja!" Rebeca memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Keramaian di sekitarnya justru membuat rasa sepinya semakin terasa.
"Aku kan liburan ke Korea pengen menghabiskan waktu sama Mama. Belanja, nonton film, atau sekadar menikmati kopi di kafe sambil bercengkerama. Bukannya kayak sekarang, aku malah jalan-jalan sendiri. Sebel deh." Rebeca menggerutu seraya melajukan lagi langkahnya menyusuri pusat perbelanjaan itu. "Mending aku ngopi," putusnya menuju lift untuk naik ke lantai dua dimana kedai kopi berada.
Setelah sampai, ia langsung memesan. Rebeca memilih duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke taman pusat perbelanjaan. Tatapannya kosong. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan ponselnya lagi, "Elgar masih pemotretan nggak ya?" gumamnya. "Ah, dilihatnya aja satu jam yang lalu. Berarti dia masih sibuk." Rebeca berdecak kecil.
Tak lama, pesanannya datang. Gadis itu pun fokus pada gelas berisi kopi di mejanya. "Mantap!" ucapnya setelah menyeruput kopi itu. "Kalau sama Elgar, pasti jauh lebih mantap. Aku jadi ingin segera beres menstruasi, supaya bisa segera..." Rebeca menutup wajahnya sambil terkikik geli. "Ihhh... kayaknya aku harus baca-baca cara supaya Elgar puas denganku nanti. Aku nggak mau dia kecewa. Pokoknya, aku harus membuat dia bahagia. Syukur-syukur dia ketagihan. Tapi... gimana caranya? Aku kan belum berpengalaman. Apa aku tanya aja ya, ke Mili?" Rebeca menggigit bibir bawahnya. "Nggak! Nggak!" Ia melanjutkan bermonolog. "Kalau aku menanyakan hal itu ke Mili... itu sama aja bunuh diri. Dia pasti bakal menginterogasi aku sampai berbusa. Sampai aku buka rahasia. Ihh... no! Nanti Elgar marah ke aku." Rebeca menarik ujung rambutnya pelan, kebiasaan dia jika sedang dilanda kebimbangan. "Mending aku tanyain AI aja deh. He ..."
Giselle akhirnya berhasil mengakhiri pertemuannya dengan Lee. Dengan wajah pucat dan langkah tergesa, ia segera mengenakan pakaiannya. "Aku harus pergi," ucapnya singkat.
Lee hanya menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur sambil tersenyum penuh arti. "Ingat, Sayang. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku."
Giselle tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tasnya erat sebelum keluar dari hotel itu.
Begitu pintu lift tertutup, air matanya langsung jatuh tanpa bisa dibendung. "Maafkan Mama, Beca..." lirihnya. "Mama melakukan semua ini supaya kamu nggak benci sama Mama."
***
Robinson dan Cika tiba di ruangan sang adik tepat ketika Sinta selesai menjalani pemeriksaan awal sebelum kemoterapi.
"Kakak!" seru Sinta dengan wajah ceria meski tubuhnya tampak lemah.
Cika langsung memeluk adiknya dengan hati-hati. "Gimana? Takut nggak?"
Sinta menggeleng sambil tersenyum kecil. "Nggak. Soalnya sekarang Kakak udah datang."
Robinson yang berdiri di samping mereka ikut tersenyum hangat. "Halo, Sinta."
Sinta menoleh dan matanya berbinar. "Pak Robin!"
Robinson mengusap pelan kepala bocah itu. "Hari ini harus semangat, ya? Nanti kalau sudah selesai kemo, saya traktir es krim. Tapi tunggu izin dokter dulu."
Mendengar itu, Sinta terkekeh pelan. "Asyik... janji, ya?"
"Janji." Robinson mengulurkan jari kelingkingnya. Sinta langsung menyambutnya dengan antusias.
Melihat pemandangan itu, Cika diam-diam menatap Robinson dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Pak Robinson sangat baik. Aku harus benar-benar menjadi istri yang berbakti. Walaupun aku tahu... semua itu tidak akan mudah. Rebeca pasti akan mengamuk kalau tahu rivalnya menjadi ibu tirinya."
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉