PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA DI DINDING KEMATIAN
Ruangan sempit di balik rak buku itu mendadak terasa makin pengap. Primus berdiri mematung, matanya tidak lepas dari selembar foto yang baru saja diambil Alaric dari dinding. Itu foto dirinya sendiri. Diambil dari jarak jauh, secara diam-diam, saat ia sedang berjalan keluar dari markas besar klan beberapa hari lalu.
Yang membuat bulu kuduk berdiri bukan soal ia dimata-matai, tapi tulisan tangan dengan tinta merah menyala tepat di bawah namanya.
Target Berikutnya.
Kalau orang lain yang melihat ini, mungkin mereka bakal menganggapnya cuma becandaan atau teror iseng. Tapi setelah semua rentetan kejadian gila belakangan ini, Primus sudah tidak punya sisa ruang lagi untuk percaya pada yang namanya kebetulan.
Ia mengambil foto itu, meraba kertasnya yang agak kasar, lalu menoleh ke arah si pria tua. "Siapa yang nulis ini?"
Alaric menghela napas pendek. Wajah keriputnya tetap tenang, seolah tidak terganggu dengan tatapan tajam Primus. "Aku."
"Kau?" Primus memastikan sekali lagi. Suaranya sedikit ditekan.
"Iya, aku sendiri," jawab Alaric jujur. Ia tidak berusaha menghindar atau pun kelihatan takut. "Aku sengaja menempelnya di sana supaya tidak lupa."
"Tidak lupa soal apa?"
"Bahwa waktumu mungkin tidak akan lama lagi, anak muda."
Kalimat itu meluncur begitu saja, dingin dan tanpa perasaan. Alaric berjalan pelan menuju jendela kecil di sudut ruangan, menatap gang sempit di luar toko, lalu melanjutkan bicaranya dengan suara parau.
"Polanya selalu sama, Primus. Selama puluhan tahun aku duduk di toko ini, aku sudah melihat siklus yang berulang terus-menerus. Setiap kali ada pewaris yang mulai kelihatan menonjol, setiap kali ada anak muda yang mulai berani mengendus rahasia kotor keluarga... mereka pasti bakal 'dihilangkan' dari permainan."
Primus terdiam sejenak. "Jadi sekarang, giliranku yang masuk daftar antrean mati?"
"Kalau melihat apa yang kau lakukan di Cabang Timur... sepertinya memang begitu," jawab Alaric tanpa basa-basi.
Kalau percakapan ini terjadi seminggu lalu, Primus pasti bakal menganggap Alaric cuma kakek-kakek yang kebanyakan baca buku teori konspirasi. Tapi sekarang beda. Semua potongan kejadian mulai nyambung jadi satu.
Dokumen palsu, penguntit di jalanan, urusan dengan Hector, sampai undangan kapal pesiar Ocean Crown. Semuanya mengarah ke satu titik: ada kekuatan besar yang bergerak di balik bayangan klan Aristokrat. Sesuatu yang sudah melakukan pembersihan ini selama puluhan tahun, mungkin malah sejak klan ini berdiri.
"Kalau memang ada yang sengaja membunuhi mereka, kenapa tidak ada yang melawan?" tanya Primus.
Alaric terkekeh, suara tawanya kering dan kedengarannya pahit. "Tentu saja ada yang melawan. Kau pikir anak-anak muda di dinding ini cuma sekumpulan bocah manja yang pasrah saja?"
Pria tua itu menunjuk beberapa foto di tengah dinding. "Sebagian besar dari mereka yang punya tanda silang merah ini dulunya petarung hebat. Mereka punya strategi matang, punya pasukan sendiri, bahkan ada yang hampir berhasil membongkar siapa dalangnya."
"Lalu?"
"Mereka tetap berakhir mati, Primus. Tanpa kecuali."
Jawaban itu sederhana, tapi justru itu yang bikin nyali orang biasa bakal ciut. Tidak ada harapan, tidak ada celah untuk menang.
Primus mulai berjalan mengelilingi ruangan rahasia itu. Matanya menyapu setiap foto, membaca satu-satu nama dan catatan kecil di bawahnya.
Kecelakaan mobil, tenggelam di danau pribadi, kebakaran rumah, sampai serangan jantung mendadak. Kalau dilihat sekilas, semuanya kelihatan kayak musibah biasa atau masalah kesehatan. Tapi kalau diperhatikan lebih teliti, ada satu hal yang aneh banget. Semua kematian ini terjadi tepat beberapa hari sebelum si korban dapet posisi penting atau mau dilantik jadi pemimpin.
Seolah-olah ada tangan tak terlihat yang memegang tombol 'hapus', menyingkirkan mereka tepat sebelum mereka sempat memegang kekuasaan.
"Ini nggak mungkin kerjaan satu orang sendirian," gumam Primus.
Alaric tersenyum lebar. "Pintar. Otakmu mulai jalan di jalur yang benar."
Primus berhenti melangkah. "Berarti ini semacam organisasi rahasia di dalam keluarga sendiri?"
"Bisa jadi."
"Bisa jadi?" Primus tidak puas dengan jawaban yang mengambang.
Alaric kembali tertawa kecil. "Kadang bentuknya kelompok rahasia. Kadang cuma kesepakatan diam-diam para tetua. Dan di hari yang paling sial, pelakunya bisa saja orang yang paling kau percaya, orang yang sering kau ajak curhat sambil minum teh."
Kalimat terakhir Alaric bikin Primus teringat Vanessa. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba muncul di ulu hatinya, dan Primus benci merasa ragu seperti itu.
"Tapi ada satu hal yang bikin aku penasaran," kata Primus, mencoba mengalihkan pikirannya.
"Apa itu?"
Primus menatap Alaric lurus-lurus. "Kalau semua cerita konspirasi ini benar, dan kau tahu sedalam ini soal kematian mereka... kenapa kau sendiri masih hidup sampai sekarang?"
Ruangan itu mendadak jadi sunyi senyap. Alaric sempat tertegun, menatap Primus lama sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. Ini pertama kalinya Alaric tertawa lepas sampai bahunya terguncang.
"Itu pertanyaan paling cerdas darimu hari ini, Primus," kata Alaric setelah tawanya reda. Ia duduk kembali di kursi kayunya dan menuangkan sisa teh yang sudah dingin.
"Jawabannya gampang. Aku masih napas sampai sekarang karena aku bukan ancaman buat mereka. Aku menyerahkan takhtaku, membuang nama besarku, dan memilih hidup di antara debu buku-buku tua ini. Aku cuma tukang catat, bukan pemain yang ikut taruhan di meja judi."
Meski alasannya masuk akal, insting Primus tetap bilang kalau kakek ini masih menyimpan rahasia besar. Alaric yang sadar sedang dicurigai cuma bisa senyum tipis.
"Jangan lihat aku kayak gitu," katanya sambil menyesap teh. "Memang ada beberapa hal yang belum kubilang padamu."
"Kenapa?"
"Karena kalau kubuka semuanya sekarang," Alaric angkat bahu, "kepalamu bisa meledak karena syok. Dan mungkin kau nggak bakal sempat bertahan hidup sampai minggu depan."
Tepat saat Alaric selesai bicara, ponsel di saku jas Primus bergetar kencang. Nama Marcus Hayden muncul di layar.
Primus langsung mengangkatnya. "Ada apa, Marcus?"
Suara Marcus di seberang sana terdengar sangat panik. Napasnya kedengaran pendek-pendek. "Tuan Muda... kita baru saja dihantam masalah besar."
Primus langsung berdiri tegak. Perasaannya mendadak tidak enak. "Bicara yang jelas. Masalah apa?"
"Tim audit kita... baru saja menemukan bukti transaksi gelap yang sangat jelas soal aliran dana Cabang Timur. Bukti itu ada di dalam satu koper fisik," Marcus menjeda kalimatnya, suaranya gemetar.
"Terus? Bukannya itu bagus?"
"Masalahnya, Tuan Muda... staf ahli yang membawa koper itu baru saja tewas," potong Marcus cepat.
Dada Primus terasa sesak. "Tewas? Gimana bisa?"
"Kecelakaan maut, Tuan Muda. Mobilnya dihantam truk kontainer di jalan lingkar satu jam yang lalu. Dan koper berisi bukti audit itu... hilang dari lokasi."
Suasana di dalam ruangan rahasia itu mendadak jadi sangat dingin. Primus diam seribu bahasa. Matanya menatap deretan foto di dinding. Foto-foto orang yang mati karena kecelakaan, karena serangan jantung, karena alasan-alasan yang dulunya dianggap 'normal'.
Sekarang ia sadar, nggak ada yang normal dalam keluarga ini.
"Tuan Muda? Anda masih di sana?" suara Marcus terdengar cemas di telepon.
Primus memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan diri. Sekarang permainannya sudah jelas. Ini bukan lagi soal kompetisi siapa yang paling hebat, tapi ini soal nyawa. Dan musuhnya baru saja mengirim pesan lewat darah: berhenti menyelidiki atau kau yang berikutnya.
Tapi sayangnya, orang-orang di balik bayangan itu salah pilih lawan. Primus bukan tipe orang yang bisa diancam.
Sebuah senyum tipis, senyum yang sangat dingin, muncul di bibir Primus. "Jangan panik, Marcus. Amankan lokasimu, jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan audit. Aku ke sana sekarang."
Primus menutup teleponnya, lalu menoleh ke Alaric. "Sepertinya saya harus pergi."
Pria tua itu mengangguk pelan, seolah sudah tahu hal ini bakal terjadi. "Ya, silakan. Selesaikan urusanmu."
Tapi pas Primus baru mau melangkah keluar dari celah dinding, suara Alaric kembali menahan langkahnya.
"Primus."
Pemuda itu berhenti, tapi tidak menoleh sepenuhnya. "Apa lagi?"
Tatapan Alaric mendadak jadi jauh lebih serius dari sebelumnya. "Hati-hati sama orang yang mendadak kelihatan terlalu pengen jadi keluargamu."
Primus mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"
Tapi Alaric cuma senyum misterius dan tidak mau menjawab lagi. Entah kenapa, buat Primus, peringatan terakhir kakek tua ini jauh lebih menakutkan daripada semua daftar kematian yang ada di dinding tadi.
Bersambung...