NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / TKP / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINTA YANG DIPERJUANGKAN, CINTA YANG DIPERSIAPKAN

Di ruang tamu kediaman keluarga Sikumbang yang beralaskan kayu jati tua yang mengkilap terawat turun-temurun, suasana sore itu terasa begitu damai dan hangat. Cahaya matahari yang mulai merunduk menyelinap lembut lewat celah-celah jendela berukir tradisional, membiaskan sinar keemasan yang menyentuh wajah ketiga lelaki yang duduk berhadapan di atas kursi kulit yang empuk namun sederhana. Mereka adalah Roy Arka Denta, Kombespol Andi Rajo Alam Sikumbang, dan Bhumi Arka Denta Sikumbang. Udara sore yang sejuk membawa aroma wangi bunga melati dari halaman rumah, namun percakapan yang baru saja dimulai perlahan mengubah suasana menjadi campuran yang indah antara tawa yang lepas, haru yang mendalam, serta pelajaran berharga tentang makna cinta, kesetiaan, dan kesabaran yang tak ternilai harganya.

Andi Rajo Alam Sikumbang memulai pembicaraan dengan senyum yang perlahan mengembang lebar di wajahnya yang berwibawa namun penuh kelembutan. Matanya menerawang jauh seolah kembali menembus waktu ke masa lalu yang penuh dengan kenangan manis sekaligus pergolakan hati yang tak terlupakan.

“Bhumi, kau mungkin belum pernah mendengar seluruh kisah itu dengan jelas dan utuh dari mulut kami secara langsung,” ujar Andi sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan, seolah baru saja teringat kejadian yang sekaligus lucu dan menyentuh hati.

“Kisah Tirta dan Kadita itu bermula saat mereka masih sangat belia, saat dunia mereka hanya sebatas sekolah dan impian masa depan yang belum tergambar sepenuhnya. Saat itu Kadita masih duduk di bangku kelas dua belas Sekolah Menengah Atas, masa-masa di mana ia sedang bersiap menghadapi ujian akhir dan memikirkan langkah selanjutnya dalam hidupnya. Sementara itu, Tirta—putra semata wayangku—baru saja diterima di Akademi Kepolisian Semarang sebagai taruna baru yang penuh semangat dan harapan. Sejak hari keberangkatan Tirta itulah, mereka terpaksa berpisah jarak yang cukup jauh, dipisahkan oleh jarak ratusan kilometer dan aturan ketat kehidupan akademi yang belum mengenal waktu luang yang banyak. Mereka pun harus menjalani hubungan jarak jauh yang berat, penuh rindu yang menumpuk setiap hari, dan kerinduan yang kadang terasa lebih berat dari apa pun yang pernah mereka rasakan sebelumnya.”

Roy Arka Denta yang duduk di sampingnya langsung tak kuasa menahan tawanya mendengar bagian awal cerita itu. Ia menepuk-nepuk lututnya pelan, tertawa cekikikan hingga matanya berkaca-kaca, lalu ikut menggelengkan kepala berkali-kali seolah tak percaya pada kejadian yang dialaminya sendiri.

“Ah, ulah mereka berdua itu sungguh tak akan pernah bisa kulupakan seumur hidupku!” seru Roy di sela tawanya yang masih tersisa. “Kau tak akan pernah percaya betapa konyol sekaligus betapa menyentuhnya awal mula kami menyadari betapa keras kepalanya dan betapa besarnya cinta yang mereka miliki satu sama lain. Itu terjadi pada hari Senin sore yang terasa biasa saja, saat aku baru saja pulang dari kantor dengan perasaan lelah namun tenang. Namun begitu masuk ke dalam rumah, aku merasakan suasana yang tak biasa. Kadita mengurung diri di dalam kamarnya, tak mau keluar, tak mau makan banyak, dan tak mau berbicara pada siapa pun selain hanya memandang ke luar jendela. Putriku Kirana yang pertama kali menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada kakaknya, lalu langsung menghampiriku dengan wajah cemas dan berkata tanpa ragu: ‘Papa, telepon Paman Andi sekarang juga! Ada hal penting yang harus segera dibicarakan tentang Kak Kadita dan Kak Tirta!’ Aku pun mengangguk setuju, meraih ponsel yang tergeletak di meja ruang tamu, lalu berniat menekan nomor Andi yang sudah tersimpan rapi di dalamnya. Tapi anehnya, sungguh aneh sekali, sebelum jariku sempat menyentuh tombol panggil satu kali pun, ponselku justru berdering kencang. Dan nama yang tertera jelas di layar ponsel itu adalah Andi Rajo Alam Sikumbang sendiri!”

Andi ikut tertawa lebar mendengar kejadian itu, seolah baru saja kembali merasakan betapa serempaknya perasaan dan kekhawatiran mereka berdua saat itu, seolah ada ikatan tak kasat mata yang menghubungkan hati mereka berdua sebagai ayah.

“Benar sekali, Bhumi, persis seperti yang dikatakan Om Roy,” timpal Andi sambil mengusap wajahnya yang mulai memerah menahan tawa yang masih tersisa. “Siang itu aku juga merasa gelisah yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Baru saja selesai rapat panjang di kantor yang melelahkan, aku langsung mengambil ponselku yang tersimpan di laci meja kerja. Hatiku bergejolak tak tenang, dan aku tahu aku harus segera menelepon Roy untuk berbicara tentang sesuatu yang sangat penting. Aku pun belum sempat menekan satu angka pun pada papan ketik ponselku, namun rasanya hatiku sudah tak tenang menahan kekhawatiran yang tak beralasan itu. Dan begitu aku melihat panggilan masuk yang datang dari Roy, aku langsung mengangkatnya secepat kilat tanpa basa-basi sedikit pun. Aku langsung bercerita panjang lebar tentang anak laki-laki semata wayangku itu, Tirta Abang Kamu. Kataku padanya:

‘Roy, kau tahu tak apa yang dilakukan anakku ini belakangan ini? Ia benar-benar memaksaku terus-menerus dengan satu permintaan yang tak pernah berubah! Katanya kalau ia lulus nanti dari Akademi Kepolisian dengan nilai yang baik, ia harus segera menikahi Kadita. Tak boleh ditunda sehari pun, tak boleh ditunda sesaat pun. Ia bilang rindunya sudah tak sanggup lagi dibawa jauh, ia bilang hatinya tak akan tenang selama mereka belum bersatu secara sah.’”

Roy tertawa semakin keras mendengar pengakuan itu, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang masih terhibur namun perlahan menyiratkan rasa haru yang mendalam.

“Aku yang baru saja hendak menyampaikan hal yang persis sama pun hanya bisa ternganga terpaku sejenak, lalu ikut tertawa sejadi-jadinya di seberang telepon itu. Kubilang padanya sambil masih tersisa tawa yang terasa getir karena terharu: ‘Andi, kau percaya tidak apa yang baru saja terjadi di rumahku? Tadi pagi bahkan sebelum aku berangkat kerja, Kirana sudah menyuruhku meneleponmu dengan alasan yang sama! Kadita yang sebentar lagi akan lulus Sekolah Menengah Atas itu malah mengurung diri di kamar tidurnya berhari-hari lamanya. Tak mau makan banyak, tak mau berbicara dengan siapa pun, tak mau ikut kegiatan keluarga seperti biasanya. Ia hanya duduk diam menatap jendela sambil menangis sejadi-jadinya tanpa henti. Aku dan ibunya sungguh cemas setengah mati, Bhumi. Kami takut ia jatuh sakit karena terlalu banyak menangis dan memendam rindu yang berlebihan, kami takut ia tak bisa berpikir jernih tentang pendidikannya sendiri karena hatinya sudah terlanjur terikat sepenuhnya pada Tirta. Dan setiap kali kami bertanya apa yang ia inginkan, ia hanya menangis dan bilang tak mau berpisah sedetik pun dari Tirta.’”

Andi pun mengangguk mantap berulang kali, seolah membenarkan setiap kata yang baru saja diucapkan Roy, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang perlahan berubah menjadi lebih dalam dan serius.

“Belum lagi ulah anakku Tirta yang sungguh membuatku tak habis pikir sekaligus kagum pada keteguhan hatinya,” ujar Andi dengan suara yang perlahan merendah. “Di tengah latihan fisik yang melelahkan dan menguras tenaga setiap hari, di tengah disiplin yang sangat ketat dan aturan yang membatasi segala gerak-gerik mereka di akademi, ia tak pernah berhenti memikirkan Kadita. Hampir setiap ada kesempatan menelepon ke rumah, ia selalu memintaku berjanji satu hal yang sama tanpa henti: ‘Yah, kalau aku nanti lulus dari Akademi Kepolisian dengan hasil terbaik dan sudah siap bertanggung jawab atas segala hal, aku harus segera menikahi Kadita. Tak boleh ditunda lagi.’ Ia memaksaku terus-menerus dengan tekad yang sekeras baja, seolah-olah dunia ini akan runtuh dan hancur jika mereka tidak segera bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah.”

Roy mengangguk setuju penuh pemahaman, lalu menambahkan detail kejadian yang membuat suasana cerita semakin hidup dan terasa nyata.

“Kami berdua—aku sebagai ayah Kadita dan Andi sebagai ayah Tirta—sempat saling bertatapan bingung dan tak tahu harus berbuat apa saat itu,” ujar Roy sambil tersenyum simpul mengenang masa itu. “Kami tentu saja paham betul ketulusan hati mereka berdua, kami paham bahwa apa yang mereka rasakan bukan sekadar rasa suka sesaat atau kekaguman yang berlalu begitu saja. Namun di sisi lain, kami juga sangat khawatir karena usia mereka yang masih terbilang sangat muda untuk memikul tanggung jawab rumah tangga yang besar dan berat. Kami takut mereka terburu-buru hanya karena didorong oleh rindu yang memuncak, tanpa memikirkan segala hal yang harus dipersiapkan dengan matang. Namun melihat Kadita yang tak berhenti menangis dan menolak dipisahkan, serta melihat keteguhan hati Tirta yang tak goyah sedikit pun pada pendiriannya meski berada jauh di tempat yang keras, akhirnya kami berdua pasrah dan luluh. Kami sadar sepenuhnya pada akhirnya bahwa cinta mereka bukan sekadar perasaan biasa, melainkan ikatan batin yang sudah tertanam kuat sekali di dalam hati masing-masing sejak mereka masih kanak-kanak.”

Andi menarik napas panjang perlahan, lalu menatap lurus ke arah Bhumi dengan pandangan yang penuh wibawa namun tetap hangat dan penuh kasih sayang.

“Akhirnya aku berjanji sepenuhnya pada putra semata wayangku, Abang Tirta Kamu itu,” kata Andi dengan nada tegas namun penuh ketulusan. “Aku bilang padanya saat ia pulang berlibur sebentar: ‘Baik, Tirta. Jika kau nanti sudah lulus dengan nilai terbaik dari semua mata pelajaran dan pelatihan, jika kau sudah mampu berdiri di atas kakimu sendiri dan siap bertanggung jawab sepenuhnya atas seorang istri dan rumah tangga, maka aku akan merestui pernikahan kalian dengan sepenuh hati.’ Namun kami juga sepakat bersama istri kami masing-masing untuk tidak melaksanakan upacara pertunangan yang berlarut-larut, tidak pula sekadar berpacaran tanpa kepastian yang jelas. Begitu mereka berdua sudah benar-benar siap dari segi usia, pendidikan, dan mental, kami langsung menggelar pernikahan resmi yang sederhana namun penuh makna, hanya mengundang sanak saudara terdekat dan keluarga inti saja. Tidak ada kemegahan yang berlebihan, tidak ada pesta yang meriah, karena kami ingin esensi dari persatuan mereka itu tidak tertutup oleh kemewahan duniawi.”

Keheningan sejenak yang hangat menyelimuti ruangan kayu itu, memberi waktu yang cukup bagi Bhumi untuk mencerna setiap kata dan setiap makna yang tersirat dari cerita yang baru saja ia dengar. Ia bisa membayangkan betapa menggemaskan sekaligus betapa menyentuhnya tingkah laku sepupunya dan istrinya di masa muda mereka, betapa besarnya perjuangan hati yang harus mereka lalui hanya untuk bisa bersatu.

“Dan sekarang,” lanjut Roy dengan nada yang sedikit lebih serius namun tetap ramah dan penuh pengertian. “Kami bercerita semua ini padamu bukan sekadar untuk mengenang masa lalu yang indah atau sekadar berbagi kenangan keluarga semata. Kami ingin kau tahu, Bhumi, bahwa kisah Tirta dan Kadita adalah kejadian yang terakhir kalinya terjadi di keluarga besar kita. Kami tidak ingin ada lagi anak muda yang terburu-buru melangkah hanya karena didorong oleh rindu yang meluap-luap atau emosi sesaat, yang kemudian harus menempuh jalan berliku penuh rintangan hanya demi menyatukan dua hati yang sebenarnya masih bisa menunggu sebentar lagi.”

Andi menegaskan pesan itu kembali dengan lembut namun tegas agar benar-benar meresap ke dalam hati Bhumi.

“Karena itulah, Bhumi, dengan segala kasih sayang dan harapan baik kami, kami memintamu bersabar menunggu Anindya Sandra Satyarini selama dua tahun ke depan,” ujar Andi perlahan namun jelas. “Dua tahun ini bukan waktu yang kami berikan untuk menahan bahagiamu atau menunda kebahagiaan yang menjadi hakmu, melainkan waktu yang kami berikan untuk memantapkan diri kalian berdua sebaik mungkin. Selesaikan urusan pendidikanmu dengan baik, bangun pondasi kariermu agar kelak kau bisa menjadi kepala keluarga yang mandiri dan bertanggung jawab, berikan waktu bagi Anindya untuk tumbuh semakin dewasa dan matang dalam berpikir serta bersikap. Dan pastikan sepenuhnya bahwa cinta kalian kelak berdiri di atas fondasi yang kokoh, matang, dan bijaksana, bukan sekadar didorong keinginan hati yang mendesak sesaat. Biarlah kisah Tirta dan Kadita menjadi kenangan terakhir tentang perjuangan cinta di usia muda yang terburu-buru, dan biarlah kau dan Anindya menjadi contoh persiapan yang matang dan bijak sebelum melangkah menuju pelaminan.”

Bhumi tersenyum lebar tulus, hatinya terasa begitu tenang, lega, dan penuh dengan rasa syukur mendalam. Ia mengerti sepenuhnya maksud baik serta niat tulus dari kedua pamannya yang sangat ia hormati itu.

“Saya mengerti sepenuhnya sekarang, Om Roy, Om Andi,” jawab Bhumi dengan suara yang mantap dan penuh keputusan. “Saya akan menunggu Anindya dengan kesabaran yang penuh ketulusan hati. Saya ingin persatuan kami kelak berjalan dengan tenang, penuh persiapan yang matang, dan membawa kebahagiaan yang abadi bagi kami berdua, bagi keluarga besar kami, dan bagi orang-orang di sekitar kami.”

Mendengar jawaban yang begitu dewasa dan bijak itu, Roy dan Andi kembali tertawa bersama, tawa yang kali ini bukan lagi tawa kenangan semata, melainkan tawa yang penuh rasa syukur dan kebanggaan yang mendalam. Di ruangan kayu jati tua itu, di antara pantulan cahaya matahari sore yang mulai memudar, di antara tawa kenangan dan janji masa depan, tersimpan satu harapan besar yang menyatukan mereka semua: bahwa cinta yang tulus memang patut diperjuangkan dengan segala pengorbanan, namun cinta yang bijak, sabar, dan terencana adalah cinta yang paling indah untuk dipersiapkan dengan sepenuh hati demi masa depan yang abadi.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!