NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — TEMBAKAN PERTAMA

BAB 19 — TEMBAKAN PERTAMA

Dor!

Suara tembakan menggema ke seluruh aula Hotel Grand Imperial.

Jeritan para tamu memenuhi ruangan.

"Aaaah!"

"Lari!"

"Selamatkan diri!"

Dalam hitungan detik, aula yang semula megah berubah menjadi kacau.

Mahendra segera menarik Eiri ke belakang tubuhnya.

"Jangan lepas dari sisiku."

"Baik..."

Eiri mengangguk dengan wajah pucat.

Asisten 01 segera berlari menghampiri.

"Tuan! Seluruh pintu keluar sudah dijaga pengawal."

Mahendra mengangguk.

"Bagus."

"Pastikan semua tamu dievakuasi ke ruangan yang aman."

"Baik, Tuan."

Di lantai dua...

Darius berdiri sambil memperhatikan semua kekacauan itu.

Ia tersenyum puas.

"Lihat..."

"Mahendra mulai menunjukkan sisi aslinya."

Pria di sampingnya bertanya pelan.

"Tuan, apa kita lanjutkan?"

"Belum."

"Aku hanya ingin menguji seberapa jauh dia akan melindungi Eiri."

Sementara itu...

Marchel membantu beberapa tamu yang terluka ringan.

"Tenang!"

"Jangan saling mendorong!"

Melveri ikut membantu membawa seorang anak kecil keluar dari kerumunan.

"Eiri di mana?"

tanya Melveri panik.

"Bersama Mahendra."

jawab Marchel.

Melveri menghela napas lega.

"Syukurlah."

Di lorong belakang hotel.

Mahendra membawa Eiri menuju ruang keamanan.

Namun langkah mereka terhenti.

Tiga pria bertopeng menghadang jalan.

"Serahkan wanita itu."

ucap salah seorang dari mereka.

Mahendra melangkah maju.

"Kalau aku menolak?"

Pria itu tersenyum sinis.

"Berarti kami akan mengambilnya."

Mahendra melepas jasnya.

"Eiri."

"Masuk ke belakangku."

"Baik..."

Ketiga pria itu langsung menyerang.

Buk!

Mahendra menahan pukulan pertama lalu membalas dengan tendangan keras.

Brak!

Satu orang langsung terpental.

Orang kedua mengayunkan tongkat besi.

Mahendra menunduk lalu menghantam siku lawannya.

"Aaagh!"

Tongkat itu jatuh ke lantai.

Pria ketiga mencoba menyerang dari belakang.

Namun...

Seseorang tiba-tiba muncul.

Buk!

Pria itu langsung terjatuh setelah dipukul.

Mahendra menoleh.

"Kau?"

Pria bertopi hitam berdiri beberapa meter dari mereka.

Rivan.

"Aku tidak punya waktu menjelaskan."

"Masih ada orang lain."

Mahendra menatapnya beberapa detik.

Entah mengapa...

Ia memilih mempercayainya.

"Lindungi Eiri."

kata Mahendra singkat.

Rivan mengangguk.

"Aku mengerti."

Di aula utama.

Darius melihat semuanya melalui kamera pengawas.

"Hm..."

"Jadi Rivan benar-benar memihak mereka."

Ia tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"Kita masuk ke tahap berikutnya."

Ia mengeluarkan ponselnya.

"Mulai sekarang."

"Jangan sentuh Eiri."

"Target kita berubah."

Suara dari seberang bertanya.

"Siapa?"

Darius tersenyum.

"Mahendra."

Beberapa menit kemudian.

Suara sirene polisi terdengar dari luar hotel.

"Wiuu... wiuu..."

Puluhan polisi mengepung gedung.

Para pelaku mulai melarikan diri melalui pintu belakang.

Asisten 01 segera menghampiri Mahendra.

"Tuan."

"Polisi sudah datang."

Mahendra mengangguk.

"Bagus."

"Tolong antar semua tamu pulang dengan aman."

"Baik."

Di luar hotel.

Eiri berdiri memandangi langit malam.

Tangannya masih sedikit gemetar.

Mahendra menghampirinya.

"Kamu tidak apa-apa?"

Eiri mengangguk pelan.

"Iya."

"Tapi..."

"Aku merasa pria bertopi hitam itu..."

"...bukan orang jahat."

Mahendra terdiam.

"Aku juga mulai berpikir begitu."

Saat itu...

Sebuah mobil hitam melintas perlahan di depan hotel.

Kaca mobilnya terbuka sedikit.

Darius menatap Mahendra sambil tersenyum tipis.

Kemudian ia mengangkat sebuah liontin berbentuk bulan sabit...

lalu menunjukkannya selama beberapa detik sebelum kembali menutup kaca mobil.

Mahendra membeku.

"Liontin itu..."

Wajahnya berubah serius.

Ia pernah melihat simbol itu dalam dokumen lama peninggalan ayahnya.

Simbol organisasi yang diduga terlibat dalam kehancuran keluarga Aldrick.

Mobil hitam itu kemudian menghilang di balik gelapnya malam.

Mahendra mengepalkan tangannya.

"Aku bersumpah..."

"Akan menemukan siapa dalang di balik semua ini."

Di sisi lain, Rivan yang berdiri dari kejauhan menatap Mahendra dengan tatapan penuh arti.

"Sebentar lagi..."

"Semua rahasia yang selama ini terkubur akan mulai terungkap."

Bersambung ke BAB 20 — Liontin Bulan Sabit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!