"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Kebohongan di Ujung Tanduk
BAB 34: Kebohongan di Ujung Tanduk
Hening yang tercipta di antara mereka terasa begitu mencekam, melubangi keheningan sore di pinggiran kota yang kian meredup. Suara angin yang menggoyang pucuk-pucuk pohon bambu di belakang koridor terdengar seperti bisikan takdir yang sedang menertawakan pelarian Kiara.
Kiara masih memeluk erat tubuh Arka kecil di atas lantai kayu. Detak jantung putranya yang berdegup cepat beradu dengan debaran dadanya sendiri yang terasa mau copot. Sifat tangguh yang selama empat tahun ini ia pupuk dengan peluh dan air mata, kini dipaksa bekerja melewati batas maksimalnya. Ia harus waras. Ia harus kuat. Jika ia goyah sedetik saja di hadapan pria iblis korporat ini, maka Tante Miranda dan dr. Calista tidak akan segan-segan menepati janji mereka untuk menghancurkan hidup anaknya.
Kiara mendongak perlahan. Ia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan, lalu memasang sorot mata yang teramat dingin, menusuk, dan penuh kepalsuan yang rapi.
"Dia bukan anakmu, Pak Adrian," ucap Kiara, suaranya terdengar begitu datar dan lambat, sengaja ditekankan sedalam mungkin untuk mematahkan harapan yang sempat kilat melintas di mata elang pria itu.
Adrian terkekeh rendah—sebuah kekehan parau yang terdengar sangat berbahaya, dipenuhi penolakan mutlak atas kalimat yang baru saja ia dengar. "Bukan anakku?" Adrian maju satu langkah, ujung sepatu pantofel mahalnya kini tepat berada beberapa sentimeter dari lutut Kiara yang bersimpuh.
"Jangan bercanda dengan akal sehatku, Kiara! Anak ini... matanya, rahangnya, bahkan bagaimana cara dia menatapku... dia adalah jiplakan diriku! Kamu mau membohongiku dengan mengatakan dia anak pria lain, hm?!" geram Adrian, urat-urat di leher tegapnya menegang keras menahan gairah birahi posesif yang mendadak meletup hebat setelah empat tahun mati suri.
Kiara bangkit berdiri perlahan sambil menggendong Arka di dalam pelukannya. Arka yang sejak tadi diam, menyembunyikan wajah kecilnya di pundak sang ibu, tangannya mencengkeram erat kebaya lurik cokelat Kiara yang basah.
"Dunia ini luas, Pak Adrian. Ada banyak orang yang memiliki kemiripan wajah secara tidak sengaja," dusta Kiara, matanya menatap lurus tanpa berkedip ke dalam manik mata Adrian yang memerah. "Dia anakku. Anak dari hasil pernikahanku dengan seorang pria di desa ini. Ayahnya... ayahnya sedang bekerja di ladang saat ini. Jadi tolong, turunkan egomu dan pergilah dari kehidupan kami yang tenang!"
Deg.
Kalimat "pernikahanku dengan seorang pria di desa ini" seketika menghantam batin Adrian bagai gada besi yang panas. Ego tingginya sebagai pria alpha tercabik-cabik. Membayangkan tubuh indah Kiara—tubuh yang dulu semalam suntuk mendesah pasrah di bawah dominasi liarnya di apartemen—telah disentuh dan dimiliki oleh pria lain, membuat darah di dalam tubuh Adrian mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa cemburu gila bercampur birahi kepemilikan yang tersakiti meledak seketika di dalam dadanya.
Adrian menyambar bahu Kiara dengan satu sentakan, mempersempit jarak di antara mereka hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Menikah, katamu? Pria desa?!" desis Adrian dengan suara bariton yang teramat rendah, seksi, namun penuh dengan ancaman yang mematikan.
"Lalu di mana cincin pernikahanmu, Mahasiswaku? Di mana suamimu saat kamu harus memeras keringat menjadi pelayan udik dengan baju lusuh ini, hm?!" Adrian melirik tajam ke arah jemari tangan Kiara yang polos tanpa perhiasan apa pun.
Kiara tercekat, lidahnya mendadak kelu. Ia lupa menyembunyikan detail sekecil itu dari sang profesor killer yang memiliki ketelitian riset tingkat tinggi.
Melihat keterpautan lidah Kiara, seringai kejam namun sangat tampan terukir di sudut bibir Adrian. Pria itu memundurkan tubuhnya sedikit, lalu menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri siaga di ujung koridor bersama barisan bodyguard.
"Doni," panggil Adrian, suaranya kembali datar dan penuh wibawa seorang CEO tertinggi. "Bawa sampel apa saja dari anak ini malam ini juga. Hubungi rumah sakit pusat Alkatiri Group, lakukan tes DNA dengan metode paling cepat. Aku mau hasilnya ada di mejaku sebelum matahari terbit besok pagi."
"Baik, Pak CEO," jawab sang asisten patuh.
"Tidak! Jangan sentuh anakku! Jangan berani kalian menyentuh Arka!" pekik Kiara histeris. Ia mundur beberapa langkah, memeluk Arka kian erat seolah para pengawal berjas hitam itu adalah monster yang siap merenggut jantungnya. Air mata ketakutan kembali merebak di pelupuk matanya.
Adrian menatap kepanikan Kiara dengan pandangan mata yang lapar dan posesif. Langkah kakinya kembali mengurung Kiara di sudut dinding bambu. Ia membungkuk, berbisik tepat di depan bibir ranum Kiara yang bergetar menahan tangis.
"Kamu boleh membohongi dunia dengan mulut tangguhmu itu, Kiara. Tapi tubuhmu, ketakutanmu, dan anak ini... tidak akan pernah bisa membohongi instingku," bisik Adrian seksi dengan nada baritonnya yang sarat akan dominasi mutlak. "Jika hasil tes besok terbukti dia adalah darah dagingku... kupastikan aku akan menyeretmu kembali ke neraka birahiku, dan kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi seumur hidupmu."