Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas Baru
Pukul enam tiga puluh pagi.
Kediaman Alexander masih diselimuti udara dingin.
Emma sudah lebih dulu berada di taman belakang.
Mengenakan celana olahraga hitam, kaus lengan panjang abu-abu, dan sepatu lari putih, ia sedang melakukan pemanasan sebelum berlari mengelilingi taman.
Tak jauh darinya, dua pelayan memperhatikannya dengan bingung.
"Nyonya... sedang berolahraga?"
"Aku baru pertama kali melihatnya."
"Apa kita perlu menemani?"
"Tidak."
Suara Emma membuat keduanya terkejut.
Tanpa menoleh, ia tetap meregangkan bahunya.
"Kalau hanya ingin melihat, silakan."
"Kalau ingin mengikutiku..."
Emma akhirnya menoleh.
"...kalian akan lelah."
Kedua pelayan langsung menundukkan kepala.
"Maaf, Nyonya."
Emma tidak menjawab lagi.
Ia memasang earphone, lalu mulai berlari mengelilingi taman.
Lima belas menit kemudian.
Ralph keluar menuju teras belakang sambil membawa secangkir kopi.
Langkahnya terhenti.
Ia melihat Emma sedang berlari dengan napas yang tetap stabil.
Rambut pirang pendeknya bergerak mengikuti langkahnya.
Ralph tidak tahu bahwa Ella pernah berolahraga.
Karena selama lima tahun pernikahan mereka...
Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan.
Namun wanita itu...
Terlihat terbiasa.
Satu putaran.
Dua putaran.
Lima putaran.
Tanpa berhenti.
Mr. Howard berdiri di samping Ralph.
"Tuan..."
"Hm."
"Nyonya benar-benar banyak berubah."
Ralph tidak mengalihkan pandangannya.
"Aku bisa melihatnya."
Empat puluh menit kemudian.
Emma berhenti di dekat tangga teras.
Napasnya sedikit memburu.
Ia melepas earphone.
Baru hendak mengambil botol minum dari bangku taman...
Seorang pelayan lebih dulu mengambilnya.
"Nyonya."
Emma berhenti.
Pelayan itu menyodorkan botol minum dengan kedua tangan.
Emma menatap botol itu.
Lalu menatap pelayan tersebut.
"Aku tadi meletakkannya sendiri."
"Benar, Nyonya."
"Berarti aku juga bisa mengambilnya sendiri."
Pelayan itu langsung menarik tangannya.
"Maaf."
Emma mengambil botolnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Ia membuka tutupnya sendiri.
Minum.
Lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Mr. Howard menghela napas pelan.
"Kasihan mereka."
Ralph menyesap kopinya.
"Mereka akan terbiasa."
-------
Satu jam kemudian.
Emma turun menuju ruang makan setelah selesai mandi.
Hari ini ia mengenakan kemeja putih dengan celana panjang krem.
Sederhana.
Rapi.
Tanpa gaun.
Ralph sudah duduk lebih dulu.
Ia hanya melirik sekilas.
"Kau wanita keras kepala."
Emma menarik kursinya sendiri.
"Dari dulu."
"Kau tahu hari ini kita menerima tamu."
Emma mengambil roti panggang.
"Siapa?"
"Keluarga Harrington."
Emma mengoleskan selai.
"Apa itu sangat penting?"
"Mitra bisnis keluarga."
Emma menggigit rotinya.
"Kalau urusan bisnis, kenapa aku harus ikut?"
Ralph menjawab tenang.
"Karena kau Lady Alexander."
Emma menelan makanannya.
"Alasan itu lagi."
"Itu memang alasannya."
Emma tidak membalas.
Ia memilih melanjutkan sarapan.
Beberapa detik kemudian Ralph kembali berbicara.
"Mereka datang pukul sebelas."
"Hm."
"Pakai gaun."
Emma langsung menggeleng.
"Tidak."
Ralph meletakkan pisaunya.
"Kau sengaja melawanku?"
Emma mengangkat wajah.
"Aku hanya memakai pakaian yang kusuka."
"Itu tidak sesuai untuk menjamu."
"Dengan siapa?"
"Dengan posisimu."
Emma tersenyum tipis.
Senyum yang justru membuat Ralph merasa akan ada kalimat menyebalkan berikutnya.
"Ralph."
"Apa."
"Kalau suatu hari nanti aku berhenti menjadi Lady Alexander..."
Emma menatap lurus ke arahnya.
"...apa aku masih boleh memakai celana panjang?"
Ruangan mendadak sunyi.
Para pelayan saling berpandangan.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun maknanya begitu dalam.
Ralph menatap Emma beberapa saat.
"Aku tidak menyukai pengandaian."
"Itu bukan jawaban."
"Itu memang jawabanku."
Emma mendengus pelan.
"Kau memang sulit diajak bicara."
Ralph kembali menikmati kopinya.
"Begitu juga kau."
Untuk pertama kalinya...
Emma tidak membalas.
Bukan karena kalah.
Melainkan karena ia menyadari satu hal.
Pria di hadapannya tidak pernah terpancing emosi.
Semakin ia menekan.
Semakin tenang Ralph menjawab.
Dan itu...
Justru jauh lebih menyebalkan baginya.
Keheningan masih menyelimuti ruang makan.
Emma kembali menikmati sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Ralph...
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia tidak lagi benar-benar fokus pada makanan di hadapannya.
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
"Kalau suatu hari nanti aku berhenti menjadi Lady Alexander..."
Bagi orang lain...
Mungkin itu hanya sebuah pengandaian.
Namun bagi Ralph...
Kalimat itu hanya memiliki satu arti.
Perceraian.
Emma meletakkan garpunya.
"Aku selesai."
Ia berdiri, merapikan lengan kemejanya, lalu hendak meninggalkan ruang makan.
"Emma."
Suara Ralph terdengar datar.
Emma berhenti melangkah.
"Hm?"
"Apa maksud ucapanmu tadi?"
Emma menoleh.
"Ucapan yang mana?"
"Berhenti menjadi Lady Alexander."
Emma tampak berpikir beberapa detik.
"Oh."
"Itu."
"Ya."
Emma menjawab tanpa ragu.
"Hanya pertanyaan."
Ralph bangkit dari kursinya.
"Bukan pertanyaan yang biasa."
Emma mengangkat bahu.
"Aku memang jarang bertanya yang biasa."
Ralph menatap lurus ke arahnya.
"Apakah kau sedang memikirkan perceraian?"
Seluruh pelayan yang masih berada di ruang makan langsung membeku.
Mr. Howard perlahan menundukkan kepala.
Tidak seorang pun berani bergerak.
Emma sendiri tampak sedikit terkejut.
Lalu...
Ia menyandarkan bahunya ke kusen pintu.
"Apa kau takut?"
Pertanyaan itu justru dibalas dengan keheningan.
"Aku bertanya."
Ralph tetap tenang.
"Aku juga."
Emma mengembuskan napas pelan.
"Aku hanya penasaran."
"Penasaran tentang apa?"
"Kalau dua orang menikah tanpa cinta..."
Emma menatap Ralph tanpa berkedip.
"...kenapa harus tetap mempertahankannya?"
Tatapan Ralph berubah sedikit lebih dalam.
"Itu sebuah kewajiban."
"Lagi."
Emma menggeleng pelan.
"Kau selalu menjawab dengan kata itu."
"Itu memang kenyataannya."
"Bukan menurutku."
Hening kembali turun.
Emma melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.
"Kalau suatu hubungan hanya bertahan karena kewajiban..."
"...apa bedanya dengan kerja sama bisnis?"
Mr. Howard refleks menelan ludah.
Belum pernah ada yang mempertanyakan pernikahan keluarga Alexander secara terus terang.
Apalagi...
Yang bertanya adalah Lady Alexander sendiri.
Ralph menarik napas pelan.
"Itu cara pandangmu."
"Benar."
"Lalu menurutmu bagaimana seharusnya?"
Emma menjawab tanpa berpikir lama.
"Kalau tidak saling mencintai..."
"...sebaiknya harus berpisah."
Ruangan kembali sunyi.
Sangat sunyi.
Ralph tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang wanita di depannya.
Selama lima tahun...
Ella tidak pernah sekalipun mengucapkan kata berpisah.
Tidak pernah mempertanyakan pernikahan mereka.
Tidak pernah membahas perceraian.
Namun hari ini...
Wanita itu mengucapkannya dengan begitu mudah.
Entah mengapa...
Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalam dirinya.
Bukan marah.
Bukan juga tersinggung.
Melainkan sebuah perasaan asing yang sulit dijelaskan.
Emma sendiri tidak menyadari perubahan raut wajah Ralph.
Baginya...
Ia hanya sedang mengungkapkan pendapat.
Sebuah pendapat yang menurutnya masuk akal.
Tanpa menunggu jawaban, Emma membuka pintu.
"Aku ke perpustakaan."
Ia melangkah pergi.
Meninggalkan Ralph yang masih berdiri di tempatnya.
Beberapa detik berlalu.
Mr. Howard akhirnya memberanikan diri mengangkat kepala.
"Tuan..."
Ralph tetap memandang ke arah pintu yang telah tertutup.
"Lima tahun..."
gumamnya pelan.
"Dan baru hari ini dia membicarakan perceraian."
Tidak ada jawaban.
Karena bahkan Mr. Howard pun tidak tahu harus berkata apa.
Sementara di lantai atas, Emma berjalan menuju perpustakaan tanpa sedikit pun menyadari...
Satu kalimat yang ia anggap biasa...
Justru terus memenuhi pikiran Ralph Alexander.
mulai ngikuti sepertinya menarik