⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Bagaimana jadinya jika seorang gadis bermata batin harus terikat dalam pernikahan dengan mafia berdarah dingin?
Aiko Kurogawa sudah cukup tersiksa dengan "kutukan" Indigo yang mengalir di darahnya. Namun, demi terhindar dari dunia kelam keluarganya, ia terpaksa menerima perjodohan dengan Ren Tachibana. Pria kejam yang hidupnya hanya didorong oleh dendam.
Awalnya, Aiko hanya ingin bertahan hidup. Namun, tinggal di sisi Ren membuat hidupnya kian mencekam. arwah-arwah penasaran tak pernah berhenti berbisik di sekitar pria itu, mengungkap satu per satu rahasia kelam dari masa lalu.
Kini, Aiko dihadapkan pada pilihan sulit.
Tetap diam demi menyelamatkan nyawanya sendiri, atau menggali kebenaran yang ternyata mengikat takdir mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Pagi hari, Aiko perlahan membuka matanya. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Guncangan batin yang dirasakannya masih terus menyiksa.
Saat Aiko memiringkan tubuhnya, matanya tak sengaja berpapasan langsung dengan mata Ren.
Pria itu rupanya sudah lebih dulu terbangun. Dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang, ia menatap Aiko tanpa suara.
Aiko segera memalingkan wajahnya dalam posisi masih berbaring. Berada di dalam satu ruangan dengan pria yang keluarganya dihancurkan oleh darahnya sendiri membuat Aiko merasa begitu kotor dan tidak pantas.
Aiko perlahan mendudukkan tubuhnya di tepi kan'i bed, merapikan helai rambutnya yang berantakan dengan jemari yang sedikit bergetar. Ia enggan menatap Ren terlalu lama.
"Kenapa diam saja?" suara Ren memecah keheningan. "Kau menyiksa dirimu sendiri tidur di sana semalaman hanya untuk menjadi patung di sudut kamar?"
Aiko mengembuskan napas pelan. Ia berdiri, melangkah mendekati ranjang Ren tanpa berani menatap langsung matanya.
"Aku hanya... baru terbangun," balas Aiko. Matanya tertuju pada gelas air di meja samping ranjang yang kosong. "Kau mau minum, Ren?"
Ren tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya justru terus memperhatikan gerak-gerik Aiko, serta lingkaran hitam di wajah istrinya yang terlihat kian jelas.
"Jika tidak nyaman, kau seharusnya tidak perlu memaksakan diri, Aiko," ujar Ren datar. "Aku tidak ingin repot mengurusmu jika kau sakit."
Aiko mengepalkan jemarinya pelan di sisi tubuh. Ia mengangguk singkat. "Baik. Kalau begitu aku pulang sekarang."
Ren sempat terdiam sesaat. Dahi pria itu berkerut, menatap Aiko yang langsung berbalik dan mulai mengemas tasnya tanpa mendebat sepatah kata pun. lalu berjalan ke arah pintu. "Aku pulang, Ren."
Tanpa menunggu balasan, Aiko melangkah keluar dan menutup pintu geser kamar.
Ren menatap pintu yang tertutup itu dalam diam. Ia menyandarkan punggungnya kembali, mendengus pelan. Paling tidak sampai sore dia sudah kembali, batin Ren, yakin wanita itu hanya pulang untuk mandi dan berganti pakaian.
Namun, jarum jam di dinding terus bergerak.
Pukul dua siang, kamar itu masih sepi, Ren beberapa kali mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja lipat, sesekali melirik ke arah pintu yang tak kunjung terbuka.
Pukul lima sore, Ponsel di samping ranjang tidak juga berdering. Tidak ada pesan, ataupun tanda-tanda Aiko akan datang.
Tok. Tok.
Pintu bergeser. Daichi melangkah masuk, berniat memberikan sebuah map. "Bos, ini laporan pergerakan tim..."
"Selesaikan administrasi sekarang," potong Ren.
Langkah Daichi terhenti. "Malam ini? Tapi dokter bilang..."
"Urus sekarang, Daichi," sela Ren, matanya menatap tajam. "Panggil saja dokter pribadi ke rumah."
Daichi menatap bosnya sejenak, lalu mendesah pelan. "Baik, Bos. Mobil siap dalam lima belas menit."
**
DI LUAR RUMAH SAKIT – PAGI HARI (Beberapa jam yang lalu)
Di dalam sedan hitam yang melaju, Aiko menatap kosong ke luar jendela. Di balik kemudi, pengawal berjas hitam fokus menyusuri rute menuju kediaman Tachibana.
Pikiran Aiko terus melayang. Ia kembali teringat bayangan masa lalu ketika Ren melemparkan foto kuil tua di Kyoto Barat, tempat di mana, berdasarkan informasi dari Ren, ibunya pernah diisolasi.
Aiko tahu, ia tidak akan bisa tenang jika hanya berdiam diri di rumah dengan kepala penuh keraguan. Ia bertekad harus melihat sendiri tempat itu demi memecahkan teka-teki masa lalu dan pernikahan ini.
"Ubah arahnya," ucap Aiko tegas.
Pengawal di kursi depan melirik dari kaca spion. "Maaf, Nona Aiko? Perintah Tuan Muda adalah mengantar Anda langsung ke rumah utama."
"Bawa aku ke kuil tua di Kyoto Barat," potong Aiko penuh penekanan. "Aku hanya ingin ke sana sebentar. Aku sudah meminta izin pada Ren. Apa aku perlu meneleponnya di depanmu untuk memastikan?"
Pengawal itu ragu sejenak. Namun, melihat raut wajah Aiko yang penuh keyakinan, ia akhirnya memutar kemudi menuju perbukitan barat.
KUIL TUA KYOTO BARAT
Matahari sudah meninggi sepenuhnya saat mobil berhenti di tepi hutan bambu. Bangunan kuil kayu yang usang dan tak terawat itu berdiri membisu. Suasana di sana begitu dingin dan sunyi.
Aiko melangkah keluar, menyusuri anak tangga batu berlumut dengan napas tertahan. Langkah kakinya membawanya masuk ke bagian terdalam kuil, yang terdapat sebuah ruangan usang yang mungkin dulu menjadi tempat pengasingan ibunya.
Aiko berlutut di tengah ruangan berdebu itu. Ia memejamkan mata, membiarkan jemarinya menyentuh permukaan barang-barang yang tersisa di sana.
Sensasi aneh di dalam darahnya seketika berdesir naik.
Aiko bersiap menghadapi bayangan ketakutan, kesakitan, atau jejak kekejaman ayahnya. Namun, ketika gelombang memori spiritual ruangan itu merayap masuk ke dalam benaknya, mata Aiko mendadak terbuka lebar.
Tidak ada aura penderitaan yang terasa di sana.
Sebaliknya, dada Aiko justru dihantam oleh sisa emosi yang hangat dan lembut, di mana perasaan dari Yumi yang merasa sangat dicintai.
Di celah-celah sudut ruangan ini, Aiko bahkan dapat menangkap jejak energi ayahnya, Hiroshi. Energi yang tidak memancarkan niat membunuh, melainkan rasa cemas, keputusasaan, dan dorongan perlindungan yang posesif terhadap Yumi.
Aiko menatap telapak tangannya yang gemetar. Tidak ada bukti apa pun di ruangan ini yang mengarahkan bahwa Hiroshi telah menyiksa atau membunuh ibunya.
Kenapa...? batin Aiko linglung. Jika Ayah begitu mencintai Ibu... kenapa Ayah harus menyembunyikannya di sini? Dan kenapa keluarga Tachibana harus dihancurkan?
Kebenaran yang membingungkan itu membuat dada Aiko semakin sesak. Rasa bersalah pada Ren dan teka-teki tentang ayahnya bertabrakan hebat di dalam kepalanya.
Suara langkah kaki pengawal di luar pintu menyadarkan Aiko.
"Nona Aiko, hari sudah mulai sore. Kita harus segera kembali," panggil pengawal itu ragu.
Aiko mengembuskan napas berat, mengusap bekas jejak air mata di pipinya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia melangkah keluar menyusuri anak tangga kuil.
Di dalam mobil selama perjalanan, Aiko hanya menatap kosong ke arah luar jendela, merasakan efek samping dari memori spiritual yang kini membuat suhu tubuhnya perlahan naik.
KEDIAMAN TACHIBANA – PUKUL TUJUH MALAM
Mobil akhirnya berhenti di halaman kediaman Tachibana.
Aiko turun dengan langkah gontai, disambut oleh pelayan wanita yang tampak cemas di ambang pintu. "Nona Aiko! Akhirnya Anda kembali... Tuan Muda..."
"Aku ingin langsung ke kamar," potong Aiko lirih. Matanya yang sayu tak sanggup lagi diajak berkompromi. "Tolong jangan biarkan siapa pun menggangguku."
Aiko menyusuri lorong kayu rumah utama, kepalanya kian terasa berat. Tubuhnya menggigil pelan, terhimpit oleh rasa demam dan kelelahan batin yang ia rasakan.
Saat jemarinya yang dingin menggeser pintu kamar utama, Aiko berniat langsung merebahkan tubuhnya. Namun, langkah kakinya seketika terhenti tepat di ambang pintu.
Lampu kamar itu sudah menyala.
"Dari mana kau, Aiko?!"
makanya om kenji, baek2 jadi orang.
ber partner sama orang licik ya resiko gini, ikutan dikhianati 🥴
di mana2 jadi pengkhianat 🥴
Semangat.....
harusnya ren nih yg lihat adegan ini 🥴
apa jangan2 hiroshi ngira bapaknya ren sengaja ngebunuh yumi, terus hiroshi ngebunuh pasutri tachibana?
hanya perkiraanku 🙏