Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Pintu Tertutup
Jari-jari Shaquena seketika kehilangan tenaga. Ponsel hitam di tangannya terlepas, menghantam lantai marmer hingga suaranya menggema ke seluruh kamar. Ia bahkan tidak menoleh ke arah benda itu. Tanpa sempat mengenakan alas kaki, ia berlari keluar, pikirannya hanya dipenuhi satu nama.
Sebastian.
Pria itu memiliki koneksi, kekuasaan, dan pengaruh yang mampu menggerakkan banyak orang. Shaquena berhenti di depan ruang kerja, lalu menghantam pintu itu dengan kepalan tangannya.
"Sebastian!"
Tak ada sahutan.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Hingga buku-buku jarinya memerah dan mulai terasa nyeri, pintu itu tetap terkunci rapat. Tak terdengar suara langkah, tak ada kursi yang bergeser dari dalam.
Shaquena menekan dahinya ke permukaan kayu yang dingin. Jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh.
Sebelum matahari benar-benar muncul, layar televisi besar di ruang tengah sudah dipenuhi breaking news. Tulisan merah menyala terus bergulir di bagian bawah layar.
SKANDAL KORUPSI DAN PENCUCIAN UANG PROYEK REKLAMASI PESISIR.
SAMUEL MAHENDRA DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA UTAMA.
Napas Shaquena tersendat. Jemarinya refleks mencengkeram sandaran sofa kulit hingga buku-buku jarinya memutih.
Di layar, Kamera menyorot seorang pria berkemeja putih kusut yang digiring menembus kerumunan wartawan.
Shaquena mengenali sosok itu bahkan sebelum wajahnya terlihat jelas.
Samuel.
Belum sempat ia menguasai dirinya, deretan klakson bersahut-sahutan dari luar rumah, disusul riuh teriakan yang menembus dinding kediaman.
Shaquena menoleh ke arah jendela.
Puluhan mobil van stasiun televisi telah memenuhi depan gerbang kediaman Mahendra. Para wartawan berdesakan sambil mendorong pagar besi dan meneriakkan nama keluarganya, sementara satpam kewalahan menahan gelombang manusia yang terus memaksa masuk.
Shaquena memejamkan mata sesaat. Jemarinya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Tanpa membuang waktu, Shaquena berbalik dan berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Napasnya memburu ketika tiba di depan ruang kerja Sebastian. Pintu yang beberapa jam lalu terkunci rapat kini sedikit terbuka.
Ia mendorongnya hingga terbuka lebar.
Sebastian duduk tenang di balik meja mahoni. Secangkir kopi masih mengepulkan uap tipis di dekat sikunya, sementara pena emas di tangannya terus menari di atas tumpukan dokumen, seolah berita yang sedang mengguncang seluruh negeri sama sekali bukan tentang keluarganya.
Langkah Shaquena terhenti tepat di depan meja. Dalam satu gerakan, kedua telapak tangannya menghantam permukaan kayu hingga cangkir kopi itu bergetar pelan.
"Bantu Samuel." Suaranya bergetar menahan amarah dan putus asa. "Telepon Kapolda sekarang. Hubungi semua relasimu. Bayar jaminannya berapa pun yang mereka minta. Bebaskan Samuel."
Sebastian bahkan tidak mengangkat kepala. Pena di tangannya tetap bergerak.
"Ini urusan perusahaan," ucapnya datar setelah membubuhkan tanda tangan terakhir. Barulah ia mengangkat pandangan, menatap Shaquena tanpa riak kecemasan sedikit pun. "Jangan ikut campur, Shaquena."
Rahang Shaquena mengeras.
"Dia anakmu."
"Dia direktur operasional divisi konstruksi."
Sebastian mengangkat cangkir kopinya, meniup permukaannya pelan sebelum menyesapnya.
"Ada selisih dana lima triliun di divisinya. Dia bertanggung jawab di hadapan hukum."
Pandangan Shaquena jatuh pada sebuah map merah di sudut meja. Logo di sampulnya langsung dikenali. Laporan audit eksternal.
Tanpa meminta izin, ia meraih map itu dan membalik halaman demi halaman dengan cepat. Deretan angka, rekening, dan jalur transaksi berkelebat di depan matanya hingga satu nama membuat jemarinya membeku.
PT Lintas Samudra.
Ia mengenal perusahaan itu lebih baik daripada siapa pun. PT Lintas Samudra bukan anak perusahaan yang benar-benar beroperasi, melainkan perusahaan cangkang yang dibentuk Sebastian bertahun-tahun lalu. Tak ada satu pun direksi Mahendra Group yang memiliki wewenang menyetujui transfer bernilai triliunan rupiah ke rekening itu tanpa token biometrik dengan otorisasi tertinggi.
Dan token itu, selalu tersimpan di dalam brankas pribadi CEO.
Lembar-lembar laporan terlepas dari genggamannya, meluncur jatuh hingga berserakan di atas karpet.
"Tanda tangan digital itu..." Suara Shaquena terdengar serak. "Token otorisasinya hanya ada padamu."
Sebastian kembali menyesap kopinya tanpa tergesa. Ia tidak membantah. Tidak menjelaskan. Hanya diam, dan keheningan itu menjadi jawaban yang jauh lebih kejam daripada pengakuan.
"Kamu menjebaknya. Kamu memindahkan dana itu memakai otorisasinya tanpa dia ketahui." Suaranya mulai bergetar. "Lalu kamu menjadikan anakmu sendiri sebagai tumbal."
"Aku menyelamatkan perusahaan." Jawaban Sebastian tetap datar.
"Kalau CEO yang ditangkap hari ini, saham Mahendra akan runtuh. Jutaan orang kehilangan pekerjaan."
Ia meletakkan kembali cangkirnya dengan tenang. "Samuel hanya perlu berkorban sebentar."
Shaquena menatap lurus ke wajah pria itu. "Aku akan membebaskannya." Kalimat itu meluncur pelan, tetapi setiap katanya terdengar setajam pisau.
"Aku tidak akan membiarkan anakku membayar kejahatanmu."
Sebastian hanya menyunggingkan senyum tipis. "Pengacara perusahaan sudah mengurus semuanya." Ia membuka dokumen berikutnya tanpa lagi memandang Shaquena. "Duduk diam dan ikuti proses hukumnya."
Shaquena memandangnya beberapa saat lagi. Kemudian berbalik dan melangkah keluar.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi perang yang sunyi.
Meja makan di apartemen Samuel dipenuhi laporan audit, rekening koran, salinan kontrak proyek, hingga catatan yang ia tulis sendiri di atas lembaran-lembaran kertas. Lampu ruang makan hampir tak pernah padam selama tiga hari tiga malam. Sementara kota terlelap, Shaquena masih duduk di depan laptop, menelusuri setiap transaksi, mencocokkan waktu, membedah aliran dana, lalu melacak alamat IP yang digunakan saat persetujuan digital dilakukan.
Matanya memerah. Bahunya pegal. Cangkir kopi kosong bertambah satu demi satu.
Namun, ia terus bekerja.
Saat matahari hari ketiga menyelinap masuk lewat jendela apartemen, seluruh kepingan itu akhirnya tersusun menjadi satu.
Pada waktu transfer dilakukan, Samuel sedang berada di luar negeri.
Bukti itu cukup untuk meruntuhkan dakwaan yang disusun dengan rapi. Kini ia hanya membutuhkan satu orang yang bersedia berdiri di ruang sidang dan memperjuangkannya.
Hanya satu pengacara.
Hujan mengguyur ibu kota tanpa ampun ketika Shaquena mendorong pintu kaca firma hukum terbesar di kota.
Seorang pengacara senior menyambutnya di lobi. Bukan di ruang rapat.
"Maaf, Nyonya Mahendra."
Pria beruban itu menundukkan pandangan sejak awal. Bahkan hingga kalimat berikutnya keluar dari bibirnya, ia tetap tidak berani menatap mata Shaquena.
"Kami tidak bisa menangani kasus Tuan Samuel."
Shaquena meletakkan koper hitam di atas meja, membukanya perlahan hingga tumpukan dokumen memenuhi pandangan pria itu.
"Anda tahu bukti ini valid," katanya sambil mendorong koper itu sedikit ke depan. "Saya akan membayar tiga kali lipat dari tarif Anda."
Pria itu menggeleng pelan sebelum mendorong koper tersebut kembali.
"Ini bukan masalah uang."
"Lalu apa?"
Ia menarik napas panjang sebelum menjawab lirih.
"Seluruh firma hukum papan atas sudah menerima instruksi."
Shaquena membeku.
"Instruksi dari siapa?"
"Suami Anda."
Pria itu melirik ke arah resepsionis, memastikan tak ada yang memperhatikan mereka. "Beliau mengikat semua firma besar dengan kontrak eksklusif. Kami dilarang memberikan bantuan hukum sekecil apa pun kepada putra Anda."
Sesaat, tak ada suara selain hujan yang menghantam dinding kaca.
"Pulanglah, Nyonya," ucapnya pelan. "Tolong jangan membuat posisi kami ikut hancur."
Hari itu Shaquena mendatangi lima firma hukum. Lima kali pula pintu tertutup tepat di depan wajahnya.
Sebastian bukan hanya melempar Samuel ke dalam kandang serigala. Ia juga memastikan tak ada satu pun tangan yang mampu menarik putranya keluar.
Persidangan dimulai jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan. Nama Samuel memenuhi layar televisi, disertai berbagai tuduhan yang terus diulang hingga terdengar seperti kebenaran.
Koruptor.
Pengkhianat negara.
Ruang sidang utama dipenuhi wartawan. Shaquena duduk tegak di baris paling depan. Kedua tangannya terlipat di atas pangkuan, sementara kuku-kukunya terus menancap ke telapak tangan hingga meninggalkan bekas merah.
Pintu samping terbuka.
Dua petugas kejaksaan menggiring seorang tahanan masuk ke ruang sidang.
Dunia Shaquena seolah berhenti berputar.
Samuel berjalan perlahan dengan borgol yang bergemerincing setiap kali melangkah. Baru beberapa hari berada di tahanan, tubuhnya sudah tampak jauh lebih kurus. Pipinya cekung, wajahnya pucat, dan lingkar hitam mengurung kedua matanya.
Di tengah ruangan, langkah Samuel terhenti.
Ia menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Lalu, perlahan, sudut bibir Samuel terangkat membentuk senyum kecil.
Rapuh.
Namun, tetap berusaha menenangkan ibunya, seolah orang yang sedang berjalan menuju hukuman itu bukan dirinya.
Tenggorokan Shaquena terasa perih. Ia menggigit bibir bagian dalam hingga rasa logam memenuhi mulutnya, memaksa dirinya tetap duduk.
Hakim mulai membacakan putusan.
"Pengadilan menyatakan Terdakwa Samuel Mahendra terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama."
Ruangan mendadak sunyi.
"Menjatuhkan pidana penjara selama lima belas tahun dan denda sebesar lima puluh miliar rupiah."
Palu hakim terayun.
Brak!
Suara itu menghantam dada Shaquena seperti vonis yang dijatuhkan langsung kepadanya. Pandangannya seketika kabur, sementara air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh tanpa mampu dibendung.
Belum sempat ia mengusapnya, keributan mendadak pecah di barisan belakang.
Zoya roboh di kursinya.
Di sampingnya, Sherina menangis histeris dalam pelukan seorang pelayan.