Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja yang nyasar di kamar
Tengah malam, tahun 2026.
Seluruh rumah telah terlelap dalam keheningan.
Lampu-lampu utama sudah dimatikan sejak beberapa jam lalu. Hanya cahaya remang dari lampu taman yang sesekali masuk melalui jendela besar rumah megah itu.
Di tengah suasana yang sunyi tersebut, seorang gadis remaja terlihat mengendap-endap menaiki tangga.
Langkahnya sangat pelan.
Sangat hati-hati.
Seolah lantai rumah itu dipenuhi ranjau yang siap meledak kapan saja.
"Huft..."
Azura mengembuskan napas panjang.
Untung saja.
Sejauh ini tidak ada yang memergokinya.
Gadis itu segera mempercepat langkahnya hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar bercat merah muda miliknya.
Dengan hati-hati, ia memegang gagang pintu.
Lalu membukanya perlahan.
*Ceklek...*
Azura langsung memejamkan mata.
Menunggu seseorang meneriakinya dari belakang.
Atau mungkin mendengar suara Maminya yang galak.
Namun...
Tidak ada apa-apa.
Sunyi.
Perlahan, Azura membuka matanya.
Aman.
Ia tersenyum lega.
"Yes..."
Dengan gerakan hati-hati, ia masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kembali.
Ia bahkan tidak berani menyalakan lampu lorong.
Kalau sampai kedua orang tuanya tahu bahwa dirinya baru saja pulang diam-diam tengah malam begini, tamatlah riwayatnya.
*Cetek!*
Lampu kamar menyala.
Ruangan yang semula gelap langsung terang benderang.
Azura melempar tasnya asal ke atas sofa.
Bruk.
"Lumayan seru juga."
Gumamnya sendiri sambil berjalan ke depan meja rias.
Satu per satu aksesori yang menghiasi tubuhnya dilepas.
Anting.
Kalung.
Gelang.
Semua ditaruh sembarangan.
Dress hitam yang ia kenakan malam itu pun segera diganti dengan piyama tidur yang sudah dipakainya sebelum kabur dari rumah.
Setelah merasa lebih nyaman, Azura berjalan menuju kamar mandi.
Mencuci muka.
Menggosok gigi.
Dan membersihkan sisa makeup yang masih menempel.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar.
Tubuhnya terasa lelah.
Matanya mengantuk.
Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya satu.
Tidur.
Tanpa banyak pikir, Azura langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Bruk!
Namun...
Keningnya langsung berkerut.
Ada yang aneh.
Kasurnya terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih keras.
Dan...
Tidak nyaman.
Azura membuka matanya perlahan.
Lalu duduk.
Pandangannya mengarah ke tengah ranjang.
Di sana.
Tepat di bawah selimut.
Ada sebuah gundukan besar.
Gundukan yang jelas-jelas tidak ada sebelum dirinya pergi.
Deg.
Jantung Azura langsung berdetak lebih cepat.
Ia menelan ludah.
Mungkin hanya bantal.
Mungkin juga boneka.
Mungkin...
Tapi! Ini terasa keras!
Perlahan ia mendekat.
Tangannya yang sedikit gemetar meraih ujung selimut.
Lalu...
*Sret!*
Selimut itu tersingkap.
Dan dunia Azura seakan berhenti berputar.
Matanya membulat sempurna.
Mulutnya terbuka lebar.
Di atas ranjangnya.
Di kasurnya.
Di kamar pribadinya.
Ada seorang pria asing yang sedang berbaring dengan tenang.
"AAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Jeritannya menggema ke seluruh rumah.
"AAAAA!! MALING!! TOLONG!! MAMIIIIII!!"
Azura melompat turun dari kasur.
Lalu berlari keluar kamar secepat kilat.
Bruk!
"Aduhhh!"
Tubuhnya menabrak seseorang.
"AZURAAAA!"
Teriak seorang wanita paruh baya.
Monica.
Maminya.
Wanita itu terjatuh ke lantai akibat tabrakan mendadak tersebut.
Azura buru-buru hendak membantu.
Namun gagal.
Sebab ada satu masalah.
Seorang bocah laki-laki masih terbaring di atas tubuh Monica.
"Kamu bangun dari tubuh Mami dong, Xell! Berat ih!"
Excel membuka matanya perlahan.
Wajahnya masih linglung.
"Hah? Gempa?"
Azura langsung menggeleng keras.
"Bukan gempa! Ada maling!"
Mendengar kata maling, Excel langsung terjaga.
Di saat yang sama, Jody muncul dari ujung lorong.
Pria berkacamata itu tampak heran melihat keluarganya berkumpul di depan kamar Azura.
"Kalian ngapain?"
Belum sempat ada yang menjawab, para pekerja rumah juga berdatangan.
"Non! Ada apa?"
"Saya dengar Non Zura teriak!"
"Kaget saya!"
Monica langsung menunjuk Azura.
"Coba jelasin."
Azura refleks bersembunyi di belakang tubuh Jody.
"Di kamar aku ada maling, Pih!"
Semua orang terdiam.
Lalu...
Menatap Azura dengan tatapan tidak percaya.
Monica mendelik.
"Kamu nggak usah ngarang."
"Aku gak ngarang!"
"Mana ada maling masuk rumah kita?"
"Ada! Mami liat aja!"
Azura merengek menunjuk pintu.
hampir menangis.
"Mami lihat sendiri kalau nggak percaya!"
Jody akhirnya memutuskan untuk memeriksa kamar.
Namun baru satu langkah berjalan.
Excel mendadak menghadang.
"Papi mundur."
Semua orang berkedip bingung.
Excel menepuk dadanya dengan bangga.
"Biar Excel yang lihat. Kak Zura penakut."
Azura langsung melotot.
"HEH!"
Namun Excel sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Beberapa detik berlalu.
Lalu...
"WAAAAH!!!"
Suara Excel terdengar dari dalam.
"OM GANTENG BANGET!!"
Semua orang saling pandang.
Hening.
Lalu beramai-ramai masuk ke dalam kamar.
Dan tepat saat itu...
Mereka semua membeku.
Seolah waktu berhenti.
Di atas ranjang Azura.
Duduk seorang pria muda yang luar biasa tampan.
Kulitnya pucat.
Rambutnya cokelat keemasan.
Hidungnya mancung.
Alisnya tebal.
Dan wajahnya terlihat seperti tokoh utama novel fantasi yang keluar dari halaman buku.
Pria itu sedang memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.
Tatapannya masih linglung.
Namun tetap terasa tajam.
Sangat tajam.
"Dia siapa, Pih?"
Tanya Monica pelan.
Jody masih terpaku.
"Papi nggak tahu..."
Sementara itu, Farah yang berdiri di belakang bahkan sampai menutup mulutnya sendiri.
Tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Dan di tengah tatapan semua orang...
Pria asing tersebut perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Penuh kebingungan.
Penuh tanda tanya.
Seolah dirinya sama terkejutnya dengan mereka.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Mata Azura dan mata pria asing itu bertemu.
Entah mengapa.
Ada sesuatu yang aneh dalam tatapan lelaki tersebut.
Sesuatu yang membuat bulu kuduk Azura meremang.
Bersambung...