Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
Kos-kosan dinding triplek itu mendadak gempar oleh satu aroma yang mustahil. Wangi mawar premium yang begitu pekat mendadak menguar, seolah ada ratusan buket bunga segar yang baru saja diperas di dalam lorong sempit yang biasanya berbau bumbu dapur dan asap rokok tersebut. Beberapa penghuni kos yang baru bersiap berangkat kerja sempat melongokkan kepala keluar kamar, mengendus udara dengan kening berkerut heran.
Sementara itu, di dalam kamar mandi umum yang pengap di ujung lorong, Alin Hanindya membeku dengan sikat gigi masih menancap di mulutnya. Wajahnya yang semula kusam dan dipenuhi jerawat batu kini memerah padam sampai ke telinga. Jantungnya bertalu hebat melawan dinding dadanya.
Ia baru saja melepas gas lambungnya—alias kentut—dengan suara yang cukup nyaring akibat perutnya yang kembung.
"Kok... wangi?" gumam Alin setelah beberapa detik terpaku. Suaranya bergetar, tercekat di tenggorokan.
Ia mencoba mengendus udara di sekitarnya sekali lagi, memastikan indra penciumannya tidak sedang rusak. Ini benar-benar gila. Biasanya, perutnya yang ringkih karena keseringan makan mi instan dan makanan sisa rumah makan selalu menghasilkan bau gas yang membuat orang mengumpat. Tapi pagi ini, aromanya begitu mewah dan elegan. Wangi itu terasa sangat nyata, mengalahkan parfum ratusan ribu milik Ibu kos yang paling mahal sekalipun.
Sebelum Alin sempat mencerna keanehan medis tersebut, sebuah rasa panas yang membakar tiba-tiba menjalar dari ulu hatinya. Rasa panas itu bergerak cepat seperti cairan lava, naik ke dada, mencengkeram lehernya, lalu meledak ke seluruh pori-pori kulitnya. Alin menjerit tertahan. Kedua tangannya spontan mencengkeram leher yang terasa tercekik. Ia ambruk ke lantai semen yang dingin, menggeliat menahan rasa sakit yang tidak tertahankan. Tubuhnya gemetar hebat, dan keringat dingin mulai bercucuran.
Bfffttt!
Seiring dengan embusan asap tipis transparan yang keluar dari pori-pori tubuhnya, rasa panas membakar itu mendadak hilang tanpa bekas.
Sensasi itu berganti dengan rasa sejuk yang luar biasa meneduhkan, seolah seluruh tubuhnya baru saja dibasuh oleh es murni. Alin terengah-engah di atas lantai semen, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat meremang.
Saat ia mendongak untuk membasuh wajahnya di wastafel, matanya tidak sengaja menangkap pantulan bayangan di sebuah pecahan cermin retak yang digantung di dinding lembap itu. Alin tersentak mundur hingga punggungnya membentur pintu kayu dengan keras.
"I-ini siapa?!" pekik Alin dengan suara tertahan.
Gadis di dalam pecahan cermin itu memiliki kulit seputih susu yang merona sehat, memancarkan kilau alami yang mustahil didapatkan dari perawatan klinik kecantikan mana pun.
Jerawat-jerawat meradang yang selama tiga tahun ini bersarang di wajahnya—yang membuatnya menjadi samsat perundungan paling empuk oleh teman-teman di SMP—kini lenyap tanpa bekas.
Bahkan, tidak ada satu pun flek hitam atau bekas luka yang tersisa. Tulang pipinya tampak lebih tegas dan proporsional, sepasang matanya jernih bak air telaga terdalam, dan bibirnya yang semula pecah-pecah kini sewarna buah ceri yang matang.
Ia tidak lagi terlihat seperti Alin si "Mutiara Dekil" yang selalu menunduk tumpat. Gadis di dalam cermin retak itu adalah seorang dewi, bidadari yang seolah sengaja diturunkan dari khayangan.
Otak Alin langsung berputar cepat, melompati ingatan mundur ke kejadian dua puluh empat jam yang lalu. Ia mengingat kembali hari kelulusannya yang menyedihkan, hari di mana ia hanya bisa memandang sepatu usangnya yang berdebu di taman kota. Ia juga mengingat tabrakan tidak sengaja dengan Nenek Tari di dekat gang kosannya, serta bagaimana ia merelakan satu-satunya nasi bungkus miliknya untuk nenek yang kelaparan itu.
Lalu, matanya terpejam saat mengingat benda terakhir yang diberikan sang nenek: sebongkah ubi jalar misterius berukuran besar yang ia rebus semalam karena perutnya yang kelaparan tak punya uang lagi.
“Jangan ditolak, Cu. Ini rezeki untuk gadis baik sepertimu. Makanlah ubinya,” suara parau Nenek Tari yang mendadak hilang misterius di halte itu kembali terngiang, bergema berulang-ulang di kepala Alin.
Alin meraba pipinya yang kini terasa sehalus sutra dengan jemari yang masih gemetar. "Ubi itu... ubi apa sebenarnya? Kenapa wajahku bisa berubah jadi seperti ini?" bisiknya pada kesunyian.
Tok! Tok! Tok!
"Alin! Kamu mati di dalam ya?! Lama banget! Gantian, aku sudah telat!"
Gedoran kasar di pintu membuyarkan lamunan Alin. Itu suara Mbak Ranti, tetangga kos sebelah yang bekerja sebagai buruh cuci di perumahan depan. Suara gedoran itu terdengar sangat tidak sabaran, disusul oleh hentakan kaki yang menghentak-hentak lantai lorong.
Kepanikan baru yang lebih besar langsung melanda Alin. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan perubahan instan yang ekstrem ini kepada orang lain?
Orang-orang di kosan ini pasti akan mengiranya melakukan pesugihan, memakai susuk, atau melakukan operasi plastik ilegal dalam semalam. Logika manusia tidak akan pernah bisa menerima transformasi magis seperti ini.
Dengan gerakan panik, Alin menyambar handuk loak miliknya yang tergantung di dinding. Ia melilitkannya ke kepala dengan asal, menarik kainnya ke bawah hingga menutupi sebagian besar dahi, pipi, dan hidungnya, hanya menyisakan sepasang matanya yang kini terlihat sangat jernih. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya, Alin membuka selot pintu kamar mandi.
"Maaf, Mbak Ranti... perutku agak tidak enak tadi," ucap Alin pelan, mencoba meniru suara seraknya yang biasa.
Mbak Ranti yang sudah membuka mulut dengan dahi berkerut, siap menyemburkan rentetan omelan kasar, mendadak bungkam seketika. Kalimat makian yang sudah di ujung lidahnya tertahan begitu saja di tenggorokan. Matanya membelalak sangat lebar menatap Alin.
Perempuan itu melangkah mundur satu tapak, tampak terintimidasi oleh sepasang mata jernih dan aura anggun yang mendadak memancar kuat dari tubuh Alin—gadis yang biasanya selalu berjalan membungkuk dan menyembunyikan wajah dekilnya.
"Kamu... benar Alin?" tanya Mbak Ranti. Suaranya mendadak mengecil, kehilangan nada galak yang biasanya menjadi ciri khasnya.
Kulit wajah Mbak Ranti tampak memucat saat mencium aroma mawar yang semakin tajam menguar dari tubuh gadis di depannya. "Kok... bau kamu wangi sekali? Kamu habis menumpahkan satu botol parfum ya? Mahal banget baunya."
"E-enggak pakai apa-apa, Mbak! Permisi, aku duluan!" Alin tidak berani menjawab lebih lama. Ia langsung melesat secepat kilat melewati Mbak Ranti, berlari kecil menyusuri lorong sempit, lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Alin bersandar lemah di balik pintu tripleknya, memandangi ruangan berukuran dua kali dua meter yang pengap tersebut.
Ruangan yang selama ini menjadi saksi isu kemiskinannya, tempat ia meratapi nasibnya yang yatim piatu dan menahan lapar setelah lelah bekerja mencuci piring di rumah makan.
Di sudut kasur busanya yang sudah kempes di bagian tengah, sebuah amplop cokelat besar berlogo SMA Garuda tergeletak rapi. SMA Garuda adalah sekolah elit paling tersohor di kota itu, tempat di mana anak-anak konglomerat, selebriti, dan pejabat berkumpul.
Alin berhasil menembus sekolah itu hanya karena otaknya yang encer, memenangkan beasiswa penuh yang membebaskannya dari seluruh biaya pendidikan.
Kemarin, saat merenung di bangku taman, ia sempat berdoa dengan amat sangat agar tidak dipertemukan lagi dengan teman-teman SMP yang selalu merundungnya. Ia ingin menjadi sosok yang tidak terlihat, fokus belajar, dan lulus dengan tenang tanpa perlu menarik perhatian siapa pun.
Namun sekarang, dengan perubahan fisik yang terlampau sempurna ini, Alin tahu impiannya untuk hidup tenang telah hancur. Masih ada waktu satu minggu lagi sebelum masa orientasi siswa baru dimulai.
Tujuh hari. Waktu yang terasa seperti bom waktu bagi Alin. Bagaimana dia bisa bertahan di kos-kosan ini tanpa ketahuan? Terlebih lagi, sore ini dia harus kembali bekerja di rumah makan untuk menyambung hidup dan mengisi dompetnya yang tinggal menyisakan selembar uang sepuluh ribu rupiah.
Alin menatap amplop SMA Garuda dengan tatapan bimbang. Wajah barunya bukan lagi sekadar cantik; wajah ini adalah jenis kecantikan yang bisa memicu konflik, membuat orang menoleh dua kali, dan mengundang bahaya.
Alin meremas ujung kaos oversize usangnya dengan cemas. Sambil memandang sisa ubi rebus di atas piring plastik kecil yang berbau manis mawar, ia bergumam pelan, "Bagaimana caranya aku menyembunyikan wajah ini selama satu minggu ke depan?"