Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. SBR
...~•Happy Reading•~...
Gevaro mengangguk mendengar informasi Jensen tentang Devan dan Meghan. 'Dia akan berusaha segala cara, karena menginginkan warisan itu.' Gevaro berkata dalam hati.
"Baik. Kita fokus pada dampak kedatangan Devan ke sini." Gevaro memikirkan strategi untuk hadapi semua kemungkinan, akibat kedatangan Devan dan mengetahui Janet bekerja di kantor yang sama dengannya.
"Persoalan klasik di mana-mana sama saja. Di luar atau di dalam keluarga, kalau sudah berhubungan dengan harta dan kekuasaan, akan terjadi masalah." Ucap Gevaro sambil berdiri.
"Setiap orang pergunakan segala cara, tidak peduli teman, orang tua, bahkan saudara akan disingkirkan dengan menyikut atau menendang seperti katak." Gevaro menghembuskan nafas berkali-kali mengingat dia harus keluar dari rumah, karena merasa muak dengan kelakuan Devan dan Maminya.
~▪︎▪︎
Gevaro berdiri di depan jendela. Untuk menurunkan tensi emosi, dia ingat pertengkaran iseng masa remaja di rumah dengan Devan :
"Kau lebih dari perempuan. Apa gak malu dibilang anak Mami yang terus menete?" Gevaro merasa jengah dan kesal dengan kelakuan Devan yang terus ikut ke mana Mami mereka pergi dan selalu mengatakan 'Iya Mami' atas semua permintaannya.
"Urus saja mau mu. Kau mau dapat apa dengan kelakuanmu yang susah diatur dan pemberontak itu?" Devan juga kesal dengan kelakuan Gevaro yang usil dan mengganggunya.
"Mungkin tidak dapat apa-apa dari Mami. Tapi aku bisa tau mauku ke mana dan di mana. Bisa menentukan langkahku sendiri. Tidak dicucuk hidung seperti sapi dan ditarik ke mana saja sesuka orang."
"Devin, kau bilang aku sapi?" Teriak Devan marah.
"Makanya belajar. Segitu saja tidak mengerti. Apa kakimu ada empat?" Gevaro menendang dua kaki Devan untuk menunjukan kakinya ada dua.
"Mamiii...' Teriakan Devan bergema dalam ruangan dan tidak lama kemudian Mami mereka datang tergopoh-gopoh.
"Devin, kau apakan kakakmu?"
"Aku cuma tes. Kakinya ada dua atau empat."
"Dia menendang kakiku, Mi." Devan mengusap tulang keringnya yang ditendang.
"Nanti kau tidak boleh makan malam." Maminya marah.
"Air di kran masih mengalir. Aku minum buat hanyutkan dia di tempat tidur."
"Mamiiiii..." Teriak Devan sambil diikuti oleh Gevaro dengan gerakan bibir menyebut Mami tanpa suara. Hal itu makin mengesalkan hati Devan lalu mengaduh kepada Mami mereka.
Gevaro suka tertawa dalam hati ingat kenakalannya di masa remaja. Kalau dihukum tidak boleh makan malam, para pelayan akan menyelipkan makanan atau roti untuknya dengan berbagai cara.
'Kasih sayang yang tidak adil? Atau sifatku yang lebih cendrung seperti Papi, hingga Mami kesal? Atau wajah innocent Devan yang memanipulasi Mami?' Gevaro bertanya sendiri dalam hati, ingat Maminya yang lebih memanjakan Devan dengan menuruti semua keinginannya.
▪︎▪︎~
~▪︎▪︎
Menjelang pulang kantor, Jensen menerima telpon dari Sony. "Ada apa?" Tanya Gevaro yang melihat wajah Jensen berubah setelah terima telpon.
"Pak Sony melapor, Pak. Mobil Pak Devan terlihat masuk ke tempat parkir, tapi tidak parkir. Hanya berputar-putar, seakan sedang mencari parkir yang sesuai." Jensen melapor yang diinformasikan Sony.
"Bagus. Dia pasti sedang gelisah seperti cacing kepanasan. Biarkan dia rasakan, segala sesuatu tidak selamanya disuguhkan di atas nampan untuknya."
"Sekarang kita akan lihat, dia kepanasan karena penolakanku bergabung, atau karena bertemu Janet di sini." Ucap Gevaro sambil meletakan kedua lengan di atas meja sambil berpikir.
"Apa kita akan berhadapan dengannya saat pulang, Pak?" Jensen ingin tahu rencana bossnya.
"Tidak. Kau antar Janet pulang dengan mobilmu. Tapi kalian naik mobil di tempat parkir. Tidak usah di depan lobby."
"Nanti saya yang akan naik di depan lobby. Supaya kita tahu, dia ikut saya atau menunggu Janet..." Gevaro atur rencana untuk hadapi Devan, agar dia bisa tahu. Devan kembali ke kantor untuknya atau Janet.
Gevaro curiga, ancaman Janet mulai mengusik dan membuatnya khawatir. "Kita akan tahu, dia lebih takut pada yang mana." Ucap Gevaro.
"Mungkin lebih kepada Janet, Pak. Karena menyangkut nama baik dan kredibilitasnya di depan Opa."
"Iya, saya pikir begitu. Kali ini, mungkin Mami tidak bisa menolongnya, kalau Janet lakukan ancamannya."
"Sekarang bicara dengan Janet. Dia pulang ikut mobilmu. Nanti setelah tahu maunya Devan, saya telpon. Jaga jangan sampai mereka tahu tempat tinggal Janet." Gevaro bergerak cepat untuk mengamankan Janet dari Devan.
Tidak lama kemudian, Jensen bicara dengan Janet sambil terus berkomunikasi dengan Sony untuk mengetahui posisi mobil Devan.
"Mobilnya sudah mengarah keluar, Pak." Jensen melapor.
"Ya, ini sudah jam pulang kantor. Mari kita pulang. Kita terus jaga komunikasi, supaya bisa tahu posisinya." Ucap Gevaro sambil bersiap-siap.
"Benar yang bapak bilang, mobilnya melambat ke arah lobby." Lapor Jensen.
'Kehidupan enak bikin otaknya tidak bertumbuh.' Bisik hati Gevaro yang emosi, mengetahui Devan mulai mematai-matai dia atau Janet. Dia mengajak Jensen dan Janet pulang, kemudian mereka berpisah lift.
Walau jantungnya berdetak kuat, Janet ikut tanpa bertanya, sebab melihat wajah Gevaro keras dan tegang.
"Jensen, minta alamat tempat tinggal Janet. Antar dia sampai di rumah." Perintah Gevaro saat melihat sopirnya membuka pintu, tapi mobil devan tidak bergerak untuk mengikutinya.
'Pasti dia menunggu Janet keluar dari lobby.' Gevaro membatin tanpa mengalihkan pandangan dari mobil Devan.
"Jensen, bilang Pak Satrio untuk menyembunyikan biodata Janet di perusahaan." Gevaro melanjutkan perintahnya. Jensen mencatat tanpa bersuara. Semua dilakukan dengan cepat.
"Kami baru melewati mobilnya, Pak." Jensen melapor.
"Bilang Janet, hari senin, baru masuk kerja. Besok sampai akhir pekan tetap tinggal di rumah, dan jangan keluar dengan anaknya di tempat umum."
Perintah Gevaro setelah mobilnya berjalan dan tahu, mobil Devan tidak mengikuti mobilnya. Padahal dia sengaja berdiri lama di depan lobby agar bisa dilihat Devan.
Jensen meneruskan perintah Gevaro kepada Janet dengan wajah serius. "Iya, Pak." Jawab Janet singkat. Dia bisa melihat sebuah mobil mewah menunggu dekat lobby. 'Apa itu mobil Devan atau Maminya?' Janet mulai mengerti situasi.
Setelah mobil Jensen melewati mobilnya, dia meminta sopir menunggu untuk memantau mobil Devan. "Jensen, langsung ke rumah Janet saja. Perhatikan keamanan rumahnya, tapi tidak usah bicarakan dengan Janet. Kita bicarakan di rumah." Ucap Gevaro setelah yakin, Devan masih menunggu Janet di kantor.
Setelah melewati jalanan yang padat, mobil Jensen tiba di alamat yang diberikan Janet. "Terima kasih, Pak. Tolong kasih tahu saya, kalau orang itu mengancam saya lagi." Pinta Janet sebelum turun.
"Iya. Sementara ini, tidak apa-apa. Tapi ikut yang dikatakan Pak Gevaro. Jangan keluar rumah dengan anak, dan masuk kantor hari senin. Kalau ada perubahan, saya kasih tahu." Jensen mengatakan penuh tekanan.
"Baik, Pak. Terima kasih." Janet segera turun. Dia ingin masuk ke rumah untuk menenangkan hatinya yang mulai bergolak.
'Mengapa tadi aku mengancamnya? Ternyata akan panjang, sebab bisa melibatkan Asyer.' Janet mulai was-was, setelah mendengar larangan Gevaro untuk tidak membawa Asyer keluar rumah.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...