Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Apa kami sudah bisa masuk ke dalam kembali?"tanya Edward
"Sudah tuan, kalian semua sudah bisa masuk ke dalam melihat nona bantu pasien dengan memberikan rangsangan yang membantu pasien cepat siuman kembali tapi tolong jangan berlebihan."balasnya dokter pada ketiga laki-laki tampan yang berdiri di hadapannya.
Ketiga laki-laki tampan itu hanya mengangguk dan menyimak apa yang di katakan dokter, lalu setelah selesai dokter itu kembali ke ruangannya meninggalkan mereka yang masih berdiri di sana.
"Adam ayo masuk, kakak ingin melihat Luna di dalam dan kamu tetap di sini."ucap Edward tegas pada Akbar.
"Baik kak."jawab Adam.
Akbar hanya pasrah berdiam diri di tempatnya, melihat Edward dan Adam yang sudah masuk ke dalam ruangan istrinya. Ia menghela nafas panjang mengingat kembali apa kesalahan-kesalahan yang sudah di perbuat ke istrinya.
"Bangunlah Luna, mau sampai kapan kamu akan tidur terus begini. Kakak merindukan keceriaanmu, omelanmu, di sini sepi tidak ada yang mengajak kakak bertengkar. Apa ini maumu menghilang dari masalah, bangunlah hadapi dan selesaikan masalahmu. Ini bukan Luna yang kakak kenal."kata Edward tepat di sebelah Luna yang terbaring di atas ranjang.
Luna yang masih belum siuman akan tetapi di alam bawah sadar ia mendengar semua yang dikatakan kakaknya, tes.. setitik air mata menetes di sudut kiri mata Luna. Ia ingin bangun tapi susah sekali matanya di ajak kompromi membuka mata.
"Kakak, Luna sulit membuka mata Luna rindu kalian semua ingin segera melihat kalian."kata Luna dengan mata masih terpejam rapat.
Agak lama Edward berada di sana lalu ia pun keluar dan melihat masih ada Akbar yang setia menunggu di depan pintu ruangan VIP itu.
"Kamu masih di sini ternyata, ku kira sudah pergi." ucap santai Edward pada Akbar.
"Aku masih ingin melihat istriku di dalam, tak akan aku meninggalkan dia sendiri."balas Akbar.
"Apa dengan kamu melihat Luna, ia akan senang. Suami bodoh!"ketus Edward lalu ia meninggalkan Akbar begitu saja.
Melihat Edward pergi dari sana, Akbar berjalan perlahan menuju ke dalam detak jantung yang berdetak hebat Akbar terus melangkah, kegelisahan hatinya tak lagi bisa di sembunyikan.
"Luna!" lirih Akbar.
"Luna..!"teriak Akbar berkali-kali, ketika dia melihat tubuh Luna yang terbaring tak berdaya masih tetap sama dengan apa yang di lihat siang tadi.
Akbar berdiri mematung, tubuhnya tak mampu bergerak. Tatapannya lurus pada tubuh Luna yang lemah tak berdaya, ia melihat tubuh istrinya penuh dengan alat bantu. Selang infus tertancap sempurna di tangan kiri Luna, nampak jelas kondisi Luna tak baik-baik saja. Akbar merasa hancur, ketika semua orang ingin menyembunyikan kondisi Luna yang tak baik-baik saja.
"Bangunlah Luna, bangun.. maafkan aku maaf."kata Akbar.
"Sayang, aku merindukanmu!"ujar Akbar lirih tepat di samping telinga Luna, ia menggengam erat tangan mungil Luna mengecup kening Luna mesra. Akbar mengusap wajah pucat istrinya meleburkan semua kerinduan dalam hatinya.
"Aku berdoa agar masalah kalian cepat selesai, jangan memberikan luka berat untuk sahabatku ia sudah cukup menderita selama ini jangan memberi beban kembali untuknya!"ucap Adam sambil melihat apa yang di lakukan Akbar pada Luna.
"Maksudmu apa Dam?" ujar Akbar tak mengerti.
"Tidak apa-apa kamu akan mengerti saat Luna sadar. Bukan hakku mengatakannya."balas Adam.
Akbar tak mengerti dengan apa yang di bicarakan Adam, ia pun tak mengambil pusing yang terpenting saat ini ingin istrinya sadar kembali dari tidur panjangnya.
"Luna, maafkan aku maaf aku baru sadar kalau aku sangat mencintaimu aku baru tau wanita yang membuatku nyaman itu kamu. Bangunlah beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua dari awal sayang."lirih Akbar menggengam erat tangan Luna.
"Akbar.. apa itu Akbar di sini kenapa bisa ia datang kemari."kata Luna yang mendengar apa yang diucapkan suaminya untuk dirinya.
"Bangunlah, beri aku kesempatan kedua untuk mengulang kembali denganmu dari awal Luna."Ujar Akbar.
"Sakit Akbar..hati ini sangat sakit ketika tahu kamu hanya berpura-pura dari awal pernikahan kita. Kamu selingkuh mengkhianati pernikahan kita dari awal."kata Luna yang masih setia mata terpenjam.
Setetes air mata muncul di kiri mata Luna, dan Akbar melihat itu.
"Jangan menangis sayang, aku tak sanggup melihatmu menangis sayang."ucap Akbar sambil menghapus dengan lembut air mata yang muncul di mata Luna.
Akbar merasa sedih melihat air mata yang menetes di pipi Luna.
Luna yang mendengar ucapan kata suaminya merasa sedih, kecewa.
"Kenapa baru sekarang, saat aku sudah menyerah dengan semuanya dan saat aku sudah tidak di sisimu kamu baru melihat ke aku."kata Luna
Kondisi Luna masih belum banyak perubahan meski alat-alat yang menempel di tubuhnya sudah beberapa dilepas, tapi selang infus masih menempel di pergelangan tangan.
"Permisi tuan, ada panggilan ada ibu tuan ini."ucap asisten Akbar.
Panggilan dari ibunya ada di saat waktu tidak tepat, mau tak mau ia harus mengangkat panggilannya. Lalu Akbar pun keluar dari ruangan Luna.
"Halo ma, ada apa mencari Akbar?"tanya Akbar.
"Sampai kapan kamu disana nak pernikahanmu dengan Dita bagaimana?"balas bu Hana.
"Tak ada pernikahan apapun lagi ma, Akbar sudah memutuskan mengakhiri hubunganku dengan Dita."kata Akbar
"Kenapa nak? mama hanya ingin cepat menimang cucu darimu."ucap bu Hana.
"Akbar tak ingin menyakiti hati istriku ma, tak ada hal apapun yang harus Akbar lakukan dengan Dita lagi. Tolong mengerti Akbar ma, aku ingin melanjutkan pernikahanku dengan Luna tak ada wanita lain selain dia. Dita yang kita kenal ternyata bukan wanita yang kita harapkan, mama akan mengerti maksud dariku."jelas Akbar pada ibunya.
"Luna lagi Luna lagi, istrimu saja sampai sekarang entah dimana. Itu yang kamu sebut istri, mana dia malah menghilang seperti ini."ucap kesal bu Hana.
"Istriku saat ini hanya kecewa denganku ma, wajar dia pergi dariku saat ini. Tolong mengerti ma, Akbar akan bawa kembali pulang istriku. Suka tidak suka Luna tetap akan menjadi istriku."kata Akbar menegaskan kembali ke ibunya.
"Mama tak paham jalan pikirmu Akbar."ucap bu Hana dan lalu memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Akbar pun menghela nafas, melihat panggilan dari ibunya mati dengan masih ibunya masih berburuk sangka terhadap istrinya.
"Akbar tetap akan membawa Luna kembali pulang ma, suka tidak suka mama terhadap hubungan kami. Ini kebenaranya Luna masih istriku sampai sekarang."gumam Akbar dalam hati.
Tatapan matanya kosong melihat ke arah taman rumah sakit, ia sekilas melihat beberapa anak kecil yang bermain di sana di sudut hati kecilnya ia menginginkan adanya anak kecil di kehidupan rumah tangganya.
"Seandainya saja kita memilki anak, mungkin anakku akan mirip denganmu Luna akan secantik dirimu. Bangunlah sayang agar kita bisa memulai hubungan rumah tangga dari awal kembali."gumam Akbar.
Setetes air mata muncul di sudut kiri matanya..