Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dua Sahabat
Sore harinya, setelah para tamu pulang dan Abi serta Umi beristirahat, mereka berdua kembali ke rumah mereka sendiri. Begitu pintu depan tertutup rapat dan mereka lepas dari pandangan orang lain, Arsalan langsung melepaskan genggaman tangannya dari jemari Humaira. Begitu saja. Tanpa aba-aba, tanpa sepatah kata pun.
Kehangatan yang tadi menjalar di tangan Humaira mendadak lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Arsalan berjalan mendahuluinya menuju kamar, melonggarkan kerah kemejanya dengan kasar, kembali menjadi sosok Gus yang asing dan tak tersentuh.
Napas Humaira mendadak terasa sesak. Rasa lelah yang teramat sangat, frustrasi yang membubung tinggi, dan rasa sakit karena terus-menerus memakai topeng di depan semua orang akhirnya mencapai batas ambang pertahanannya. Ia tidak sanggup lagi. Jika ia terus memendam ini sendirian, ia merasa jiwanya bisa mati perlahan.
Humaira berlari kecil menuju kamarnya, mengunci diri di dalam kamar mandi. Ia merosot di balik pintu, memeluk lututnya sendiri di atas lantai keramik yang dingin. Tangisnya pecah seketika, tertahan oleh telapak tangisnya yang membekap mulut agar suaranya tidak tembus ke luar. Ia ingin mengadu pada ummahnya di pondok sebelah, namun ingatan akan wajah sepuh ummahnya yang begitu bahagia saat melepasnya menikah membuat Humaira mengurungkan niat. Ia tidak boleh menambah beban pikiran orang tuanya.
Dengan tangan yang gemetar, Humaira merogoh saku gamisnya, mengambil ponselnya. Hanya ada satu orang di dunia ini yang tahu seluruh rahasia dan sisi "bar-bar" dirinya. Satu-satunya orang tempat ia bisa menumpahkan segala keluh kesah tanpa perlu berpura-pura menjadi Ning yang anggun sempurna.
Humaira mendial sebuah nomor. Panggilan video.
Hanya dalam dua kali nada sambung, layar ponselnya menampilkan wajah seorang wanita berhijab berwajah ceria yang sedang duduk di sebuah ruang tamu rumah minimalis. Itu Zulfa, sahabat karibnya sejak zaman madrasah yang baru beberapa bulan lalu menikah.
"Assalamualaikum, Ning Humaira yang sekarang sudah sah jadi Nyonya Gus tampan! Gimana rasanya m—"
Ucapan ceria Zulfa terhenti seketika saat melihat layar ponselnya. Di sana, wajah sahabatnya tidak menampilkan senyuman manis, melainkan wajah yang kacau, mata yang bengkak merah, dan air mata yang mengalir deras tanpa henti.
"Ra? Humaira? Lo kenapa, Ra?! Astagfirullah, lo kenapa nangis begini?!" suara Zulfa mendadak berubah panik, ia menggeser posisi duduknya mendekati kamera.
Mendengar suara cemas sahabatnya, pertahanan Humaira benar-benar hancur lebur. Sisi anggun seorang Ning menguap digantikan oleh keputusasaan seorang gadis muda yang terluka.
"Zul... gue gak kuat, Zul... gue bisa gila kalau begini terus!" tangis Humaira pecah, suaranya parau dan terengah-engah menahan isak.
"Cerita sama gue, Ra! Siapa yang bikin lo begini? Gus Arsalan? Dia ngapain lo?!" tanya Zulfa berapi-api, ikut merasakan sesak yang dialami sahabatnya.
Humaira menggelengkan kepalanya dengan lemah, menyandarkan dahi di lututnya. "Dia gak mukul gue, Zul. Dia gak ngebentak gue. Tapi kata-katanya... sikapnya... itu jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik. Di depan Umma, di depan santri, dia meluk gue, dia gandeng gue seolah-olah gue ini dunianya. Tapi pas masuk rumah... jangankan meluk, nanya gue udah makan apa belum aja kagak pernah, Zul! Dia tidur di sofa, dia bilang hati dia udah mati di London dan pemiliknya bukan gue!"
Humaira mencurahkan segala rasa perih yang dipendamnya selama satu minggu ini. Ia menceritakan bagaimana dinginnya tatapan Arsalan, bagaimana rasanya menata baju untuk pria yang menganggapnya tidak ada, dan bagaimana sakitnya tersenyum di atas panggung sandiwara pernikahan mereka.
Zulfa di seberang telepon mendengarkan dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Ia tahu betul bagaimana sifat Humaira. Di balik gelar "Ning" dan sikap anggunnya di depan publik, Humaira adalah gadis yang ceria, ekspresif, dan memiliki hati yang sangat lembut. Melihat sahabatnya sehancur ini di minggu pertama pernikahannya membuat dada Zulfa ikut sesak.
"Astagfirullahaladzim... Gus Arsalan keterlaluan," gumam Zulfa geram, namun kemudian ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri agar bisa berpikir jernih untuk menolong sahabatnya. Sebagai wanita yang sudah menikah, ia tahu konflik awal pernikahan perjodohan memang selalu sarat akan ego.
Zulfa memajukan wajahnya ke kamera, menatap Humaira dengan tatapan serius namun penuh dukungan. "Ra, dengerin gue. Hapus air mata lo sekarang. Nangis gak bakal bikin hati suami lo yang beku di London itu mencair!"
Humaira mengusap air matanya dengan tisu, menatap Zulfa dengan pandangan bingung. "Terus gue harus gimana, Zul? Gue udah layanin dia semaksimal mungkin. Masak, nyiapin baju, semua udah gue lakuin."
Zulfa menghela napas, sebuah senyuman misterius dan sedikit "gila" khas dirinya mulai terukir di bibirnya. "Ra, lo itu terlalu polos. Pelayanan yang lo kasih itu pelayanan standar santri ke kiai-nya! Lo itu istrinya, Ra! Bukan pelayannya!"
"Maksud lo?"
"Gini ya, Ning Humaira yang manis..." Zulfa menurunkan volume suaranya, berubah menjadi mode pakar konseling pernikahan yang kocak. "Suami lo itu lama tinggal di luar negeri, di London. Di sana pergaulannya bebas, dia pasti biasa lihat perempuan yang penampilannya berani, seksi, dan memikat. Nah, lo sekarang statusnya sudah halal secara agama dan hukum. Punya hak mutlak atas tubuh dan pandangan dia!"
Humaira mengernyitkan alisnya, mendadak punya firasat tidak enak. "Zul, jangan aneh-aneh, ya..."
"Gue gak aneh-aneh! Ini ilmu rumah tangga, pinter!" potong Zulfa cepat. "Taktik pertama yang harus lo lakuin: singkirkan dulu itu daster longgar atau gamis tebal lo kalau lagi berduaan di kamar sama dia. Lo harus beli pakaian tidur yang seksi, yang dari bahan satin atau brokat tipis itu loh, lingerie! Yang mengekspos bentuk tubuh lo. Biar mata dia melek kalau istrinya ini gak kalah saing sama cewek-cewek London!"
Wajah Humaira mendadak memerah padam, rasa panas menjalar hingga ke ujung telinganya. "Astagfirullahaladzim, Zulfa! Lo gila, ya?! Gue ini Ning! Masa gue harus pakai baju begitu di depan cowok?!"
"Dia bukan sekadar cowok, Humaira! Dia suamimu! Dapat pahala besar lo kalau dandan seksi di depan suami!" Zulfa gemas sendiri melihat kepolosan sahabatnya. "Dengerin gue, selain baju seksi, lo juga harus belajar cara merayu. Nanti malam, kalau dia pulang atau pas lagi di kamar, lo jangan nunduk kayak santri telat setoran hafalan. Lo tatap matanya lekat-lekat. Pasang minyak wangi yang aromanya manis tapi sensual. Kalau dia mau tidur di sofa, lo samperin. Pijitin bahunya, agak mepet-mepet dikit ke tubuh dia. Goda dia sampai benteng esnya runtuh!"
Humaira menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat hanya dengan membayangkannya. "Tapi Zul... kalau dia malah makin benci dan ilfeel sama gue gimana? Kalau dia mikir gue perempuan gak bener?"
"Gak bakal, Ra! Percaya sama gue," ucap Zulfa meyakinkan, sorot matanya penuh tekad. "Gus Arsalan itu laki-laki normal, sehat walafiat. Tampang model begitu pasti hormonnya tinggi. Dia dingin cuma karena hatinya lagi dikunci sama bayangan masa lalunya. Tugas lo adalah jadi kunci baru yang mendobrak pintu itu. Kalau lo cuma diem dan pasrah jadi pajangan anggun di rumah itu, lo bakal selamanya dianggap asing. Gerak cepat, Ra, sebelum hati suami lo benar-benar terbang kembali ke London!"
Humaira terdiam seribu bahasa. Di dalam benaknya yang polos, terjadi pergulatan batin yang sangat hebat antara rasa malu yang teramat sangat dengan keinginan besar untuk mempertahankan rumah tangganya dan menyembuhkan luka hatinya sendiri. Namun melihat kesungguhan di mata Zulfa, secercah keberanian yang selama ini terpendam di balik sifat "bar-bar"-nya mulai bangkit.
Ia lelah menangis. Ia lelah diabaikan. Dan mungkin, saran gila dari sahabatnya ini adalah satu-satunya jalan untuk merebut kembali haknya yang telah dirampas oleh dinginnya masa lalu Gus Arsalan.