NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34

Sore mulai berganti malam. Cahaya jingga yang menghiasi langit perlahan menghilang, berganti dengan kerlap-kerlip lampu kota yang menyala satu per satu. Dari balik jendela apartemen tempat mereka menginap di kota XXX, suasana tampak begitu indah. Namun, keindahan itu berbanding terbalik dengan hubungan Alvaro dan Eliz yang masih dipenuhi jarak.

Alvaro baru saja selesai mengenakan jas berwarna hitam. Penampilannya rapi dan berwibawa, tetapi wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun menunjukkan antusiasme. Ia melirik jam tangan di pergelangan kirinya sebelum menoleh ke arah Eliz yang masih duduk di sofa.

"Bersiap-siaplah," ucapnya singkat.

"Sebentar malam aku akan mengajakmu makan malam bersama teman."

Eliz yang sejak tadi melamun sontak mengangkat wajahnya. Kedua matanya membulat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Serius?" tanyanya pelan.

Ia memicingkan mata, mencoba membaca sorot mata Alvaro. Barangkali pria itu sedang bercanda. Namun, tatapan Alvaro tetap setenang biasanya, sulit ditebak isi hatinya.

"Aku ditelepon Dokter Arga," jawab Alvaro datar.

"Dia mengundang aku dan kamu makan malam di sebuah restoran mewah."

Nama Arga membuat Eliz sedikit mengernyit. Ia mengenal dokter itu, meski tidak terlalu dekat.

Alvaro melanjutkan ucapannya dengan nada dingin.

"Dia begitu menghargai kehadiranku. Jadi aku harap kamu tidak membuat kekacauan malam ini."

Kalimat itu menusuk seperti sembilu.

Senyum tipis yang sempat menghiasi wajah Eliz perlahan memudar. Dadanya terasa sesak. Ternyata ajakan makan malam itu bukan karena Alvaro ingin menghabiskan waktu bersamanya, melainkan sekadar memenuhi undangan seorang teman.

Bahkan, sebelum acara dimulai, Alvaro sudah lebih dulu menganggapnya sebagai sumber masalah.

Eliz menundukkan kepala sesaat, berusaha menahan rasa perih yang kembali memenuhi dadanya. Meski begitu, ia tak ingin memperlihatkan kelemahannya di hadapan pria yang dicintainya.

"Untuk apa aku mengacaukan acara temanmu?" balasnya lirih, tetapi tegas.

"Dokter Arga juga temanku."

Suasana mendadak hening.

Alvaro menatap Eliz beberapa detik tanpa berkata apa-apa. Entah mengapa, ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap di hatinya. Namun, gengsi membuatnya memilih diam.

"Aku hanya mengingatkan," katanya akhirnya. "Aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak perlu."

Eliz tersenyum tipis, tetapi senyum itu terasa begitu pahit.

"Tenang saja. Aku tahu bagaimana harus bersikap."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Eliz berbalik menuju kamar. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan tubuhnya di balik daun pintu. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.

"Kenapa... setiap kata-katamu selalu menyakitiku, Alvaro?" bisiknya lirih.

Di luar kamar, Alvaro masih berdiri memandang pintu yang baru saja tertutup. Untuk sesaat, ia mengepalkan tangan. Ia sadar ucapannya terlalu tajam.

Namun, setiap kali mengingat masa lalu dan pengorbanan yang pernah menghancurkan hidupnya, tembok yang ia bangun di sekeliling hatinya kembali mengeras.

Malam itu, mereka akan duduk di meja makan yang sama. Di hadapan Dokter Arga dan tunangannya, mereka akan terlihat seperti pasangan yang baik-baik saja.

Padahal, di balik senyum yang akan mereka tampilkan nanti, masing-masing sedang menyembunyikan luka yang belum benar-benar sembuh.

" Maaf Eliz...entah kenapa, aku masih kesal setiap kali melihatmu. Aku teringat dimana kamu menghancurkan segalanya karena ego. Kamu tidak memikirkan perasaan kakakmu sendiri." Gumamnya lalu melangkah keluar.

***

Malam itu, sebuah restoran mewah dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul indah di setiap sudut ruangan. Alunan musik piano yang lembut mengiringi para tamu yang menikmati makan malam mereka.

Di tengah suasana elegan itu, Alvaro dan Elizabets melangkah memasuki restoran dengan langkah tenang. Eliz tampil begitu menawan dalam balutan gaun yang anggun. Senyum tipis di bibirnya semakin mempercantik wajahnya. Di sampingnya, dokter Alvaro tampak begitu tampan dengan setelan jas berwarna gelap yang pas di tubuhnya. Keduanya terlihat serasi hingga beberapa pasang mata tanpa sadar mengikuti langkah mereka. 

" Kenapa tiba-tiba aku jadi gugup? Ada apa denganku?" batin Alvaro.

Elizabeth menatap Alvaro dengan penuh perhatian, berbeda dari biasanya. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, "Bukankah kita cuma akan menemui Dokter Arga? Kenapa wajah Alvaro terlihat begitu tegang?" 

 "Alvaro, aku tanya kamu," Elizabeth memanggil, membuat Alvaro tersentak. 

Ia lalu berusaha tersenyum lebar. 

 "Tidak ada apa-apa kok," jawabnya singkat, padahal ia sendiri tak mengerti mengapa perasaannya begitu gelisah

Sementara itu, di meja dekat jendela, dokter Arga beberapa kali melirik arloji di pergelangan tangannya. Setelah itu, pandangannya kembali tertuju ke arah pintu masuk restoran, berharap sosok yang ditunggunya segera datang.

"Teman Anda masih lama ya, Dok?" tanya Anna sambil memegangi perutnya yang sejak tadi mulai keroncongan.

Arga menghela napas pelan sebelum menurunkan ponselnya.

"Entahlah. Sudah beberapa kali aku meneleponnya, tapi belum juga diangkat." 

Ia tersenyum tipis, lalu menatap Anna dengan penuh perhatian.

 "Kita makan duluan saja, ya. Kasihan kamu, pasti sudah lapar."

Anna spontan menundukkan kepala. Pipi putihnya berubah kemerahan.

"Dokter tahu dari mana kalau aku lapar?" tanyanya malu-malu.

Arga terkekeh pelan. Tatapannya dipenuhi kelembutan yang sulit disembunyikan.

"Aku ini dokter," godanya singkat.

Anna mengangkat sebelah alisnya, seolah tidak percaya.

"Memangnya dokter spesialis membaca isi perut pasien juga?"

Mendengar itu, Arga tertawa kecil.

"Bukan begitu. Dari tadi kamu berkali-kali melirik menu, sesekali memegang perut, dan wajahmu sudah tidak seceria tadi. Itu sudah cukup menjadi petunjuk."

Anna menggigit bibir bawahnya, merasa tingkahnya ternyata begitu mudah ditebak oleh pria di hadapannya.

"Baiklah.

Arga tersenyum hangat. Tanpa menunggu lebih lama, ia memanggil pelayan untuk memesan beberapa hidangan favorit Anna yang masih ia ingat sejak beberapa kali mereka makan bersama.

Namun, tepat ketika pelayan meninggalkan meja mereka, pintu utama restoran terbuka perlahan.

Sepasang tamu memasuki ruangan dengan langkah anggun.

Arga yang kebetulan menoleh ke arah pintu langsung berdiri sambil tersenyum.

"Akhirnya datang juga," gumamnya.

Anna yang  memeriksa pesan di ponsel ikut menoleh.

Seketika senyumnya membeku.

Napasnya tertahan saat melihat pria yang berjalan berdampingan dengan wanita cantik itu.

"Alvaro....!!! Katanya dalam hati.

Di sisi lain, langkah Alvaro ikut terhenti. Sorot matanya langsung tertuju pada Anna yang duduk berhadapan dengan Arga. Wajah tenangnya seketika berubah kaku. Berbagai kenangan yang selama ini berusaha ia kubur kembali menyeruak tanpa izin.

Tak ada satu pun dari mereka yang mengucapkan sepatah kata.

Namun, tatapan yang saling bertemu itu sudah cukup untuk menghidupkan kembali luka lama yang belum benar-benar sembuh.

"Anna juga ada di sini? Apa hubungannya dia dengan Dokter Arga?" 

Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. "Terima kasih sudah menyempatkan diri hadir di acara makan malam kami, Dokter Al," sapa Arga dengan hangat. 

 Alvaro masih terdiam, terpaku di tempatnya, menatap wanita yang kini duduk bersama temannya.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!