Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
"Alana, tetaplah di belakangku. Jangan melepaskan genggaman tanganmu seujung jari pun," perintah Devran dengan nada rendah yang sangat dalam, bergaung protektif di tengah kegelapan total.
Kamar utama itu mendadak terasa seperti sebuah kotak hitam yang terisolasi dari dunia. Tidak ada lampu darurat yang menyala, tidak ada indikator sensor gerak di langit-langit, bahkan pendaran lampu dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang biasanya menembus kaca balkon kini lenyap sepenuhnya.
Seluruh jaringan distrik perumahan elit itu tampak mati total, diselimuti oleh keheningan yang mencekam dan deru angin badai yang terus mengamuk di luar.
"Devran... apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa mansion dengan sistem keamanan tiga lapis seperti ini lumpuh total dalam hitungan detik?" Suara Alana terdengar bergetar hebat.
Jari-jarinya mencengkeram lengan kemeja Devran yang basah dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Seseorang telah melakukan penetrasi siber langsung ke sistem saraf pusat gedung ini, Alana. Ini bukan pemadaman massal biasa akibat badai," sahut Devran dingin.
Ia meraba saku celananya dengan tangan kiri, mencoba mencari korek api logam atau benda tajam apa pun yang bisa dijadikan senjata jarak dekat, sementara pikirannya masih terikat pada suara pria tua misterius di telepon tadi. Cucuku.
"Apakah kakek buyutku benar-benar masih hidup?*
"Lalu... lalu bagaimana dengan Leo? Kamarnya ada di sebelah!" Alana mulai panik, napasnya memburu dan ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Devran.
"Aku harus ke kamar Leo sekarang, Devran! Lepaskan aku!"
"Jangan bodoh, Alana! Di luar sana sangat gelap dan kita tidak tahu apakah ada penyusup bersenjata yang sudah masuk ke koridor!" bentak Devran, mencoba menahan tubuh Alana agar tidak bergerak gegabah.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki kecil yang sangat ritmis dan tenang mendadak terdengar dari arah pintu penghubung kamar yang samar-samar terbuka.
Langkah kaki itu tidak terdengar seperti langkah seorang anak kecil yang sedang ketakutan di tengah malam.
"Om seram? Mommy?"
Suara cempreng namun datar itu memecah ketegangan. Devran dan Alana serempak menoleh ke arah sumber suara, mencoba menembus kepekatan malam.
"Leo! Oh Tuhan, Sayang, kamu di sini?!" Alana memekik lega, air matanya hampir menetes lagi.
Ia hendak melangkah maju, namun suara Leo langsung menghentikannya.
"Mommy, jangan bergerak satu senti pun ke depan. Tetap di posisi Mommy yang sekarang," sahut Leo.
Suaranya terdengar sangat tenang, seolah-olah kegelapan total ini hanyalah taman bermain biasa baginya.
Devran menyipitkan mata elangnya, mendeteksi ada sesuatu yang aneh. "Leo? Apa yang kamu pegang di tanganmu? Dan kenapa kamu bisa keluar dari kamarmu tanpa bersuara?"
"Aku memegang tablet modifikasi dengan baterai cadangan independen, Om seram. Dan aku keluar karena sensor gerak di kamarku mendadak mati. Itu tidak logis kecuali ada sabotase," jawab Leo santai.
Cahaya biru super redup dari layar tabletnya berkedip sekali, memperlihatkan siluet wajah mungilnya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
"Kalian berdua berada dalam jebakan sekarang. Jika kalian keluar lewat pintu depan kamar ini, kalian akan langsung melewati sensor laser termal yang baru saja diaktifkan oleh peretas di koridor utama."
Devran tertegun. Alisnya bertaut erat. "Laser termal? Bagaimana seorang anak berusia lima tahun bisa tahu ada laser termal di koridor rumahku?"
"Aku sudah memantau lalu lintas data di server mansion ini sejak sore tadi, sejak Om seram sibuk memarahi Tante ular itu," sahut Leo dengan nada mengejek yang sangat khas.
"Ada infiltrasi malware bertipe trojan yang masuk lewat jalur pemeliharaan AC. Peretas itu pintar, tapi mereka tidak tahu kalau aku sudah memasang backdoor di sistem mereka."
"Mommy, ambil senter kecil di laci meja nakas bagian paling bawah sebelah kiri. Sekarang."
Alana mengerjapkan matanya, masih syok dengan penjelasan putranya. "Senter? Untuk apa, Leo?"
"Ambil saja, Mommy. Lalu tutup ujung cahayanya dengan kain tebal atau jubah mandi yang ada di dekat Mommy. Hanya sisakan celah kecil sebesar jarum."
"Aku butuh sinyal cahaya itu untuk memandu kalian tanpa memicu alarm visual di langit-langit," perintah Leo dengan ketegasan yang mutlak, sebuah nada bicara yang membuat Devran merasa seperti sedang bercermin.
Dengan tangan gemetar, Alana meraba laci nakas seperti yang diinstruksikan oleh Leo. Ajaibnya, benda itu memang ada di sana. Setelah membungkusnya dengan ujung handuk, seberkas cahaya kecil yang sangat tipis muncul, menerangi lantai kayu kamar.
"Bagus. Sekarang ikuti aku," kata Leo.
Bocah itu berbalik, menuntun keduanya bukan menuju pintu koridor utama yang mewah, melainkan ke arah lemari pakaian besar dari kayu jati yang tertanam di dinding kamar Devran.
"Leo, itu jalan buntu. Itu hanya lemari pakaianku," ujar Devran, menguji logika anaknya.
"Itu bukan sekadar lemari, Om seram yang kaku," balas Leo tanpa menoleh.
"Di balik panel baju gantung ketiga dari kiri, ada celah ventilasi udara berdiameter enam puluh sentimeter yang terhubung langsung dengan jalur pipa perawatan mekanik mansion."
"Jalur itu dibuat saat renovasi tahun 1998, kan? Aku melihatnya di cetak biru yang pernah Mommy pelajari."
Alana terengah, menatap Devran dengan pandangan tidak percaya. "Devran... apakah benar ada jalur seperti itu di rumahmu?"
Devran tidak menjawab. Jantungnya bergemuruh hebat. Jalur ventilasi itu adalah rahasia lama yang hanya diketahui oleh dirinya dan mendiang kakeknya.
Ia sendiri pernah menggunakan jalur itu saat berusia tujuh tahun untuk melarikan diri dari hukuman kurungan sang kakek. Bagaimana bisa Leo mengetahui detail arsitektur kuno ini hanya dari melihat cetak biru sekilas?
"Geser lemarinya, Om seram. Tenaga ototmu kan besar, jangan cuma dipakai untuk memeluk Mommy saja," gerutu Leo, menyindir interaksi keduanya sebelumnya.
Wajah Alana memerah di tengah kegelapan, sementara Devran mendengus pelan, merasakan kombinasi aneh antara gemas dan takjub.
Devran melangkah maju, memosisikan tubuh tegapnya di samping lemari, lalu dengan satu hentakan bahu yang kuat, ia menggeser lemari kayu berat itu hingga menampilkan sebuah penutup jeruji besi yang sudah berkarat.
KREEEKK...
"Jerujinya terkunci, Leo. Kita butuh alat pemotong," kata Devran setelah memeriksa slot kuncinya.
"Tidak butuh," sahut Leo, jemari mungilnya menari-nari di atas layar tabletnya. Klik. Terdengar suara dentingan logam kecil dari arah jeruji.
"Aku sudah membalikkan polaritas magnet pada kunci digital daruratnya dari sini. Silakan dibuka, Om."
Devran membuka jeruji itu dengan mudah. Ia membiarkan Alana masuk terlebih dahulu ke dalam lorong ventilasi yang sempit dan pengap, kemudian ia menyusul di belakang, sementara Leo memimpin di paling depan dengan tabletnya yang berfungsi sebagai radar navigasi mini.
Saat mereka merangkak perlahan, suara gemuruh badai di luar terdengar semakin sayup, digantikan oleh gembok udara yang berdesis.
Devran terus memperhatikan punggung kecil Leo. Bocah itu bergerak dengan presisi taktis yang luar biasa. Setiap kali ada suara langkah kaki sepatu boots dari para penjaga atau penyusup yang berpatroli di lantai bawah, Leo akan mengangkat tangan kirinya ke udara, memberi isyarat untuk berhenti dan mereka semua akan membeku dalam keheningan.
"Leo," bisik Devran saat mereka berhenti di sebuah persimpangan pipa besar.
"Siapa yang mengajarimu membaca situasi taktis seperti ini di Swiss?"
Leo menoleh sedikit, menyipitkan mata bulatnya yang sangat mirip dengan mata Devran.
"Sudah kubilang, tidak ada. Ini hanya logika dasar, Om seram. Jika musuh ingin mengepung sebuah bangunan, mereka pasti akan memprioritaskan titik keluar utama seperti gerbang depan, pintu belakang, dan garasi utama."
"Maka, satu-satunya jalur yang tingkat penjagaannya di bawah sepuluh persen adalah saluran pembuangan air limbah tua di sisi timur taman yang sudah dinonaktifkan sejak lima tahun lalu."
Devran merasakan bulu kuduknya meremang. 'Insting ini... cara berpikir yang dingin dan penuh perhitungan ini... ini adalah murni gen Adhitama.'
Ia tidak bisa lagi mengelak. Leo bukan sekadar anaknya secara biologis, anak ini adalah replika sempurna dari dirinya sendiri dalam versi yang jauh lebih genius di usia yang sangat belia.
"Tapi Leo," Alana menyela dengan suara berbisik, napasnya terdengar lelah karena harus merangkak.
"Jika kita keluar lewat saluran limbah timur, kita akan terjebak di luar pagar tanpa kendaraan di tengah badai seperti ini. Kita tidak bisa berjalan kaki dengan kondisi fisikmu."
"Tenang saja, Mommy," sebuah senyuman licik yang sangat familier bagi Devran terukir di wajah Leo.
"Om seram ini punya koleksi motor prototipe edisi terbatas di garasi kecil samping, kan? Yang kuncinya disembunyikan di balik bingkai foto keluarga di ruang kerjanya?"
Devran nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Bagaimana kamu bisa tahu tempat penyimpanan kunci itu?!"
"Aku melacak sensor RFID yang tertanam di dalam kunci itu lewat jaringan bluetooth lokal sebelum mereka mematikan servernya, Om," jawab Leo dengan nada bosan seolah hal itu adalah hal yang sangat sepele.
"Dan aku sudah mengaktifkan sistem pengunduhan mesin darurat dari jarak jauh. Motor itu sekarang sudah menyala dalam silent mode di balik semak-semak gerbang timur. Kita hanya perlu keluar, naik, dan pergi dari sini."
Alana menatap Devran dalam kegelapan lorong, dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ada rasa aman yang aneh yang menyelimuti hatinya, bukan hanya karena kekuatan Devran, melainkan karena kejeniusan putra mereka sendiri.
"Kamu benar-benar luar biasa, Leo," bisik Alana penuh haru, mengusap punggung anaknya dari belakang.
"Tentu saja, Mommy. Leo kan anak Mommy yang paling pintar," sahut Leo, namun sedetik kemudian ia melirik Devran lewat celah matanya.
"Dan mungkin... sedikit warisan genetik dari Om kaku ini agar adil."
Devran terkekeh rendah, suara tawa yang sarat akan rasa bangga yang meledak-ledak di dadanya. Ia merayap lebih dekat, menepuk bahu mungil Leo dengan lembut.
"Ayo selesaikan pelarian ini, Leo. Setelah kita keluar dari sini, aku akan mengajarimu cara mengendarai motor prototipe itu yang sebenarnya."
"Setuju! Tapi Om seram yang bayar biaya bensinnya seumur hidup ya!" balas Leo nakal.
"Apapun untukmu, Nak," ujar Devran dengan nada suara yang penuh rasa hormat yang mendalam.
Mereka pun melanjutkan pergerakan, merayap di sepanjang pipa-pipa besi mendingin, bersiap menerobos keluar ke arah badai yang bergolak di luar sana.