Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
030
Pintu kamar utama di sayap kanan Mansion Knight tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh kemegahan dunia luar dan menyisakan keheningan yang sarat akan ketegangan tersembunyi.
Kamar itu begitu luas, didominasi oleh warna abu-abu arang dan aksen emas, dengan ranjang berukuran king-size yang dilapisi sprei sutra terbaik di bagian tengahnya.
Begitu mereka menapakkan kaki di dalam kamar, Killian Vale-Knight tidak membuang waktu lagi untuk berbasa-basi.
Topeng suami penuh perhatian yang ia kenakan di meja makan bawah tadi seolah ditarik sedikit, menyisakan tatapan mata elang yang menggelap penuh tuntutan.
Pria itu berbalik, menatap langsung pada tubuh ramping Michaela yang berdiri di dekat ujung ranjang.
"Apa bagian itu... tidak lagi sakit?" tanya Killian dengan suara bariton yang rendah, hampir menyerupai bisikan magnetis yang mengunci pergerakan Michaela.
Matanya turun sekilas ke arah bagian bawah tubuh istrinya, merujuk pada malam pertama mereka yang brutal beberapa hari lalu.
Michaela merasakan pipinya menghangat. Ia menundukkan kepalanya, mengangguk pelan dengan raut wajah yang tampak tersipu malu.
Namun di dalam benaknya, Michaela tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Fisiknya sama sekali tidak selemah itu sejak awal.
Tubuh jalanannya yang terbiasa menemani sang ayah di San Francisco telah ditempa oleh kerasnya kehidupan luar.
Alasan mengapa wajahnya memucat pasi hingga harus dilarikan ke rumah sakit tiga hari lalu bukanlah karena kelelahan fisik akibat penyatuan mereka, melainkan karena syok mental yang hebat saat melihat berita dirinya masuk ke dalam daftar pencarian orang hilang.
Demi Tuhan, Michaela Hokked bukanlah wanita rapuh yang akan pingsan hanya karena percintaan semalam suntuk.
"Hari masih terang, Killian..." bisik Michaela, mencoba mengalihkan intensitas tatapan suaminya. Sinar matahari siang masih menembus celah gorden dengan jelas, menerangi kamar mewah tersebut.
Killian terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar seksi, menggema rendah di dadanya saat ia melangkah lebar mengikis jarak di antara mereka.
Tangan kekangnya merayap naik, mencengkeram pinggang Michaela dengan posesif dan menarik tubuh wanita itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya.
"Apa ada yang mengatakan bahwa bercinta harus dilakukan di malam hari, Sayang? Hm?" bisik Killian tepat di depan bibir Michaela, embusan napas hangatnya membakar permukaan kulit wajah istrinya.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Killian langsung membungkam bibir itu. Mereka jatuh bersama ke atas ranjang sutra yang empuk, memulai ritual penyatuan untuk kedua kalinya di tengah hari yang benderang.
Di dalam pergulatan intim yang penuh gairah itu, dengan suara-suara napas yang memburu dan desahan seksi yang lolos dari bibir maskulinnya, Killian sadar sepenuhnya betapa ia sangat menikmati setiap jengkal tubuh istrinya.
Kulit Michaela yang halus, bagaimana wanita itu merespons setiap sentuhannya dengan kepasrahan yang liar—semuanya terasa candu bagi indra perasa Killian.
Namun, tepat di saat ia mengeluarkan desahan nikmat di atas ceruk leher wanita itu, kilat kebencian yang pekat mendadak melintas di dalam benak Killian.
Mata elangnya menatap lurus pada guratan wajah Michaela. Sialan. Wajah ini masih wajah Cecilia Lynch, si pengkhianat murahan yang sangat ia benci.
Hanya enam bulan, batin Killian dengan kejam, sembari terus menghujamkan dominasinya di atas tubuh istrinya tanpa ampun.
Setelah semua urusan ini selesai dan operasi pengembalian wajahmu berhasil, aku pastikan kau dan aku akan menjadi orang asing kembali. Aku tidak akan membiarkan wanita jalanan sepertimu terikat selamanya denganku.
Kemarahan batin Killian justru membakar gairahnya menjadi lebih meletup-letup. Ia merasa telah menghabiskan waktu, tenaga, dan uangnya yang teramat berharga hanya untuk menunggu seorang gadis asing yang tak dikenal terbangun dari koma selama enam bulan penuh di rumah sakit.
Penyerahan dirimu yang pasrah seperti ini tidak akan pernah sebanding dengan semua kerugian yang kuhabiskan untukmu, Michaela! batinnya berteriak sarkas, sementara gerakannya di atas ranjang semakin intens, berfokus sepenuhnya untuk memuaskan ego dan hasrat kejantanannya sendiri.
Hingga akhirnya, sebuah desahan panjang yang berat dari bibir Killian menutup ritual percintaan panas mereka di siang hari itu.
Tubuh tegapnya ambruk di samping Michaela, napasnya tersengal-sengal di atas sprei yang kini telah acak-acakan.
Beberapa menit setelah badai gairah itu mereda, Killian kembali memasang topeng akting sempurnanya.
Ia berbalik, menatap Michaela yang berbaring telentang dengan tubuh yang berkeringat.
Dengan gurat wajah yang tampak dipenuhi rasa bersalah dan cinta yang mendalam, Killian merayap mendekat.
"Terima kasih... Terima kasih, Sayang," ucap Killian bertubi-tubi, memberikan kecupan-kecupan kecil yang hangat di bibir Michaela, lalu beralih mencium kening istrinya dengan penuh kelembutan yang manipulatif. "Biar aku bantu bersihkan tubuhmu, ya?"
Michaela membuka matanya perlahan, menatap wajah tampan suaminya yang tampak begitu memuja dirinya. Namun, kali ini ada binar yang berbeda di dalam mata cokelat keemasan wanita itu.
"Tidak perlu, Yin," jawab Michaela dengan suara yang tenang namun terdengar manja. "Bawa aku ke kamar mandi saja. Aku ingin berendam sebentar di bathtub."
Killian tersenyum lebar, sebuah senyuman menawan yang biasa ia gunakan untuk menaklukkan rekan bisnisnya. Ia langsung mengangkat tubuh polos Michaela ke dalam gendongan ala bridal style-nya. "Baiklah. Hamba menerima titah dari Sang Ratu."
Killian membawa Michaela masuk ke dalam kamar mandi mewah yang berdinding marmer putih Carrara, mendudukkan wanita itu dengan sangat hati-hati ke dalam bathtub yang telah diisi air hangat berbusa aroma lavender, lalu berpamitan untuk memakai pakaiannya kembali di luar.
...°°°°°°°...
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan menyisakan Michaela sendirian di dalam kehangatan air, atmosfer di dalam ruangan itu seketika berubah drastis.
Michaela yang awalnya berendam sambil memejamkan mata dengan raut wajah pasrah, tiba-tiba membuka kedua kelopak matanya.
Tidak ada lagi sisa-sisa air mata haru, tidak ada lagi binar gadis yang polos dan naif.
Sepasang matanya kini berkilat tajam, dingin, dan seulas senyuman yang teramat mengerikan perlahan terukir di sudut bibirnya yang manis.
"Aku datang ke Los Angeles awalnya untuk kabur, Kabur dari Kematian Julian, dan dari ayahku sendiri, dan harusnya aku mendaftar kuliah jurusan psikologi," ucap Michaela dengan suara yang teramat lirih, nyaris berupa bisikan yang bergaung dingin di antara dinding marmer.
Ia mengangkat tangan kanannya, membiarkan busa-busa sabun mengalir jatuh dari kulitnya.
"Sedari awal kehidupan, aku paling benci menjadi korban. Aku sudah kenyang hidup bertahun-tahun dengan seorang ayah yang keras dan hobi mabuk di San Francisco. Diperlakukan secara kasar olehmu di malam pertama kita? Tentu saja aku menikmatinya, Killian. Fisik dan mentalku sudah terbiasa dengan rasa sakit."
Senyuman di wajah Michaela semakin melebar, memancarkan aura manipulatif yang tak kalah pekat dari seorang Vale-Knight.
"Namun, jika kau berniat menjadikanku korban untuk kesekian kalinya di dalam permainan balas dendammu ini? Tidak!! Aku benci menjadi korban! Bisakah aku yang menjadi pelaku utama pada permainan kita ini, Killian?"
...DUARR!!!!...
Logika psikologi yang selama ini ia pelajari secara otodidak dari buku-buku tua mulai bekerja dengan sangat rapi di dalam kepala Michaela.
"Mari kita lihat akhirnya nanti," desis Michaela, matanya menatap lurus ke arah pintu kamar mandi dengan pandangan penuh kemenangan yang tersembunyi.
"Apakah kau masih bisa berakting tersenyum manis seperti itu di depanku... jika kau tahu bahwa justru akulah sang penulis skenario yang sesungguhnya di dalam pernikahan ini! Bukan dirimu, Yin."
...°°°°°°°...
Sejak awal, Michaela Hokked bukanlah gadis bodoh yang bisa dikelabui hanya dengan kata-kata manis.
Tumbuh di lingkungan jalanan yang keras membuatnya memiliki insting bertahan hidup yang sangat tajam.
Dia sudah menyadari bagaimana liciknya orang-orang kaya dan berkuasa seperti keluarga Knight sejak pertama kali dia membuka mata di rumah sakit.
"Aku mulai mengerti permainan busukmu saat kau dengan terburu-buru mengajakku menikah tepat di hari aku baru saja diperbolehkan keluar dari rumah sakit," gumam Michaela sembari menyandarkan punggungnya pada dinding bathtub.
Sebagai seseorang yang mengamati perilaku manusia, Michaela melihat setiap detail kecacatan dalam akting Killian selama ini.
"Kau pikir aku tidak menyadarinya? Bagaimana tubuhmu selalu terlihat gelisah setiap kali setelah kau menciumku? Bagaimana otot rahangmu menegang dan kau tanpa sadar menggigit bibir bawahmu sendiri sebelum mengucapkan kata-kata mesra yang sarat akan kepalsuan? Aku bisa melihat semua itu dengan sangat jelas, Killian."
Pikirannya kembali berputar pada momen setelah mereka menyelesaikan sumpah pernikahan pertama mereka di altar yang privat.
"Hingga tiba setelah ciuman pernikahan kita waktu itu... kau berbisik di telingaku dan menjanjikan neraka untuk hidupku. Tahukah kau apa yang terjadi di dalam hatiku saat itu? Di dalam hatiku pun, aku ikut berjanji: Aku siap tinggal di nerakamu, Killian, asal aku tidak perlu kembali menggelandang di kerasnya jalanan San Francisco."
Michaela tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin dan penuh kalkulasi.
Bagi gadis sepertinya, fasilitas mewah, pakaian mahal, makanan bergizi, dan perlindungan hukum dari nama besar keluarga Knight adalah segalanya yang ia butuhkan saat ini.
Tinggal di dalam neraka milik Killian jauh lebih baik daripada harus mati kelaparan atau ditemukan oleh Ayahnya. Dia menikmati setiap fasilitas ini.
"Alasan mengapa aku menyerahkan diriku secara mutlak di malam pertama kita..." Michaela menatap cincin berlian baru di jari manisnya yang basah oleh air.
"...kau pikir itu karena aku sangat mencintaimu hingga pasrah? Bodoh. Itu adalah kompensasi atas waktu, tenaga, dan ratusan ribu dolar yang sudah kau habiskan untuk membiayai pengobatan dan operasi wajahku selama enam bulan ini. Aku tidak suka berutang pada siapa pun, termasuk pada orang asing."
Jika Gabriella Margareth dulu diasuh dan disayangi oleh sang ibu, Madam Margareth, karena kecantikan fisik dan pembawaannya yang sempurna layaknya mawar sejati, maka Michaela justru ditinggalkan dan dibuang oleh ibunya sendiri karena ia memiliki sifat yang mengerikan ini: otak yang terlalu dingin, manipulatif di balik wajah polosnya.
Sifat yang diwarisi langsung dari kegelapan karakter sang Ibu.
Michaela perlahan bangkit dari dalam bathtub, meraih handuk kimono mewah berwarna hitam, lalu memakainya dengan gerakan yang sangat anggun.
Ia menatap pantulan wajah Cecilia Lynch yang melekat pada dirinya di cermin kamar mandi.
"Kau ingin bermain peran sebagai suami yang penuh cinta untuk menipuku, Killian? Dan kau merencanakan sesuatu dengan cairan infus yang dimasukkan dokter ke tubuhku pagi tadi? Jalankan saja skenariomu," bisik Michaela dengan senyuman murni seorang psikopat permainan.
Ia memegang gagang pintu kamar mandi, bersiap untuk keluar dan kembali menjadi sosok istri yang lugu, penurut, dan manis di depan suaminya.
"Mari kita bermain, Tuan muda Vale-Knight. Mari kita lihat siapa yang akan berlutut di bawah kaki siapa saat tirai terakhir panggung ini diturunkan."
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨