NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Penculikan

Bintang Prakasa meremas ponselnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, tatapannya tertuju pada foto yang dikirim anak buahnya beberapa detik lalu. Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Rania Maharani.

Foto itu diambil dari kejauhan, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan bahwa beberapa pria sedang menyeret seseorang masuk ke dalam kendaraan.

Jantung Bintang berdegup keras, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, emosinya benar-benar terusik.

"Di mana lokasi terakhir mereka?" tanyanya dengan suara dingin.

Rangga segera membuka peta digital di tabletnya.

"Mobil itu bergerak ke arah utara. Anak buah kita masih mengikuti dari jarak aman."

"Berapa orang?"

"Empat mobil."

"Kumpulkan semua orang." Bintang langsung mengambil jasnya.

"Siap." Rangga mengangguk.

Pria yang tadi mereka tangkap masih duduk terikat di kursi, wajahnya memucat ketika melihat perubahan ekspresi Bintang.

"Aku benar-benar tidak tahu apa-apa," katanya gugup.

Bintang menatapnya beberapa detik, tatapan itu membuat pria tersebut hampir kehilangan keberaniannya.

"Kalau Rania terluka karena organisasi kalian, aku pastikan kau berharap mati lebih cepat," ucap Bintang.

Pria itu langsung menundukkan kepala dan Bintang berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa berkata apa-apa lagi.

.

.

.

Sementara itu, Rania perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat, pandangannya masih kabur. Ia mencoba bergerak, tetapi kedua tangannya terikat di belakang kursi.

"Apa ini?" Rania langsung tersentak.

Ia menoleh ke kanan dan kiri, ruangan itu tampak seperti gudang tua, dindingnya kusam, lampunya redup dan tak ada jendela yang ada hanya beberapa peti kayu dan pintu besi besar di depan.

Rania berusaha mengingat apa yang terjadi. Ia baru saja keluar rumah pagi tadi, kemudian sebuah mobil berhenti di dekatnya lalu seseorang menyemprotkan sesuatu ke wajahnya, setelah itu semuanya gelap.

Pintu gudang terbuka, dua orang pria masuk. Salah satunya membawa botol air mineral.

"Sudah bangun rupanya."

"Siapa kalian?" Rania menatap mereka dengan waspada.

"Kau tidak perlu tahu." Pria itu tertawa.

"Apa maumu?"

"Bukan kami yang menginginkanmu."

"Lalu siapa?"

Kali ini mereka tidak menjawab.

Rania menarik napas panjang, meski ketakutan mulai menguasainya, ia berusaha tetap tenang.

"Kalian menculik orang biasa. Kalian salah orang," ujar Rania.

"Salah?" Pria itu kembali tertawa. "Percayalah, kami tidak pernah salah."

Perasaan tidak nyaman mulai muncul di hati Rania. Kalimat itu terdengar seperti mereka memang sengaja mengincarnya, tetapi kenapa? Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan siapa-siapa, lalu mengapa ada yang menculik dirinya?

.

.

.

Di sisi lain kota, empat mobil hitam melaju cepat membelah jalanan. Bintang duduk di kursi belakang sambil memperhatikan titik lokasi yang terus bergerak di layar tablet.

"Masih mengikuti?" tanyanya.

"Masih," jawab Rangga.

"Laporan terbaru?"

"Mereka menuju kawasan pergudangan lama."

Bintang mengangguk. Lokasi itu memang cocok digunakan untuk menyembunyikan seseorang.

Sepuluh menit kemudian, ponsel Rangga berdering. Ia menerima panggilan tersebut dan wajahnya langsung berubah.

"Bintang."

"Apa?"

"Mobil target berhenti."

"Di mana?"

"Gudang kawasan Marunda."

Bintang menyipitkan mata, ia mengenal tempat itu. Dulu salah satu transaksi organisasi rival mereka pernah dilakukan di sana.

"Siapkan tim."

"Langsung menyerbu?" tanya Rangga.

"Tidak."

Rangga mengernyit.

"Mereka sengaja mengambil Rania." Bintang menatap keluar jendela.

"Maksudmu?" tanya Rangga lagi.

"Ini jebakan."

Rangga terdiam, semakin dipikirkan, semakin masuk akal. Leonard baru saja menghubungi mereka kemarin lalu hari ini Rania diculik. Terlalu kebetulan jika semua itu tidak berhubungan.

"Mereka menginginkanku datang," lanjut Bintang.

"Lalu?"

"Aku akan datang."

"Tapi—"

"Bedanya, mereka tidak tahu aku sudah siap." Selah Bintang.

Di dalam gudang, Rania masih duduk terikat. Waktu terasa berjalan sangat lambat, ia tidak tahu sudah berapa jam berlalu. Tiba-tiba pintu kembali terbuka, namun kali ini yang masuk bukan dua pria sebelumnya.

Langkah kaki yang terdengar jauh lebih tenang, lebih berwibawa. Seorang pria tua memasuki ruangan dengan setelan jas mahal, rambutnya mulai memutih, namun sorot matanya tajam. Rania langsung merasa tidak nyaman.

Pria itu berhenti beberapa meter di depannya kemudian tersenyum.

"Saya minta maaf atas cara mereka membawa Anda ke sini."

"Kalau begitu lepaskan saya."

"Sayangnya saya tidak bisa." Pria itu tertawa kecil.

"Siapa Anda?"

Pria itu tidak langsung menjawab, ia justru berjalan perlahan mengelilingi kursi tempat Rania duduk.

"Anda tahu siapa Bintang Prakasa?"

Pertanyaan itu membuat Rania terkejut.

"Apa hubungannya dengan Tuan Bintang?"

"Jadi kalian memang saling mengenal." Senyum pria itu semakin lebar.

Rania langsung menyesal telah menjawab.

"Nama saya Leonard." Pria itu berhenti di depannya.

Jantung Rania seolah berhenti sesaat, entah kenapa nama itu terasa asing sekaligus menakutkan.

"Saya hanya ingin menyampaikan pesan."

"Pesan apa?" tanya Rania tanpa rasa takut.

"Katakan pada Bintang bahwa permainan baru saja dimulai." Leonard menatapnya tanpa berkedip.

Malam mulai turun, langit berubah gelap. Di luar gudang kawasan Marunda, beberapa pria berjaga dengan senjata di tangan. Mereka tidak menyadari bahwa dari kejauhan, puluhan orang telah mengawasi setiap gerakan mereka.

"Rania ada di dalam." Rangga menurunkan teropong.

Bintang berdiri di sampingnya. Tatapannya dingin.

"Leonard?"

"Belum terlihat," jawab Rangga.

Bintang mengangguk kemudian menatap bangunan tua itu. Sudah lama ia menunggu kesempatan bertemu Leonard, namun bukan dalam keadaan seperti ini, bukan ketika nyawa Rania berada di tengah permainan.

"Kita bergerak sekarang?" Rangga menghela napas.

Bintang belum menjawab. Ponselnya tiba-tiba berdering, nomor tidak dikenal, lalu ia mengangkatnya.

"Halo."

"Aku tahu kau ada di luar." Suara Leonard terdengar dari seberang.

"Keluarkan Rania." Tatapan Bintang langsung berubah tajam.

"Masuklah kalau kau berani."

"Kalau dia terluka—"

"Kau ternyata sangat peduli pada wanita itu." Leonard tertawa.

Bintang tidak menjawab.

"Tapi ada satu masalah," lanjut Leonard.

"Apa?" tanya Bintang di telfon genggamnya.

Suara Leonard terdengar santai. Seolah sedang membicarakan cuaca.

"Bukan hanya Rania yang ada di dalam gudang," jawab Leonard.

"Maksudmu?" Bintang merasakan firasat buruk.

"Masuk dan lihat sendiri."

Klik

Panggilan terputus, Bintang langsung berjalan menuju gudang dan Rangga mengikuti di belakang, namun tepat ketika mereka mendekati pintu utama, salah satu anak buah berlari tergesa-gesa.

"Wakil Bos!"

"Ada apa?" Rangga menoleh.

"Kami menemukan sesuatu di sisi belakang gudang." Pria itu terlihat pucat.

"Apa?"

Pria itu menelan ludah lalu mengucapkan kalimat yang membuat langkah Bintang terhenti.

"Ada mayat perempuan di sana."

Suasana mendadak sunyi.

"Siapa?" tanya Bintang.

Pria itu tampak ragu. Kemudian menjawab dengan suara pelan.

"Sepertinya... ibu Rania."

Bintang membeku dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa permainan Leonard jauh lebih kejam daripada yang dibayangkannya.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!