Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Rasman!
Suasana di dalam rumah yang menjadi basecamp sementara tempat Sri dan teman-temannya tinggali tampak begitu sibuk sejak siang hari.
Beberapa dari mereka sibuk membawa gulungan kabel, menata tripod, menyeting lampu, dan merapikan peralatan syuting lainnya.
Rencananya sore nanti mereka akan kembali mengambil gambar setelah kemarin sempat beristirahat total selama sehari karena masalah penampakan hantu tanpa kepala itu, yang akhir mereka tidak juga mendapatkan jawaban.
Di sudut ruangan yang agak lapang, para cast sedang membaca ulang naskah mereka dengan dahi berkerut serius, sesekali berbisik mencoba mendalami karakter.
Riuh rendah suara obrolan yang berdiskusi tentang sudut kamera berpadu dengan langkah kaki Mey yang baru tiba.
Sementara itu, Tris sedang duduk santai di kursi jalinan rotan di teras rumah. Ia menikmati angin sepoi-sepoi sambil menyeruput kopi hitam hangat dari cangkirnya.
Tangan kirinya memegang bundelan skenario tebal, membalik halaman demi halaman untuk memastikan kontinuitas adegan sore nanti tidak ada yang terlewat.
Langkah kakinya tampak tergesa-gesa, dan wajahnya terlihat sedikit tegang setelah baru saja kembali dari rumah orang tuanya.
Tris yang menyadari kedatangan temannya itu langsung tersenyum dan melambaikan tangan dengan ramah.
"Heh, Mey?" sapa Tris, menurunkan bundelan kertas di tangannya.
"Hey, Tris," Mey menyapa balik. Ia langsung mengembuskan napas panjang dan duduk di kursi panjang yang sama, tepat di sebelah tempat Tris duduk.
"Kenapa, Mey? Kok mukamu ditekuk begitu seperti orang yang sedang melamun memikirkan masalah berat?" tanya Tris heran saat melihat Mey justru terdiam menatap tanah kosong di halaman.
Mey menoleh, matanya menyiratkan kecemasan.
"Tadi, saat aku masih di rumah Bapak, ada pengumuman. Pak RT, meminta seluruh warga untuk segera berkumpul di balai desa tepat setelah asar nanti," kata Mey membuka pembicaraan.
Sri dan Bagas yang berada di dalam rumah, yang tadinya sibuk, mendadak menghentikan kegiatan mereka.
Mendengar ucapan Mey yang terdengar darurat, keduanya langsung melangkah keluar menuju teras untuk bergabung.
"Memangnya kenapa, Mey? Ada urusan mendesak apa sampai Pak Mulyo meminta semua warga berkumpul di balai desa sore ini?" tanya Sri penasaran, sambil menyandarkan tubuhnya pada tiang penyangga teras.
Bagas ikut menimpali dengan dahi berkerut.
"Ini tidak ada kaitannya sama perizinan syuting film kita kan, Mey? Apa ada warga yang merasa terganggu?"
"Bukan, ini sama sekali bukan karena kita atau kegiatan syuting kita. Tapi, ini sepertinya karena Pakde Rasman," kata Mey dengan volume suara yang semakin merendah.
"Pakde Rasman? Siapa dia?" tanya Sri kebingungan. Sebagai mahasiswa pendatang yang baru berada di desa itu untuk keperluan tugas kuliah dengan teman-temannya, Sri sama sekali tidak menghafal seluruh nama warga desa, kecuali mereka yang memang sudah sempat ditemui langsung.
"Pakde Rasman itu salah satu warga, rumahnya tidak jauh dari rumah bapak. Tadi saat aku di rumah bapak, Bude Minah, istrinya Pakde Rasman, datang. Dia bertanya ke ibuku apakah bapak atau ibu melihat Pakde Rasman sejak beberapa hari lalu," cerita Mey panjang lebar.
"Jadi, sepertinya Pak RT mengumpulkan seluruh warga sore ini mungkin untuk mengoordinasikan pencarian Pakde Rasman yang hilang," sambung Mey menyimpulkan dugaannya.
Mendengar cerita Mey, Sri dan Bagas saling melempar tatap sejenak. Suasana riuh di dalam rumah produksi mendadak terasa senyap di telinga mereka.
"Bagaimana kalau kita semua ke balai desa juga sekarang?" tanya Sri, menatap Bagas meminta pertimbangan selaku produser.
"Iya, sebaiknya begitu. Rasanya tidak etis dan tidak enak juga kalau kita tetap memaksakan syuting sore ini, sedangkan warga desa tempat kita menumpang sedang tertimpa musibah," sahut Bagas dengan tegas tanpa ragu.
"Setuju. Lebih baik kita juga ikut membantu apa yang bisa kita bantu," timpal Tris sembari menutup buku skenarionya rapat-rapat.
Sri dan Bagas lalu masuk ke dalam rumah dan mengumpulkan seluruh kru serta pemain yang ada. Bagas menjelaskan situasinya dengan tenang namun lugas, memberitahukan rencana bahwa hari ini jadwal syuting harus ditunda lagi demi menghormati kemalangan warga.
Beruntung, semua anggota tim setuju tanpa ada yang mengeluh. Sebagai mahasiswa yang datang ke desa tersebut untuk mengabdi melalui karya, mereka sadar memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk melebur dan membantu warga yang sedang dalam kesulitan.
Gema azan asar baru saja perlahan surut dari corong pengeras suara masjid desa, menyisakan gema yang samar di langit yang mulai meredup. Namun, pelataran Balai Desa Selogiri sudah mulai dipadati oleh warga yang sudah mulai berdatangan.
Di antara kerumunan, Sri, dan teman-temannya merapat agak di bagian belakang kerumunan. Sebagai pendatang, mereka mencoba membaur dengan sopan, memperlihatkan rasa empati mendalam di tengah situasi darurat yang terasa asing bagi mereka, Pak RT tampak sudah berdiri di atas selasar balai desa yang posisinya lebih tinggi dari halaman.
Wajah paruh bayanya yang biasa ramah, penuh senyum, dan gemar berkelakar saat menyapa para mahasiswa, sore itu tampak melipat serius dengan gurat-gurat kecemasan yang kentara.
Pak RT Mulyo mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, meminta perhatian penuh dari seluruh warga yang hadir.
Seketika itu juga, kasak-kusuk warga yang semula berdengung langsung mereda seketika. Suasana berubah menjadi sangat hening.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Buka Pak RT dengan suara lantang dan berwibawa yang menggema di seluruh pelataran.
"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut seluruh warga yang hadir secara serempak.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya atas keringanan langkah panjenengan semua untuk sudi berkumpul di balai sore ini," lanjut Pak RT Mulyo.
Tatapannya yang tajam mengedar ke seluruh kerumunan warga, sempat berhenti sejenak pada rombongan Sri dan teman-temannya yang berada di barisan paling belakang, memberikan anggukan kecil penuh hormat.
"Saya mengumpulkan panjenengan semua secara mendadak seperti ini karena ada musibah yang sedang menimpa salah satu keluarga warga kita. Sudah tiga hari ini, Kang Rasman, suaminya Bude Minah, belum juga pulang ke rumah. Terakhir kali di lihat, adalah dua malam yang lalu. Dan sampai sore ini, tidak ada satu pun yang tahu di mana keberadaannya."
Mendengar pengumuman resmi tersebut. Beberapa orang tua tampak saling berpandangan dengan wajah tegang, sementara para warga yang lebih muda mulai berspekulasi dengan suara rendah mengenai kemungkinan buruk yang terjadi.
"Bapak-bapak dan saudara sekalian!" Kata Pak RT.
"Tiga hari bukan waktu yang sebentar untuk seseorang hilang tanpa kabar. Bu Minah dan beberapa orang sudah mencoba mencari ke tempat-tempat yang biasa didatangi Kang Rasman, tapi hasilnya tetap nihil. Oleh karena itu, mumpung hari belum beranjak gelap, saya meminta keikhlasan tenaga dan kekompakan seluruh warga Desa Selogiri untuk melakukan gerakan pencarian besar-besaran sore ini juga."
Beliau mulai membagi tugas kelompok dengan sigap berdasarkan kondisi desa.
"Saya minta tolong untuk menyisir area dalam radius pemukiman kampung kita terlebih dahulu. Saya minta kalian membawa senter, obor, dan golok untuk membabat jalan yang rimbun." Ujarnya.
"Bagaimana semuanya? Sanggup kita cari Kang Rasman beramai-ramai sore ini sampai ketemu?"
"Sanggup, Pak RT!" seru warga kompak bergemuruh. Solidaritas khas masyarakat pedesaan seketika membubung tinggi. Bagaimanapun, keselamatan seorang warga adalah prioritas utama mereka semua.
"Baik, mari kita mulai pencarian ini dengan bacaan Basmallah bersama-sama, Tetap jaga keselamatan masing-masing, jangan pernah berpencar sendirian di dalam hutan, dan selalu tiup peluit atau beri tanda jika ada yang menemukan barang atau petunjuk keberadaan Kang Rasman. Bergerak!"
"Bismillahirrahmanirrahim!" suara warga menyahut serentak.
Seketika itu juga, pelataran balai desa yang tenang berubah menjadi pusat pergerakan yang sangat sibuk. Kerumunan besar itu langsung pecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang bergerak taktis sesuai arahan.
Sri dan Bagas segera melangkah maju, mendekati Pak Mulyo yang masih berdiri.
"Pak RT," panggil Sri dengan nada suara yang sangat sopan setelah mereka berdiri di dekat beliau.
"Kami juga ingin menawarkan diri secara sukarela untuk ikut terjun membantu warga mencari Pak Rasman."
Pak Mulyo tampak tertegun dan terdiam sejenak. Beliau sama sekali tidak menyangka bahwa para mahasiswa kota yang datang jauh-jauh hanya untuk menyelesaikan tugas kuliah ini akan memiliki rasa peduli yang begitu besar terhadap urusan dan kemalangan warga desa setempat.
"Lho, apa tidak apa-apa ta? Bukannya kalian pernah bilang, kalian sangat mengejar tenggat waktu?" tanya Pak RT Mulyo, berusaha memastikan agar tidak membebani tamunya.
"Tidak apa-apa, Pak RT. Urusan syuting dan tugas kampus bisa kami atur dan tunda besok-besok," sahut Bagas menimpali dengan senyuman tulus. Lagipula, mereka tidak mungkin hanya diam saja saat warga desa sedang sibuk mencari warganya yang hilang.
"Bagaimanapun, kami menumpang hidup di desa ini, jadi sudah sewajarnya kami menganggap diri kami bagian dari warga. Kami harus ikut membantu saat desa ini sedang dirundung musibah. Saya dan Sri rencananya mau izin ikut bergabung dengan rombongan warga yang akan menyisir ke arah hutan."
"Dan yang lainnya akan ikut berjalan membantu warga yang menyisir area sekitar sini," sambung Bagas.
Mendengar ketulusan dan kerelaan hati dari para anak muda tersebut, Pak RT Mulyo. Beliau menepuk pundak Bagas.
"Matur nuwun... Terima kasih banyak kalian sudah mau membantu." Ujar Pak RT.
Pak RT Mulyo kemudian menoleh ke arah salah seorang warga yang sedang memimpin. Beliau meminta warga tersebut untuk memastikan Sri dan Bagas selalu berada di tengah-tengah rombongan besar agar tidak tertinggal.
"Tolong dipandu ya." Ucapnya pada salah satu warganya.
"Baik, Pak RT." jawabnya
Setelah berpamitan, rombongan mahasiswa itu pun segera membagi tugas mereka dengan cepat.
Sri dan Bagas langsung melangkah lebar merapat ke barisan warga yang akan ke area hutan. Sementara itu, Tris dan yang lainnya, segera berbaur ke dalam barisan yang lainnya.