Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sang Putri nakal
Cahaya matahari menelusup dari sela-sela dinding kayu yang renggang, menghunjam tepat ke kelopak mata Zen. Pria itu membuka mata perlahan, lalu meregangkan tubuhnya sejenak. Tidur di tempat seadanya bukan hal baru baginya. Sebagai seorang ksatria, Zen terbiasa beristirahat di medan yang jauh lebih buruk dari ini. Namun, tetap saja, tidur semalam di atas tumpukan kain tua di sudut gubuk kosong di tengah pemukiman warga membuat otot-ototnya terasa sedikit lebih kaku dari biasanya.
Zen menutup matanya dengan sebelah tangan untuk menghalau sinar matahari yang terasa menyilaukan. Semalam, ia sebenarnya sudah menempuh perjalanan cukup jauh meninggalkan bengkel pengrajin kayu itu. Namun, di tengah perjalanan pulang menuju istana, langit Castlewood tiba-tiba menumpahkan hujan yang sangat deras, membutakan pandangan dan mengubah jalanan setapak Distrik Bawah menjadi genangan lumpur yang berbahaya. Tak punya banyak pilihan, Zen terpaksa menepi, mencari perlindungan di gubuk terbengkalai ini daripada harus memaksakan diri menembus badai di tengah kegelapan malam.
"Tangkap dia! Jangan biarkan lolos!"
"Hahaha! Kau terlalu lambat, Leo!"
Suara teriakan melengking dan tawa renyah khas anak-anak dari luar gubuk seketika membuyarkan sisa-sisa kantuk Zen. Ia menyingkirkan lengannya dari wajah, lalu mengarahkan pandangannya ke langit-langit gubuk. Pria itu tidak langsung bangkit. Ia hanya terdiam, mendengarkan deru langkah kaki kecil yang berlarian riang di atas tanah yang masih lembap oleh guyuran hujan semalam.
Tanpa sadar, Zen tertegun. Ia kembali memejamkan mata, membiarkan suara-suara riang itu menggema di telinganya. Entah kenapa, suara tersebut membangkitkan kenangan lama yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.
"Lucy... tunggu aku!"
"Amanda, kau lihat itu? Zen payah sekali.
" Ayo Zen, semangat! Jangan menyerah..."
Zen masih memejamkan mata, membiarkan bayangan masa lalu itu berputar di balik kelopak matanya. Ia seolah ditarik kembali ke usia sepuluh tahun, merasakan perih pada lutut yang lecet dan napas yang terengah-engah saat mengejar dua gadis kecil di tengah hamparan padang rumput yang luas.
Memori manis itu terus berputar, terasa begitu nyata hingga ia seolah dapat mencium aroma rumput liar dan mendengar tawa mereka dengan jelas. Tanpa disadarinya, setitik air mata lolos dari sudut matanya. Butiran bening itu mengalir tipis di pelipis sebelum akhirnya menghilang di antara tumpukan kain tua yang menjadi alas kepalanya.
Sentuhan dingin yang tertinggal di kulitnya membuat Zen tersentak. Matanya seketika terbuka begitu menyadari apa yang baru saja terjadi, ia segera menyeka sisa kelembapan di wajahnya menggunakan punggung tangan dengan gerakan kasar. Bagi ksatria seperti dirinya, emosi semacam itu tidak ada gunanya. Kelemahan seperti itu seharusnya telah terkubur bersama puing-puing masa lalunya.
Zen bangkit perlahan. Ia mengencangkan kembali tali jubah hitamnya yang masih sedikit lembap oleh sisa hujan semalam, lalu meraba saku di balik kain jubah untuk memastikan belati Voltherium itu masih tersimpan aman di tempatnya.
Dengan satu tarikan napas panjang, Zen membuang sisa-sisa emosi yang sempat menyesakkan dadanya. Ia menyingkirkan jauh-jauh bayangan padang rumput itu dari benaknya, lalu melangkah keluar dari gubuk tua tersebut.
Anak-anak yang tadinya riuh seketika terdiam saat sosok tinggi berjubah gelap itu muncul dari dalam gubuk. Beberapa pasang mata kecil memandangnya dengan rasa penasaran, namun Zen mengabaikan semua tatapan itu. Tujuannya saat ini hanya satu. Yaitu, mengisi perut yang mulai kosong di kedai terdekat sebelum kembali ke istana.
...————————————————————...
Zen tengah fokus menyantap sepiring roti gandum dan semangkuk sup kaldu yang masih hangat. Pagi ini ia harus cepat-cepat kembali ke istana, sebab mungkin saja Raja Arthur sudah menanti informasi terbaru darinya.
Sembari mengunyah, pikiran Zen menerawang, kembali mengulas informasi krusial yang ia dapatkan dari pengrajin kayu tua semalam. Ia masih sulit mempercayai fakta bahwa belati semahal dan selangka itu digunakan dalam upaya pembunuhan terhadap Cassia. Di panggung politik yang kotor, intrik pembunuhan memang bukan hal yang janggal. Namun, menjadikan Cassia sebagai target utama tetap saja terasa ganjil di matanya.
Gadis itu memang keras kepala dan kerap bertindak sesuka hati, bahkan sering kali mengabaikan sekat kasta demi merangkul rakyat jelata. Barangkali, kepribadiannya yang terlampau bebas itulah yang memicu rasa tidak suka di kalangan orang-orang tertentu yang masih menjunjung tinggi sebuah jabatan. Padahal, Zen tahu betul bahwa di balik sikap keras kepalanya, Cassia adalah seorang Putri berhati tulus yang memandang semua orang dengan derajat yang setara.
"Kau lihat para penjaga di gerbang perbatasan Distrik Tengah pagi ini? Jumlah mereka berkali-kali lipat lebih banyak dari biasanya," bisik salah satu buruh yang duduk di belakang Zen.
Temannya mendengus sembari menyuap bubur gandumnya. "Kau belum tahu? Aku dengar dari keponakanku yang bekerja di bagian logistik, Putri Cassia lagi-lagi menghilang dari kamarnya sejak subuh tadi."
Buruh pertama justru tertawa kecil, tidak terkejut sama sekali. "Lagi? Itu sudah keberapa kalinya bulan ini? Putri Cassia memang punya bakat jadi penyusup daripada jadi bangsawan. Kasihan sekali para penjaga itu, mereka pasti sedang dikuliti oleh Pangeran Damian sekarang."
Zen menghentikan suapannya sesaat. Tangannya yang memegang potongan roti sedikit mengeras. Cassia kabur lagi?
Ia sudah tahu seberapa keras kepala Cassia. Namun, kabur dari istana dalam situasi seperti ini adalah tindakan yang bahkan sulit dipahami oleh akal sehat. Zen menghela napas panjang dalam hati. Ia bisa memaklumi ketidaktahuan Cassia soal kasus ini, karena memang raja Arthur sengaja merahasiakannya. Hanya saja, jika para buruh pasar saja sudah menjadikannya bahan lelucon seperti ini, berarti sebentar lagi berita ini pasti akan menyebar ke seluruh penjuru kerajaan.
Ia segera menghabiskan makanannya dalam beberapa suapan besar, meletakkan beberapa keping koin di atas meja kayu, lalu bangkit berdiri. Ia harus segera kembali sebelum keadaannya menjadi semakin konyol, atau lebih buruk lagi, sebelum sang Putri benar-benar terjerumus ke dalam masalah besar.
...*************************************...
Di pinggiran permukiman luar yang berbatasan langsung dengan kokohnya tembok luar distrik bawah...
"Sedikit lagi..."
Cassia menahan napas saat tubuhnya perlahan melewati celah sempit di antara dinding belakang sebuah gudang tua. Napasnya tersengal, beberapa helai rambut cokelat keemasannya yang berantakan tampak kotor akibat noda debu yang menempel di tembok batu. Jubah lusuh yang ia pinjam kemarin dari tumpukan logistik pelayan terasa begitu kasar dan gatal di kulitnya.
"Akhirnya!"
Cassia bersorak pelan sembari melompat kecil begitu berhasil meloloskan diri dari celah dinding tersebut. Binar di sepasang mata ungunya tidak dapat berbohong. Sebuah senyum kemenangan terukir lebar di wajahnya. Ia merasa telah memenangkan sebuah pencapaian besar karena lagi-lagi berhasil mengelabui sistem keamanan Castlewood untuk melarikan diri dari kehidupan istana yang membosankan.
Seluruh prajurit istana, terutama Damian yang kaku, pasti sedang kalang kabut mencari dirinya ke seluruh penjuru istana. Mereka tidak akan pernah menyangka bahwa sang Putri telah menemukan jalur pelarian rahasia, sebuah terowongan pembuangan air yang membentang jauh dari bawah istana, melintasi tembok-tembok pembatas distrik, hingga berakhir di wilayah luar Castlewood.
"Aku bukan burung dalam sangkar, Ayah," gumamnya penuh kemenangan.
Dengan langkah ringan dan senyum yang masih mengembang, Cassia mulai berjalan menyusuri jalur setapak yang membatasi area belakang gudang warga dengan wilayah luar Castlewood. Tujuannya hari ini sudah bulat, ia ingin melihat langsung situasi di perbatasan luar yang dibilang tidak kondusif oleh ayahnya.
Namun, baru saja ia berbelok di sebuah persimpangan jalan yang sepi dekat area pemukiman penduduk, langkahnya mendadak terkunci. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sesosok pria tinggi tegap berjalan tepat dari arah berlawanan.
Sosok itu mengenakan jubah hitam. Begitu tudung kepalanya disingkap, sepasang mata biru yang tajam dan dingin langsung menghujam ke arah Cassia.
Cassia langsung membeku. Seolah tidak ada oksigen yang masuk ke paru-parunya.
"Zen...?" cicitnya pelan, nyalinya yang tadi setinggi langit seketika menciut. Kaki kecilnya otomatis melangkah mundur, instingnya meneriakkan perintah untuk berbalik, lari secepat mungkin.
Di seberang jalan, Zen sedang menatap dingin Sang Putri. Rencananya untuk segera kembali ke istana dan menyerahkan belati Voltherium harus tertunda. Di hadapannya kini, berdiri seorang gadis dengan jubah pelayan kumal serta wajah penuh noda debu. Gadis yang baru saja menjadi bahan pembicaraan para buruh di kedai pesisir Distrik Bawah.
Mata biru Zen menyipit penuh intimidasi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, memandang Cassia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Sebuah kebetulan yang luar biasa, Putri," ucap Zen. Suaranya terdengar tenang, nyaris tanpa emosi. "Hamba baru saja menikmati sarapan di sebuah kedai sambil mendengarkan gosip tentang Anda. Dan sekarang, orang yang menjadi bahan pembicaraan itu sedang berdiri tepat di depan hamba dengan pakaian yang... sangat tidak pantas untuk seorang Putri."
Cassia menelan ludah dengan susah payah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat garing. "Zen! Kau rupanya. Wah, senang melihatmu lagi di sini. Sepertinya kau baru saja menyelesaikan tugas penting dari ayahku, ya? Kau terlihat sangat lelah, bagaimana kalau kau langsung pulang saja ke kamarmu untuk beristirahat sekarang... Aku berjanji tidak akan mengganggumu!"
"Dan membiarkan Anda berjalan sendirian seperti ini?" potong Zen. Ia melangkah maju satu demi satu sehingga memangkas jarak di antara mereka. "Sepertinya Anda butuh hobi baru, Putri, selain membuat seluruh prajurit istana terlihat seperti orang bodoh setiap subuh."
Cassia mengerucutkan bibirnya kesal, harga dirinya sedikit terusik oleh sindiran tajam itu. "Ini bukan sekadar main-main, Zenion! Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di perbatasan luar. Ayah dan Damian selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Mereka merahasiakan semuanya dariku."
Mendengar kata merahasiakan, rahang Zen sedikit mengeras. Pikirannya langsung tertuju pada belati Voltherium di balik jubahnya.
"Ada alasan kuat mengapa hal itu dirahasiakan dari Anda, Putri," ujar Zen datar. "Ikut hamba sekarang."
"Ke mana? Kembali ke kamarku yang membosankan itu?!" protes Cassia sembari menghentakkan kakinya ke tanah.
Zen mengangguk, memberikan tatapan maut yang seketika membungkam protes sang Putri.
"Hamba akan membawa Anda kembali ke istana sebelum Pangeran Damian memutuskan untuk mengerahkan semua prajurit terbaik ke segala penjuru Castlewood."
Cassia mendengus pasrah, menyadari bahwa berdebat maupun mencoba melarikan diri dari ksatria terbaik istana seperti Zen adalah hal yang sia-sia. Namun, alih-alih menurut seperti tawanan yang patuh, ia justru menghentakkan kakinya sekali lagi dan berjalan mendekat dengan dagu terangkat angkuh.
"Kalau begitu, kau harus tanggung jawab," cetus Cassia sembari melipat tangan di depan dada begitu ia berhenti tepat di hadapan Zen.
Sebelah alis Zen terangkat, menatap gadis di depannya dengan dahi sedikit berkerut. "Maksud Anda, Putri?"
Cassia memutar bola matanya dongkol. "Karena kau yang menemukanku dan menggagalkan rencanaku, maka kau juga yang harus bertanggung jawab membawaku kembali. Cepat gendong aku."
Zen bergeming. Sorot mata birunya menatap Cassia datar, mengisyaratkan bahwa ia tidak sedang dalam suasana hati untuk melayani sifat manja sang Putri.
"Hamba rasa kaki Anda masih berfungsi dengan sangat baik untuk berjalan, Putri."
"Kaki ksatria terlatihmu tentu saja berbeda dengan kakiku, Zen!" sanggah Cassia cepat, menunjuk ke arah sepatunya yang kini terbungkus tanah lumpur basah. "Jalur rahasia pembuangan tadi sangat sempit dan menguras tenagaku, ditambah jubah gatal ini membuatku tidak nyaman. Lagi pula, jika kita berjalan pelan-pelan menyusuri gerbang masuk tiap distrik, risiko penyamaranku terbongkar akan jauh lebih besar. Berbeda cerita kalau kau membawaku lompat lewat jalur atap atau jalan pintas rahasia para ksatria, bukan?"
Mendengar argumen tak mau kalah itu, Zen menghela napas panjang, kali ini terdengar lebih seperti dengusan pasrah yang jarang ia perlihatkan. Pola pikir Cassia kadang kala memang sulit ditebak, gadis itu bisa merangkai alasan cerdik hanya demi menutupi sifat keras kepalanya.
Namun, ucapan Cassia tidak sepenuhnya salah. Berjalan berdampingan dengan seorang gadis berpakaian kumal melewati gerbang-gerbang distrik yang mulai ramai hanya akan mengundang perhatian yang tidak perlu. Terlebih lagi, keselamatan Cassia tetap menjadi prioritas utamanya saat ini.
"Baiklah, Putri."
Zen akhirnya memutar tubuh, memunggungi Cassia, lalu sedikit merendahkan tubuhnya sembari menekuk lutut.
Melihat respons tersebut, seulas senyum kemenangan langsung merekah di wajah Cassia. Tanpa membuang waktu, ia segera melompat kecil dan mengalungkan kedua lengannya di leher tegap Zen. Jubah lusuhnya yang sedikit berdebu kini menempel pada kain hitam jubah Zen.
Zen bangkit berdiri dengan mudah, menyangga kaki Cassia dengan kedua lengannya tanpa kesulitan berarti. Bobot tubuh sang Putri hampir tidak terasa apa-apa bagi ksatria yang terbiasa mengenakan armor besi seberat puluhan kilogram seperti dirinya.
"Jangan berpikir hamba melakukan ini karena menuruti perintah manja Anda, Putri," bisik Zen dingin.
Tanpa menunggu balasan, ia langsung menggerakkan kakinya dengan sigap, mengambil jalur belakang melewati pos batas sekat yang lebih sepi untuk kembali ke arah wilayah dalam distrik bawah.
"Terserah apa katamu, Ksatria Kaku. Yang penting aku tidak perlu mengotori kakiku lagi," balas Cassia malas.
Ia menyandarkan dagunya pada bahu kokoh Zen dengan santai. Sepasang mata ungunya menatap ke arah deretan bangunan di distrik luar tembok yang kini terhampar di sepanjang jalur pandangan mereka. Bibirnya tersungging kecil, memancarkan senyum puas. Meski dalam hati ia sedikit merengut, Cassia harus mengakui kekalahannya atas Zen hari ini.
Petualangannya kali ini terpaksa berakhir lebih cepat di tangan pria yang sama, yang entah bagaimana selalu berhasil mengendus jejak pelariannya.