"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 // MBKCM
Bimo mematung di tempatnya berdiri. Telapak tangannya terasa dingin saat merasakan bobot logam mulia dan berlian murni yang baru saja dilesakkan secara paksa oleh Ardan ke dalam genggamannya. Matanya membelalak lebar, menatap cincin itu lalu beralih pada wajah bosnya yang tampak mengeras seperti batu karang, namun menyimpan badai kehancuran di dalam netranya.
"Pak... Pak Ardan, Anda serius?" Suara Bimo bergetar, hampir menyerupai bisikan saking syoknya. "Batal? Tapi, Pak... keputusan ini... ini terlalu mendadak. Kakek Wirya baru saja menyetujui tanggalnya bersama Tuan Danu Abraham di Jakarta beberapa menit yang lalu!"
Ardan tidak berkedip. Tatapannya lurus menembus kaca mobil, seolah-olah dia sedang melihat bayangan takdirnya sendiri yang hancur berkeping-keping. "Aku tidak pernah semain-main ini dalam hidupku, Bimo. Masuk ke mobil. Kita bicara di dalam."
Bimo segera mengitari mobil dengan langkah terburu-buru, lalu masuk ke kursi kemudi. Setelah menutup pintu dan memastikan privasi mereka aman di dalam kabin yang kedap suara, Bimo memutar tubuhnya menghadap Ardan yang duduk di kursi belakang dengan rahang yang mengatup rapat.
"Pak, tolong pikirkan lagi dengan kepala dingin," mohon Bimo, raut wajahnya dipenuhi kecemasan yang mendalam sebagai asisten yang sudah bertahun-tahun mendampingi Ardan. "Jika Anda membatalkan pernikahan ini begitu saja, Pak Wirya pasti akan sangat marah. Kita semua tahu bagaimana watak beliau kalau keinginannya ditentang. Dan yang paling saya takutkan... kondisi jantung Kakek Wirya bisa kambuh lagi, Pak. Fisiknya tidak sekuat dulu untuk menerima guncangan sebesar ini."
Ardan menyandarkan punggungnya pada jok kulit mobil, mengembuskan napas berat yang terdengar sangat menyakitkan. "Aku tahu, Bimo. Aku tahu risiko kesehatan kakek. Tapi bertahan dalam kebohongan ini jauh lebih membunuhku perlahan-lahan."
"Lalu... lalu bagaimana dengan alasannya, Pak?" tanya Bimo lagi, memajukan tubuhnya. "Jika Anda pulang ke Jakarta dan langsung mengatakan pada semua orang bahwa alasannya adalah karena Nona Kiana... karena Anda menemukan Nona Kiana di Bandung dalam keadaan mengandung anak-anak Anda... itu juga akan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar, Pak! Itu akan sangat membahayakan keselamatan Nona Kiana dan calon bayi Anda."
Ardan menoleh tajam, menatap Bimo dengan sorot mata yang seketika berubah waspada. "Apa maksudmu?"
"Pikirkanlah, Pak," ujar Bimo, mencoba menguraikan analisisnya dengan logis meski dalam situasi panik. "Keluarga Abraham... Pak Danu dan terutama nona Dania, mereka adalah orang-orang yang sangat berpengaruh dan egois. Mengingat bagaimana watak keluarga Abraham yang pasti tidak akan terima begitu saja dipermalukan dengan pembatalan pernikahan ini, mereka pasti akan mencari tahu penyebabnya. Jika mereka tahu keberadaan Nona Kiana yang sedang mengandung darah daging Anda, mereka tidak akan tinggal diam. Nona Kiana bisa menjadi sasaran kemarahan dan intimidasi mereka. Nyawa anak-anak Anda bisa terancam bahkan sebelum mereka lahir ke dunia."
Mendengar penjelasan Bimo, rahang Ardan semakin mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Kata-kata Bimo laksana tamparan keras yang menyadarkannya dari keegoisan. Dia begitu ingin mendekap kembali Kiana dan anak-anaknya, hingga hampir melupakan bahaya besar yang mengintai di balik dinding kemegahan keluarganya.
Ardan terdiam cukup lama, membiarkan keheningan yang mencekam menguasai kabin mobil sebelum akhirnya dia membuka suara dengan nada yang sangat rendah namun sarat akan ketegasan.
"Kamu benar, Bimo," ucap Ardan lirih, matanya menyipit penuh dendam yang tertahan. "Tetap rahasiakan soal semua ini. Jangan ada satu orang pun, termasuk kakek atau mata-mata paman Arya, yang tahu soal Kiana dan kehamilannya. Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua."
Bimo mengangguk cepat, merasa sedikit lega karena bosnya masih bisa berpikir rasional. "Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan alasan pembatalan pada Ibu Dania dan keluarga?"
"Biarkan Dania tetap menganggap aku mandul," jawab Ardan dingin, seringai pahit terukir di sudut bibirnya. "Biarkan wanita itu menganggap aku tidak memiliki semangat untuk menjalin hubungan karena kekuranganku itu. Aku sendiri yang akan maju dan menjelaskan langsung pada kakek secara pribadi. Aku akan katakan pada kakek kalau aku tidak bisa memaksakan pernikahan ini terjadi tanpa adanya rasa cinta. Kakek mungkin akan marah, tapi itu jauh lebih aman bagi Kiana saat ini."
Ardan menjeda kalimatnya, tangannya mengepal kuat di atas lutut hingga buku-buku jarinya memutih. "Dan satu hal lagi yang paling penting... aku harus menyelidiki siapa musuhku yang sebenarnya, Bimo. Siapa orang di dalam lingkaran Arkatama yang sudah berani memanipulasi dokumen medisku selama bertahun-tahun dan menjebakku dalam lingkaran kebohongan ini hingga aku menyakiti wanita yang seharusnya kucintai. Aku akan menyeret bajingan itu ke neraka dengan tanganku sendiri."
Bimo menelan ludah, merasakan aura membunuh yang sangat pekat keluar dari tubuh pria di belakangnya. "Baik, Pak Ardan. Perintah dipahami. Saya akan langsung menyusun tim investigasi rahasia yang paling tepercaya."
"Bagus," Ardan memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya kembali dengan tekad yang baru. "Ayo kita kembali ke Jakarta sekarang. Selesaikan apa yang harus diselesaikan di sana, agar aku bisa menjemput kembali milikku di sini dengan cara yang bersih."
Bimo mengangguk, menggeser tuas transmisi, dan perlahan menginjak pedal gas. Saat mobil mewah hitam itu mulai berjalan membelah jalanan Bandung yang sejuk, Ardan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menoleh ke belakang. Pandangannya terpaku, menatap lekat-lekat pada bangunan ruko Twin's Florist yang semakin lama semakin mengecil di kejauhan.
Di dalam hatinya, sebuah sumpah suci berdengung dengan sangat kencang. "Tunggu ayah kembali, anak-anakku..." gumam Ardan dalam hati, matanya memanas menahan gejolak emosi yang membuncah. "Tunggu ayah menyelesaikan badai di Jakarta. Setelah semuanya bersih, meski nanti ayah harus bersujud dan merangkak di bawah kaki ibu kalian untuk mendapatkan ampunan, ayah akan lakukan itu demi kalian. Ayah bersumpah."
Sementara itu, di lantai dua ruko Twin's Florist, suasana kamar tampak begitu hening. Kiana berdiri membeku di balik tirai jendela yang sedikit tersingkap. Jemari lentiknya mencengkeram kain gorden dengan erat, sementara matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke arah jalan raya di bawah sana.
Dia menyaksikan dengan jelas bagaimana mobil sedan hitam milik Ardan perlahan bergerak menjauh, berbelok di persimpangan jalan, dan akhirnya benar-benar menghilang dari jangkauan pandangannya. Di saat mobil itu tidak lagi terlihat, setetes air mata lolos lagi.
Bugh.
Tiba-tiba, Kiana tersentak kecil. Dia merasakan sebuah gerakan yang cukup kuat dari dalam perutnya yang sudah membuncit. Anak dalam kandungan Kiana memberikan tendangan yang lumayan intens, seakan-akan sedang melakukan protes keras atas keputusan ibunya yang baru saja menolak dan mengusir sang ayah pergi.
Kiana meringis pelan, kedua telapak tangannya langsung turun mengusap perutnya dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kasih sayang.
"Maafkan ibu, sayang... maafkan ibu," bisik Kiana dengan suara yang parau, mencoba menenangkan gerakan aktif di dalam rahimnya. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi jemarinya sendiri. "Jangan menendang seperti itu, nak... ini yang terbaik untuk kita semua saat ini."
Kiana berjalan gontai menuju tepi tempat tidur, lalu mendudukkan dirinya di sana sembari terus mengusap perutnya yang kembali tenang setelah mendengar suaranya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan hatinya yang sebenarnya rapuh dan hancur.
"Ibu tidak bisa merusak kebahagiaan orang lain, sayang..." ucap Kiana lirih pada janinnya, seolah-olah mereka bisa mendengar seluruh keluh kesah batinnya. "Ayah kalian sudah memiliki kehidupan yang baru bersama wanita pilihan keluarganya. Ibu tidak ingin menjadi duri atau perusak di antara mereka. Dan yang paling utama..."
Kiana menjeda kalimatnya, sebuah kilatan ketakutan melintas di matanya saat teringat akan kekejaman dunia kelas atas seperti yang dialami Ardan. Hasil kesehatan yang dipalsukan selama bertahun-tahun.
"Ibu sangat takut, nak. Jika ibu bersikap egois dan menerima ayah kalian sekarang, kemegahan dan intrik kotor di luar sana justru akan membahayakan kalian nantinya. Ibu tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melindungi kalian dari orang-orang jahat di sekeliling ayahmu. Biarlah seperti ini... biarlah kita hidup tenang di tempat kecil ini, hanya ada ibu, dan kalian berdua."
Kiana memeluk perutnya sendiri dengan erat, menangis tersedu-sedu di dalam kamar yang sepi.