NovelToon NovelToon
Sistem Supir Angkot

Sistem Supir Angkot

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.

Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.

Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode: 8

Fajar di Kota Bogor selalu membawa kabut tipis dan udara yang dingin, namun pagi ini, atmosfer di sekitar Terminal Baranangsiang terasa sangat mencekam.

Sejak pukul lima subuh, para pedagang kaki lima dan pemilik warung makan sudah buru-buru menutup lapak mereka lebih awal.

Mereka melihat pergerakan yang tidak biasa.

Tiga buah mobil bak terbuka dan belasan sepeda motor yang dikendarai oleh puluhan pria kekar berseragam loreng oranye-hitam tampak berkonvoi mengitari terminal.

Di barisan paling depan, sebuah mobil Jeep Rubicon hitam bodi tinggi melaju dengan angkuh.

Di dalam Jeep tersebut, Hardi Ketua Ranting Ormas Loreng yang menguasai wilayah Bogor Tengah duduk sambil mengisap cerutu tebal.

Wajahnya yang bopeng tampak mengeras menahan amarah. Di sampingnya, Bang Jay duduk dengan tubuh gemetar, tangannya dibalut gips putih akibat patah tulang semalam.

"Lu yakin bocah supir angkot itu sering mangkal di warung soto ini, Jay?"

tanya Hardi, suaranya serak dan berat, sarat akan tekanan.

"Y-yakin, Kang! Malah semalam dia nginep di sana nemenin anak perawan si pemilik warung. Bocah itu beneran udah berubah jadi monster, Kang. Dia hajar Kang Tato cuma pakai tangan kosong!"

 jawab Bang Jay dengan sisa-sisa trauma yang mendalam.

Hardi meludah ke luar jendela.

"Cuih!"

"Tato itu cuma modal badan gede, otaknya udang!"

"Hari ini gua bawa tiga puluh orang personil inti, lengkap dengan sajam dan senpi rakitan. Mau sekuat apa pun ilmu kebal itu bocah, gua bakal pastiin dia hancur jadi bubur!"

Ciiieeettt!

Iring-iringan kendaraan itu berhenti tepat di depan warung soto kuning milik Ibu Siti Aminah. Suara rem yang berdecit dan benturan pintu mobil yang dibuka secara bersamaan langsung memecah kesunyian pagi.

Puluhan anggota ormas turun, mengepung warung tenda tersebut dengan senjata tajam, balok kayu, dan rante besi di tangan mereka.

Hardi turun dari Jeep-nya, melangkah perlahan dengan tongkat komando berlapis kuningan di tangan kanannya.

"Woi! Supir keparat bernama Farrel! Keluar lu!

"Atau gua bakar tempat sampah ini sekarang juga!" raungnya berapi-api.

Di dalam warung tenda, Nisa dan Ibu Siti berpelukan erat di sudut dapur. Wajah mereka pucat pasi, air mata ketakutan sudah membasahi pipi Nisa.

Mereka mengira Farrel ada di dalam, namun sejak subuh tadi Farrel belum juga menampakkan batang hidungnya.

Tepat ketika salah satu anak buah Hardi mengangkat jeriken berisi bensin untuk menyiram terpal warung, sebuah pemandangan aneh terjadi di ujung jalan.

Dari arah tikungan terminal, sebuah mobil mewah berwarna hitam matte melaju perlahan tanpa suara mesin yang bising, namun auranya begitu mengintimidasi.

Lamborghini Aventador SVJ. Desain bodinya yang super ceper dan tajam bak pesawat siluman membuat seluruh anggota ormas yang ada di sana melotot tak percaya.

Di kota hujan ini, melihat mobil seharga belasan miliar rupiah melintas di pangkalan angkot yang becek adalah pemandangan yang sangat tidak masuk akal.

Mobil itu berhenti tepat sepuluh meter di depan gerombolan ormas. Pintu model sebelah kanan perlahan terangkat ke atas dengan anggun.

Dari dalam kabin mewah itu, keluar seorang pria muda. Ia mengenakan setelan jas hitam custom-made yang sangat pas di tubuh tegapnya, dipadukan dengan kemeja putih tanpa dasi yang kancing atasnya dibiarkan terbuka.

Sepatu pantofel kulit hitamnya yang mengkilap menapak mantap di atas aspal jalanan yang basah.

Pria itu adalah Farrel.

Penampilannya berubah total 180 derajat.

Tidak ada lagi sisa-sisa supir angkot dekil yang bisa diinjak-injak. Rambutnya ditata rapi gaya slick-back, mempertegas rahangnya yang kokoh dan tatapan matanya yang sedingin badai kutub.

"F-Farrel?!"

Bang Jay menjerit histeris dari balik tubuh Hardi, matanya hampir keluar dari rongganya melihat pria yang semalam ia pukuli kini keluar dari dalam mobil super mewah dengan pakaian pangeran.

Hardi pun tertegun sejenak, namun ego dan kesombongannya sebagai penguasa jalanan segera mengambil alih.

"Oh, jadi lu yang namanya Farrel? Lu dapet sewaan mobil dari mana, hah? Mau pamer sama gua?!"

Farrel tidak menggubris ucapan Hardi. Ia berjalan santai menghampiri warung, menatap jeriken bensin yang dipegang oleh salah satu anak buah ormas.

"Taruh bensin itu, atau tangan lu gua patahin sekarang,"

kata Farrel dengan nada suara yang sangat datar, namun mengandung tekanan yang membuat pria pemegang jeriken itu mendadak lemas dan menurunkan tangannya secara refleks.

"Hahaha! Belagu banget lu bocah ingusan!"

Hardi tertawa terbahak-bahak, memberi isyarat kepada anak buahnya.

"Kepung dia! Jangan biarkan dia lari pakai mobil itu!"

Dalam sekejap, tiga puluh orang anggota ormas langsung mengepung Farrel dalam lingkaran ketat. Senjata-senjata tajam kini terarah lurus ke dada Farrel.

Di dalam warung, Nisa yang melihat Farrel dikepung langsung berteriak histeris,

 "Farrelll!!! Lari, Rel!!!"

Farrel menoleh ke arah Nisa, memberikan senyuman tipis yang sangat menenangkan, lalu kembali menatap Hardi. Ia melihat arloji Rolex Submariner emas di pergelangan tangan kirinya hadiah lain yang ia beli menggunakan sebagian saldo pribadinya semalam.

"Jam enam lewat lima menit. Tepat waktu," bisik Farrel pelan.

"Tepat waktu buat mati maksud lu?!" Hardi mengangkat tongkat komandonya, bersiap memberikan perintah pembantaian.

"Sera...!"

Brak! Brak! Brak!

Belum sempat kata "serang" keluar sempurna dari mulut Hardi, tiga buah mobil SUV Toyota Land Cruiser hitam tanpa pelat nomor mendadak melesat dari tiga penjuru jalan, menutup seluruh jalur pelarian gerombolan ormas tersebut.

Pintu-pintu SUV itu terbuka serentak. Sepuluh orang pria bertubuh raksasa dengan tinggi rata-rata di atas 185 cm melompat turun.

Mereka mengenakan pakaian taktis militer hitam tanpa logo, rompi anti-peluru, topeng tengkorak yang menutupi setengah wajah, dan yang paling membuat nyali seluruh anggota ormas runtuh seketika:

masing-masing dari mereka memegang senapan serbu otomatis HK416 yang siap tembak!

Itu adalah Tim Keamanan Elit milik Farrel yang dipimpin oleh Tiger.

Klik! Klik! Klik!

Suara kokangan senjata api modern itu menggema serempak di udara pagi yang dingin, langsung mengunci pergerakan tiga puluh anggota ormas yang kini mendadak mematung bak patung lilin.

Senjata tajam dan balok kayu di tangan mereka mendadak terasa seperti mainan anak-anak di depan moncong senapan serbu militer tersebut.

Tiger, sang raksasa legam, melangkah maju ke depan Farrel, lalu membungkuk hormat sembilan puluh derajat dengan sangat takzim di hadapan seluruh mata yang terbelalak.

"Lapor Tuan Besar Farrel! Area telah sepenuhnya dikunci! Mohon instruksi selanjutnya!"

suara Tiger menggelegar, meruntuhkan sisa-sisa keberanian yang dimiliki Hardi.

Farrel memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan jasnya, menatap Hardi yang kini wajahnya sudah pucat pasi bagai mayat, dengan cerutu yang jatuh dari mulutnya ke atas tanah basah.

"Hardi," panggil Farrel dengan nada yang sangat santai.

"Tadi lu bilang... siapa yang mau lu seret ke Sungai Ciliwung?"

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai hendra beserta keluarganya bikin hendra menyesal mencari masalah dengan mcnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai para penguasa itu bikin mcnya ambil alih
eza
apakah ini terinspirasi dari kisahnyata, ehem😙😙
Tri Wahyuni: ya bisa di bilang bgtu.hehe
total 1 replies
eza
100 buat author
Tri Wahyuni: kalau suka sama ceritanya jangan lupa Giftnya ya kak
total 1 replies
eza
buset iklan
Achmad Zaki
terlalu lebay
Aisyah Suyuti
menarik
Fajar Fathur rizky
cepat bantai juga keluarga musuhnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai musuhnya dan keluarganya dengan cara paling kejam
Herman Tere
lanjuut
Herman Tere
ceritanya menarik walaupun agak berlebihan, tapi ini hiburan
Fajar Fathur rizky
cepat bantai lima puluh Preman itu bawa tubuh mereka ke musuhnya bikin musuhnya ketakutan memohon ampunan jangan libatkan keluarganya bikin mcnya tidak perduli
Fajar Fathur rizky
cepat bantai musuhnya dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai orang itu beserta keluarganya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!