NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa Jadi Begini ?

Pagi itu Rhea sudah bersiap jauh lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari baru saja mulai menyelinap masuk lewat celah jendela, belum cukup tinggi untuk menerangi seluruh ruangan, ketika gadis itu selesai mengenakan blouse dan celana panjang yang biasa ia pakai ke kampus. Rambut panjangnya disisir rapi dan dibiarkan tergerai, sementara tasnya sudah tersampir rapi di bahu.

Alasannya sederhana: ia ingin berangkat lebih pagi. Bukan karena ada kelas pagi, bukan pula ada rapat panitia yang harus dihadiri. Melainkan semata-mata ingin menghindari kemungkinan bertemu seseorang atau lebih tepatnya, menghindari orang yang sejak kemarin terus membuat pikirannya tak bisa tenang.

Setelah memastikan semua barangnya sudah lengkap, Rhea melangkah keluar kamar dan menuruni tangga menuju lantai satu.

Begitu tiba di ruang tengah, langkahnya sedikit melambat. Ia melihat ibunya sudah berdiri di dekat meja makan dengan pakaian yang jauh lebih rapi dari biasanya, bahkan sebuah tas kerja sudah tergeletak di atas kursi di sampingnya.

Rhea mengernyit heran.

"Mamah tumben pagi-pagi sudah rapi?"

Rika yang sedang sibuk mengecek sesuatu di layar ponselnya langsung mendongak.

"Mamah mau ke Bandung. Mau survei lokasi untuk restoran cabang yang baru."

"Bandung?" Rhea langsung berhenti melangkah. "Kenapa gak pas aku libur sih, Mah? Kan aku bisa ikut...sekalian jalan-jalan."

Rika mendengus kecil sambil menggeleng.

"Memangnya kapan kamu pernah libur?"

Rhea langsung terdiam, tak punya jawaban.

"Mamah sudah janji ketemu arsiteknya hari ini, tidak bisa ditunda-tunda lagi," lanjut Rika sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Rhea mendekat lalu menjatuhkan tubuhnya ke salah satu kursi makan dengan gerakan santai.

"Nanti Rhea nyusul ya? Kalau sudah selesai urusan di kampus."

"Heh, ada-ada saja kamu ini," Rika langsung menggeleng tegas. "Jauh, Rhea. Jangan coba-coba pergi sendirian."

"Tapi Bandung gak sejauh itu kok, Mah."

"Untuk kamu, Bandung jauh."

Rika menepuk pelan kepala putrinya dengan senyum tipis. "Nanti Mamah langsung pulang kalau semua urusan selesai."

Rhea menghela napas panjang dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat.

"Yaudah deh."

Beberapa detik kemudian, senyum kecil kembali muncul di wajahnya. Ia menatap ibunya dengan tatapan memelas.

"Minta uang, Mah."

Rika langsung menoleh dengan tatapan datar, sudah hafal tingkah putrinya. "Berapa?"

Rhea mengangkat bahu santai. "Terserah Mamah saja."

"Dasar kamu ini."

"Nanti transfer ke rekening ya, jangan lupa."

"Hmm, nanti saja."

Rhea segera berdiri dari kursinya. Ia meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja, lalu menghampiri ibunya.

"Rhea berangkat dulu ya."

Rika mengangguk pelan. "Iya, hati-hati di jalan."

Rhea tersenyum kecil, lalu maju dan mengecup pipi ibunya singkat. "Iya, Mah."

"Mamah juga hati-hati."

Setelah itu Rhea berbalik dan melangkah menuju pintu utama tanpa menunggu lebih lama lagi. Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali rapat. Rika hanya menggeleng kecil sambil memperhatikan kepergian putrinya.

Tak lama kemudian, suara mesin mobil menyala pelan. Kendaraan itu perlahan bergerak keluar dari halaman rumah, meninggalkan suasana pagi yang masih sunyi dan sejuk.

Di dalam mobil, Rhea menggenggam setir kemudi dengan cukup erat. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa hari ini akan berjalan seperti biasa... tenang, teratur, dan tak ada hal yang mengganggu.

Meski begitu, jauh di sudut pikirannya, satu nama terus muncul tanpa diundang, berulang kali seperti memutar rekaman sendiri.

Arga.

...****************...

Hambatan berarti. Jalanan masih belum terlalu padat, membuat mobil yang dikendarai Rhea melaju dengan cukup lancar menembus udara pagi yang masih terasa sejuk.

Sepanjang perjalanan, radio mobil menyala pelan menemani keheningan. Namun seperti beberapa jam terakhir, pikiran Rhea tetap sibuk dengan hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan.

Beruntung jarak rumah ke kampus tidak terlalu jauh.

Beberapa saat kemudian mobilnya memasuki area parkir fakultas.

Rhea segera memarkirkan mobilnya di salah satu tempat yang masih kosong, lalu mematikan mesin kendaraan itu. Suasana di sekitar parkiran masih cukup lengang. Hanya ada beberapa mahasiswa yang terlihat berjalan menuju gedung fakultas dengan langkah santai.

Rhea menyandarkan tubuhnya sejenak pada jok mobil sambil mengangkat pergelangan tangan kirinya. Matanya tertuju pada jam yang melingkar di sana.

"Oke... masih jam tujuh." Ia mengembuskan napas pelan. "Harusnya aman."

Setelah mengatakan itu pada dirinya sendiri, Rhea segera melepas sabuk pengamannya lalu meraih totebag yang terletak di kursi sebelah. Ia keluar dari mobil dan mengunci pintunya sebelum mulai berjalan menuju gedung fakultas.

Pagi itu kampus masih terasa relatif tenang.

Beberapa mahasiswa terlihat duduk di taman sambil menikmati sarapan, sementara yang lain berjalan terburu-buru menuju kelas masing-masing.

Rhea melangkah santai melewati koridor demi koridor yang sudah sangat ia kenal. Sepasang earphone bahkan belum sempat ia keluarkan dari tas karena pikirannya masih terlalu sibuk untuk sekadar mendengarkan musik.

Namun saat hendak berbelok menuju koridor di sisi kanan gedung, langkahnya perlahan melambat. Matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal.

Deg!

Dari kejauhan ia melihat Arga sedang berdiri bersama salah seorang dosen lain di depan ruang dosen. Keduanya tampak tengah membicarakan sesuatu dengan cukup serius sambil sesekali membuka berkas yang ada di tangan mereka.

Rhea yang semula berjalan santai langsung menghentikan langkahnya tanpa sadar. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar lebih cepat hanya karena melihat sosok pria itu dari kejauhan.

Dan seolah keadaan belum cukup buruk, di saat yang hampir bersamaan Arga yang sedang berbicara itu menoleh sekilas ke arah koridor.

Tatapan mereka bertemu sesaat. Hanya sepersekian detik, namun cukup membuat tubuh Rhea mene gang. Ia tidak tahu apakah Arga benar-benar melihatnya atau tidak, karena pria itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Tidak memanggil namanya, tidak melambaikan tangan, bahkan tidak menghentikan percakapannya. Setelah tatapan singkat itu, Arga kembali mengalihkan perhatiannya kepada dosen yang berdiri di sampingnya dan melanjutkan obrolan mereka seperti biasa.

Sebaliknya, Rhea justru merasakan kepanikan yang sama sekali tidak masuk akal. Sebelum sempat berpikir lebih jauh, ia sudah lebih dulu memutar tubuhnya dan berjalan ke arah berlawanan.

Langkahnya bergerak semakin cepat saat ia berbelok menuju tangga di sisi gedung yang sebenarnya hampir tidak pernah ia lewati untuk menuju kelas. Baru setelah beberapa anak tangga berhasil ia naiki, Rhea mengembuskan napas panjang sambil menepuk pelan dahinya sendiri.

"Pak Arga lihat aku gak ya barusan..." gumamnya lirih.

Pertanyaan itu langsung membuatnya semakin kesal. Ia mengusap wajahnya frustrasi sambil terus menaiki tangga.

"Sial... kenapa jadi begini sih."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!