Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Mobil berjalan perlahan menembus jalanan kota yang mulai sepi, hanya tersisa cahaya lampu jalan yang berkedip pelan menerangi kaca jendela. Di dalam keheningan yang damai itu, Cindy melirik sekilas ke arah Dian yang duduk bersandar lembut ke pinggiran kaca, lalu perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu kakak iparnya dengan sikap manja dan penuh kasih sayang.
“Mbak Dian sungguh cantik sekali hari ini… rasanya pasti sangat indah ya, akhirnya bisa bersanding selamanya dengan Kakak Joshua?” bisiknya pelan, matanya menatap wajah Dian dengan pandangan yang penuh kekaguman tulus. “Katakanlah padaku, apakah Mbak benar‑benar merasa bahagia sekarang?”
Dian tersenyum lembut, senyum yang terlihat damai namun ada sedikit keraguan samar di sana. Matanya sedikit menerawang ke luar jendela seolah sedang menyusun kembali segala perasaannya sendiri. “Sangat bahagia, Cindy… rasanya seolah segala harapan yang telah lama kusimpan dalam hati akhirnya terwujud menjadi kenyataan yang nyata. Dan kebahagiaanku ini makin bertambah besar, karena kini aku juga memiliki adik sebaik dan selembut hatimu.”
Wajah Cindy seketika memerah merona mendengar pujian itu, ia tersenyum malu‑malu sambil membenamkan sebagian wajahnya ke bahu Dian. Namun tak lama kemudian ia kembali mengangkat kepalanya, senyumnya perlahan memudar digantikan raut wajah yang tampak sedikit bingung dan bertanya‑tanya.
“Tapi Mbak… ada satu hal yang membuatku heran. Dari awal upacara dimulai hingga selesai sepenuhnya, aku sama sekali tidak melihat kehadiran Mas Emil di antara para tamu. Apakah Mbak lupa atau memang tidak mengundangnya?”
Dian menghela napas panjang dengan lembut, seberkas kesedihan samar menyelinap di balik pandangannya. “Aku pun sama herannya denganmu, Cindy. Padahal aku sudah menelepon dan mengirim pesan undangan kepadanya dengan sangat baik dan sopan. Dia adalah satu‑satunya sahabat dekatku yang tinggal di kota ini, sedangkan teman‑teman yang lain semuanya berada jauh di luar negeri… rasanya ada kekosongan dan kesepian sedikit di hati karena dia tidak datang di hari yang seharusnya paling indah ini.”
Cindy pun ikut memasang wajah sedikit cemberut karena kecewa. “Aku juga sangat berharap bisa bertemu dengannya hari ini. Sebenarnya aku sudah menantikannya sejak pagi tadi, berharap bisa menyapanya kembali.”
Dian perlahan menoleh ke arahnya, menatap gadis muda di sampingnya dengan pandangan yang lembut namun penuh pemahaman yang mendalam. “Kau masih sangat menyukainya, bukan? Rasa itu belum hilang sama sekali?”
Wajah Cindy makin bersemu merah, senyumnya berubah menjadi senyum malu‑malu yang manis namun tulus sepenuhnya dari hati. “Dulu Mbak pernah menasihatiku agar berusaha perlahan melupakan rasa itu… tapi aku sungguh tak tahu caranya melakukannya. Justru seiring berjalannya waktu, rasa kagum dan rasa sayangku kepadanya makin bertambah besar setiap harinya. Itulah sebabnya aku sangat berharap bisa melihatnya lagi hari ini.”
Dian mengangguk pelan, hatinya terasa sedikit berat menahan sesuatu yang tak bisa diucapkan. Ia tahu betul apa yang tersimpan di hati gadis itu—namun ia juga menyimpan rahasia pahit yang tak boleh ia ungkapkan kepada siapa pun: Emil sebenarnya menyimpan perasaan cinta yang jauh lebih dalam kepadanya sendiri, dan mungkin itulah satu‑satunya alasan utama ia memilih menjauh saat mengetahui Dian akan bersanding dengan orang lain.
“Kau sangat tulus menyayanginya ya,” ucap Dian lembut sambil mengusap pelan rambut halus di kepala Cindy. “Dia memang orang yang berhati mulia, bijaksana dalam bertindak, dan sangat setia pada apa pun yang dipegangnya. Siapa pun nanti yang dicintainya dengan tulus pasti akan menjadi orang yang sangat beruntung di dunia ini.”
“Benarkah begitu?” Mata Cindy kembali berbinar penuh harapan yang cerah. “Kalau begitu… apakah mungkin saja dia juga memiliki perasaan yang sama kepadaku, meski sedikit saja?”
Dian menelan ludah perlahan, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang, lembut, dan menenangkan hati adik iparnya itu. “Siapa yang bisa benar‑benar memastikan apa yang ada di dalam hati seseorang? Mungkin saja ada rasa sayang yang perlahan tumbuh dan berkembang di hatinya juga. Emil adalah orang yang pandai sekali menyimpan rahasia dan perasaannya sendiri, jadi belum tentu kita bisa melihat apa yang sebenarnya ia rasakan. Yang paling penting dari segalanya: biarlah rasa sayangmu itu tetap tulus dan indah; tunjukkanlah seberapa besar hati yang kau miliki kepadanya.”
Ia berbicara demikian hanya demi menjaga harapan dan kebahagiaan hati gadis itu, meski di lubuk hatinya sendiri ia sadar sepenuhnya akan kebenaran yang menyakitkan itu.
“Kalau begitu… aku akan tetap menunggu dan berusaha menjadi orang yang paling baik, berapa lama pun waktu yang harus kulewati,” jawab Cindy dengan nada yang mantap sambil kembali tersenyum bahagia.
Dian hanya tersenyum tipis dan mengangguk perlahan, lalu kembali mengelus lembut kepala gadis itu. Di dalam hatinya yang paling dalam, ia berjanji akan selamanya menjaga rahasia itu sendirian, demi menjaga kedamaian dan kebahagiaan hati Cindy—meski ia sendiri harus memikul beban berat itu selamanya tanpa ada yang tahu.
Semoga saja Emil bisa segera menghilangkan rasa cintanya kepadaku… pikirnya dalam hati.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah kediaman baru mereka. Cindy turun lebih dulu, lalu membukakan pintu kamar pengantin yang harum semerbak bunga melati itu dengan perlahan. Ia mendorong Dian masuk ke dalam ruangan yang telah dihias indah itu dengan senyum lembut penuh kasih sayang.
“Sudah sampai tempat istirahatmu yang paling nyaman dan indah, Mbak. Sekarang Mbak bisa beristirahat dengan tenang di sini,” ucapnya pelan sambil merapikan sedikit ujung gaun pengantin yang menjuntai panjang di atas lantai. “Segera lepaskan pakaian ini dan ganti dengan yang lebih santai ya, aku tahu hari ini Mbak pasti sangat lelah berdiri dan tersenyum sepanjang waktu.”
Dian mengangguk pelan sambil tetap tersenyum lembut, matanya sedikit berkaca‑kaca karena rasa haru mendalam. Ia merangkul bahu gadis itu sejenak dengan erat. “Terima kasih banyak, Cindy… terima kasih sudah ada di sisiku dan membantuku sepanjang hari ini. Kehadiranmu benar‑benar menjadi penenang hati yang paling besar bagiku.”
“Kami semua sangat bahagia melihat Mbak akhirnya mendapatkan kebahagiaan ini,” jawab Cindy sambil tersenyum malu. “Kalau begitu aku pamit pulang ke kamarku dulu ya, biarkan Mbak dan Kak Joshua menikmati waktu berdua dengan tenang nanti. Istirahatlah dengan nyaman.” Ia melambaikan tangan pelan sebelum perlahan menutup pintu kamar dari luar dengan lembut.
Dian berjalan perlahan menuju meja rias di sudut ruangan, melepaskan satu per satu perhiasan dan aksesoris di rambutnya, lalu mengganti gaun berat itu dengan baju tidur yang lembut berwarna krem. Ia duduk di tepi ranjang besar yang empuk itu sambil menunggu, hatinya berdebar campur antara rasa harap‑harap cemas menanti kehadiran suaminya.
Waktu berlalu berjalan perlahan, satu jam berlalu, dua jam pun berlalu… namun ruangan itu tetap sunyi senyap, pintu kamar tidak pernah terbuka sedikit pun, dan suara langkah kaki di lorong luar pun tak pernah terdengar sama sekali.
Mata Dian mulai terasa sayu, rasa cemas dan bingung perlahan mulai merayap masuk ke dalam dadanya. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin besar di hadapannya—senyum bahagia yang tadi terasa begitu nyata di bibirnya kini perlahan mulai memudar, perlahan digantikan oleh rasa kesunyian yang terasa menusuk hingga ke hati.
Dian bertanya‑tanya berulang kali di dalam hatinya: apakah ada urusan penting yang menahan suaminya di tempat lain? Atau apakah ada hal yang belum selesai dikerjakannya? Namun rasa lelah yang menumpuk seharian penuh—berdiri lama, tersenyum menyapa tamu, dan mengikuti seluruh rangkaian upacara—perlahan mulai menguasai seluruh tubuhnya. Matanya terasa makin berat, kepalanya pun mulai terasa pening dan mengantuk.
Perlahan ia berbaring di atas kasur yang empuk itu, menarik selimut lembut hingga sebatas bahunya, masih sesekali melirik ke arah pintu dengan harapan yang makin lama makin menipis. Tanpa disadarinya, kelopak matanya akhirnya tertutup rapat, napasnya menjadi perlahan dan teratur. Akhirnya, di tengah keheningan malam yang sunyi itu, Dian pun tertidur pulas sendirian, masih menanti kehadiran suaminya yang belum juga muncul hingga ia terlelap.