NovelToon NovelToon
Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.

Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.

Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.

"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.

Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Blender yang Rusak, Undian Palsu, dan Tangan yang Pegal

Siang itu, Sukaasih sedang panas-panasnya, seolah-olah matahari sengaja dipasang tepat di atas atap seng kedai Kopi Karsa. Pelanggan sedang cukup ramai, mayoritas adalah mahasiswa yang butuh asupan minuman dingin untuk bertahan dari hawa gerah.

Di balik meja bar, Ghea sedang panik setengah mati.

BZZZZT! ASAP... ASAP!

Suara mesin blender tua milik Ghea terdengar seperti babi hutan yang sedang mengamuk, sebelum akhirnya mengeluarkan kepulan asap putih berbau gosong plastik. Blender itu mati total, menyisakan setengah potongan es batu dan bubuk cokelat yang belum hancur di dalamnya.

"Aduh! Jangan sekarang dong, please..." bisik Ghea frustrasi. Dihentakkannya tombol daya berkali-kali, tapi blender murah yang dia beli saat pertama kali merintis kedai itu benar-benar telah mengembuskan napas terakhirnya.

Padahal, pesanan es kopi blender cokelat sedang menumpuk. Mau tidak mau, demi profesionalitas, Ghea terpaksa mengambil pemecah es manual dan mulai menghancurkan es batu secara manual di dalam gelas wadah sebelum mengocoknya sekuat tenaga menggunakan shaker.

Proses manual ini memakan waktu tiga kali lebih lama dan menguras tenaga fisiknya. Ghea terus mengocok minuman dengan napas terengah-engah, hingga pergelangan tangan kanannya mulai terasa ngilu dan memerah.

Ghea menggigit bibir bawahnya menahan pegal, matanya sesekali melirik sedih ke arah laci kasir tempat ia menyimpan sisa uangnya yang kini kosong melompong gara-gara biaya sewa jas darurat untuk Arkan kemarin malam.

Sialan. Gara-gara si tiang listrik sombong itu, uang blender gue melayang, batin Ghea dongkol, meski di dalam hatinya ada secercah rasa hangat karena tahu Arkan berhasil mengamankan kontrak besarnya semalam.

Dari balik jendela kaca garasi sebelah, Arkan sedang bersandar di pintu pikap hitamnya sambil menenggak air mineral dingin. Pandangan lempengnya tertuju lurus ke arah meja bar Kopi Karsa.

Dia memperhatikan gerakan Ghea. Dahinya berkerut saat melihat Ghea berkali-kali mengibaskan tangan kanannya yang tampak gemetar karena kelelahan, lalu memijat lembut pergelangan tangannya sendiri dengan wajah meringis kesakitan. Arkan juga melihat sebuah blender rusak yang diletakkan pasrah di sudut meja belakang.

Arkan terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada ucapan ketus Ghea kemarin pagi yang mengejeknya berpenampilan seperti "sales perumahan", padahal semalam penampilannya berubah drastis karena blazer premium yang tiba-tiba dikirimkan panitia hotel secara "gratis".

Ingatan Arkan berputar cepat. Fasilitas gratis dari hotel bintang lima untuk pengusaha reguler berkarisma? Itu sama sekali tidak masuk akal. Ditambah lagi, ukuran bahu blazer itu sangat pas dengan tubuhnya, seolah-olah sudah diukur dengan sangat presisi. Dan yang paling mencurigakan... bahan jas wol wol premium itu sangat mahal, tidak mungkin disewakan gratis tanpa deposit besar.

Arkan melirik ke arah Ghea yang sekarang sedang memijat pundaknya dengan wajah kelelahan.

Dasar manja bodoh. Uang blender lo yang lo pakai buat sewa jas itu, kan? batin Arkan.

Dada Arkan berdenyut tidak nyaman, ada rasa bersalah sekaligus rasa hangat yang luar biasa besar merayapi hatinya. Namun, Arkan tetaplah Arkan; dia tidak akan pernah pergi menemui Ghea dan berkata, "Makasih ya udah sewain jas." Itu akan menghancurkan dinding ego mereka yang sudah berdiri kokoh selama bertahun-tahun.

Arkan merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya, lalu menatap pesan masuk dari m-banking-nya. Saldo rekening Arka-Logistics baru saja menerima pembayaran uang muka (down payment) yang sangat besar dari CV Suka Maju di Kirana.

Arkan tersenyum tipis, lalu segera berjalan menuju pikap hitamnya dan melaju pergi meninggalkan ruko.

Sore harinya, sekitar pukul empat.

Ghea sedang duduk lemas di kursi plastik kedainya, menempelkan sekantong es batu pada pergelangan tangan kanannya yang bengkak karena terlalu banyak mengocok minuman secara manual.

Tiba-tiba, sebuah mobil boks pengiriman barang dari toko elektronik besar di Kirana berhenti di depan kedainya. Seorang kurir turun sambil membawa sebuah kardus besar yang masih tersegel rapi.

"Permisi, dengan Neng Ghea pemilik Kopi Karsa?" tanya kurir itu ramah.

Ghea mengernyit bingung, menurunkan kantong es dari tangannya. "Iya, betul dengan saya sendiri. Ada apa ya, Mas?"

"Ini ada kiriman paket besar untuk Neng Ghea," ucap kurir tersebut sambil meletakkan kardus itu di atas meja kayu.

Ghea menatap kardus itu dengan mata membelalak. Di bagian luar kardus, tertera gambar sebuah blender komersial premium berdaya tinggi merek Vitamix-Pro—blender impian Ghea yang selama ini hanya bisa dia lihat di brosur toko elektronik karena harganya yang mencapai empat juta rupiah!

"Mas, sori... kayaknya Mas salah alamat deh," kata Ghea panik. "Saya gak pernah beli blender semahal ini. Jangankan beli, uang saya aja gak cukup buat bayar ongkirnya sekarang."

Kurir itu tertawa kecil, lalu menyodorkan lembar tanda terima. "Gak salah alamat kok, Neng. Di sini tertulis jelas: Penerima: Kopi Karsa Sukaasih. Ini adalah hadiah program 'Kirana Supplier Appreciation' dari kemitraan peternakan susu Pak Dodi di Kirana. Katanya, kedai Neng Ghea terpilih sebagai mitra baru paling potensial bulan ini, jadi berhak mendapatkan hadiah fasilitas operasional gratis."

"Hadiah dari Pak Dodi?" Ghea melongo tidak percaya. "Tapi... saya kan baru tanda tangan kontrak kemarin malam? Kok bisa langsung dapet hadiah blender seharga motor bekas gini?"

"Wah, kalau itu kebijakan dari manajemen Pak Dodi sendiri, Neng. Tugas saya cuma mengantar. Silakan tanda tangan di sini ya," jelas kurir itu dengan sangat lancar—tentu saja karena dia sudah disuap uang seratus ribu rupiah oleh Arkan di toko elektronik tadi siang agar beralasan seperti itu.

Setelah kurir itu pergi, Ghea membuka segel kardus tersebut dengan tangan gemetar. Di dalamnya, sebuah blender komersial baru berwarna hitam mengilap berdiri dengan sangat gagah, lengkap dengan kartu garansi resmi selama tiga tahun.

Ghea memeluk blender baru itu dengan mata berbinar-binar gembira, melupakan rasa sakit di pergelangan tangannya seketika. "Ya ampun! Pak Dodi baik banget! Gue janji bakal pesen susu di peternakan dia seumur hidup!" teriak Ghea bahagia di dalam kedainya yang sepi.

Keesokan paginya.

Ghea sedang sibuk membuat es kopi blender dengan wajah yang sangat cerah. Blender baru pemberian "Pak Dodi" itu bekerja dengan sangat halus, menghancurkan es batu dalam hitungan detik tanpa suara bising sama sekali.

Tiba-tiba, Arkan melangkah keluar dari garasi sebelahnya sambil merapikan kerah kaus hitamnya, memutar kunci pikapnya di jari telunjuk dengan gaya angkuh seperti biasa.

Begitu melihat Ghea yang sedang tersenyum ceria di balik meja bar, Arkan menaikkan sebelah alisnya lempeng.

"Heh, manja," panggil Arkan datar. "Muka lo pagi ini kenapa cerah amat? Kayak habis nemu dompet jatuh di jalan."

Ghea langsung mematikan senyumnya, memasang wajah judes andalannya, lalu melipat kedua tangan di dada dengan gaya menantang.

"Sirik aja lo, tiang listrik!" ketus Ghea bangga. "Lihat nih! Kedai gue dapet blender komersial premium gratis dari mitra bisnis gue di Kirana! Ini namanya karisma pengusaha sukses, gak kayak lo yang palingan cuma dapet bonus kanebo gratisan dari pom bensin!"

Arkan mendengus sinis, melirik blender hitam mahal di atas meja bar Ghea sekilas, sebelum akhirnya menyembunyikan senyum lega dan tulus di dalam dadanya.

"Hadiah gratisan aja bangga," ejek Arkan lempeng. "Palingan itu barang rijek yang gak laku di toko terus dibuang ke kedai lo karena mereka kasihan lihat lo kerja manual sampai tangan lo kayak kepiting rebus."

"Heh! Mulut lo bener-bener minta dicolok kabel blender ya!" semprot Ghea galak, meremas kain lapnya dengan gemas. "Ini barang baru dan paling canggih ya! Dasar sirik!"

"Terserah lo," sahut Arkan santai, lalu berbalik masuk ke dalam kabin pikap hitamnya untuk bersiap melakukan pengiriman harian.

Ghea menjulurkan lidahnya ke arah kepergian mobil Arkan dengan kesal, lalu kembali fokus menatap blender barunya dengan senyuman lebar yang sangat manis, sama sekali tidak menyadari bahwa putaran pisau blender barunya hari ini bisa berputar dengan halus hanya karena separuh dari pembayaran pertama kontrak besar Arkan habis digunakan demi menyelamatkan pergelangan tangannya yang pegal.

Di bawah hangatnya matahari pagi Sukaasih, ego mereka tetap berdiri kokoh di permukaan, sementara di balik bayangan yang sunyi, mereka terus saling menopang satu sama lain tanpa pernah mau mengalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!