saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. janji 2 tahun
Hari pertunangan akhirnya tiba. Rumah orang tua Zahra sudah dihias sederhana namun rapi, dipenuhi bunga-bunga segar dan aroma masakan khas yang menggugah selera. Kerabat dekat dari kedua belah pihak mulai berdatangan, membawa senyum hangat dan doa tulus. Tak ada kemewahan berlebihan, hanya kehangatan silaturahmi yang menyatukan dua keluarga yang dulunya sempat terjalin dalam kisah yang rumit, kini berdiri berdampingan dengan penuh rasa hormat.
Zahra duduk di kamar, dibantu oleh Ibu dan sepupu-sepupunya merapikan pakaian serta riasan sederhana yang menonjolkan kecantikan aslinya. Hatinya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena bahagia yang tak terlukiskan. Ia teringat perjalanan panjang yang telah dilalui dari persahabatan yang retak, rahasia yang menyakitkan, perpisahan, hingga akhirnya sampai di momen ini.
“Kau cantik sekali, Nak,” bisik Ibu sambil mengusap bahu putrinya. “Ayahmu saja tadi sampai berkaca-kaca melihatmu.”
Zahra tersenyum haru, menahan air mata bahagia. “Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah selalu mendukungku.”
Tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan berhenti di depan. Rendra turun dengan pakaian yang rapi dan sopan, wajahnya bersinar namun tetap tenang. Di belakangnya ada Ibu Rendra serta kerabat yang membawa seserahan dengan penuh penghormatan. Saat melangkah masuk ke rumah, pandangan Rendra langsung mencari sosok Zahra. Begitu mata mereka bertemu, seolah dunia di sekitar mereka berhenti berputar sejenak hanya ada keyakinan dan kasih sayang yang mengalir di antara tatapan itu.
Prosesi berlangsung khidmat. Setelah salam dan pembukaan, wakil keluarga Rendra kembali menyampaikan niat baiknya secara resmi. Kemudian tibalah momen yang paling ditunggu: pertukaran cincin. Dengan tangan sedikit bergetar namun mantap, Rendra menyelipkan cincin pertunangan di jari manis Zahra.
“Terima kasih sudah menungguku dan mempercayaiku,” bisik Rendra pelan namun terdengar jelas oleh Zahra. “Aku berjanji akan menjagamu mulai detik ini sampai nanti.”
Zahra hanya mampu mengangguk sambil tersenyum bahagia, air mata keharuan menetes perlahan. Kini, secara resmi ia adalah tunangan Rendra.
Suasana sempat riuh dengan ucapan selamat dan doa, namun saat semua kembali duduk tenang untuk pembicaraan ringan, Ibu Rendra berdiri perlahan dengan wajah yang sedikit serius namun penuh rasa hormat.
“Bapak, Ibu sekalian yang kami muliakan, serta seluruh hadirin yang berbahagia,” buka Ibu Rendra dengan lembut. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas penerimaan yang begitu tulus dari keluarga besar Zahra. Hati kami terasa damai sekali hari ini. Namun ada satu hal yang ingin kami sampaikan dengan rendah hati, sebelum kita mengakhiri pertemuan ini.”
Semua mata tertuju pada Ibu Rendra. Rendra sendiri duduk tegak, siap menyampaikan alasan yang sudah ia persiapkan matang-matang bersama ibunya.
“Kami memohon izin dan kerelaan hati Bapak serta Ibu Zahra,” lanjut Ibu Rendra. “Kami memohon waktu selama dua tahun sebelum nanti pelaksanaan pernikahan dilangsungkan.”
Permohonan itu sontak membuat suasana sejenak hening. Beberapa tamu saling berpandangan, dan Ayah Zahra tampak sedikit terkejut namun tetap tenang.
“Dua tahun?” tanya Ayah Zahra pelan untuk memastikan. “Bukan maksud kami mempersulit, tapi biasanya waktu persiapan tidak selama itu. Apakah ada kendala atau hal yang kami tidak ketahui?”
Rendra maju selangkah, menatap Ayah dan Ibu Zahra dengan pandangan yang tulus dan penuh tanggung jawab.
“Bapak, Ibu... alasan ini murni datang dari keinginan saya sendiri,” ujar Rendra dengan suara mantap. “Saya tidak ingin menikahi Zahra hanya karena sudah waktunya atau karena kita terburu-buru. Saya ingin mempersiapkan segalanya dengan matang. Selama dua tahun ke depan, saya akan bekerja lebih keras lagi, mengumpulkan tabungan, menyiapkan tempat tinggal yang layak, serta memantapkan usaha saya agar nanti saat saya menjemput Zahra, saya sudah benar-benar siap menjadi kepala rumah tangga yang mandiri.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Zahra sekilas sebelum kembali menatap orang tua gadis itu:
“Saya tahu Bapak dan Ibu mungkin bisa mengerti bagi saya, Zahra adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Saya ingin memberikan yang terbaik untuknya. Saya tidak ingin dia hidup serba kekurangan atau harus bersusah payah memulai hidup dari nol bersama saya. Saya ingin memastikan saat saya mengucapkan janji suci nanti, saya sudah mampu menafkahi, memenuhi kebutuhannya, dan memberinya kehidupan yang layak tanpa harus menyusahkan orang lain. Itulah cara saya mencintai dan menghormati putri Bapak dan Ibu.”
Ibu Zahra memandang suaminya, lalu kembali menatap Rendra. Ada rasa haru melihat betapa besarnya rasa tanggung jawab yang dipikul oleh pemuda itu.
“Kami mengerti maksudmu, Ren,” kata Ibu Zahra lembut. “Kami tidak meminta kau kaya raya. Tapi kami sangat menghargai niatmu yang begitu serius dan berpikir jauh ke depan. Itu menunjukkan bahwa kau bukan hanya sekadar ingin memiliki, tapi juga siap bertanggung jawab sepenuhnya.”
Ayah Zahra mengangguk pelan, perlahan keraguan yang sempat muncul hilang digantikan oleh rasa bangga.
“Dua tahun itu waktu yang cukup lama, Nak. Tapi jika itu yang kau butuhkan untuk memantapkan diri, kami tidak melarang. Justru kami merasa tenang melihat kau berpikir sejauh itu demi masa depan putri kami,” ujar Ayah Zahra dengan suara tegas namun hangat. “Satu-satunya pesan kami: jangan pernah kau berubah hati. Gunakan waktu ini untuk bekerja keras dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Kami percaya padamu.”
Mendengar izin itu, beban berat di hati Rendra terangkat seketika. Ia merasa sangat dihargai dan dipercaya.
“Terima kasih banyak, Bapak, Ibu. Terima kasih atas kepercayaan yang begitu besar. Saya janji akan menggunakan waktu dua tahun ini sebaik-baiknya, dan akan menjaga hati Zahra sepenuhnya selama masa pertunangan ini. Saya tidak akan mengecewakan kalian,” janji Rendra tulus.
Zahra yang mendengar semuanya merasakan betapa beruntungnya ia. Rendra tidak ingin terburu-buru mengikatnya secara sah hanya karena perasaan yang meluap, melainkan ingin memastikan ia bisa memberikan kehidupan yang terjamin. Itu adalah bentuk cinta yang paling dewasa dan bertanggung jawab.
Setelah kesepakatan itu disepakati bersama, suasana kembali riuh dengan doa dan ucapan dukungan. Kerabat menyadari bahwa penundaan pernikahan ini bukan tanda ketidaksiapan, melainkan tanda keseriusan yang luar biasa.
Acara pertunangan ditutup dengan doa bersama yang mengharapkan kelancaran usaha Rendra, kesetiaan hati keduanya, dan kemudahan segala urusan hingga hari pernikahan tiba dua tahun kemudian.
Saat acara selesai dan tamu mulai pulang, Rendra sempat duduk sebentar berdua dengan Zahra di beranda belakang. Angin sore berhembus lembut menyapa mereka yang kini telah resmi bertunangan.
“Maafkan aku kalau harus menunggu lebih lama,” ujar Rendra menggenggam tangan Zahra. “Aku hanya ingin kau bahagia dengan tenang nantinya.”
Zahra tersenyum lembut, mengusap punggung tangan kekasihnya. “Aku tidak keberatan menunggu berapa pun lamanya, Mas. Justru aku semakin bangga padamu. Kau membuktikan bahwa kau mencintaiku dengan cara yang paling bertanggung jawab. Dua tahun itu bukan waktu yang lama jika dihabiskan untuk mempersiapkan masa depan kita bersama.”
Rendra mencium punggung tangan Zahra dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. “Tunggu aku, sayang. Dua tahun lagi aku akan datang menjemputmu dengan segalanya yang sudah siap. Dan saat itu tiba, tak ada lagi yang bisa memisahkan kita.”
Di bawah langit yang mulai memerah senja, dua hati itu berjanji untuk saling menjaga kesetiaan, saling mendoakan, dan berjuang bersama-sama meski terpisah kesibukan sampai janji pertunangan itu berbuah menjadi ikatan pernikahan yang abadi.