"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Angin dingin kembali menyapu wajah begitu mereka melewati gerbang Desa Nidra.
Melihat jalanan yang mendatar namun berlapis es tipis, otak iseng Julian mendadak kumat. Ia melirik Yisla, lalu sengaja memotong jalan di depan gadis itu dan langsung berjongkok memunggunginya.
"Yisla, sini naik. Aku gendong," panggil Julian percaya diri.
Yisla sontak melotot heran. "Hah? Gak usah ngaco, Julian! Fisikmu itu kan kurus, yang ada kita berdua malah jatuh di jalan!"
"Heh, menghina fisik sang prota—maksudku fisikku ya?" Julian menoleh ke belakang, memasang tampang menantang.
"Ayo cepat naik! Pria sejati itu kuat menahan beban hidup, apalagi cuma beban tubuh kamu. Buruan, sebelum aku berubah pikiran!"
"Gak mau, Julian! Malu dilihat orang!"
"Nggak ada orang di sini, Yisla. Ayo cepat, atau aku seret nih?" ancam Julian konyol, langsung berdiri dan menarik lembut pergelangan tangan Yisla agar merapat ke punggungnya.
Yisla mendengus pasrah dengan pipi merona merah saking gemasnya. "Iya, iya! Dasar pemaksa!"
Yisla melompat kecil dan mengalungkan kedua lengannya di leher Julian. Julian langsung mencengkeram bawah paha Yisla, mengangkatnya dengan sekuat tenaga.
"Nah, gini dong! Ringan kok, mirip bawa karung wol—aw!" Julian mengaduh saat Yisla menjewer telinganya pelan.
"Samakan aku dengan karung wol sekali lagi, koin perakmu kutenggelamkan ke danau es!" ancam Yisla di dekat telinganya. Uap hangatnya membuat tengkuk Julian meremang.
Julian terkekeh, mulai melangkah dengan bangganya. Merasa wibawanya sebagai male lead telah pulih seutuhnya.
Namun, di sisi kanan mereka, Duo Hemisphere bersaudara itu mendadak muncul tanpa suara.
Animus menatap Julian dengan tatapan dingin, lalu membuka gulungan kertas takdirnya dan menggoreskan sesuatu di atas kertas itu "Protagonis terlalu sombong, sebuah rintangan kecil mungkin akan mengembalikannya ke realita."
Sret.
Seketika, seonggok salju di depan Julian menggunung secara tidak alami.
Julian yang sedang asyik mengobrol dengan Yisla sama sekali tidak melihatnya.
DUG!
"Eh—"
Kaki kanan Julian sukses menghantam gundukan itu dan kehilangan keseimbangannya.
"Julian?!" jerit Yisla panik.
GEDEBUK!
Julian jatuh terjembab dengan wajah mendarat duluan ke tumpukan salju. Yisla yang terlepas langsung meluncur dan jatuh telentang tepat di atas punggung Julian, menimpanya dengan sukses.
"Uhuk! Uhggh... tulang rusukku..." rintih Julian merana dari dalam timbunan salju.
Yisla buru-buru bangkit, gadis itu duduk bersimpuh di samping Julian dengan dahi berkerut.
"Aduh... Julian! Kan sudah kubilang jangan sok kuat! Sekarang kita malah sukses bergulingan di salju!"
Di sudut jalan, Anima menahan tawa gelinya, sementara Animus mendengus puas sebelum keduanya menghilang, meninggalkan sang Author yang sibuk memuntahkan salju dari mulutnya.
Sambil terus menggerutu dan membersihkan sisa salju di mantel masing-masing, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki normal—kali ini tanpa aksi gendong-gendongan yang berujung maut.
Setelah satu setengah jam berjalan dengan sisa tenaga yang ada, kabut salju di depan mereka benar-benar menipis, menyingkap sebuah pemandangan yang megah.
"Wah... Julian, lihat!" seru Yisla, matanya berbinar menunjuk ke depan.
Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah gerbang batu raksasa berlapis salju yang dijaga oleh beberapa prajurit bermantel tebal. Di balik gerbang itu, sayup-sayup terdengar suara riuh riang para pedagang dan kepulan asap dari kedai-kedai kota.
Julian tersenyum lega, mengusap punggungnya yang masih agak pegal akibat ditimpa Yisla tadi. Ditatapnya gerbang pasar kota yang sudah ada di depan mata.
"Akhirnya sampai juga," bisik Julian, kembali menggenggam erat tangan Yisla dan melangkah mantap memasuki gerbang, siap memulai babak baru petualangan mereka.
...***...
Begitu melewati gerbang batu raksasa, riuhnya pasar kota langsung menyambut mereka. Jajaran bangunan kayu dua lantai bergaya kuno berdempetan rapat di sepanjang jalan berbatu.
Sniff... Sniff...
Hidung Julian kembang kempis. Aroma mentega meleleh, daging panggang, dan sup kaldu yang mengepul dari kedai terdekat mendadak menyerang indra penciumannya.
Air liur Astra rasanya hampir menetes. Gila, ini dia! Kuliner kota besar! Selamat tinggal sup kentang hambar buatan Kak Vito!
Plak!
Julian menepuk kedua pipinya keras-keras, membuat Yisla yang sedang melihat-lihat lentera kota langsung menoleh kaget.
"Julian? Kamu kenapa lagi? Kesurupan Yeti?" tanya Yisla curiga.
"Nggak, aman! Cuma... memurnikan pikiran aja kok!" sahut Julian cepat, mengusir bayangan tentang paha ayam kalkun panggang dari otaknya.
Sebagai seorang author, dia harus tetap pada jalan cerita. Tujuan utamanya menguras lima belas koin perak kemarin kan demi membelikan Yisla pakaian hangat yang layak, bukan untuk wisata kulineran!
"Ayo, Yisla. Kita cari toko pakaian dulu sebelum uangnya habis," ajak Julian, buru-buru menarik lengan Yisla menjauhi distrik makanan sebelum iman pelitnya goyah.
Mereka menyusuri koridor pasar hingga menemukan sebuah toko dengan papan nama kayu bergambar gulungan kain. Di balik jendela kaca, berjejer mantel wol tebal dengan potongan yang rapi dan elegan.
Kring...
Lonceng pintu berbunyi saat mereka melangkah masuk. Interior toko terasa hangat, dipenuhi oleh wangi kain baru. Seorang wanita paruh baya pemilik toko berkacamata langsung menyambut mereka dengan senyuman ramah.
"Selamat datang, anak-anak manis. Sedang mencari mantel musim dingin yang baru?"
"Iya, Nyonya. Tolong carikan mantel dan pakaian musim dingin yang paling bagus, paling tebal, dan paling hangat untuk dia," ujar Julian sambil menepuk pundak Yisla dengan bangga. Sok berlagak seperti cowok kaya raya—meski tangannya diam-diam meraba kantong celana, memastikan koin perak hasil jarahan kemarin aman.
Yisla sempat ragu, melirik Julian tidak enak. "Jul, beneran nggak apa-apa? Uang perak kemarin kan—"
"Sstt, sudah kubilang kan, ini hari keberuntunganmu. Sana pilih," potong Julian dengan senyum manis.
Mata Yisla perlahan berbinar saat pemilik toko mulai membawakannya beberapa potong pakaian hangat bermotif indah. Di sudut ruangan, Julian menyilangkan dadanya, bersiap mengawasi harga agar jiwanya tidak kena guncangan inflasi fiksi lagi.